
"Maaf, apa kita pernah bertemu sebelumnya? Bagaimana kamu bisa tahu namaku?" Tanya Tan.
Mendengar itu membuat perempuan cantik itu merasa terkejut. Dia berpikir selama hidupnya, belum ada seseorang yang melupakan dirinya, meskipun orang yang ditemuinya hanya satu atau dua kali bertemu.
Apalagi orang yang bertemu dengan dirinya adalah seorang pria. Kebanyakan pria yang bertemu dengannya selalu mengingat dirinya, meskipun sangat jarang bertemu.
Dengan perasaan sedikit canggung, perempuan cantik itu memberitahu pada Tan kalau mereka berdua pernah berkenalan saat acara pernikahan.
Meskipun sebenarnya itu bukan pertemuan pertama bagi mereka berdua, perempuan cantik itu pernah bertemu dengan Tan saat berada di rumah sakit.
Akan tetapi karena Tan yang dilihatnya saat berada di rumah sakit sudah berubah total dari penampilannya saat.
Tan mencoba-coba untuk mengingat lagi tentang acara pernikahan yang dia hadiri dan acara pernikahan yang dia hadiri dalam waktu dekat itu adalah pernikahan mantan pacarnya.
"Oh, ya, aku ingat, kalau kita berdua memang bertemu dan berkenalan, tapi ... Maaf, aku memiliki ingatan yang buruk." Ujar Tan yang beralasan.
"Ayunindya Batari Jayantaka, direktur pemasaran dan pengembangan perusahaan Jaya group." Ujar Ayunindya sambil mengangkat tangannya untuk bersalaman.
"Tolong, jangan lupa lagi saat kita bertemu di kemudian hari." Lanjutnya saat Tan menerima tangan perempuan itu.
Dengan canggung Tan hanya menganggukkan kepalanya. Dia memang memiliki ingatan buruk dalam mengingat nama dan bentuk wajah orang yang baru ditemuinya dan tidak pernah atau jarang bertemu lagi selanjutnya.
"Tapi bagaimana bisa perempuan cantik ini mengingat aku? Padahal itu sudah lewat lebih dari sebulan." Pikir Tan.
Dia merasa dirinya tidak lah layak untuk diingat oleh orang lain karena dirinya bukanlah siapa-siapa, hanya seorang pria biasa yang banyak ditemukan di mana saja
Tan tidak mengetahui kalau Ayunindya sudah sedikit tertarik pada Tan sejak pertemuan di pesta pernikahan tersebut.
Sikapnya Tan saat itu dan juga pada saat ini membuat Ayunindya lebih penasaran, bagaimana bisa ada orang yang tidak mengingat tentang dirinya, apalagi itu adalah pria.
Ttentu, aku akan berusaha untuk mengingat tentang anda, maaf ... Kalau begitu, aku permisi dulu, mbak Ayunindya, aku tidak ingin menahan anda lebih lama lagi." Ujar Tan yang ingin pergi karena sudah merasa tidak nyaman untuk berinteraksi lebih lama dengan seseorang.
Sifat introver akutnya itu telah mendarah daging dan juga dirinya sudah sangat lapar.
Mendengar Tan ingin menyudahi interaksi tersebut membuat Ayunindya kembali terkejut. Ini adalah pertama kalinya, ada seorang pria yang tidak ingin berlama-lama dengannya.
"Oh, ya ... Sepertinya, aku yang menahan Anda lebih lama bersama aku?." Sahut Ayunindya yang merasa canggung.
"Oh, tidak-tidak, aku hanya tidak ingin menahan Anda lebih lama lagi bersamaku, aku permisi dulu, mbak Ayunindya." Ujar Tan dengan sopan.
Ayunindya menganggukkan kepalanya. "Tuan Tanaka, bila tuan ingin melakukan investasi, jangan segan untuk menghubungi aku, tuan masih memiliki kartu nama aku?" Tanya Ayunindya.
Tan hanya menganggukkan kepalanya dan kemudian berjalan meninggalkan Ayunindya yang melangkahkan kakinya menuju ke toilet dengan perasaan penuh kebingungan atau keheranan atas apa yang dilakukan oleh Tan.
Pria itu kembali ke ruang privasinya dan makanan yang dipesannya belum juga tiba. Dia dengan terpaksa harus menahan rasa laparnya sedikit lebih lama lagi.
Selagi menunggu makanan dan minuman yang dipesan, Tan mengeluarkan ponsel pintarnya dan membuka website pencarian.
Dalam website tersebut, Tan langsung mengetik kata kunci 'Perusahaan Jaya Group'.
Dia ingin melihat informasi tentang perusahaan tersebut dan apakah ada hal yang bisa dia investasikan pada perusahaan tersebut.
Sebenarnya Tan sudah melihat tentang perusahaan tersebut saat ingin berinvestasi dalam bentuk saham pada perusahaan tersebut.
"Direktur perusahaan ini sudah menawarkan diri agar aku berinvestasi di perusahaannya, jadi tidak ada salahnya melihat-lihat apa yang bisa aku investasikan lagi pada perusahaan itu." Gumam Tan.
Dalam website pencarian, ada lebih 1000 website yang berkaitan dengan perusahaan tersebut.
Tan membuka beberapa website dari website yang muncul dalam pencarian tersebut, termasuk website berita yang berkaitan dengan perusahaan itu.
Perusahaan Jaya Group itu bergerak dalam berbagai bidang seperti, perhotelan, real estate, kontraktor perumahan dan bahan bangunan, perbankan, sekuritas, supermarket, pertambangan dan lainnya.
"Haha, emang pantas menjadi perusahaan nomor satu di Indonesia." Gumam Tan saat melihat informasi tersebut dari berbagai website.
Meskipun ada banyak anak perusahaan yang ada dalam perusahaan tersebut dengan berbagai bidang usaha, tidak ada satupun yang menarik minat Tan untuk berinvestasi selain dengan membeli saham perusahaan tersebut.
Tan telah membeli 3% saham dari total nominal saham yang ditawarkan oleh perusahaan tersebut di Bursa Efek Indonesia melalui sebuah aplikasi sekuritas bernama Stocklik.
Dia tidak membeli lebih dari itu karena dia tidak serakah dan juga merasa takut mendapatkan kerugian yang cukup besar bila sewaktu-waktu harga sahamnya jatuh seperti air terjun.
Meskipun 3% itu jumlah yang cukup kecil bagi Tan yang memiliki uang yang tidak ada habisnya karena terus menerus melakukan trading forex, tapi tetap saja dia tidak ingin uang yang diperolehnya hangus terbakar begitu saja akibat anjloknya harga saham perusahaan tersebut.
Setelah menunggu beberapa menit, akhirnya makanan dan minuman yang dipesan oleh Tan telah tiba.
Tanpa menunggu lebih lama lagi, dia segera menyantap makanan tersebut dan semua hidangan yang ada di atas meja langsung lenyap tanpa ada yang tersisa hanya dalam waktu setengah jam saja.
Tan merasa kalau menghabiskan makanannya terasa lebih cepat waktunya daripada saat menunggu makanannya tiba.
Merasa perutnya sudah terisi sehingga asam lambungnya tidak berunjuk rasa lagi, dia ingin segera kembali ke hotel untuk beristirahat karena tidak ada lagi hal yang ingin dia lakukan di tempat tersebut.
Saat dia keluar, orang yang memakai ruangan privasi di sebelahnya juga sudah selesai dengan urusan mereka.
Tan melihat ada sekitar sepuluh orang yang keluar dari ruangan tersebut dengan waktu yang hampir bersamaan. Sepuluh orang yang keluar itu, empat diantaranya adalah perempuan dan Tan mengenal satu dari empat perempuan itu.
Perempuan yang dikenal oleh Tan itu, tidak lain adalah Ayunindya.
"Oke, mari kita lanjutkan ronde kedua di Gloria KTV bars dan tokoh utamanya di ronde kedua ini adalah tuan Antonio Wijayakusuma." Ujar seorang pria dengan perasaan suka cita.
"Ya kapan lagi kita bisa mendatangi tempat bersenang-senang nya darah biru." Ujar seorang perempuan dengan pakaian dress yang cukup menggoda hormon pria.
Orang-orang yang ada dalam kelompok itu bersukacita semuanya, tapi tidak bagi Ayunindya.
Perempuan cantik itu tidak ingin menghadiri acara ronde kedua tersebut karena dia sudah merasa lelah dan ingin cepat-cepat pulang untuk beristirahat karena akan ada banyak pekerjaan dan pertemuan bisnis yang harus dia lakukan esok harinya.
"Maaf, sepertinya aku tidak bisa ikut." Ujar Ayunindya dengan singkat.
Mendengar itu membuat semua orang, terutama para pria, yang tadinya bersuka cita menjadi terdiam. Mereka terkejut mendengar tokoh utama perempuan di kelompok itu tidak ikut.
"Kenapa? Ini masih terlalu awal untuk pulang." Ujar seorang pria.
"Ya, kita sudah lama tidak bertemu semenjak lulus SMA, kapan lagi kita bisa bertemu dan bernostalgia masa-masa SMA." Ujar pria lainnya.
Sementara itu para perempuan hanya terdiam saja. Dalam pikiran mereka, ketidakhadiran Ayunindya, kesempatan untuk menarik perhatiannya Antonio akan lebih tinggi presentase nya.
Mereka tahu kalau Antonio semasa SMA menyukai Ayunindya, bahkan pernah menyatakan perasaannya itu, tapi ditolak.
Meskipun begitu, Antonio tetap tidak menyerah, dia tetap menempel seperti pada Ayunindya dan saat ada kesempatan, terus meminta perempuan cantik itu menjadi pacarnya.
Akibatnya, pada saat itu, tidak ada pria lain yang berpikiran untuk mendekati Ayunindya dan menyatakan perasaannya karena mereka tidak memiliki keberanian untuk melawan kekuasan Antonio sebagai anak dari keturunan keluarga konglomerat 10 besar di Indonesia.
Meskipun sudah lulus dan berpisah dengan pilihan berbeda jurusan pendidikan setelah SMA, Antonio masih tetap menginginkan Ayunindya sebagai pasangan hidupnya.
Para perempuan dengan sikap bermuka duanya itu, membujuk Ayunindya dengan setengah hati untuk tetap ikut ronde kedua acara reuni SMA kecil-kecilan tersebut.
Akan tetapi Ayunindya tetap menolak karena dia benar-benar merasa lelah, ingin cepat-cepat kembali ke apartemennya untuk beristirahat.
"Oh, ayolah, Ayu, ketidakhadiran sang primadona SMA Harapan Bangsa I akan membuat berkurangnya kemeriahan pesta reuni SMA ini." Ujar Antonio yang membujuk Ayunindya agar tetap ada bersamanya di ronde kedua reuni SMA kecil itu.
"Lagipula, aku juga baru kembali ke Indonesia setelah selesai studi ekonomi di LSE dan mendapatkan gelar MBA, jadi anggap saja ronde kedua ini perayaan yang aku lakukan karena hal itu." Jelas Antonio.
Mendengar dan mendapatkan desakan dari teman-teman SMA nya itu membuat Ayunindya menjadi kebingungan untuk keputusan yang akan diambilnya.
Dia benar-benar sangat lelah, ingin cepat kembali ke apartemen untuk beristirahat. Tapi di satu sisi, teman-teman SMA terus mendesaknya untuk tetap hadir.
Meskipun sebenarnya dia tidak terlalu dekat dengan teman-teman SMA nya yang hadir dalam reuni kecil tersebut, tapi sebagai petinggi perusahaan di bidang pemasaran dan pengembangan, dia harus menjaga image dirinya dalam pandangan orang-orang.
Setiap Keputusan dan tindakannya harus dijaga dengan baik karena bisa saja hal itu akan memberikan dampak buruk bagi perusahaan.
Selagi Ayunindya kebingungan, dia melihat kehadiran Tan yang keluar dari ruangan privasi yang ada disebelah ruangan yang menjadi tempat reuni SMA nya berlangsung.
Tan ingin segera pergi menuju ke counter kasir untuk membayar, tapi dia terhenti karena secara tiba-tiba Ayunindya menyebutkan namanya.
"Oh, tuan Tanaka, anda ternyata berada di sini juga." Sahut Ayunindya yang berpura-pura terkejut dan seperti tidak tahu kehadiran Tan di restoran tersebut.
Pandangan teman-teman SMA Ayunindya langsung terarah ke tempat Tan berada.
Tan yang mendengar dan melihat sikap aneh dari perempuan cantik itu merasa bingung.
"Kenapa dia mengatakan hal itu? Seakan-akan dia tidak tahu kalau aku berada di restoran ini ... Bukankah sebelumnya kita bertemu?" Pikir Tan.
Ayunindya langsung menghampiri Tan dan menyodorkannya tangannya untuk bersalaman.
Tan yang kebingungan hanya bisa melakukan hal yang sama seperti perempuan cantik itu tanpa berkata-kata.
"Aku tidak menyangka bisa bertemu dengan tuan Tanaka di sini." Ujar Ayunindya dengan senyuman bisnis.
"Ya?" Sahut Tan dengan kebingungan.
"Kebetulan kita bertemu di sini, apa tuan Tanaka memiliki waktu, aku ingin membicarakan investasi yang anda inginkan pada perusahaan kami." Ujar Ayunindya dengan ekspresi wajah memohon.
Tan yang masih kebingungan hanya menganggukkan kepalanya. Dia tidak mengerti apa yang dimaksud oleh Ayunindya, tapi karena perempuan cantik itu secara tiba-tiba melakukan hal seperti itu padanya, dia hanya mengikuti alurnya saja.
"Maaf, teman-teman, aku tidak bisa ikut dengan kalian, ada hal penting yang harus aku lakukan, sampai jumpa." Ujar Ayunindya yang kemudian mengarahkan Tan untuk pergi dengannya.
Pria itu yang tidak tahu apa-apa, hanya bisa menjadi seekor anjing yang menuruti pemiliknya. Dia berjalan mengikuti langkah kaki Ayunindya, meninggalkan restoran tersebut setelah membayar dengan tatapan yang berbeda-beda dari teman SMA perempuan cantik itu.
Para pria sangat kecewa, terutama Antonio, akan kepergian Ayunindya, sedangkan para perempuan merasa senang meskipun perasaan itu mereka ungkapkan dalam diri mereka masing-masing, tidak diperlihatkan secara jelas.