MIRACLE: SUPER RICH!!!

MIRACLE: SUPER RICH!!!
Reuni kelas 12-1 IPS (1)



Dua hari berlalu dengan cepat, selama dua hari itu juga, Tan hanya menghabiskan waktunya di kamar hotel presidential suitenya untuk melakukan trading forex.


Tan sudah beralih menggunakan mata uang US dolar sebagai mata uang transaksinya karena dia ingin memperbesar keuntungan rata-rata yang diperolehnya dalam sehari.


Dia masih menggunakan aplikasi yang sama, yakni Miracle Trading. Aplikasi tersebut memiliki pilihan dua mata uang yakni US dolar dan rupiah.


"Keuntungan aku sehari pada trading forex, rata-rata 30-50 juta dengan modal 10 juta setiap transaksi, tapi saat beralih ke mata uang asing ini, keuntungan rata-rata per hari menjadi dua kali lipat ... "


Tan merasa takjub dengan penghasilannya yang bertambah dua kali lipat tersebut. Padahal jumlah transaksi maksimum setiap transaksi sebesar 50 US dolar yang bila dikonversikan, sekitar 750.000 rupiah.


"Angka yang cukup kecil daripada saat menggunakan rupiah, tapi pendapatan bisa sangat berbeda besar ... Apa ini karena terpengaruh nilai pertukaran rupiah dengan US dolar?"


Pria introvert itu hanya bisa menggeleng-geleng kepalanya karena perubahan yang cukup besar tersebut.


Dia mengetahui kalau mata uang US dolar memang lebih besar nilainya daripada rupiah, tapi dia tidak menyangka kalau hal itu akan berpengaruh pada penghasilannya di trading saat menggunakan US dolar sebagai mata uang transaksinya.


Dia melihat jam yang tertera di ponsel pintarnya yang baru sudah menunjukkan pukul setengah empat sore dan itu sudah melebihi waktu jam sholat Ashar dan juga jam kerjanya.


"Astaga, aku terlambat sholat Ashar karena terlalu fokus pada trading."


Tan segera mengakhiri tradingnya tersebut dengan menjual semua aset trading forexnya, meskipun nilai tertinggi yang seharusnya dia dapatkan berdasarkan penglihatan ajaibnya belum tiba.


Dengan langkah cepat, menuju ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu setelah melakukan penarikan $4823 ke rekeningnya dan kemudian mematikan laptopnya.


Keluarga Bu'denya tidak lagi tinggal di kamar presidential suite sejak kemarin hari sehingga Tan mengakhiri penyewaan kamar eksekutif yang dia sewa saat keluarga Bu'denya tinggal di kamar presidential suite tersebut.


Kurang dari 10 menit, Tan sudah selesai dengan ibadahnya. Dia kembali lagi ke kamar mandi untuk melakukan aktivitas mandi sorenya.


Aktivitas mandi sorenya tidak membutuhkan waktu yang lama, kurang dari lima menit dia sudah selesai dan langsung memakai pakaian hariannya, yakni celana training dan kaos.


Namun karena dia akan pergi ke rumah bu'lek Asmuni, dia menambahkan jaket Hoodie untuk melapisi kaosnya.


"Tring~ tring~"


Saat akan berangkat, ponsel di saku celana training berbunyi. Tanpa membuang waktu, Tan merogoh saku tersebut, mengambil ponsel barunya dan melihat ada panggilan WhatsApp tanpa nama, hanya nomor kontak.


Biasanya Tan tidak akan pernah menerima panggilan dari nomor yang tidak terdaftar di list kontaknya, tapi dia melihat foto profil yang tertera di atas nomor kontak merasa kenal.


"Halo, Assalamualaikum ... " Ujar Tan saat mendekatkan ponselnya ke telinga kanan.


"Waalaikumussalam, ini dengan Tanaka Saputra?" Tanya orang yang menelpon Tan.


"Ya, ini dengan siapa?" Jawab Tan yang kemudian bertanya.


"Ini aku, Martin Hartadi, teman semeja kamu saat SMA, masih ingat?" Tanya Martin.


Tanpa perlu berusaha mencari-cari dalam memori ingatan tentang nama Martin, Tan langsung mengingat nama itu.


"Ah, Martin, apa kabar?" Tanya Tan dengan nada suara ceria.


"Baik, bagaimana dengan kamu?" Tanya Martin.


Tan memberitahu kabarnya dan mereka berdua langsung mengobrol basa basi sekitar 10 menit sampai akhirnya Martin bertanya tentang reuni.


"Apa kamu datang ke reuni kelas kita nanti malam?" Tanya Martin.


Tan baru menyadari kalau hari ini memang akan ada reuni kelasnya. Dia benar-benar melupakan acara tersebut meskipun sebelumnya dia sudah memutuskan untuk datang.


"Apa kamu datang?" Tanya Tan balik.


"Tentu saja, aku datang." Jawab Martin dengan singkat.


"Kalau begitu aku juga datang, sudah lama kita putus komunikasi sejak lulus SMA." Jelas Tan.


"Ya, sudah lama, aku ingin lihat perubahan kamu saat ini, apa kamu masih jelek seperti saat SMA atau tambah jelek lagi saat ini, Hahaha." Ujar Martin yang menghina Tan.


Meskipun dirinya dihina, tapi Tan tidak merasa tersinggung atau marah karena dia tahu kalau Martin hanya bercanda.


"Hahaha, bukankah kamu lebih jelek dari aku saat SMA? Sampai-sampai cewek yang kamu taksir memberikan aku coklat valentine saat itu, hahaha ... Aku penasaran, apa kamu masih sama atau tambah jelek dari aku, hahaha." Balas Tan.


"Hei, itu karena kamu lebih pintar dari aku, jadinya dia lebih milih kamu ... Sudahlah, jangan ingatin aku dengan itu, kamu berada dimana sekarang? Aku jemput kamu dan kita datang ke tempat reuni bersama." Ajak Martin.


Namun Tan menolaknya karena tidak ingin merepotkan teman dekat SMA-nya itu. Dia menolaknya dengan halus dan Martin menerimanya.


Setelah hampir dua satu setengah jam mengobrol, mereka berdua memutuskan untuk mengakhiri pembicaraan. Tan segera melihat jam yang tertera di ponsel pintarnya pukul 16.12 WIB.


Dia membuka WhatsApp dan membuka obrolan group WhatsApp teman SMA-nya untuk melihat jam berapa acara reuni tersebut.


"Reuninya jam 8 malam, mungkin aku berangkatnya dari hotel daripada tempat Bu'de." Pikir Tan.


Dia segera mengirim pesan WhatsApp pada Sonya kalau dirinya tidak ikut makan malam karena harus menghadiri acara reuni tersebut.


Tanpa menunggu balasan dari Sonya, dia melempar ponsel pintarnya ke atas tempat tidur dan berjalan menuju ke lemari pakaian untuk melihat pakaian yang akan digunakannya dalam acara reuni tersebut.


Tidak mungkin dia menggunakan celana training, kaos dan jaket Hoodie ke acara reuni kelasnya, setidaknya dia memakai pakaian yang lebih layak seperti setelan semi formal.


Akan tetapi dia tidak membawa stelan pakaian semi formalnya karena dia tidak tahu akan ada acara reuni tersebut.


Pakaian yang dibawanya hanya celana training, celana Chino, kaos polos, jaket Hoodie dan jaket denim.


Tanpa pikir panjang, Tan hanya mengeluarkan celana Chino untuk diganti dengan celana training yang saat ini dia pakai. Sedangkan pakaian atasan, dia tetap memakai yang dia pakai saat ini karena menurutnya tidak ada masalah menghadiri acara reuni dengan kaos dan jaket Hoodie.


"Lagipula ini juga hanya acara reunian, bukan acara formal-formal amat." Pikir Tan.


Tanpa dia sadari, dirinya mulai menyukai acara asal negara itu karena baginya itu merupakan hal yang cukup baru. Dia belum pernah melihat acara tv yang berasal dari luar negeri.


Waktu berjalan begitu cepat tanpa terasa hari sudah malam dan jam menunjukkan pukul setengah 8 malam.


Tan segera keluar dari kamar presidential suite untuk berangkat menuju ke lokasi reuni setelah selesai dengan sholat Isya nya.


Dia memutuskan untuk menggunakan transportasi umum seperti ojek online karena di Jakarta, kendaraan yang paling cepat dan efisien adalah motor daripada mobil atau bus.


Tan tidak menggunakan mobil Olandersnya karena dia yakin kalau jalanan akan sangat macet, apalagi di hari biasa.


Dia telah melihat jalan yang menuju ke lokasi reuni berwarna merah dengan jarak yang cukup panjang sampai berubah menjadi kuning dan kemudian hijau.


Menunggu ojek online yang dia pesan tiba. Dia menunggu di lobby lounge dan menghabiskan waktunya dengan melihat acara komedi di platform MeTube.


Beberapa menit kemudian, dia mendapatkan pesan dari ojek online yang menerima pesanannya kalau ojek online itu sudah sampai di depan hotel Milenial.


Tan segera beranjak dari lobby lounge menuju ke depan hotel Milenial karena pihak manajemen hotel Milenial tidak membolehkan ojek/taksi online menjemput atau menaiki costumernya di area hotel Milenial.


Hal ini agar tidak terjadi keributan dengan pihak taksi konvensional yang sudah bekerja sama dengan pihak manajemen hotel Milenial.


Akibat kebijakan tersebut, Tan harus berjalan keluar area hotel Milenial, menuju ke trotoar depan hotel untuk dapat menaiki kendaraan ojek online yang dia pesan.


"Pak Tomang?" Tanya Tan setelah melihat nomor plat kendaraan ojek online yang sesuai dengan tertera di informasi kendaraan yang ada di aplikasi ojek online.


"Mas Tanaka?" Jawab pak Tomang saat melihat Tan.


Pria introvert itu menganggukkan kepalanya dan kemudian pengemudi ojek online itu memberikan helm dengan logo dari aplikasi ojek online yang dipakai oleh Tan.


"Ke restoran Galer kitchen, ya mas?" Tanya pak Tomang.


"Ya pak." Jawab Tan singkat sambil memakai helm berlogo aplikasi ojek online tersebut dan kemudian duduk di jok belakang motor matic fighter versi tahun 2016.


Pak Tomang langsung mengendarai motornya itu menyusuri jalanan kota Jakarta yang belum bisa dikatakan macet karena motor masih bisa menyalip.


Dalam perjalanan itu, pak Tomang terus mengajak Tan mengobrol dengan berbagai hal seperti tentang jalanan yang macet, suara berisik dari klakson, pengemudi yang tidak sabaran dan berbagai hal tentang apa yang terjadi di jalanan Jakarta.


Tan yang berada di belakang hanya menjadi pendengar dan memberikan komentar seadanya.


Kurang dari lima menit sebelum jam 8 malam tepat, Tan sudah sampai di trotoar depan restoran Galer tersebut yang berada di kawasan pusat bisnis Sudirman atau lebih dikenal dengan SCBD.


Dia memberikan selembar Rp.100.000 pada pak Tomang dan tidak perlu ada kembalian.


"Terima kasih, mas." Ujar pak Tomang sebelum pergi meninggalkan Tan yang berdiri melihat kepergian pengemudi ojek online itu yang hilang ditelan keramaian kendaraan bermotor di jalan SCBD.


Tan berbalik dan melihat bangunan yang terlihat seperti bangunan kantor daripada bangunan restoran. Meskipun begitu, dia bisa langsung melihat nama restoran Galer dari tempat di berada.


Tanpa buang waktu lagi Tan memasuki bangunan yang mirip seperti kantor itu. Saat memasuki restoran tersebut, pegawai restoran yang berada di dekat pintu masuk langsung menyapa Tan dengan sopan dan ramah.


"Selamat datang di restoran Galer, apa tuan hanya sendiri?" Tanya pegawai berjenis kelamin laki-laki.


"Ya, aku datang kesini karena ada acara reuni teman SMA aku." Jawab Tan.


"Oh kalau boleh tahu reservasinya atas nama siapa?" Tanya pegawai itu.


Mendengar pertanyaan itu membuat Tan membisu. Dia tidak tahu nama reservasinya. Dalam grup WhatsApp tidak dijelaskan tentang hal tersebut, hanya tempat dan jam saja.


Secara terpaksa dia melakukan open table di restoran itu sambil menunggu informasi di grup tentang reuni tersebut.


Pegawai pria itu membawa Tan menuju ke meja yang khusus untuk berdua yang berada di dalam. Meskipun ada juga tempat outdoor di restoran tersebut, namun Tan lebih memilih indoor karena bebas polusi udara baik dari kendaraan maupun asap rokok.


Pegawai pria itu memberikan buku menu dan Tan hanya memesan minuman saja karena nantinya dia juga akan makan bersama dengan teman sekelasnya.


Setelah pegawai pria itu pergi, Tan membuka pesan group WhatsApp teman SMA-nya dan belum ada informasi apapun yang masuk.


Jam sudah menunjukkan pukul 20.08 WIB dan masih belum pesan yang muncul di grup WhatsApp teman SMA-nya. Hal ini membuat Tan sedikit khawatir kalau acara reuni tidak jadi dilakukan.


Dia langsung menghubungi Martin dengan panggilan WhatsApp.


"Halo, Tanaka, aku sedang dalam perjalanan menuju lokasi reuni, kamu dimana?" Tanya Martin.


"Aku sudah berada di lokasi." Ujar Tan.


"Wow, cepat amat, kamu naik apa ke sana?" Tanya Martin yang kaget mendengar Tan sudah tiba.


"Naik ojek online, apa reuninya jadi? kenapa belum ada kabar dari teman lainnya?." Jelas Tan.


"Ohhh~ pantesan cepat tibanya, reuninya jadi, ini aja aku sedang ke sana, tapi karena mengendarai mobil jadinya agak lama, maklum, jalanan di Jakarta tidak pernah lepas dari namanya macet, teman lainnya juga palingan sama seperti aku, terjebak macet." Ujar Martin.


Tan hanya bisa memakluminya karena dia tidak bisa melakukan apapun tentang hal itu.


Setelah itu pembicaraan berakhir dan Tan terpaksa menunggu sendirian di restoran tersebut.


Beberapa saat kemudian, beberapa pesan muncul di grup WhatsApp teman SMA-nya. Tan membukanya dan melihat beberapa teman sekelasnya sudah ada beberapa yang tiba dan menanyakan tentang reservasinya atas nama siapa?


Pria introvert itu hanya melihat pesan tersebut tanpa perlu ikut dalam obrolan. Dia tidak terlalu dekat dengan nama-nama yang muncul dalam pesan tersebut, bahkan dia tidak ingat dengan nama-nama tersebut.


Tan hanya tahu kalau mereka adalah teman sekelasnya, tidak lebih dan tidak kurang.


Selain itu, meskipun sudah tahu atas nama siapa reservasinya, Tan tidak langsung melakukan close table dan menuju ke tempat reuni berlangsung di restoran tersebut. Dia memutuskan untuk menunggu Martin sehingga bisa pergi bersama.


Bagaimanapun, dia akan merasa canggung bila pergi sekarang karena Tan tidak terlalu dekat dan mengenal dengan teman-teman sekelasnya kecuali Martin.