
Tan dan Sonya menggunakan taksi yang dipesan melalui resepsionis hotel Milenial.
Dia lebih menggunakan taksi konvensional daripada taksi online karena jarak rumah Sonya dekat, selain itu juga taksi konvensional lebih cepat datangnya daripada taksi online karena taksi konvensional sudah stand by di lokasi parkir khusus taksi yang ada di hotel tersebut.
Sebelum meninggalkan hotel tersebut, Tan menitipkan kunci elektronik kamarnya pada resepsionis sebagai tindakan pencegahan kalau kunci itu hilang atau rusak saat dia membawanya keluar.
Taksi konvensional yang membawa Tan dan Sonya menyusuri jalan kampung Bali yang lumayan sempit, bahkan pengendara mobil harus ekstra hati-hati dan pelan-pelan menyusuri jalan tersebut.
Meskipun jalan tersebut bisa dilalui dua mobil yang saling berlawanan tetap aja jaraknya cukup sempit, apalagi banyak mobil yang terparkir di pinggir jalan tersebut.
"Kenapa orang-orang disini tetap maksa beli mobil kalau tidak ada garasi untuk memarkirkan mobilnya." Pikir Tan saat melihat mobil-mobil yang terparkir di jalan yang membuat pengemudi mobil yang melalui jalan tersebut harus dibuat kerepotan oleh ulah para pemilik mobil yang egois.
Setelah beberapa menit berlalu, taksi yang dinaiki oleh Tan dan Sonya berhenti di depan sebuah gang kecil yang hanya bisa dilalui kendaraan roda dua atau sepeda.
Dua orang itu, bersama dengan supir taksi segera turun dari mobil, berjalan menuju bagasi mobil yang berada dibelakang untuk mengambil barang bawaan mereka.
Setelah barang bawaan diturunkan semua Tan memberikan bayaran pada supir taksi itu 200 ribu, lebih 130 ribu dari tarif yang seharusnya Tan bayar.
Tan sengaja melebihkan bayarannya sebagai uang tip untuk supir taksi tersebut. Tentu saja supir taksi itu merasa senang dan mengucapkan terima kasih atas uang tipnya.
"Oke mari kita kejutkan nyak kamu, Soya." Ujar Tan yang membawa kantong belanja makanan dan cemilan khas Yogyakarta sedangkan Sonya menarik koper yang berisi pakaian khas Yogyakarta.
Mereka berdua kemudian langsung menyusuri jalan kecil itu dengan Sonya membalas menyapa beberapa orang yang beramah tamah dengannya.
Bagaimanapun Sonya sejak kecil sudah tinggal di tempat tersebut jadi dia hampir mengenal dan dekat dengan orang-orang yang tinggal di gang itu. Bahkan ada beberapa pria-pria seumuran Sonya atau yang terlihat mahasiswa menggoda Sonya.
Mereka juga menanyakan tentang indentitas Tan pada Sonya karena mereka belum pernah melihat Tan dan penasaran apa hubungannya dengan Sonya yang merupakan primadona mereka.
Saat tahu kalau Tan adalah sepupu Sonya, mereka merasa sedikit lega dan juga khawatir karena sepupu juga bisa saling menikah apalagi saat melihat penampilan dan wajah Tan lebih baik daripada mereka semua. Itu semakin menambah kekuatiran primadona mereka akan direbut oleh Tan.
Rumah yang ada di gang itu saling berdempetan dan jarak antar rumah yang saling berhadapan hanya sekitar 4 meter, benar-benar hanya bisa dilalui dua sepeda motor yang saling berlawanan.
Selain itu hampir semua rumah di gang itu tidak ada pagarnya, jadi pembatas rumah dengan jalan hanya dinding teras setinggi lutut orang dewasa atau langsung berbatasan dengan jalan gang, alias tidak ada teras.
Setelah berjalan sekitar 10 menit, akhirnya Tan dan Sonya sampai di tujuan. Pria introvert itu melihat rumah yang sudah lama tidak didatanginya. Dia terakhir datang ke rumah Sonya saat ayahnya masih hidup, setelah itu tidak pernah datang lagi.
"Rumah ini masih sama dengan terakhir kalinya aku datang kesini." Kata Tan.
"Hahaha tentu saja, memang apalagi yang bisa ditambah atau dirubah di lahan yang sempit begini? Palingan yang berubah hanya warna catnya atau genteng yang terlihat baru, menggantikan genteng yang sudah rusak." Jelas Sonya.
"Yuk masuk, nyak pasti kaget melihat bang Tan datang." Lanjut Sonya.
Tan menganggukkan kepalanya dan mereka berdua langsung memasuki teras rumah yang lumayan sempit.
"Assalamualaikum! Aku pulang nyak." Kata Sonya yang membuka pintu utama dan satu-satunya pintu yang digunakan untuk keluar masuk rumah tersebut.
Dia dan Tan segera masuk ke dalam rumah tersebut setelah melepaskan sepatu.
Tan meletakkan kantong belanja oleh-oleh di lantai dekat sofa tamu sedangkan Sonya meletakkan koper yang berisi pakaian oleh-oleh di dekat pintu yang memisahkan ruang tamu tersebut dengan ruang lainnya di rumah itu.
"Waalaikumussalam!" Ujar bu'lek Asmuni dengan suara sedikit keras.
"Nyak! Nyak dimana?" Panggil Sonya yang masuk lebih dalam rumah tersebut, mencari ibunya.
Tan masih berada di ruang tamu dan duduk di sofa yang sudah sedikit rusak, namun masih nyaman untuk diduduki.
"Nyak di dapur, napa?" Ujar bu'lek Asmuni yang muncul dari pintu dapur sehingga Sonya dapat melihatnya.
"Hehehe, ada tamu yang datang, nyak, coba tebak siapa?" Kata Sonya dengan senyum-senyum.
"Siapa yang datang?" Tanya bu'lek Asmuni yang bingung.
"Makanya, coba tebak nyak, siapa yang datang?" Jawab Sonya dengan pertanyaan.
"Siapa sih? Jangan buat nyak bingung, Ya." Ujar bu'lek Asmuni yang memanggil nama kecil Sonya.
"Hehehe, coba aja lihat sendiri, noh, tamunya ada di ruang tamu, nyak." Ujar Sonya yang masih tertawa pelan.
bu'lek Asmuni langsung berjalan menuju ke ruang tamu dan Sonya mengikuti dari belakang.
Saat sampai, bu'lek Asmuni sempat pangling dengan Tan karena terlihat berbeda dengan keponakan yang dia ingat. Tapi itu hanya sebentar karena ekspresi bingung berubah menjadi kaget.
"Kamu Tanaka, keponakan aku kan? Anak laki-laki dari kak Mirah kan?" Tanya bu'lek Asmuni yang kaget dan juga ingin memastikan tebakannya benar.
Tan yang melihat bu'lek Asmuni langsung berdiri, mendekati adik bungsu almarhum ibunya itu dan mencium punggung tangannya.
"Ya, ini Tanaka, keponakannya bu'lek Asmuni, apa bu'lek lupa sama Tan? Padahal baru beberapa hari yang lalu kita saling berbicara di telepon." Ujar Tan dengan senyum sopan dan ramah.
"Astaga, bu'lek sampai pangling, kamu benar-benar banyak berubah Tan, bu'lek ingat kamu itu karena rambut gondrong dan brewokan tapi karena rambut gondrong dan brewok kamu dicukur bu'lek hampir tidak tahu kalau kamu Tan." Ujar bu'lek Asmuni yang memeluk Tan dengan penuh kehangatan dan rindu.
"Benarkan, bukan Soya aja yang paling pangling sama bang Tan saat bertemu, nyak juga." Sahut Sonya.
Tan hanya ketawa pelan mendengar itu. Dia tidak menyangka sedikit perubahan pada rambut dan brewok nya bisa membuat orang hampir tidak mengenalinya.
Sonya tidak membantah dan langsung menuju ke dapur untuk dibuatkan minuman sirup melon. Dia tahu kalau kakak sepupunya itu tidak suka minuman atau makanan yang pahit.
"Sejak kapan datang ke Jakarta? Naik apa? Kenapa gak bilang-bilang ke bu'lek kalau datang, bu'lek kan bisa siapin makanan enak untuk kamu." Ujar bu'lek Asmuni.
"Maka dari itu, Tan gak mau bilang, Tan gak mau merepotkan Bu'de, baru kemarin Magrib Tan tiba di Jakarta, naik mobil, Tan yang kendarai sendiri dari Yogyakarta ke Jakarta." Jelas Tan.
"Aduh kamu itu, siapa juga yang repot, malah bu'lek senang buatin makanan untuk kamu, kamu beli mobil? Kredit? Kenapa harus beli mobil? Kamu bilang sudah lunasi hutang, kenapa mengambil hutang baru lagi untuk beli mobil?" Tanya bu'lek Asmuni.
"Tenang aja Bu'de, Tan beli mobil gak pakai kredit, langsung lunas saat itu juga, Tan sudah dapat pekerjaan yang bisa mencukupi kebutuhan hidup Tan, jadi Tan putuskan beli mobil agar lebih mudah pergi jauh, gak perlu repot-repot membeli tiket tranportasi umum." Jelas Tan.
"Ya, nyak, sekarang bang Tan banyak uang, bahkan dia bisa menginap di hotel Milenial itu dengan kamar hotel cukup mewah, satu hari harganya 4 juta dan bang Tan ambil dua Minggu." Ujar Sonya yang tiba-tiba datang dan meletakkan tiga gelas minuman sirup melon di atas meja.
Mendengar itu membuat bu'lek Asmuni terkejut. Dia langsung menasehati dan memarahi Tan karena terlalu boros.
"Kenapa perlu sewa kamar hotel segala sampai semahal itu harganya? Kamu kan bisa nginap disini, tidur di kamarnya Sonya, Sonya ntar tidur di kamar bu'lek dan pakde, kamu terlalu boros Tan, meskipun kamu sudah memiliki pekerjaan, tetap aja jangan boros, simpan di bank atau sebagian uangnya di deposito sebagai pegangan darurat atau pegangan saat kamu berkeluarga nantinya." Jelas bu'lek Asmuni.
Tan merasa bersalah dan meminta maaf atas hal itu. Dia kemudian memberitahu alasannya, "Tan bawa mobil dan di rumah bu'lek tidak ada tempat untuk parkir mobil, tidak mungkin Tan parkir di pinggir jalan, selain masalah keamanan juga akan menganggu orang lain, jadi Tan sewa kamar hotel untuk memakirkan mobil dan juga tidak membuat repot Soya harus tidur bersama bu'lek dan pakde, itu kan sempit."
"Ish, kamu ini, kayak bu'lek ini orang lain aja, Bu'de, pakde dan Soya kan keluarga kamu juga, jadi tidak ada kata merepotkan, selain itu tidak harus menyewa kamar hotel seharga 4 juta juga hanya untuk memakirkan mobil, bu'lek punya tetangga yang rumahnya memiliki garasi jadi mobil kamu bisa dititipkan disana." Jelas bu'lek Asmuni.
Tan tidak bisa berkata-kata lagi. Dia hanya memberitahu bahwa hal itu sudah terlanjur terjadi dan dia sudah membayar lunas. Meskipun bisa saja dia batalkan, tapi uangnya tetap tidak dapat dikembalikan karena itu bukan kesalahan dari pihak manajemen hotel atau pihak aplikasi Gogo.
"Kalau gitu, bagaimana kalau kita tinggal di kamar hotel itu juga nyak, Sonya ingin sekali merasakan nginap di kamar hotel mewah, foto-foto dan kemudian pamer di sosmed" Cetus Sonya yang membuat kena sentilan dahi oleh ibunya, membuat anak ABG itu meringis kesakitan.
"Kamu ini, jangan ngaco bicaranya, ngapain nginap di hotel, padahal ada rumah sendiri dan lagi hotel itu dekat dengan rumah ini." Ujar bu'lek Asmuni dengan sedikit marah.
"Tapi kan, Sonya ingin merasakan nginap di kamar hotel mewah, kapan lagi bisa menginap di kamar mewah seperti itu kalau tidak sekarang, bolehkan, bang Tan?" Kata Sonya yang meminta dukungan dari Tan.
Pria introvert itu mengangguk-anggukkan kepalanya dengan senang hati. Dengan seperti itu dia tidak perlu bolak balik dari hotel ke tempat Bu'denya.
Sekalian kalau ingin jalan-jalan bersama tidak perlu pakai jemput Bu'de, Sonya dan pakde segala. Bisa langsung tancap gas dari hotel.
"Benar kata Soya Bu'de, lebih baik Bu'de, pakde dan Soya nginap di hotel saja, kapan lagi bisa merasakan kamar hotel mewah, belum tentu Tan bisa menyewa kamar seperti itu di kemudian hari, selain itu akan lebih mudah untuk jalan-jalan bersama karena bisa langsung berangkat dari hotel." Jelas Tan.
Mendengar penjelasan dari Tan membuat bu'lek Asmuni sedikit luluh apalagi anak perempuan satu-satunya itu sangat menginginkannya.
"Kalau kami semua menginap disana, bagaimana dengan kamu, Tan? Kamar tempat tidurnya juga cuma ada satu atau dua kan?" Tanya bu'lek Asmuni.
"Kalau itu, Tan tinggal buka satu kamar lagi, beres sudah masalahnya." Ujar Tan dengan mudahnya.
Dia tidak ada masalah membuka satu kamar atau lebih dari itu kamar karena dia memiliki uang 100 miliar lebih di rekeningnya dan itu cukup membuka sepuluh kamar jenis presidential suite dengan harga 4 juta tersebut dan jumlah hari yang sama saat ini dia lakukan.
Tan tidak menyadari kalau perkataannya itu mendapatkan kemarahan dari bu'lek Asmuni.
"Kamu ini, baru saja bu'lek nasehatin untuk berhemat uang yang kamu miliki jangan boros tapi kamu sudah melakukannya lagi." Ujar bu'lek Asmuni dengan ekspresi wajah serius.
"Hehehe, maaf Bu'de, tapi Tan memiliki banyak uang dan tidak ada masalah untuk membuka satu kamar lagi, selanjutnya Tan janji untuk tidak boros." Ujar Tan sambil menggaruk-garuk belakang kepalanya.
Dia merasa tidak masalah mengeluarkan uang sebanyak apapun demi keluarga bu'lek Asmuni bisa bahagia dan senang.
Sejak kematian kedua orang tuannya, bu'lek Asmuni dan pakde Karto adalah pengganti orang tuanya jadi dia ingin membahagiakan keluarga Bu'denya itu dengan apapun yang bisa dia lakukan.
bu'lek Asmuni akhirnya menyerah dan akan memberitahu tentang hal ini pada pakde Karto, saat pulang kerja nanti sore.
Bila suaminya itu mengijinkan maka tidak ada masalah dengan hal tersebut.
Mendengar itu membuat Sonya langsung merasa bahagia. Membujuk ayahnya lebih mudah daripada membujuk ibunya.
Ayahnya itu jarang menolak permintaan dirinya. Bukan karena ayahnya memang memanjakan dirinya tapi karena Sonya sudah melakukan terbaik menuruti keinginan ayahnya, yakni menjadi anak yang dapat bertutur sopan santun, beretika, menjaga nama baik keluarga, rajin belajar dan sholehah.
Obrolan Tan dengan bu'lek Asmuni dan Sonya terus berlanjut sampai waktu makan siang dan adzan Dzuhur berkumandang. Tan segera mengambil air wudhu untuk melaksanakan sholat Dzuhur dan kemudian menikmati makan siang bersama bu'lek dan Sonya.
bu'lek Asmuni masih merasa tidak enak pada Tan karena dia tidak menyediakan makanan yang lebih enak daripada hidangan yang mereka santap saat ini, yakni ikan gembung goreng, sayur bayam, tahu tempe goreng dan sambal terasi.
Tan tidak mempermasalahkan hal itu, bagaimanapun juga dia merasa senang dengan hidangan itu dan juga tidak membuat repot bu'lek untuk membuat hal yang berlebihan untuk dirinya.
Setelah selesai makan, sudah waktunya untuk memberikan oleh-oleh pada bu'lek Asmuni dan Sonya.
Tan sebelumnya sudah memberikan makanan dan cemilan khas Yogyakarta pada Bu'denya sekarang tinggal pakaian yang ada di dalam koper.
Tan membeli beberapa dress panjang bermotif batik dan daster bermotif batik untuk Bu'denya. Selain itu juga membeli pakaian dress gamis yang lagi ngetrend. Tan tahu kalau Bu'denya menyukai pakaian dress panjang daripada kaos atau celana. Oleh karena itu dia membeli dress panjang dengan berbagai motif dan jenis untuk Bu'denya.
Sedangkan untuk Soya, karena dia sudah ABG, Tan membeli beberapa pakaian yang lagi ngetrend dikalangan anak ABG termasuk batik dan Dagadu yang merupakan pakaian khas Yogyakarta.
Tan tidak tah ukuran pakaian Sonya jadi dia membeli ukuran XL untuk perempuan, bila kebesaran bisa dikecilkan daripada membeli ukuran kecil yang tidak bisa di besarkan bila ternyata tidak muat.
Pakaian untuk pakde Karto, Tan membeli beberapa pasang kemeja batik dan salah satu memiliki motif yang sama dengan dress panjang batik punya bu'lek sehingga bila ada kondangan bisa memakai itu untuk seragam.
Selain itu Tan juga membeli beberapa kaos, kemeja, celana yang lagi ngetrend di tahun 2022 sehingga pakde Karto bisa tetap tampil fashionable.
Tan sebenarnya ingin membeli blangkon, tapi tidak jadi karena itu pakde Karto juga akan jarang memakainya. Dia menggantinya dengan topi karena pakde Karto bekerja sebagai arsitektur lapangan alias mandor bangunan jadi perlu topi untuk mengurangi efek sinar matahari.