MIRACLE: SUPER RICH!!!

MIRACLE: SUPER RICH!!!
Rasa Canggung



Cahaya lampu jalan, kendaraan bermotor, gedung-gedung pencakar langit dan bangunan lainnya bersinar dengan cukup terang di kota metropolitan Jakarta.



Dengan pencahayaan yang cukup terang tersebut, membuat bulan menjadi malu untuk muncul seutuhnya sehingga hanya membentuk sebuah sabit



Dengan pencahayaan yang begitu terang sampai membuat bulan malu untuk menerangi langit malam, Tan dan Ayunindya yang berada dalam satu mobil hanya dalam keadaan diam seribu bahasa.



Mereka berdua belum berbicara sama sekali sejak meninggalkan mall, suara kericuhan yang terjadi di luar mobil menjadi penghias suara ditelinga mereka masing-masing.



Suasana canggung tersebut membuat Tan merasa gak nyaman, tapi dia juga tidak tahu bagaimana cara untuk menghilangkan suasana canggung tersebut.



Tan hanya bisa melihat ke depan yang penuh dengan mobil yang berjalan perlahan-lahan akibat macet. Sesekali dia melihat beberapa pengendara motor yang bergerak lincah,menyalip di sela-sela mobil yang bergerak perlahan tersebut.



"Aku ingin cepat sampai di hotel, tapi itu tidak mungkin terjadi bila jalannya macet parah seperti ini." Pikir Tan yang mulai bosan melihat ke arah depan sehingga dia berpaling ke arah kiri, melihat gedung pencakar langit yang beberapa jendela mengeluarkan cahaya lampu.



"Tuan Tanaka ..." Panggil Ayunindya secara tiba-tiba.



Tan segera mengalihkan pandangannya dari pemandangan yang ada di luar ke arah gadis cantik yang ada di samping kanannya.



"Kalau boleh tahu, berapa lama Anda berada di Jakarta?" Tanya Ayunindya.



"Hari ini adalah hari terakhir aku berada di Jakarta, besok aku akan kembali ke Yogyakarta." Jawab Tan dengan santai.



"Secepat itu? Sangat disayangkan, kita tidak bertemu lebih cepat sebelumnya." Ujar Ayunindya sambil melihat ke arah Tan sejenak, lalu melihat ke depan lagi.



Tan merasa sedikit bingung dengan ucapan Ayunindya tersebut. Dia dan Ayunindya hanya orang asing, hanya bertemu beberapa kali saja secara kebetulan sehingga tidak bisa dikatakan kalau dirinya dan gadis cantik itu memiliki kedekatan hubungan sama sekali.



Dia juga tidak berpikir terlalu jauh yang membuat dirinya merasa sangat PD bahwa gadis cantik itu memiliki perasaan khusus terhadap dirinya.



"Seandainya kita bertemu lebih awal sebelumnya, kita bisa membicarakan tentang bisnis lebih banyak lagi." Kata Ayunindya.



Mendengar itu telah menjawab pertanyaan di otak Tan kalau Ayunindya ingin membicarakan soal bisnis dengannya.



Tan telah memperkenalkan dirinya sebagai seorang investor, jadi hal yang wajar bagi Ayunindya ingin membicarakan tentang bisnis, apalagi dengan jabatannya tesebut.



"Oh, ya, mungkin di lain waktu kita memiliki kesempatan untuk hal tersebut." Ujar Tan dengan singkat dan kemudian terdiam.



Dia memang merasa bingung untuk melanjutkan obrolan karena penyakit psikologisnya tersebut, apalagi dengan orang yang jarang ditemuinya.



Bisa dikatakan kalau dirinya adalah orang yang membosankan bagi orang lain karena dirinya lebih banyak diam daripada berbicara atau membuat sebuah topik obrolan.



"Ya, aku harap itu akan terjadi dalam waktu cepat ... Tuan Tanaka, kalau boleh tahu, saat ini Anda sedang berinvestasi di perusahaan apa?" Tanya Ayunindya.



"Itu, aku berinvestasi di beberapa perusahaan yang bergerak di bidang keuangan, lebih tepatnya di perbankan." Jawab Tan.



Mendengar hal itu membuat Ayunindya sedikit penasaran dan bertanya, "apakah Anda berinvestasi di bank Jaya juga?"



Tan menggelengkan kepalanya, "Tidak, bank yang aku investasi hanya di BPA, bank Independen, bank Republik dan bank NI, karena tiga bank itu yang memberikan deviden di atas 100 setiap tahunnya." Jelas Tan.



Ayunindya sedikit kecewa karena Tan tidak berinvestasi di bank Jaya yang merupakan perusahaan bagian Jaya group.




"Ya, tuan Tanaka benar, tapi bolehkah aku meminta Anda untuk berinvestasi di bank Jaya juga?" Tanya Ayunindya.



Tan hanya menganggukkan kepalanya meskipun dia tidak berjanji akan berinvestasi di bank Jaya karena dia harus melihat-lihat terlebih dahulu sebelum berinvestasi, apakah mendatangkan cuan atau uangnya terbakar begitu saja.



Meskipun dia tidak akan pernah kekurangan uang selama dirinya memiliki kekuatan penglihatan super, tapi tetap saja, dia berinvestasi untuk mendapatkan keuntungan bukan kerugian.



Setelah obrolan bisnis yang begitu singkat dan perjalanan ke hotel masih cukup lama karena kemacetan yang biasa terjadi di kota metropolitan Jakarta, Ayunindya mengubah topik obrolan ke hal lebih umum yakni kegiatan Tan selama berada di Jakarta, tempat terkenal di Jakarta, bahkan mengobrol tentang harga properti yang ada di Jakarta



Dia lebih banyak bertanya dan berbicara daripada Tan karena dia menyadari kalau pria yang ada disampingnya adalah seorang pendiam.



Ini adalah pertama kalinya dia lebih aktif daripada lawan jenisnya. Biasanya pria yang bertemu dengannya lebih aktif untuk berbicara daripada dirinya, hanya untuk menarik perhatian dirinya.



Ayunindya melakukan ini bukan karena dia ingin menarik perhatian Tan terhadap dirinya, tapi hanya sekedar untuk menghilangkan rasa bosan dan sunyi.



Meskipun dia sedikit tertarik dengan Tan karena dia baru pertama kalinya bertemu dengan pria yang seperti Tan, banyak diam, berbicara seadanya dan tidak terlihat tertarik pada wanita cantik dengan tubuh selayaknya seorang model atau aktris mega bintang, seperti dirinya.



Bukan karena dia terlalu memuji dirinya sendiri, tapi itu sebuah fakta yang diakui oleh banyak orang setelah bertemu dengan dirinya.



Setelah hampir lima jam, akhirnya mobil yang dikendarai oleh Ayunindya tiba di depan lobby hotel tempat Tan menginap.



"Terima kasih sudah memberikan tumpangan, maaf bila ini sudah merepotkan Anda, nona Ayunindya." Ujar Tan sambil melepaskan sabuk pengaman.



"Tidak apa, ini juga karena aku yang menawarkan pada Anda, jangan dipikirkan dan juga jalannya searah dengan tempat tinggal aku." Sahut Ayunindya.



Tan menganggukkan kepalanya dan kemudian dia membuka pintu agar bisa keluar dari mobil tersebut.



"Tuan Tanaka, bila ada waktu tolong berinvestasi juga dengan perusahaan yang ada di Jaya group, aku jamin tuan Tanaka tidak akan menyesal telah berinvestasi di perusahaan kami." Ujar Ayunindya sesaat sebelum Tan keluar dari mobil.



Pria itu kembali menganggukkan kepalanya, keluar dari mobil, menutup pintu tersebut dan kemudian Ayunindya pergi meninggalkan Tan yang menatap kepergian gadis cantik itu sampai keluar dari area hotel dan tidak terlihat lagi.



"Hmm ... Sepertinya aku harus berinvestasi di satu atau dua perusahaan itu." Gumam Tan.



Perusahaan yang dimaksud oleh Tan, tentu saja perusahaan yang berada dalam naungan Jaya group. Hal itu dia lakukan karena Ayunindya sudah beberapa kali meminta dirinya untuk berinvestasi di perusahaan tersebut.



Tan masuk ke dalam hotel dan langsung menuju ke lantai tempat kamar hotelnya berada dengan menggunakan lift.



Sesampainya di kamar hotel, dia berganti pakaian dengan pakaian yang lebih nyaman untuk tidur, kemudian melakukan packing untuk bersiap meninggalkan hotel esok harinya, setelah sholat subuh.



Proses packing tidak memerlukan waktu yang lama, karena barang bawaannya tidak sebanyak saat dia pergi.



Selama berada di Jakarta, Tan tidak membeli begitu banyak barang. Dia tidak membeli oleh-oleh karena di Yogyakarta dia hanya tinggal sendirian. Barang yang dia beli selama di Jakarta hanyalah smartphone dan laptop untuk sepupu dan kedua orang tuanya.



Selesai packing, Tan melihat jam sudah lewat 10 menit dari jam 12 malam dan memasuki hari baru. Dia berpikiran untuk melakukan sholat tahajud, tapi berpikir sekali lagi kalau dirinya butuh istirahat lama karena akan melakukan perjalanan jauh sendirian.



Tanpa basa-basi lagi, Tan langsung merebahkan tubuhnya ke atas kasur yang empuk dan memejamkan matanya sampai matanya kembali terbuka saat alarm yang sudah dia setel di ponsel pintarnya berbunyi, tepat 10 menit sebelum waktu sholat subuh tiba.