MIRACLE: SUPER RICH!!!

MIRACLE: SUPER RICH!!!
Tidak Perlu Dikembalikan



"Terima kasih Tan, sudah mau meminjamkan aku uang, aku akan mengganti uang itu paling lama dua hari, sesuai dengan yang aku janjikan, keluarga Marx tidak pernah mengingkari janji yang telah dibuat atau diucapkan." Kata Richard dengan senyuman menghiasi bibirnya, meskipun dia menahan rasa malunya akan akan hal tersebut.


"Ya, tidak perlu dikembalikan." Respon Tan dengan singkat.



Mendengar ucapan Tan tersebut membuat semua orang yang ada di ruangan itu tersentak kaget.



"Gila betul, duit sebanyak itu tidak perlu dikembalikan!"



"Hanya orang dari anggota keluarga konglomerat yang bisa mengatakan hal seperti itu."



"Apa dia benar-benar anggota keluarga konglomerat? Keluarga konglomerat yang mana? Aku belum pernah mendengar atau tahu ada keluarga konglomerat dengan nama Saputra atau semacamnya."



"Mungkinkah dia anggota konglomerat yang tidak menyukai adanya perhatian publik dan selalu menjalani kehidupan sederhana?"



"Jangan ngawur, ini bukan film atau cerita novel, mana ada keluarga konglomerat yang tidak menyukai adanya perhatian publik, mereka tentu menyukai perhatian publik agar bisa pamer harta kekayaan yang mereka miliki."



"Tidak peduli apa Tanaka itu berasal dari keluarga konglomerat atau bukan, yang pasti dia memiliki kekayaan yang melimpah, aku harus mendapatkannya, tidak peduli jadi wanita simpanan kedua, tiga atau berapa itu, aku harus menggaetnya."



Semua orang yang ada di ruangan tersebut, kecuali Richard dan Martin membicarakan tentang ucapan Tan sedangkan beberapa perempuan yang hanya bermodalkan kecantikan dan tubuh yang dipoles sedemikian rupa agar terlihat seperti model atau selebriti kelas atas, menatap Tan seperti sekelompok hyena yang sedang menatap mangsanya.



Mereka adalah sekelompok perempuan yang hanya ingin numpang hidup atau menjadi parasit pada pria yang memiliki kekayaan lebih dari kata cukup. Masalah cinta dan semacamnya tidak mereka pikirkan, selama pria itu bisa memenuhi kebutuhannya maka mereka akan terus menempel, menguras habis sampai tidak ada yang tersisa.



Sementara para teman sekelas Tan itu sedang membicarakan tentang dirinya, Richard hanya terdiam sambil menahan rasa kesalnya karena dia berpikir kalau acara reuni yang dia adakan adalah tempat untuk memamerkan kekuasan dan kekayaan yang dia miliki.



"Seharusnya aku yang menjadi protagonis utama dalam acara ini, tapi kenapa berubah menjadi karakter sampingan yang hanya sekedar lewat saja?" Pikir Richard dibalik sikap tenang yang dia tampilkan di hadapan orang-orang yang ada dalam ruangan tersebut.



"Meskipun kamu mengatakan tidak perlu, aku tetap memaksa untuk mengembalikan uang yang kamu keluarkan, Tanaka, keluarga Marx memiliki kebiasaan untuk tidak pernah meninggalkan hutang dalam bentuk apapun pada orang lain." Tegas Richard dengan tetap memperlihatkan senyum kosongnya itu.



"Jadi berikan nomor rekeningnya dan lusa uangnya akan masuk ke dalam rekeningmu sesuai yang aku janjikan." Tambah Richard.



Tan hanya menganggukkan kepalanya dan mengeluarkan ponsel pintarnya, membuka aplikasi WhatsApp untuk mengirim nomor rekening banknya ke Richard.



"Aku sudah mengirimkan nomor rekening bank aku ke WA kamu." Kata Tan dengan santai dan tenang.



Dia tidak ingin berdebat panjang tentang masalah uang tersebut sehingga Tan hanya bisa menuruti kemauan Richard. Meskipun sebenarnya dia tidak terlalu berharap uang tersebut dikembalikan oleh Richard.



Bagaimanapun, saat ini, dia tidak memiliki kekurangan uang sama sekali. Malahan yang ada dia memiliki kelebihan uang yang kemudian membuat dia bingung untuk mengurangi uang tersebut karena terus bertambah setiap harinya.



Sebenarnya Tan bisa saja mengurangi uang yang dimilikinya itu dengan berhenti melakukan trading, tapi dia tidak bisa melakukan hal itu karena dengan hal itu dia bisa mengisi waktu hariannya sebagai seorang pengangguran.



Selain itu, akan sangat tidak bagus bila keajaiban yang diberikan padanya tidak dia gunakan dengan semestinya. Baginya itu sama saja tidak mensyukuri apa yang telah diberikan oleh Tuhan pada dirinya.



"Oke, aku pasti akan mengembalikan uang 300 juta itu, lusa nanti, tunggu saja, kamu tidak perlu merasa khawatir kalau aku tidak menempati janji yang telah aku buat padamu, Tanaka." Ujar Richard yang mengangkat tangannya untuk bersalaman sambil memberikan senyuman kosong.



"Tanaka, kalau boleh tahu apa pekerjaan kamu?" Tanya Richard.



Dia ingin tahu tentang hal tersebut karena dengan mengetahui perkejaan yang dilakukan Tan, dia bisa mendapatkan gambaran penghasilan bulanan yang dimiliki oleh Tan.



Meskipun dia sudah mendapatkan beberapa gambaran tentang pekerjaan Tan yang kebanyakan adalah pekerjaan di perusahaan besar multinasional dengan posisi eksekutif, setidaknya setingkat direksi.



Hanya posisi setingkat itu, seseorang dapat menganggap ratusan juta merupakan hal kecil dalam pikiran Richard.



Sebuah hal yang sangat tabu untuk menanyakan penghasilan seseorang di Indonesia, namun akan menjadi hal biasa bila bertanya tentang pekerjaan dan jabatannya.



Richard membuang jauh-jauh tentang Tan sebagai anggota keluarga konglomerat di Indonesia karena dia mengenal hampir semua anggota keluarga konglomerat yang ada di Indonesia, terutama peringkat 5 besar.



Semua teman kelas Tan membuka lebar telinga mereka masing-masing agar dapat mendengar jawaban tersebut. Mereka telah menunggu seseorang untuk bertanya tentang hal tersebut.



"Tidak ada, aku hanya seorang pengangguran yang menghabiskan lebih banyak waktu di depan layar ponsel atau laptop." Jawab Tan dengan santai dan tidak merasa malu akan hal itu.



Mendengar jawaban yang tidak terpikirkan membuat orang-orang yang ada di ruangan itu terdiam seribu bahasa.



"Bila kamu menghabiskan waktu seperti itu bagaimana bisa kamu memiliki uang yang begitu banyak?" Pikir semua teman kelas Tan.



"Apa uang datang dengan sendirinya tanpa perlu bersusah payah bekerja untuk mendapatkannya atau uang yang dimilikinya itu jatuh dari surga?" Pikir seseorang.



"Oke fix, Tanaka adalah anggota keluarga konglomerat, karena hanya orang seperti Tan itulah yang bisa bersantai-santai tanpa perlu khawatir masalah keuangan." Pikir seseorang lagi.



Richard masih berusaha berpikir secara rasional dengan mengumpulkan puzzle dari ucapan Tan tersebut.



"Apa kamu seorang lulusan IT, kalau kamu menghabiskan waktu di depan layar ponsel pintar dan laptop, hanya lulusan dari IT dan bekerja di bidang IT yang bisa melakukan hal seperti itu." Tanya Richard.



Tan menggelengkan kepalanya dan memberitahu kalau dirinya adalah sarjana hukum yang tidak mengambil license advokat atau menjadi jaksa, ataupun hakim, hanya seorang pengangguran yang banyak menghabiskan waktu hariannya di depan layar ponsel pintar dan laptop.



Setelah memberitahu tentang pekerjaannya sebagai pengangguran, Tan ingin pergi dari tempat tersebut karena dia merasa acara reuninya sudah selesai dan merasa tidak perlu berlama-lama lagi berada di tempat tersebut.



Lagipula, dirinya tidak terlalu dekat dengan para teman kelasnya yang berada di ruangan tersebut, kecuali sama Martin, sehingga tidak ada satupun cerita nostalgia yang bisa dia kenang bersama dengan teman-teman sekelasnya itu, selain dengan Martin.



Selain itu, dia juga sudah hampir mencapai titik batas kenyamanan yang bisa dia tahan untuk berada di sekitar banyak orang. Sebagai manusia yang menyukai tempat sepi, sunyi dan tenang, dia harus segera kembali ke hotel dan menikmati waktu sendiriannya.



Tanpa basa-basi, tan berpamitan pada mereka semua. Meskipun beberapa orang menahan dirinya untuk tidak pergi yang kebanyakan adalah para perempuan yang telah berubah menjadi hyena agar bisa memilik banyak waktu untuk bersama Tan sehingga pria itu akan tertarik oleh salah satu dari mereka dan kesempatan untuk menjadi parasit di kehidupan Tan akan lebih besar terjadi.



"Mohon maaf, aku harus pergi, ada hal penting yang harus aku lakukan, mungkin lain waktu, selamat tinggal, senang bisa bertemu dengan kalian semua lagi." ujar Tan yang segera pergi meninggalkan tempat itu.




Sesampai di luar restoran sambil menunggu ada taksi online yang mau menerima orderannya. Dia terus menatap layar ponsel pintarnya yang mana aplikasi taksi online sedang melakukan proses pencarian taksi online terdekat.



Sebenarnya, dia sudah mendapatkan dua taksi online, namun hanya beberapa menit saja langsung dibatalkan secara sepihak oleh pihak driver taksi online tersebut tanpa ada alasan yang jelas kenapa dibatalkan.



Hal ini tentu membuat dia harus menunggu lagi sampai dia mendapatkan taksi online yang mau menerima orderannya. Meskipun dia bisa saja memakai ojek online, tapi dia merasa udara malam kota jakarta terasa sedikit lebih dingin dari hari sebelumnya, sehingga dia memilih menggunakan jasa taksi online meskipun dirinya akan lebih lama sampainya karena dapat dipastikan akan terjebak macet yang cukup lama.



Secara tiba-tiba seseorang menepuk pundak kanannya sehingga Tan langsung menggerakkan kepalanya untuk melihat orang yang melakukan hal itu pada dirinya.



"Martin ... " ujar Tan.



"Kamu sangat tega meninggalkan teman dekat lama kamu ini, padahal kita sudah lama tidak bertemu dan kamu main pergi aja." kata Martin dengan pandangan kecewa.



"Hahaha, maaf, maaf, aku pikir kamu ingin lebih lama bersama teman yang lainnya, lagipula kamu kan banyak berinteraksi dengan mereka saat masih sekolah daripada aku." Jelas Tan.



"Kamu benar, tapi mereka sudah sangat berubah dari saat aku mengenal mereka di sekolah, sekarang mereka hanya terus memamerkan apapun yang mereka miliki, aku merasa muak dengan itu jadinya aku pergi secara diam-diam." jelas martin.



"Mereka juga tidak akan peduli apa aku tetap berada disana atau tidak." tambah Martin.



Tan hanya menatap Martin tanpa memberikan respon apapun lagi.



"Jadi, apa kamu sedang menunggu taksi online?" tanya Martin yang mengubah topik pembicaraan.



Tan menganggukkan kepalanya, "Ya, sebelumnya sudah dapat dua kali, tapi dibatalkan secara sepihak dan sekarang belum juga ada yang menerima orderan aku." jawab Tan.



"Hal yang wajar, area sekitar sini memang terkenal dengan kemacetannya yang cukup parah di jam-jam sibuk, jadi sangat jarang ada yang mau taksi online menerima orderan." ucap Martin.



Tentu saja hal itu membuat Tan menghela nafas panjang karena merasa kecewa. Dia memang sudah menduga taksi online yang membatalkan orderannya karena hal tersebut. Tan menatap jalan raya yang dipenuhi banyak kendaraan bermotor yang harus bergerak pelan karena terjadi kemacetan.



"Harus berapa lama aku menunggu agar jalanan tidak macet lagi dan taksi online mau menerima orderan aku?" tanya Tan.



"Hmmm ... mungkin sekitar jam 11 malam ke atas jalanan sudah agak sepi." Jawab Martin.



Tan melihat jam tangannya dan itu menunjukan pukul 9 malam. Dia harus menunggu dua jam lagi.



"Haaaaa~" Tan menghela nafas panjang.



"Hahaha ... jangan sedih begitu, kamu ikut bersama aku aja, aku antar tempat kamu menginap di jakarta." Tawar Martin.



"Benarkah? tapi bukankah itu akan membuat kamu kesusahan? kamu akan pulang lebih lama karena harus mengantar aku, anak dan istrimu kan sudah menunggu kepulangan kamu." Tanya Tan.



"Tidak perlu khawatir, aku sudah mengatakan sama istriku kalau hari ini akan pulang lebih malam sehingga mereka tidak perlu menunggu kepulangan aku." Jawab Martin. "lagipula kita sudah lama tidak bertemu sehingga akan banyak hal yang harus kita bicarakan." Tambah Martin.



Tan menganggukkan kepalanya, menerima tawaran dari Martin yang ingin mengantarnya ke tempat dia menginap selama di Jakarta.



Saat mereka keluar area parkir restoran Galer tersebut, mereka langsung menghadapi jalan yang cukup padat dengan berbagai jenis kendaraan bermotor. Bahkan untuk meninggalkan area parkir restoran tersebut aja, butuh perjuangan yang tidak mudah karena saking padatnya jalan dengan mobil dan motor.



Selama perjalanan menuju ke hotel Milenial Sirih, Tan dan Martin banyak mengobrol. Meskipun yang banyak berbicara adalah Martin sedangkan Tan hanya menjawab ataupun merespon ucapan teman dekatnya itu dengan seadanya.



"Kamu belum menikah? kenapa?" Tanya Martin sambil mengemudi mobilnya yang berupa sebuah mobil tipe SUV.



"Belum ketemu aja jodohnya." Jawab Tan dengan singkat.



Dia tidak memberitahu tentang mantan pacarnya yang meninggalkan dirinya karena harus menikah dengan lelaki lain karena Tan merasa dia tidak perlu memberitahu hal tersebut pada Martin.



"Aku yakin bukannya belum ketemu, hanya saja dengan karakter kamu itu yang cukup aku tahu, kamu kemungkinan besar tidak keluar untuk mencarinya, benar apa tidak?" Tanya Martin.



Tan merenung sejenak sebelum memberikan jawabannya. "Mungkin kamu benar, tapi aku yakin bila memang sudah waktunya pasti jodoh yang ditakdirkan untuk aku pasti akan datang." Ucap Tan.



"Ck, kamu ini, jodoh memang sudah diatur, namun bila kamu tidak berusaha menemukannya atau mencarinya, kamu tidak akan pernah mendapatkan jodoh kamu itu." Kata Martin yang menatap ke Tan yang duduk disampingnya karena mobil sedang dalam keadaan berhenti.



"Ya, mau bagaimana lagi, kamu tahu sendiri karakter aku bagaimana, selain itu, aku juga tidak buru-buru untuk menikah." Ucap Tan dengan santainya.



Martin hanya menggelengkan kepalanya mendengar jawaban dari sahabat SMA nya itu.



"Ini tidak bisa dibiarkan, aku akan menyelamatkan kamu, Tan." kata Martin.



"Apanya yang perlu diselamatkan?" Tanya Tan dengan keheranan.



"Tentu saja masa depan dan keberlangsungan generasi kamu itu, bagaimana kalau kamu ikut kencan buta?" Tanya Martin yang membuat Tan terkejut.



"Kebetulan teman-teman perempuan istriku banyak yang cantik-cantik, meskipun tidak secantik istriku tentunya, mungkin saja salah satu dari teman perempuan istriku adalah jodoh kamu." Lanjut Martin.



Tan tidak bisa merespon perkataan Martin karena dia masih berpikir apa harus menerima tawaran tersebut atau tidak.



"Ini mungkin tawaran yang bagus, saat ini aku tidak ada masalah apapun, finansial aman, tempat tinggal tersedia, tidak perlu mencari lagi, aku memang sudah untuk berumah tangga, tapi yang menjadi masalah adalah ... "



Tan berpikir tentang masalah pekerjaannya. Saat ini dia hanyalah seorang pengangguran. Baginya pekerjaan itu adalah orang yang memiliki jabatan, bekerja untuk orang lain sehingga mendapatkan gaji atau bekerja di tempat usaha milik sendiri atau keluarga.



"Aku tidak bekerja untuk orang lain tapi aku juga tidak memiliki sejenis usaha yang bisa aku katakan sebuah pekerjaan, maka dari itu aku mengatakan pada orang lain kalau aku adalah seorang pengangguran bila ditanya pekerjaannya apa?" pikir Tan.



Pria itu tidak tahu apakah trader itu semacam pekerjaan atau bukan karena dia hanya menghabiskan waktu di rumah sambil menatap layar ponsel atau laptop untuk melakukan trading.