MIRACLE: SUPER RICH!!!

MIRACLE: SUPER RICH!!!
Bertemu Lagi



Kepergian Karen membuat Tan kembali menjadi sendirian di ruang privat tersebut dan dia hanya bisa menghela nafas panjang.



"Apa yang harus aku lakukan sekarang? kencan butanya sudah berakhir, apa aku harus menyantap hidangan atau pergi kembali ke hotel?" pikir Tan.



Merenung sejenak, Tan memutuskan untuk tetap berada di tempat tersebut. "Bagaimanapun juga ini gratis, siapa yang bisa menolak hal yang gratis." pikir Tan.



Meskipun hal itu terlihat dirinya seperti pria pecundang yang tidak memiliki wibawa atau kehormatan sebagai pria sejati, dia tidak peduli. Baginya, bila dia pergi, maka itu sama saja menolak rejeki yang sudah diberikan Tuhan padanya.



Selain itu, hal ini juga untuk menghormati Karen yang telah memberikan kesempatan untuk menikmati rezeki dari Tuhan.



Namun, baru beberapa menit Karen meninggalkan ruangan tersebut, perempuan itu kembali ke ruangan tersebut.



Dia tidak sendirian, ada seorang pria dengan perut yang agak buncit dengan rambut yang hampir menipis, mirip seperti karakter bos dalam film my stupid bos yang diperankan oleh aktor fenomenal Reza Rahadian.



"You! get out of this place! I changed my mind, go quickly, poor man!" Ucap Karen dengan kasar.



Tan terdiam sejenak, dia merasa kalau perempuan yang dilihatnya itu sudah sedikit keterlaluan.



Meskipun begitu,Tan masih bisa menahan amarahnya dan hanya bangkit meninggalkan tempat tersebut.



Saat dirinya melewati kedua orang tersebut untuk menuju ke pintu, pria buncit itu bertanya pada Karen.



"Siapa pria ini, sayang?" Tanya pria buncit tersebut.



"Pasangan kencan buta yang diatur teman dekat aku, padahal aku sudah mengatakan tidak mau, dia terus memaksa aku, katanya pria ini yang memaksa suaminya untuk kencan buta dengan aku saat melihat foto diriku." Jelas Karen yang berbohong di depan pria buncit tersebut.



Pria buncit itu melihat Tan yang telah meninggalkan ruangan pribadi tersebut dan kemudian tersenyum sinis.



"Kelihatannya dia terlihat seperti pria miskin." Kata pria buncit itu.



Karen menganggukkan kepalanya. "Kamu benar, sayang, dia itu memang pria miskin bahkan dia itu seorang pengangguran."



"Hahaha, dia pengangguran, padahal dia masih terlihat sangat muda, sangat memalukan, pasti dia pria pemalas, diumur yang masih muda, pengangguran." Ucap pria buncit itu.



"Apa aku pekerjakan saja dia sebagai supir? Kebetulan aku membutuhkan seorang supir tambahan saat ini untuk perusahaan, itung-itung membantu mengurangi pengangguran yang ada di negara ini." Lanjut pria buncit itu.



"Woww, sayang, kamu sangat dermawan sekali, aku semakin suka sama kamu." Ujar Karen sambil mencium pipi pria buncit itu.



"Loh, kok di pipi, sini dong." Kata pria buncit itu sambil menunjuk ke arah bibirnya.



"Aku malu sayang, dilihat banyak orang." Ujar Karen yang berlagak centil.



"Oh, kalau hanya kita berdua kamu gak malu? tapi kalau seperti itu bukan bagian sini aja, ada bagian lainnya yang harus kamu cium, hehehe." Ujar pria buncit itu.



"Ihhh, kamu sangat mesum, sayang!" Ujar Karen dengan genit.



Sementara dua pasangan mesum itu sedang berada dalam dunia mereka sendiri, Tan mengalami gejolak dalam pikirannya.



Dia merasa bingung harus memilih antara kembali ke hotel atau tetap berada di mall tersebut.



Lambungnya telah berunjuk rasa sejak tiba di mall.



"Mungkin lebih baik makan malam di mall ini saja daripada di hotel." Pikir Tan dengan mempertimbangkan dua hal bila harus kembali ke hotel untuk makam malam.



Pertimbangan yang menjadi utamanya adalah lambungnya harus diisi secepat mungkin karena beberapa saat lagi, unjuk rasa yang damai akan berubah menjadi chaos akibat tuntutannya tidak segera dipenuhi.



Sedangkan pertimbangan keduanya adalah jalanan di Jakarta yang selalu macet di jam-jam sibuk seperti saat ini sehingga membutuhkan waktu lama untuk bisa tiba di hotel.



Akibatnya, lambungnya tetap chaos, bahkan mungkin lebih parah kerusuhannya yang bisa saja mengakibatkan dirinya masuk rumah sakit.



Dengan segera Tan pergi mencari restoran lain yang ada di lantai tempat dia berada.



Dia merasa lebih baik mencari restoran lainnya daripada menyantap makan malamnya di restoran yang menjadi tempat kencan butanya.



Firasatnya memberitahu kalau dia menyantap makan malamnya di restoran itu akan datang sebuah kejadian yang merepotkan baginya.



Tan tidak perlu bersusah payah mencari restoran lainnya karena di lantai mall tempat dia berada adalah lantai yang merupakan area tempat restoran-restoran berada.



Dia berjalan lebih dari 100 langkah, sampai akhirnya, Tan menemukan restoran yang akan menjadi tempat makan malamnya.



Restoran yang dipilihnya adalah restoran yang khusus untuk makanan Asia, sesuai dengan nama restoran tersebut yakni Asian Foodies.



Sebuah nama yang cukup menarik di mata para konsumen yang mencintai makanan Asia.



Selama ini mulut Tan kebanyakan hanya merasakan makanan lokal yang dibuat oleh ibunya dan warung makan Tegal, Padang dan Sunda yang dekat dengan rumahnya.



Sedangkan untuk makanan luar negeri kebanyakan adalah makanan barat dan itu pun makanan fast food.



Makanan Asia yang hampir sering dia rasakan adalah makanan Chinese halal dan itupun hanya nasi goreng dan mie dengan ekstra olahan seafood.



"Selamat datang di restoran Asian Foodies." Sapa seorang pramuniaga yang berdiri di dekat pintu restoran dengan ramah, sopan dan senyum bisnis, sesuai dengan SOP nya.



"Apa ada tempat kosong?" Tanya Tan.



Saat berada di luar, dia melihat restoran tersebut dipenuhi dengan banyak pengunjung sehingga terlihat semua bangku sudah di tempati.



"Saat ini, tempat yang tersedia hanyalah ruangan privasi dan itu memerlukan biaya tambahan 500 ribu untuk menggunakannya, tuan." Jawab pramuniaga itu.




Dia melihat-lihat lagi restoran itu yang memang dipenuhi dengan pengunjung yang menandakan restoran itu cukup terkenal dan yang namanya restoran itu menjual makanan sebagai produk utamanya.



"Bila pengunjungnya sebanyak ini ... Berarti makanannya cukup layak untuk disantap." Pikir Tan.



Setelah mempertimbangkan dari beberapa hal, dia memutuskan untuk mengambil ruangan privasi tesebut yang hanya tersisa satu.



Ruangan privasi di restoran itu ada dua, satu sudah di reservasi oleh seseorang pengusaha untuk sebuah makan malam dengan partner bisnisnya dan satunya lagi yang digunakan oleh Tan untuk makan malam biasa.



Hanya dia sendiri, tidak ada orang lain yang menemaninya.



Terlihat sangat mewah untuk mengambil ruang privasi seharga 500 ribu hanya untuk sebuah makan malam biasa. Dia hanya bisa tersenyum dalam penuh makna saat memikirkan hal itu.



Bila dirinya masih sama seperti dulu yang sangat kekurangan dengan lembaran kertas yang disebut dengan uang, dia tidak akan pernah melakukan hal yang dilakukan saat ini, bahkan untuk berpikiran makan di restoran mewah saja tidak terpikirkan dalam kepalanya.



"Memiliki uang banyak itu, memang membuat segalanya menjadi lebih mudah dalam apapun itu." Pikir Tan.



Tan segera dipandu oleh pramuniaga itu menuju ke tempat ruang privasi tersebut.



Saat sampai di sebuah pintu bergaya Jepang, yakni sliding door dengan kotak-kotak kecil pada pintu tersebut, pramuniaga itu menggeser pintu tersebut sehingga terbagi menjadi dua, kanan dan kiri.



Tan melihat ruang privasi restoran itu hanya ada sebuah meja bulat yang lumayan besar diameternya dengan 12 kursi mengelilingi meja bulat tesebut.



"Ini ... cukup besar mejanya." Gumam Tan dengan perasaan tidak nyaman.



Dia hanya makan malam biasa dan hanya sendirian, bukan makan malam pada acara dihadiri banyak orang, seperti keluarga besar atau reunian.



"Silahkan tuan." Ujar pramuniaga itu.



Tan dengan perasaan tidak nyaman, memasuki ruangan tersebut dan dia menduduki kursi yang tidak jauh dari pintu.



"Silahkan menunya, tuan." Ujar pramuniaga itu yang meletakkan buku menu di atas meja bulat tesebut.



Tan segera melihat-lihat, menu makanan dan minuman yang ada dalam buku menu itu.



Dalam buku menu itu ada tujuh jenis makanan Asia, yakni Indonesia, Jepang, Korea, Chinese, Turki, India, dan timur tengah.



Tan melihat-lihat menu luar Indonesia dan Chinese. Selagi melihat-lihat itu, dia menjadi tahu kalau makanan Turki, India, dan timur tengah tidak terlalu banyak jenis menunya.



Dia membutuhkan waktu yang cukup lama untuk menentukan menu makanan dan minuman yang akan dia santap.



Pramuniaga masih dengan sabar dan setia menunggu Tan menyebutkan makanan yang akan disantapnya.



Selain menunggu, pramuniaga itu juga memberikan beberapa rekomendasi menu yang menjadi andalan di setiap jenis makanan yang ada dalam buku menu itu.



Dua menit telah lewat dan Tan masih belum bisa menentukan makanan yang akan dia santap karena begitu banyak pilihan dalam buku menu tesebut.



Pramuniaga itu masih dengan sabar dan setia menunggu Tan menyebutkan makanannya.



Setelah menunggu hampir empat menit, pramuniaga itu mulai mencatat pesanan Tan. Ada tujuh pesanan yang dicatat oleh pramuniaga itu.



Tan memesan tiga makanan korea, tiga makanan Jepang, dan satu minuman khas Indonesia, dawet.



"Apa ada yang ingin dipesan lagi, tuan." Tanya pramuniaga itu.



"Tidak ... Bisakah beritahu dimana toiletnya?" Tanya Tan karena dia secara tiba-tiba harus menyelesaikan sesuatu di toilet.



Pramuniaga itu segera memberitahu arah tempat toilet berada. Tan segera menganggukkan kepalanya dan menuju ke lokasi toilet tersebut.



Tidak membutuhkan waktu yang lama untuk Tan menyelesaikan urusannya di toilet, dia segera berjalan menuju ke ruangan privasinya.



Akan tetapi saat dia akan berpapasan dengan seorang perempuan yang cantik dengan fashion ala pengusaha sukses, tiba-tiba perempuan itu terlihat akan terjatuh karena langkah kakinya sendiri.



Tan dengan sigap langsung menahan perempuan itu agar tidak jatuh.



Pada saat itu sebuah aroma yang cukup wangi tercium oleh hidung Tan. Dia tidak tahu aroma wangi apa yang keluar dari perempuan cantik itu, tapi aromanya sangat harum dan menyenangkan untuk dihirup.



"Apa kamu tidak apa-apa?" Tanya Tan pada perempuan cantik itu.



"Ya, terima kasih, maaf." Ujar perempuan cantik itu yang segera memperbaiki postur tubuh untuk berdiri.



Saat postur tubuhnya sudah dapat berdiri dengan sempurna dia melihat pria yang membantunya sehingga tidak terjatuh.



"Baguslah, kalau begitu, permisi." Ujar Tan dengan santai meskipun dalam dirinya merasa gugup karena melihat seorang perempuan cantik yang mengeluarkan aroma yang harum dan menyenangkan.



"Tunggu!" Ujar perempuan cantik itu saat Tan sudah berjalan beberapa langkah melewatinya.



Tan segera berbalik sehingga dia dapat melihat lagi wajah cantik dengan dipenuhi ketegasan dan wibawa seorang pengusaha sukses dari perempuan itu.



"Ya?" Sahut Tan dengan heran.



"Apa kamu Tanaka Saputra?" Tanya perempuan cantik itu.



Tan mengernyitkan dahinya, dia merasa heran karena dirinya tidak dapat mengingat kalau pernah bertemu dengan perempuan cantik itu.



Kalaupun pernah bertemu, dirinya pasti tidak akan pernah lupa.