
"Filmnya cukup seru kan, mas?" Tanya Azrina yang keluar dari studio premiere karena filmnya sudah selesai.
Tanaka menganggukkan kepalanya sebagai respon jawaban itu. Dia berjalan disamping Azrina yang wajahnya masih berseri-seri karena merasa senang telah menonton film yang sedang hits tersebut, apalagi saat melihat aktor luar negeri yang merupakan idolanya, Kim Jang Un.
"Oppa Jang Un memang sangat keren." Ujar Azrina dengan ekspresi senang. "Apalagi saat dia melindungi Windy Olivia yang memerankan karakter pasangan oppa Jang Un, itu sangat keren dan membuat aku iri dengannya."
Sekali lagi Tanaka hanya menganggukkan kepalanya, meskipun dia tidak tahu adegan mana yang dikatakan oleh Azrina. Pada pertengahan film tersebut, Tanaka tertidur dengan pulas karena udara di dalam studio sangat nyaman untuk tidur.
Mereka langsung keluar dari bioskop tersebut dan melihat sudah banyak gerai outlet di mall tersebut sudah pada tutup, bahkan ada yang bersiap untuk tutup.
Pengunjung mall itu juga hanyalah orang-orang yang baru keluar dari studio bioskop dan langsung menuju ke tempat parkiran mobil atau motor atau langsung ke halaman depan mall tersebut untuk memesan taksi online ataupun ojek online.
Tanaka dan Azrina menuju ke parkiran motor yang berada di basement lantai satu dengan menggunakan lift karena itu lebih cepat daripada harus berjalan menuruni satu persatu lantai yang ada di mall itu menggunakan tangga eskalator yang sudah dinonaktifkan.
Dalam perjalanan menuju ke basement itu, Azrina masih tidak berhenti membicarakan tentang film yang baru saja mereka berdua tonton dan Tanaka hanya mendengarkan semua cerita dari Azrina itu dengan diam dan sesekali memberikan respon anggukan kepala.
Sesampainya di basement tempat parkir motor mall tersebut, suasana tempat itu sudah sepi dan motor yang terparkir dapat dihitung dengan jari.
Mereka berdua langsung naik motornya Tanaka dan pergi meninggalkan mall tersebut.
"Mas Tanaka!" Panggil Azrina yang duduk di belakang.
"Apa?" Jawab Tanaka yang mengemudikan motornya menuju ke tempat kost Azrina yang berada di kotabaru.
"Mas, masih lapar apa tidak?" Tanya Azrina.
"Kamu ingin makan?" Tanya Tanaka. "Mau makan apa?"
Meskipun Tanaka menanyakan itu, tetap saja tidak tadi banyak pilihan tempat makan karena jam sudah menunjukkan pukul setengah 11 malam dan sudah banyak restoran maupun tempat makan yang tutup.
Pilihannya hanya tempat junk food, pecel lele, angkringan, Warmindo, dan cafe-cafe yang buka sampai dini hari.
"Mas Tanaka lapar apa tidak? Kalau tidak tidak usah saja, aku akan pesan makanan saja nanti di kost." Jawab Azrina.
"Aku juga lapar, jadi mau makan apa? Junk food?" Tanya Tanaka.
"Tidak, ini sudah terlalu malam, ntar aku bisa gendut kalau makan junk food, cukup makan yang ringan-ringan aja." Jawab Azrina.
"Hmmm, makan di angkringan tidak masalah kan?" Tanya Tanaka yang merekomendasikan angkringan karena hanya tempat itu yang cocok untuk makan ringan.
"Tidak masalah." Jawab Azrina.
"Oke, kalau gitu, kita ke angkringan yang dekat dengan kost kamu." Ujar Tanaka.
Mereka berdua pun langsung pergi menuju ke angkringan tersebut dan tempat berada di belakang McD.
Sesampainya disana, Tanaka melihat motor yang parkir di angkringan tersebut tidak terlalu banyak tapi lumayan ramai.
"Woo, bang Tan, tumben malam-malam gini mampir kesini, mau ngalong?" Tanya penjual angkringan itu yang merupakan rekan sesama ojol, bernama Irgun.
Saat pagi sampai sore, Irgun akan ngojol, saat malam dia yang menjadi penjual angkringannya, ganti shift dengan istri atau ibunya yang juga berjualan saat siang hari sampai sore.
"Tidak, hanya ingin mampir untuk makan." Jawab Tanaka sambil duduk di kursi kayu panjang tepat di depan gerobak angkringan tersebut.
Azrina juga duduk disampingnya Tanaka dengan diam saja sambil memerhatikan makanan apa yang tersedia di gerobak angkringan tersebut.
Irgun memerhatikan Azrina dan kemudian menatap ke arah Tanaka sambil senyam-senyum.
"Mau minum apa?" Tanya Irgun pada Tanaka.
"Teh hangat, gulanya dikit aja." Jawab Tanaka yang kemudian mengalihkan pandangan ke Azrina. "Kamu mau minum apa?"
"Jeruk hangat." Jawab Azrina sambil memerhatikan makanan yang ada di atas gerobak angkringan tersebut.
Dia merasa bingung mau mengambil makanan yang ingin dia makan karena belum pernah makan di angkringan selama dia kuliah di Yogyakarta.
Bahkan war
Selama ini dia selalu memesan makanan secara online, atau pergi ke cafe atau restoran.
Ini adalah pertama kalinya dia makan di angkringan sehingga dia bingung untuk memulainya.
"Ambil aja yang kamu inginkan, Azrina." Pinta Tanaka. "Bukankah tadi kamu bilang ingin makan?"
"Iya, tapi ... " Jawab Azrina yang bingung.
Tanaka melihat Azrina sejenak dan menyadari kalau kebingungan perempuan itu karena dia belum pernah makan di angkringan.
"Gun, mana yang oseng tempe, sambal teri dan nasi goreng?" Tanya Tanaka pada rekan ojolnya iya yang sedang membuat minuman pesanan Azrina dan Tanaka.
"Yang ada putihnya, sambel teri, yang kertas koran oseng-oseng tempe, yang gak ada apa-apanya nasi goreng." Jawab Irgun.
Tanaka melihat ke Azrina lagi dan memilih dari tiga menu tersebut. Perempuan itu memilih oseng-oseng tempe karena dia tidak ingin makan yang pedas-pedas.
Pria itu segera mengambil bungkusan nasi kucing oseng-oseng tempe dan meletakkannya di depan Azrina.
"Ambil aja lauk lainnya yang kamu inginkan, ada gorengan, tahu bacem, sate usus, sate telur puyuh, sate ampela dan lainnya." Jelas Tanaka. "Kalau nasinya kurang ambil aja lagi."
Pada saat itu Irgun sudah selesai membuat minuman pesanan mereka berdua dan meletakkan sesuai pesanan masing-masing.
Tanaka mengambil dua nasi sambel teri yang kemudian dia membuka kedua bungkusan itu dan dijadikan satu.
Dia juga mengambil satu sate telur dan sate ampela. Azrina juga mengikuti pria itu.
"Tolong ambilkan sendok disitu, Azrina." Pinta Tanaka sambil menunjuk ke arah wadah sendok, garpu dan sumpit.
Azrina mengambil dua sendok yang satunya akan digunakan olehnya.
Mereka berdua pun menyantap makanan tersebut dengan santainya dan pada saat itu Irgun berbicara.
"Jadi siapa ney yang kamu bawa kesini, bang Tan?" Tanya Irgun yang memerhatikan Azrina yang memiliki wajah sangat cantik.
Tidak hanya Irgun saja, tapi para pengunjung angkringan itu yang kebanyakan adalah para driver ojol juga sudah memerhatikan Azrina sejak awal kedatangannya.
"Oh, ini teman aku, Azrina." Jawab Tanaka yang memperkenalkan perempuan di sampingnya pada Irgun.
"Ohhh, halo aku Irgun, rekan ojolnya bang Tanaka." Ujar Irgun.
"Ya, aku Azrina, temannya mas Tanaka." Balas Azrina.
"Bang Tan tidak pernah cerita kalau ada teman secantik kamu." Puji Irgun secara langsung.
Azrina hanya tersenyum dan tertawa pelan dan itu membuat Irgun terpana.
"Duh, senyumanmu membuat hatiku berdebar-debar." Gombal Irgun.
"Gak ada salahnya kan, menggombal perempuan?" Tanya Irgun. "Lagipula gombal aku juga sesuai fakta, mbak Azrina memang cantik seperti bidadari yang turun dari surga."
Azrina hanya tersenyum dan mengucapkan terima kasih atas pujiannya itu sedangkan Tanaka hanya menghela nafas panjang karena mendengar kata-kata gombalan lagi dari rekannya itu.
Irgun pun mengintrogasi Azrina terkait awal berkenalan. Azrina pun menceritakan tentang hal tersebut, tentu saja dia tidak memberitahukan tentang dirinya yang curhat pada Tanaka saat awal perkenalannya.
"Oh, jadi costumernya bang Tanaka dan karena suatu hal kalian jadi berteman." Ujar Irgun.
Azrina menganggukkan kepalanya dan dia kemudian meminum jeruk hangat tersebut yang rasanya asem manis.
"Kamu beruntung banget, bisa mendapatkan costumer secantik ini dan kemudian menjadi teman, bang Tan." Ujar Irgun yang menatap Tanaka dengan iri. "Aku kapan bisa seperti kamu, suhu, tolong ajarin aku biar dapet temen cantik dari costumer."
"Lah di rumahmu kan ada teman sekaligus pasangan yang cantik juga, ngapain cari dari costumer?" Tanya Tanaka.
"Itu beda bos, jangan disamakan." Jawab Irgun. "Yang ada di rumah bukan teman tapi nyonya besar yang perintahnya itu bersifat fardhu ain, gak bisa dibantah, harus dilakukan."
Tanaka dan Azrina yang mendengar itu tertawa pelan bersama.
Mereka bertiga pun mengobrol, meskipun yang banyak mengobrol Irgun dan Azrina sedangkan Tanaka hanya mendengarkan dan kadang-kadang memberikan respon seadanya.
Setelah dirasa sudah terlalu malam dan juga Azrina tidak lagi makan, Tanaka memutuskan untuk membayar semuanya. Akan tetapi Azrina menahan hal tersebut karena dia yang akan membayarnya.
Namun Irgun menolak pembayaran yang dilakukan Azrina dan hanya menerima pembayaran dari Tanaka sebagai pria dan menjadi sebuah kebiasaan di Indonesia kalau pria yang membayar saat dia sedang bersama perempuan.
Setelah membayar makanan yang mereka makan sebanyak 34 ribu. Tanaka dan Azrina pergi dari angkringan tersebut menuju ke tempat kost Azrina yang telah jauh dari tempat tersebut.
Sebelum pergi, Irgun mengambil foto selfie dengan Tanaka dan Azrina yang kemudian dia mengirimnya ke grup WhatsApp, NC squad AYOJEK.
Beberapa saat kemudian, suara notifikasi WhatsApp terus bermunculan di ponsel pintarnya Tanaka, akan tetapi dia mengabaikannya karena masih mengemudikan motor ke arah tempat kost Azrina berada.
"Terima kasih mas, sudah mau nemenin jalan hari ini." Ujar Azrina setelah turun dari motor dan berdiri tepat di depan gerbang kostnya.
"Ya, tidak masalah, aku juga lagi gak ada kerjaan alias nganggur di hari libur gini." Sahut Tanaka sambil memasukkan helm yang dipakai Azrina ke bagasi motor.
Azrina tertawa pelan mendengar itu, "Mas Tanaka kan bisa ngojol biar ada kerjaan, apa ini sengaja dibuat gak ada kerjaan demi aku?" Tanya Azrina yang sedikit penasaran dengan hal itu.
"Kalau aku bilang iya, gimana?" Tanya Tanaka yang membuat Azrina terdiam sesaat.
"Yang bener?" Tanya Azrina yang terkejut dan bersemangat.
"Hahaha, tentu saja tidak, hari Minggu gini memang aku buat libur dari ngojol, bukan hanya hari Minggu Sabtu dan hari libur nasional juga aku buat libur dari ngojol." Jelas Tanaka.
Azrina sedikit kecewa mendengar hal yang tidak dia inginkan, akan tetapi dia merasa senang sudah menghabiskan waktu dengan Tanaka, apalagi saat melihat wajah mantannya yang sombong itu kelebatan saat tidak bisa bayar makanannya.
"Lain kali kita jalan lagi ya, mas?" Pinta Azrina.
Tanaka menganggukkan kepalanya, "tidak masalah, hubungi aja aku seperti biasanya." Jawab Tanaka. "Kalau aku ada waktu kosong, pasti aku lakukan."
Azrina kemudian membuka kunci gembok gerbang kosnya dan Tanaka menunggu di depan gerbang sampai perempuan itu masuk ke halaman depan kostnya.
Setelah membalas lambaian tangan Azrina dan melihat perempuan itu sudah masuk ke dalam kostnya, Tanaka segera pergi meninggalkan tempat itu untuk pulang ke rumahnya secepat mungkin dia bisa karena dia sudah merasa lelah dan ingin segera tidur.
Besok pagi dia harus bangun untuk melakukan aktivitas ojolnya lagi.
Waktu berjalan dengan cepat, hari Minggu telah berganti kembali menjadi Senin. Tanaka mulai bersiap-siap untuk ngojol setelah dia selesai melakukan sholat subuh.
Seperti biasanya dia menunggu orderan masuk di rumahnya yang kebetulan banyak anak sekolah atau pekerja kantoran yang memakai aplikasi AYOJEK.
Waktu demi waktu terus berlalu dengan sangat cepat sampai tidak ada satupun yang bisa menghentikannya atau memperlambat berjalannya waktu.
Jam sudah menunjukkan pukul 10 pagi, hampir mendekati waktu siang hari. Biasanya di jam tersebut, orderan akan semakin sedikit sehingga Tanaka langsung menuju ke basecamp nya yang ada di kotabaru.
Sesampai di basecamp, rekan-rekan ojolnya belum ada yang muncul sehingga dia hanya sendirian saja diantara driver aplikator lainnya yang ada di tempat itu.
Seperti biasa, Tanaka menunggu orderan masuk dengan memainkan trading forex dan selama setengah jam, dia sudah mendapatkan keuntungan 50 juta.
Selagi dia memainkan trading forex tersebut, secara tiba-tiba, ponselnya menerima panggilan telepon WA dan sebuah nama yang cukup dikenalnya muncul dalam layar ponsel pintarnya itu.
"Assalamualaikum, halo, Martin, apa kabar?" Tanya Tanaka setelah menerima panggilan telepon WA dari sahabat SMA-nya itu.
Dia tidak perlu mendekatkan ponsel ke telinganya karena dia memakai airpod.
"Waalaikumsalam, aku baik-baik saja, bagaimana denganmu?" Tanya balik Martin.
"Alhamdulillah masih diberikan kesehatan yang baik oleh Tuhan." Jawab Tanaka. "Jadi ada apa ney, tumben banget nelpon?"
Martin tidak langsung menjawab karena merasa bingung untuk membicarakan tujuan dia telpon tersebut.
"Kenapa diam? Ada apa Martin? Ngomong aja." Pinta Tanaka.
"Hmmm~ Tan, bisakah kamu membantu aku?" Tanya Martin yang akhirnya membicarakan tujuannya nelpon Tanaka.
"Bantuan apa? Kalau aku bisa, tentu saja akan aku bantu." Jawab Tanaka.
"Itu ... sulit untuk mengatakannya karena ini sangat tiba-tiba dan mungkin kamu akan menolaknya." Ujar Martin yang berbelit-belit bicaranya.
"Apaan sih, ngomong aja, kamu mau minta bantuan apa? Kalau aku bisa bantu, aku pasti akan bantu." Pinta Tanaka yang ingin sahabat SMA-nya itu langsung ngomong to the poin.
"Hmmm ... ini ... apa kamu punya uang 100 juta? Kalau ada aku pinjam dulu dan secepatnya akan aku kembalikan." Ungkap Martin.
Tanaka merasa bingung karena sejak dirinya bersahabat dengan Martin, baru kali ini Martin ingin meminjam uang padanya.
"Uang sebanyak itu, kalau boleh tahu untuk apa?" Tanya Tanaka.
Martin pun menjelaskan tentang alasan dia ingin meminjam uang 100 juta pada Tanaka yang tidak lain adalah karena ada masalah dengan pekerjaannya dan dia harus memberikan ganti rugi atas masalah yang terjadi di tempat kerjanya itu.
"Baiklah, kirimkan nomor rekening mu." Pinta Tanaka yang membuat Martin terkejut.
"Kamu benar-benar ingin meminjamkan 100 juta padaku?" Tanya Martin.
"Tentu saja, bukankah aku sudah beritahu padamu kalau aku bisa bantu pasti akan aku bantu." Jawab Tanaka.
Martin pun merasa gembira dan lega karena dia sudah berhari-hari stress untuk menyelesaikan masalahnya itu.
"Martin, sekarang kamu masih kerja di tempat itu atau tidak?" Tanya Tanaka yang terbesit sebuah ide.
"Tidak, aku telah dipecat secara sepihak oleh pihak perusahaan tanpa mendapatkan gaji dari bulan sejak aku dipecat." Ungkap Martin.
"Kalau gitu, maukah kamu membuat perusahaanmu sendiri? Aku akan memberikan modalnya untuk perusahaan kamu itu." Ujar Tanaka.
Mendengar itu tentu saja membuat Martin terkejut dan tidak bisa berkata-kata untuk sementara waktu.