MIRACLE: SUPER RICH!!!

MIRACLE: SUPER RICH!!!
Jangan Menilai Orang Dari Penampilan



Para pegawai restoran yang melihat Tan mengambil sarapan pagi dalam porsi besar tertawa hina dan memberikan komentar negatif secara diam-diam.


"Ini orang apa dari kampung mana? Rakus amat!" Ujar pegawai perempuan yang berdiri di pojok dengan ditemani satu rekan kerjanya yang juga perempuan.


"Kampung yang ada di pegunungan kali, dia baru turun dari gunung dan terkejut dengan makanan yang dia anggap mewah ini, jadi ingin mencicipinya, kapan lagi dia bisa mendapatkan makanan semewah ini, hahaha." Balas rekannya dengan suara bisik-bisik.


"Apa dia datang dengan rombongan? Aku tidak melihat adanya bus pariwisata yang parkir di luar sana." Tanya pegawai itu.


"Kalau bukan rombongan, berarti dia memenangkan sebuah event yang hadiah menginap di hotel Milenial Sirih atau ada program acara TV bedah rumah atau tukar nasib gitu." Jawab rekan kerjanya.


Tidak hanya dua pegawai itu saja yang membicarakan Tan, tapi juga tamu hotel yang sudah datang, melihat Tan dengan pandangan hina dan merendahkan karena porsi besar sarapan paginya yang cukup untuk dua orang.


"Astaga, Kenapa orang udik rakus bisa menginap di hotel ini?"


"Apa dia tamu hotel ini, bukan pengemis yang berpura-pura jadi tamu hotel?"


"Bagaimana bisa pihak keamanan hotel membiarkan pengemis masuk dan makan disini? Mood sarapan pagi aku hilang karena dia."


"Tingkat keamanan di hotel ini tidak terlalu bagus!"


"Siapapun, panggil pihak keamanan untuk mengusir pengemis itu, aku tidak tahan satu ruangan dengan dia, banyak kuman dan bakteri yang bisa membuat aku sakit."


Tidak hanya memberikan komentar buruk pada Tan, tapi ada juga tamu hotel yang mengambil foto atau video yang kemudian di upload ke sosmed mereka masing-masing dengan caption tentu saja menghina atau merendahkan Tan.


Para tamu yang akan sarapan pagi itu kebanyakan menginap di kamar hotel yang murah yang harganya dibawah satu juta, seperti standard room dan deluxe room.


Beberapa dari tamu hotel juga tidak memakai uang sendiri untuk membayar tapi menggunakan uang perusahaan tempat mereka bekerja karena sedang melakukan tugas dari perusahaan atau juga karena memenangkan sebuah event dengan hadiah potongan harga atau gratis menginap di hotel Milenial Sirih.


Jika mereka tahu kalau Tan tidak seperti mereka, menginap di presidential suite selama dua Minggu dengan harga mencapai 56 juta dan dibayar tunai secara langsung, tidak akan ada yang berani mengatakan hal seperti itu, bahkan berpikiran saja tidak akan ada.


Para perempuan yang menghina Tan dan merendahkannya akan langsung memeluk kaki Tan dan menciumnya karena tidak ingin Tan lepas dari mereka. Sedangkan para pria akan menjadi sangat iri dengan Tan.


Sementara itu, Tan tidak menyadari kalau dirinya menjadi obyek pembicaraan di ruangan tersebut. Dia tidak mendengar karena memakai earphone dan hanya fokus pada makanannya sambil melihat ponsel pintarnya yang sedang memutar acara komedi.


Kurang dari satu jam, Tan sudah selesai dengan sarapan paginya dan dia menutup mulutnya karena ingin bersendawa.


Tan masih belum menyadari kalau dirinya sudah menjadi bahan pembicaraan orang-orang yang ada di restoran tersebut. Dia masih melihat acara komedi di platform Metube melalui ponsel pintarnya.


Sambil melihat acara komedi itu, dia juga melihat kalau jam sudah hampir jam 8 pagi. "Soya katanya akan datang jam setengah sembilan, aku tunggu disini atau di kamar?" Gumam Tan.


Berpikir sejenak, Tan memutuskan untuk menunggu di lobby lounge hotel karena di sana lebih nyaman daripada di restoran.


Dia langsung beranjak dari tempat kursi setelah menghabiskan minumannya yang hanya air mineral.


Dia segera berjalan dengan santai, masih tidak menyadari kalau dirinya menjadi obyek pembicaraan orang di ruangan tersebut.


Sesampainya di lobby lounge, sudah banyak orang yang mendatangi tempat tersebut. Kursi sofa yang tersedia di tempat tersebut sudah hampir semua kursi sofa yang ada di lobby lounge telah digunakan.


Dia melihat-lihat sekitar lobby lounge hotel itu, mencari kursi sofa yang masih kosong.


"Ah, itu kosong."


Tan menemukannya, tapi ada dua perempuan dengan pakaian kerja formal yang duduk di sana sehingga hanya menyisakan satu kursi sofa kosong.


Tan mencari-cari lagi kursi sofa yang kosong, tapi tidak menemukannya sehingga dia dengan terpaksa menuju ke kursi sofa tersebut, tempat dua perempuan berpakaian kerja formal saling berbicara.


"Permisi, boleh aku duduk disini? Apa sudah ada yang mendudukinya?" Tanya Tan.


Dua perempuan pekerja itu menatap Tan sejenak dan seorang dari mereka mempersilakan Tan untuk duduk. Mereka berdua kemudian mengabaikan Tan setelah melihat pakaian yang digunakan oleh pria introvert tersebut.


Meskipun bagi mereka Tan memiliki penampilan wajah yang cukup lumayan dikatakan tampan, tapi setelah melihat pakaian yang digunakan oleh Tan bukan dari pakaian branded dan hanya kaos dan celana panjang training, apa lagi memakai sandal hotel membuat dua perempuan itu berpikiran sama.


"Pria ini berasal dari kampung, tidak perlu memberikan perhatian padanya."


Tan tidak tahu kalau dua perempuan itu berpikiran negatif tentang dirinya dan dia juga merasa senang karena dua perempuan mengabaikannya sehingga tidak perlu adanya obrolan diantara mereka bertiga.


Seorang pegawai hotel yang bertugas di lobby lounge langsung mendatangi Tan dan memberikan buku menu makanan dan minuman yang ada di lobby lounge hotel.


Tan segera memesan teh hangat dan satu sandwich tuna dengan total dari kedua menu tersebut sebesar 120 ribu rupiah. Dia memberikan dua lembar uang 100 ribu dan berkata, "Uang kembalian ambil aja buat tip masnya."


Pelayan itu merasa senang karena mendapatkan tip lumayan banyak. Dia segera pergi meninggalkan Tan.


Dua perempuan yang duduk satu meja dengan Tan langsung mencibir Tan dalam pikiran mereka. "Huhh! sok banget, apa dia sengaja melakukan itu karena ingin menarik perhatian kami berdua? Sorry aja, gak akan berhasil, uang 200 ribu mah kecil di Jakarta ini, kalau dia mengeluarkan 10 juta itu baru bisa menarik perhatian kami."


Sekali lagi Tan tidak tahu kalau dua perempuan itu akan berpikiran seperti itu, dia tidak memiliki kemampuan untuk membaca pikiran orang, tapi untuk melihat harga investasi dalam kurun waktu 24 jam dia bisa.


Beberapa saat kemudian, pesanan Tan sudah tiba, Tan segera menyeruput teh hangatnya dan kemudian memakan sandwich ikan tunanya sambil masih melihat acara komedi di ponsel pintarnya.


Selagi dia melihat acara komedi tersebut, sebuah pesan WhatsApp muncul dalam bentuk notif dan itu berasal dari Sonya.


"Aku dah di lobby hotel Milenial." Kata Sonya dalam pesan tersebut.


Tan langsung membalas pesan tersebut. Dia tidak bisa melihat keberadaan Sonya dari lokasinya karena terhalang dinding setinggi 3-5 meter yang memisahkan lobby lounge dengan lobby hotel.


Mendapatkan balasan dari Tan, Sonya langsung pergi ke tempat tersebut setelah bertanya pada salah satu pegawai hotel tempat lobby lounge berada.


"Soya, disini!" Panggil Tan saat melihat Sonya.


Adik sepupunya itu yang memiliki tinggi sekitar 166 cm dengan tubuhnya yang sedikit montok, berwajah bersih tanpa ada jerawat atau komedo jadi masih dapat dikatakan cantik, berkulit kuning langsat, berambut pendek sebahu yang dibuat seperti rambut Dora the Explorer, dan berkacamata bulat.


Dia langsung berjalan menuju ke tempat Tan. Awalnya Sonya sempat ragu saat melihat Tan yang lumayan berubah, terutama pada wajahnya.


"Bang Tan terlihat sudah berubah, lebih rapi daripada saat kita video call terakhir kalinya." Ujar Soya yang bersalaman dengan menempelkan punggung tangan kanan Tan ke pipi gadis ABG itu.


"Karena suatu hal, bang Tan cukur rambut dan brewok, lagian begini terasa lebih enak." Jawab Tan. "Kamu sudah sarapan pagi? Mau sarapan? Bang Tan yang traktir." Lanjut Tan.


"Ish, sok-sok traktiran segala, emang bang Tan punya uang? Makanan di hotel kan mahal-mahal, dah lah, Soya sudah sarapan di rumah, mana oleh-olehnya?" Tanya Soya sambil melirik dua perempuan yang duduk satu meja dengan Tan.


Dia merasa dua perempuan itu bukan kenalan kakak sepupunya itu, jadi dia tidak perlu bersikap ramah dengan menyapa mereka berdua. Selain itu Sonya juga menyadari dari sikap dua perempuan itu kalau mereka tidak menyukai Tan, bahkan memberikan tatapan merendahkan pada Tan.q


Bila saja dirinya tidak diajarkan etika dan sopan santun oleh kedua orang tuanya, dia sudah menampar wajah kedua perempuan itu karena sudah merendahkan kakak sepupunya itu.


"Ada di kamar, kita kesana." Ujar Tan yang beranjak dari kursi sofa itu setelah menyeruput habis teh hangatnya sedangkan sandwich ikan tunanya di pegang tangan kiri.


Dia berpamitan pada kedua perempuan itu hanya sebagai ramah tamah saja dan kemudian berjalan berdampingan dengan Sonya.


"Kamu mau? Baru satu gigitan." Tanya Tan yang ingin memberikan sandwich ikan tuna tersebut.


Tanpa basa-basi, Sonya menerimanya dan makan sambil jalan menuju ke lift untuk membawa ke lantai tempat ruang presidential suite berada.


Hanya sekitar 10 menit mereka sudah berada di ruang presidential suite dan Sonya merasa terkejut dengan ruangan tersebut. Dia berpikir kalau Tan menginap di ruang standard atau deluxe.


"Bang Tan nginap di ruangan ini? Berapa per harinya bang Tan?" Tanya Sonya yang berlalu-lalang di ruang presidential suite tersebut.


"Kalau tidak salah 4 juta sehari dan bang Tan pesan dua Minggu." Jawab Tan dengan santai dari dalam kamar mandi karena dia sedang ganti baju yang lebih bagus untuk bertemu sama pa'lik dan bu'denya.


"4 juta sehari dan bang Tan nginap selama dua Minggu, jadinya ... " Sonya melakukan perhitungan dalam pikirannya. "56 juta rupiah, bang Tan punya uang sebanyak itu? Perkejaan apa yang dilakukan bang Tan sampai mendapatkan uang sebanyak 56 juta rupiah." Pikir Sonya.


Sementara Sonya sedang berpikir, Tan sudah selesai dengan pakaian barunya, berupa kaos polos putih yang ditimpa dengan jaket denim gelap. Bagian bawahnya memakai celana panjang cardinal slim fit warna abu-abu dan sepatu kasual.


Tentu saja semua pakaiannya itu original dari brand yang sangat terkenal baik lokal maupun internasional. Sejak ada uang, Tan tidak pernah lagi membeli barang KW atau palsu.


Setelan pakaian yang digunakannya itu saja sudah menghabiskan uang sebanyak 5 jutaan.


Sonya yang melihat penampilan Tan hanya bisa menganga. Dia tidak menyangka kalau kakak sepupunya bisa sangat berubah keren dan modis hanya dengan pakaian yang dikenakannya.


"Siapa kamu? Apa kamu bang Tan? Tidak pasti kamu orang lain, dimana bang Tan? Jawab atau aku ... Aduh!" Sonya tidak bisa menyelesaikan perkataannya karena dahinya disentil oleh Tan.


"Sudah cukup main-mainnya, sekarang ayo pergi ke rumah, bu'lek dan pa'lik ada di rumah kan?" Tanya Tan.


"Nyak ada, tapi Babe udah berangkat kerja." Kata Sonya sambil mengelus dahinya yang merasa sakit.


Mereka berdua langsung keluar kamar dengan membawa koper yang berisi pakaian khas Yogyakarta dan beberapa kantong plastik yang berisi makanan dan cemilan oleh-oleh khas Yogyakarta.


Selagi menunggu pintu lift terbuka. Sonya bertanya, "bang Tan kenapa menginap di hotel ini selama dua Minggu, kenapa gak di rumah aja? Itu lebih hemat."


"Aku mengendarai mobil ke Jakarta, di rumah kamu kan tidak ada lahan parkir, jalannya juga sempit, makanya aku menyewa kamar hotel, sekedar untuk memakirkan mobil." Jawab Tan.


Sonya terkejut mendengar itu. Dia tidak menyangka kalau alasan dia menyewa kamar hotel seharga 4 juta sehari hanya untuk memarkirkan mobilnya.


"Berapa banyak uang yang dimiliki bang Tan? Pekerjaan apa yang menghasilkan banyak uang?" Pikir Sonya.


Pintu lift akhirnya terbuka, mereka berdua langsung masuk ke dalam lift tersebut dan Tan menekan tombol lantai dasar agar bisa keluar dari hotel itu.


"Bang Tan tidak melakukan pekerjaan yang ilegal kan?" Tanya Sonya yang merasa khawatir.


Dia tidak dapat menemukan pekerjaan halal yang bisa mendapatkan banyak uang selain menjadi penjabat negara atau direktur perusahaan.


Tan tidak mungkin menjadi penjabat negara karena sifat introvertnya itu. menjadi penjabat negara butuh kemampuan sosial yang bagus sedangkan Tan anti sosial.


Menjadi direktur perusahaan besar juga tidak mungkin karena hampir sama seperti penjabat negara yang butuh kemampuan sosial yang bagus agar perusahaan dapat berjalan dengan lancar.


Tidak ada pekerjaan apapun yang bisa dilakukan oleh kakak sepupunya itu selama dirinya mengidap penyakit psikologis introvert stadium empat.


Jadi yang bisa dia pikirkan adalah pekerjaan ilegal.


"Kamu jangan berpikir tidak-tidak, pekerjaan yang aku lakukan halal dan legal kalau tidak, gak mungkin aku lakukan." Jawab Tan dengan santai.


Pintu lift kembali terbuka dan mereka berdua keluar dari lift tersebut, berjalan berdampingan menuju pintu utama hotel.


"Kalau gitu pekerjaan apa yang bang Tan lakukan?" Tanya Sonya.


"Investasi jangka panjang dan pendek, lebih mudahnya, kakak sepupu kamu ini adalah seorang investor, kamu naik apa kesini?" Jawab Tan dan kemudian bertanya.


"Jalan kaki, hotel ini tidak terlalu jauh dari rumah dan bisa dilalui hanya 10-20 menit dengan jalan pintas." Jawab Sonya dan lalu bertanya, "Investor itu yang memberikan modal pada orang lain untuk bisa membangun usahanya kan?"


"Bisa dikatakan seperti itu, tapi yang aku lakukan adalah membeli saham perusahaan besar dan melakukan trading, kita naik taksi aja untuk ke rumah." Jawab Tan dan memberikan solusi untuk pergi ke rumah Sonya.


Meskipun ada mobil, tapi rumah keluarga Bu'denya tidak memiliki lahan untuk parkir mobil, jalannya juga sempit dan agak rumit.


Bila bukan orang asli situ atau memiliki tempat tinggal disitu atau juga belum pernah mengendarai mobil atau motor di jalan itu jangan harap bisa keluar dengan mudah. Jalan tempat keluarga Bu'denya itu hampir sama seperti lorong labirin tempat tinggal manusia kepala banteng dari mitologi Yunani.


Sonya hanya menganggukkan kepalanya karena dia juga tidak mau berjalan kaki dengan membawa banyak barang.


Saat mereka berada di lobby hotel, Sonya melihat dua perempuan yang sebelumnya memandang rendah kakak sepupunya itu.


Terlihat raut wajah mereka terkejut melihat penampilan Tan yang sangat berbeda dengan mereka lihat sebelumnya.


"Hahaha, makanya, jangan menjudge orang hanya dari pakaiannya, nyesel kan kalian tidak bisa berkenalan dengan kakak sepupu aku yang tampan ini." Pikir Sonya yang berjalan dengan penuh kebanggaan di samping Tan.