MIRACLE: SUPER RICH!!!

MIRACLE: SUPER RICH!!!
Memberikan Pelajaran Pada Pria Br*ngs*k (part 2/akhir)



Devon dan Tanaka saling menatap selama beberapa saat yang kemudian secara tiba-tiba Devon tertawa.



"Hahaha, ya, kamu benar, tidak ada yang tahu apa yang terjadi di masa depan, hanya Tuhan yang tahu." Ujar Devon. "Mungkin ini juga sudah menjadi sebuah garis takdir yang membuat aku bertemu dengan Vina, pasanganku sebenarnya setelah aku ditinggalkan oleh Rina."



Devon sekali lagi menatap dengan penuh romantis dan sedikit nafsu saat melihat tubuh moleknya Vina yang berpakaian lumayan memperlihatkan kulit tubuhnya dan juga bentuk tubuhnya.



Tiba-tiba saja Devon menciumi bibir Vina secara singkat.



Tanaka hanya tersenyum mendengar itu meskipun dalam pikirannya dia ingin pergi dan tidak melihat pasangan yang gak tahu malu itu lagi untuk selamanya.



Sementara itu Azrina sangat terkejut dengan sikap Devon yang selama berpacaran tidak pernah melihat atau melakukan hal yang memalukan hal seperti itu padanya, meskipun dia tidak ingin diperlakukan seperti Sugar baby-nya Devon itu.



"Apa ini perilaku aslinya? Aku bersyukur sudah mengakhiri hubungan dengannya." Pikir Azrina yang merasa jijik melihat dua pasangan itu.



Beberapa saat kemudian, steak pesanan mereka berempat tiba dan diletakkan sesuai dengan pesanan.



Begitu juga dengan minumannya. Tanaka dan Devon memesan minuman softdrink, Azrina jus jeruk, dan Vina jus strawberry.



Tanaka mengambil garpu dan pisau untuk memotong daging steak tenderloin itu menjadi empat bagian.



Setelah itu dia melihat Azrina yang sedikit kesusahan memotongnya karena daging steak berada di wadah yang sangat panas.



"Sini, biar aku bantu." Pinta Tanaka.



Azrina hanya menganggukkan kepalanya, mendekatkan wadah steak nya ke Tanaka agar lebih mudah memotongnya. Meskipun begitu, dia merasa senang Tanaka memperlakukan dirinya dengan sangat baik.



Sangat berbeda dengan mantan pacarnya yang baru dia sadari setelah berpisah sangat egois dan selalu mengutamakan dirinya sendiri, tidak peduli dengannya kecuali saat ingin sesuatu.



Devon yang melihat tindakan Tanaka itu membuatnya cemburu dan kesal. Meskipun begitu dia masih bersikap biasa saja.



Vina yang melihat tindakan Tanaka yang begitu gentleman, sedikit iri sehingga dia ingin diperlakukan seperti itu oleh Devon.



"Sayang, aku kesusahan memotongnya, apa kamu bisa memotongnya untuk aku?" Pinta Vina.



"Eh? Biasanya kamu bisa memotongnya sendiri? Kenapa sekarang tidak bisa?" Tanya Devon dengan polosnya.



Mendengar itu membuat Vina merasa kesal dan dia pun memotong daging steak nya itu seperti biasa dia lakukan saat makan steak.



Tanaka hanya mengabaikan pasangan yang gak punya malu itu, hanya fokus pada steak milik Azrina yang sedang dia potong menjadi beberapa bagian agar mudah dimakan oleh perempuan itu.



Setelah selesai, dia mengembalikan wadah steak itu ke pemiliknya.



"Terima kasih." Ujar Azrina.



"Ya, makanlah, aku dengar steak itu sangat enak bila dimakan saat lagi panas-panasnya." Ujar Tanaka.



Azrina menganggukkan kepalanya dan dia mengambil garpu dan menusuk daging yang telah dipotong oleh Tanaka tersebut.



Mereka bertiga juga makan steak mereka masing-masing.



"Tanaka, apakah kamu masih kuliah atau sudah lulus?" Tanya Devon secara tiba-tiba.



"Aku sudah lulus dari fakultas hukum." Jawab Tanaka dengan santainya sambil menusukkan garpu ke daging steak dan kemudian memakannya.



"Oh! Lulusan hukum, apakah kamu bekerja sebagai pengacara, jaksa atau hakim?" Tanya Devon.



"Tidak, aku bekerja sebagai ojek online." Jawab Tanaka yang jujur apa adanya tanpa berpikir pekerjaan ojol merupakan hal yang memalukan apalagi dia sebagai sarjana hukum.



"Ojek online? Kenapa kamu memilih itu, padahal kamu sarjana hukum?" Tanya Devon tersenyum mengejek karena pekerjaan Tanaka tersebut.



"Ya, mungkin sebenarnya aku salah mengambil jurusan pendidikan lanjutan, sehingga aku tidak bekerja sesuai dengan bidang ilmu yang aku tempuh." Jelas Tanaka yang jujur apa adanya karena tidak ada hal yang harus disembunyikan.



"Lagipula mungkin ini sudah menjadi garis takdir, dengan aku bekerja sebagai ojek online, aku bertemu dengan Azrina dan menjadi teman dekatnya." Ungkap Tanaka sambil melihat Azrina dengan tersenyum.



Perempuan itu hanya menatap dengan kosong dan kemudian mengalihkan pandangan dari Tanaka karena merasa malu.



Devon yang melihat itu semakin cemburu dan kesal. Dia sebenarnya merendahkan dan mengejek Tanaka yang bekerja sebagai ojol tapi dia melihat sikap Tanaka yang membuat Azrina menjadi salah tingkah.



"Kalau kamu? Apa masih kuliah atau kerja?" Tanya balik Tanaka.



"Masih kuliah dia jurusan arsitek dan tahun depan sudah lulus." Jawab Devon. "Setelah lulus aku akan bekerja perusahaan ayahku, apa kamu pernah mendengar perusahaan PT Aman Karya kontruksi?"



Tanaka menggelengkan kepalanya karena memang dia tidak pernah tahu atau mendengar nama perusahaan itu meskipun dia telah membeli beberapa saham perusahaan tapi dia belum menemukan nama perusahaan yang disebutkan oleh Devon.



"Mungkinkah perusahaan itu jenis perusahaan tertutup atau memang tidak terlalu terkenal di dunia saham?" Pikir Tanaka.



"Perusahaan yang aku sebutkan tadi itu merupakan perusahaan konstruksi peringkat 3 di Yogyakarta, peringkat 8 di Indonesia." Jelas Devon.



Tanaka menganggukkan kepalanya, meskipun dia tidak terlalu peduli dengan peringkat dari perusahaan itu, tapi untuk menghormati Devon dia melakukan itu.



"Jadi kamu sudah bisa langsung bekerja setelah lulus, sungguh beruntung, kamu tidak akan melewati masa-masa pengangguran setelah lulus kuliah." Ungkap Tanaka yang mengatakan sesuai dengan fakta yang terjadi.



"Ya, aku memang beruntung karena dilahirkan di keluarga perak karena hidupku sudah langsung terjamin." Ujar Devon yang ingin mengejek Tanaka secara tidak langsung karena dilahirkan di keluarga sendok kayu.



Meskipun begitu, Tanaka sama sekali tidak tersinggung ataupun marah dengan ejekan tersebut. Dia hanya menganggukkan kepalanya, menerima semua ucapan itu.




Setelah beberapa menit, mereka berempat sudah selesai dengan makanannya mereka.



Devon memanggil seorang pegawai untuk memintanya memberikan total harga pesanan tersebut.



Pegawai itu langsung pergi ke kasir untuk memberitahu hal itu dan kemudian kembali dengan membawa sebuah cover bill yang berisi kertas struk pembayaran.



Devon membuka cover bill tersebut dan melihat total yang harus dia bayar di struk pembayaran tersebut.



Dia terkejut saat melihat total harga yang tertera struk itu sebesar 11,2 juta. Vina yang berada di sampingnya juga terkejut dengan total harga tersebut.



"Apa ada masalah?" Tanya Tanaka dengan santainya dan tersenyum.



"Tidak, tidak, tenang saja, aku hanya terkejut melihat total harganya yang begitu murah." Jawab Devon.



Dia pun beranjak dari kursinya dengan menarik tangan Vina untuk ikut dengannya ke kasir.



Tanaka tersenyum seringai dan merasa puas sudah memberikan pelajaran pada pria brengsek itu atas kesombongannya dan perilakunya itu.



"Mas, aku pikir ini terlalu berlebihan untuknya." Ungkap Azrina.



"Kenapa berlebihan? Ini pantas untuknya agar tidak sombong dan bisa berperilaku lebih baik lagi kedepannya." Jelas Tanaka. "Ayo kita ke kasir, melihat mereka bisa membayar atau tidak?"



Mereka berdua menuju ke kasir dan melihat Devon dan Vina masih belum bisa melakukan pembayaran.



Devon tidak memiliki cukup uang untuk membayar, baik itu dari dompetnya, kartu debitnya dan juga kartu kreditnya. Begitu juga dengan Vina yang kartu kreditnya hampir mencapai limitnya sehingga tidak bisa melakukan pembayaran.



"Apa ada masalah?" Tanya Tanaka yang pura-pura tidak tahu, tapi dalam pikirannya dia tertawa terbahak-bahak.



"Oh itu ... gimana ya? Itu ... " Ujar Devon yang tidak tahu harus berbicara apa.



Pegawai kasir yang tidak sabar melihat Devon, langsung memberitahukan masalah yang terjadi.



Tanaka menganggukkan kepalanya, dia mengeluarkan dompetnya, mengambil kartu debitnya dan menyerahkan pada kasir dengan santainya.



Devon merasa bingung melihat Tanaka yang begitu tenang menyerahkan kartu debitnya itu.



"Apa dia punya uang banyak? Bukankah dia hanya ojek online? Apa penghasilan ojek online itu cukup banyak?" Pikir Devon.



Selain Devon Azrina dan Vina juga berpikiran sama. Azrina sebenarnya ingin mengeluarkan kartu kreditnya untuk membayar. Kartu kreditnya itu adalah pemberian ayahnya sebagai uang saku bulanan dan memiliki limit 50 juta dan dia jarang menggunakan kartu kreditnya itu.



"Ini ... bukan berarti aku tidak bisa membayarnya tapi aku baru tahu kalau uang bulanan aku belum ditransfer." Ngeles Devon.



Tanaka hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Dia berjalan mendekati mesin EDC yang ada di samping mesin kasir, menekan tombol yang ada di mesin EDC untuk memasukkan password kartu debitnya.



Setelah itu, pegawai langsung melakukan proses pembayaran dan struk keluar dari mesin EDC tersebut yang menandakan telah berhasil melakukan pembayaran.



Devon, Azrina, dan Vina terkejut melihat itu. Sedangkan Tanaka hanya bersikap santai, mengambil kartu debitnya beserta dengan struk pembayaran tersebut dari pegawai kasir.



"Oke, sepertinya kita harus berpisah disini, aku dan Azrina akan menonton film di bioskop." Ujar Tanaka. "Ayo, Azrina, filmnya akan dimulai setengah jam lagi."



Tanaka dan Azrina pun pergi meninggalkan dua pasangan yang gak punya malu itu menuju ke arah bioskop.



"Mas Tanaka, berapa nomor rekening bank, mas?" Tanya Azrina secara tiba-tiba. "Aku akan mentransfer untuk mengganti uang yang mas keluarkan itu."



"Tidak perlu, kamu tidak harus melakukannya." Jawab Tanaka dengan singkat dan tenang.



"Tapi itukan penghasilan ojek mas Tanaka yang bisa digunakan untuk keperluan lainnya tidak seperti ini." Ungkap Azrina. "Aku tahu mas Tanaka sangat susah untuk menghasilkan uang dari ngojek, aku mendengarnya dari beberapa driver ojol yang menerima orderan aku."



Tanaka berhenti dan melihat sejenak Azrina dan kemudian dia menghela nafas panjang.



"Kamu tidak perlu khawatir, uang yang aku keluarkan itu cukup kecil dengan jumlah uang yang aku miliki." Jelas Tanaka yang membuat bingung Azrina.



"Aku ngojol itu bukan karena ingin bekerja untuk mendapatkan uang, tapi hanya sebagai alasan untuk diriku sendiri agar mau keluar dari rumah." Jelas Tanaka.



Tanaka pun menjelaskan tentang kesehariannya sebelum ngojol yang membuat Azrina tertawa kecil.



Mereka berdua kembali berjalan menuju ke arah bioskop.



"Kalau begitu, apa pekerjaan mas Tanaka sebenarnya?" Tanya Azrina.



"Hmmm ... bisa dikatakan, aku itu seorang investor dan trader." Jawab Tanaka. "sebelum ngojol aku selalu melakukan trading forex dan juga melakukan jual beli saham."



"Kalau investor saham itu memang investasi jangka panjang, tapi kalau Trader? Bukankah itu kegiatan yang hanya menghamburkan uang saja?" Tanya Azrina.



"Mungkin iya mungkin juga tidak, kalau kamu melakukan secara asal-asalan maka itu memang terlihat menghancurkan uang, tapi bila melakukan dengan benar maka itu bisa mendatangkan banyak uang." Jelas Tanaka.



"Contohnya ya, seperti aku yang berhasil mendapatkan uang banyak dari trading forex, tapi aku tidak menyarankan kamu juga melakukan trading." Ujar Tanaka. "Kalau kamu ingin melakukannya setidaknya kamu harus belajar dan memahami terlebih dahulu bagaimana cara kerja trading itu, kalau tidak apa yang kamu katakan itu akan menjadi kenyataan."



"Tenang saja, mas, aku tidak ada niatan untuk melakukannya, lebih baik aku bekerja dan melakukan investasi semacam deposito dari penghasilan kerja yang aku lakukan." Jelas Azrina.



Tanaka menganggukkan kepalanya sambil tersenyum karena hal seperti itulah yang harus dilakukan oleh orang normal.



Sedangkan Tanaka berani melakukan tindakan ekstrim untuk mendapatkan uang lebih cepat karena dia memiliki penglihatan super. Kalau saja dia tidak memiliki penglihatan super itu maka dia akan melakukan hal seperti yang dilakukan oleh Azrina, bekerja dan terus bekerja sampai tubuhnya tidak bisa melakukan pekerjaan lagi.