MIRACLE: SUPER RICH!!!

MIRACLE: SUPER RICH!!!
Cari Pekerjaan Hanya Untuk Hilangkan Kebosanan



Beberapa hari berlalu dengan sangat cepat. Tan sudah kembali ke kota Yogyakarta dan melakukan aktivitas hariannya seperti biasa, yakni melakukan trading forex dan saham sepanjang waktu yang telah dia tentukan sendiri, yakni jam 8.45 pagi sampai setengah 4 sore.



Mengikuti alur waktu pasar saham Indonesia dibuka oleh kantor BEI.



Meskipun itu adalah waktu kesehariannya yang terus membuat uangnya bertambah, bukannya berkurang, Tan mulai merasa bosan karena kehidupannya sangat monoton.



Selama 5x24 jam, bila tidak ada keperluan yang harus membuat dirinya keluar dari rumah, maka dia akan terus berada di dalam rumah dengan aktivitas, bangun, ishoma, trading forex dan saham, ishoma, dan tidur lagi.



Hanya saat Sabtu dan Minggu yang banyak ishoma dalam aktivitasnya.



Itulah aktivitas hariannya yang mulai membuat dirinya bosan dan ingin melakukan sesuatu yang baru.



Sesuai dengan sifat manusia kebanyakan yang tidak pernah puas dengan satu hal, ingin mencoba melakukan sesuatu yang baru untuk merubah suasana.



Sebelumnya dia tidak pernah berpikiran merasa bosan terhadap sesuatu yang dia lakukan, karena tidak waktu untuk memikirkan hal tersebut.



Saat ini, dirinya merasa tidak memiliki beban apapun. Dia tidak lagi memikirkan masalah keuangan karena uangnya terus bertambah setiap harinya sehingga dia sudah mulai merasakan apa itu sebuah kebosanan, melakukan ritual berulang-ulang terus menerus sepanjang hari.



"Aku harus melakukan sesuatu untuk menghilangkan kebosanan ini!" Ujar Tan yang sedang bersantai di sofa sambil bermain game dari konsol PS 5 yang merupakan salah satu aktivitasnya saat hari Sabtu tiba.



Tan menyudahi permainan tesebut begitu saja, mengambil ponsel pintarnya untuk mendapatkan kegiatan baru dengan mencari pekerjaan yang tidak ribet syarat administrasinya dan cocok untuk dilakukan bagi seorang introvert seperti dirinya.



Dia membuka beberapa website yang merekomendasikan pekerjaan yang sesuai dengan keinginannya dan kebanyakan itu bekerja sebagai penulis, desain grafis, editor video, fotografi, programmer, dan pustakawan.



Melihat rekomendasi pekerjaan yang ditawarkan oleh website yang Tan buka, tidak ada satupun hal yang membuat dia tertarik untuk melakukannya.



Meskipun begitu dia tidak menyerah dan terus mencari pekerjaan yang cocok dengan dirinya yang merupakan anggota masyarakat introvert.



"Melihat rekomendasi pekerjaan terus menerus, membuat aku lapar." Ujar Tan sambil mengelus perutnya yang telah berbunyi beberapa kali sebelumnya.



Waktu yang tertera di ponselnya juga sudah menunjukkan jam setengah 12 siang yang sebentar lagi memasuki waktu sholat Dzuhur dan makan siang.



Dia langsung membuka aplikasi ojol untuk memesan makanan secara online. Pada saat itu juga, berpikiran tentang pekerjaan yang menurutnya tepat meskipun sedikit tidak sesuai dengan sifatnya yang introvert.



"Sepertinya, bekerja sebagai ojek online cukup untuk menghilangkan rasa bosan dan menghabiskan waktu?" Gumam Tan secara tiba-tiba saat dia membuka aplikasi ojol yang terpasang di ponsel pintarnya.



Tan berpikir lebih banyak waktu untuk memutuskan apakah dia bekerja sebagai ojol atau tidak. Sambil berpikir itu juga, dia melihat video tentang ojol sebagai alasan pertimbangan untuk keputusannya.



"Hmm ... meskipun pekerjaan ini harus berinteraksi dengan berbagai orang secara langsung, tapi itu sepertinya tidak masalah untuk aku lakukan." Gumam Tan.



"Cara kerjanya juga simpel, tidak terlalu ribet, penghasilannya juga banyak bila rutin dilakukan." Gumamnya.



Akibat melihat-lihat video tentang ojol membuat waktu sholat Dzuhur sudah tiba dengan suara adzan telah berkumandang dengan sangat keras.



Tan memutuskan untuk memikirkan tentang pekerjaan ojol dan memesan makanan setelah sholat Dzuhur dilakukannya.



Tan langsung menuju ke kamar mandi untuk melakukan wudhu dan kemudian menuju ke mushola kecil yang ada di rumahnya.


Setelah beberapa menit kemudian, Sholat Dzuhur berlangsung dengan cepat, bahkan tidak sampai 10 menit dan itu sudah termasuk dengan dzikir dan berdoa.


Tan kembali ke sofa yang ada di hadapan TV untuk melakukan pemesanan makan siang di aplikasi ojol dan mencari tahu lebih dalam tentang pekerjaan ojol.



Selagi dia mencari tahu tentang pekerjaan ojol setelah selesai memesan makan siangnya, secara tiba-tiba, ponsel pintarnya berdering dan sebuah nama muncul pada layar ponsel pintar tersebut.



"Assalamualaikum, Halo bu'lek, apa kabar?" Tanya Tan setelah dia menerima panggilan telepon tersebut.



"Wa'alaikumussalam wa rahmatullah, Alhamdulillah, baik, bagaimana dengan nak Tan?" Balas tanya bu'lek Asmuni.



"Alhamdulillah, baik juga Bu'lek, pakde Karto dan Soya gimana?" Tanya balik Tan lagi.



"Alhamdulillah, baik juga, kami dalam keadaan baik dan sehat semua." Jawab bu'lek Asmuni.



"Alhamdulillah, syukurlah, jadi ada apa bu'lek?" Tanya Tan yang sudah cukup berbasa-basi nya dan langsung menuju ke bagian utamanya, yakni tujuan bu'lek Asmuni menelpon dirinya.



Bila hanya sekedar menanyakan kabar, Tan merasa sedikit aneh, karena ini baru beberapa hari sejak ia meninggalkan Jakarta.




Tan memang sejak meninggal kedua orang tuanya tidak pernah ikut hadir dalam acara kumpul keluarga, baik itu dari keluarga ayahnya maupun ibunya.



Hal itu bukan tanpa alasan, Tan tidak menyukai keluarga dari pihak ayahnya yang selalu memanfaatkan kebaikan ayahnya yang memiliki sifat mengutamakan kekeluargaan dan tidak ingin terjadi perpecahan keluarga.



Sudah berapa kali ayahnya yang merupakan anak tertua memberikan pinjaman uang pada adik-adiknya yang selalu berjanji akan mengembalikan secepatnya, tapi sampai akhir hayat ayahnya belum juga dikembalikan.



Lebih parahnya lagi saat ayahnya sakit parah tidak ada yang melihat, bahkan sampai meninggal dunia pun mereka juga tidak ada yang datang, meskipun Tan sudah memberikan kabar pada mereka.



Nenek dan kakek dari pihak ayahnya telah lama meninggal dunia, itu terjadi saat ayahnya masih berstatus mahasiswa tingkat 5 sehingga ayahnya yang menjadi pengganti orang tua untuk merawat adik-adiknya.



Bahkan saat adik-adiknya sudah memiliki keluarga masing-masing pun, mereka tetap bergantung pada ayahnya di setiap saat, terutama pada bagian keuangan karena hanya ayahnya yang lebih sukses daripada adik-adiknya.



Sementara itu, keluarga dari pihak ibu terlalu elit. Mereka terus menerus merendahkan ayahnya yang hanya merupakan pegawai rendahan, meskipun ayahnya merupakan pegawai bank sentral Indonesia yang tingkatannya lebih tinggi dari pegawai bank biasa.



Meskipun bu'lek Asmuni dan neneknya tidak bersikap seperti itu pada ayah Tan. Mereka menghormati dan bersikap baik dengan ayah Tan, selayaknya sebuah keluarga sebenarnya.



"Tan? Apa kamu masih di sana? Apa kamu mendengarkan bu'lek?" Tanya bu'lek Asmuni.



"Ah ya, bu'lek ... " Jawab Tan dengan singkat.



"Jadi, apa kamu mau datang perayaan ulang tahun nenek? Nenek selalu menanyakan kabar kamu karena kamu tidak pernah memberikan kabar, dia ingin bertemu kamu, tahun kemarin dia sangat berharap kamu akan datang saat ulang tahunnya, perayaan idul Fitri dan idul Adha, tapi kamu tidak datang." Jelas bu'lek Asmuni.



Tan merasa sangat bersalah pada neneknya itu setelah mendengar perkataan bu'lek. Dia merasa berdosa karena telah berbuat durhaka pada sesepuh.



Bagaimanapun neneknya adalah ibu dari ibunya. Wanita yang telah membuat ada ibunya di dunia ini sehingga dirinya bisa terlahir di dunia ini.



"Baiklah, bu'lek, Tan kali ini akan ikut hadir, acaranya akan diadakan dimana?" Tanya Tan.



"Oh, syukurlah, bu'lek khawatir kalau kamu akan menolak hadir seperti sebelumnya, kali ini acaranya akan diadakan di kota Seoul, Korea Selatan." Jawab bu'lek Asmuni.



"Korea Selatan? Kenapa harus di luar negeri kali ini?" Tanya Tan yang terkejut.



Dia berpikiran kalau acara kumpul keluarga akan berada dalam negeri, seperti di puncak Bogor, bali dan Jakarta, seperti acara-acara sebelumnya.



"Itu karena Alfredo, kamu tahu Alfredo, sepupu kamu, anak ketiga budhe Mirzani?" Tanya bu'lek Asmuni.



"Ya, Tan tahu, ada apa dengan dia?" Jawab Tan sekaligus bertanya balik.



Tidak ada kesan baik dalam pikiran Tan tentang sepupunya itu. Hal itu karena sepupunya itu memiliki sifat yang sama seperti ibunya, yakni membedakan status sosial seseorang.



Bila status sosial seseorang itu tidak sama atau tidak lebih tinggi darinya, maka dia akan bersikap merendahkan orang tersebut seperti yang dilakukan olehnya pada Tan setiap bertemu dalam acara kumpul keluarga saat ibu dan ayahnya masih hidup.



Tidak hanya Alfredo, sepupunya yang lain dan juga orangtuanya juga memiliki sifat yang sama, suka merendahkan orang bila status sosialnya rendah dari mereka.



Tentu saja ada pengecualian, yakni bu'lek Asmuni, Sonya, dan neneknya.



Tan merasa bingung, apakah mereka memang anak kandung dari neneknya? Kenapa yang mewarisi sifat neneknya hanya ibunya dan bu'lek Asmuni.



Kakeknya juga tidak memiliki sifat buruk seperti itu. Meskipun Tan tidak tahu pasti akan hal itu karena kakeknya sudah lebih dulu meninggal dunia sebelum dia lahir ke dunia.



Ibunya selalu menceritakan tentang kakeknya kalau kakeknya itu memiliki karisma yang cukup disegani oleh orang sekitarnya, tegas terhadap prinsipnya, tidak pernah memandang status sosial seseorang, baginya manusia itu tidak boleh membedakan-bedakan dalam hal apapun itu karena yang boleh melakukan hal itu hanya Tuhan dan dia tidak pernah takut apapun selain pada Tuhan.



"Alfredo akan menikah dan calon istrinya orang Korea Selatan, acaranya akan berlangsung tiga hari setelah ulang tahun nenek." Jelas bu'lek Asmuni.



"Ohh~ bocah sombong itu akan menikah ... Aku pikir dia akan tetap lajang sampai tua karena tidak akan ada wanita yang tahan dengan sikapnya itu ... Tuhan memang maha penyayang dan pengasih, masih memberikan jodoh untuk orang seperti dia." Pikir Tan dengan sarkasme.



"Kalau gitu, Tan akan segera buat paspor agar bisa masuk ke negara itu." Ujar Tan.



"Ya, buatlah segera." Sahut bu'lek Asmuni dengan singkat.



Setelah itu, pembicaraan beralih ke hal lainnya secara umum. Tan dan bu'lek Asmuni mengobrol tentang berbagai hal lebih sekitar 10 menit yang akhirnya berakhir karena bu'lek Asmuni harus melanjutkan masak makanan untuk malam hari.