
Setelah menunggu hampir satu jam dengan minuman orange squash yang hampir habis setengah gelas, satu pesanan Tan, nasi goreng telah tiba.
Lalu, lima menit kemudian dua pesanan, rendang sumatera dan tenderloin premium juga telah tiba.
Karena semua pesanan makanannya sudah tiba, tanpa pikir panjang, Tan langsung menyantap nasi goreng dengan lauk serba daging tersebut.
Hanya dalam waktu kurang dari setengah jam, semua makanan yang ada di atas meja sudah habis tanpa tersisa.
Tan merasa puas dengan rasa makanan tersebut, sesuai dengan harganya.
Meskipun porsi nasi gorengnya lebih sedikit dibandingkan dengan nasi goreng yang dijual dipinggir jalan.
Tapi mengenai rasanya, nasi goreng yang barusan dimakannya lebih memuaskan daripada nasi goreng yang dia beli dekat rumahnya.
Dia telah memakan semua pesanannya, tapi lambungnya masih banyak ruang untuk dimasuki oleh makanan.
Tanpa basa-basi, Tan memutuskan untuk memesan makanan ringan atau dessert sebagai penutup makan malamnya.
Dia melihat-lihat ke berbagai arah, bingung bagaimana cara untuk memesan makanan lagi.
Dia tidak tahu tata cara memanggil pelayan atau memesan lagi di hotel bintang lima. Bila itu di rumah makan Padang atau warung makan, orang hanya berteriak memanggil pelayan sambil mengacungkan tangan ke atas.
Mery yang melihat gelagat Tan langsung memberitahukan pada Rita.
"Rita, pacarmu itu sepertinya ingin membayar, sana cepat datangi." Ejek Mery.
"Dia bukan pacar aku! Kenapa tidak kamu saja yang datang?" Tanya Rita.
"Yaelah, kamu tahu sendiri aku tidak mau melayani orang seperti dia, komisi tidak dapat yang dapat cuma capek doang, malas aku, mending melayani pengunjung lainnya yang mungkin mereka memesan makanan lagi." Jelas Mery.
"Kamu ini ya, kalau kerja itu yang profesional, jangan milih-milih, dan juga jangan menuding seseorang tanpa ada bukti yang jelas, belum tentu dia orang miskin, kalau ternyata dia pengusaha sukses atau ahli waris konglomerat, nyesel kamu nanti, ingat, don't judge by the cover!" Jelas Rita.
Mery hanya bersikap tidak peduli, nasehat rekan kerjanya itu hanya dibuatnya masuk kuping kanan lalu diteruskan seperti jalan tol untuk keluar kuping kiri.
"Nah kan, belain dia, fix kamu pacarnya, kalau bukan, berarti dia suami kamu dong." Kata Mery.
Rita merasa kesal dan ingin nampol kepala rekannya itu. Tapi tidak jadi karena Mery berkata, "Hanya bercanda, jangan serius gitu, nanti muncul kerutan di bawah matamu, sudah sana hampiri dia, kasihan lihat dia yang celingak-celinguk seperti anak hilang." Kata Mery yang menahan tawa melihat Tan seperti itu.
Rita menghela nafas dan dia menghampiri Tan yang masih celingak-celinguk. Dia berpikir memang seperti anak yang kehilangan mama atau papanya di tengah keramaian.
Itu terlihat lucu baginya dan ingin tertawa, tapi dia tahan. Bagaimanapun dia harus terlihat tenang dan profesional dalam tugasnya.
"Permisi, tuan, ada yang bisa saya bantu?" Tanya Rita dengan sopan dan ramah.
Kedatangan Rita yang secara tiba-tiba membuat Tan terkejut dan langsung gugup. "A ... Anu, aku ingin pesan makanan lagi, bisa aku lihat lagi menunya?"
Mendengar itu membuat Rita terkejut, tapi dia tidak memperlihatkan keterkejutannya. Hanya senyum ramah yang diperlihatkannya.
"Baik, mohon tunggu sebentar, saya ambilkan." Ujar Rita yang langsung kembali ke tempatnya untuk mengambil buku menu.
"Kenapa balik? Apa dia tidak bisa bayar?" Tanya Mery saat Rita kembali ke posisinya semula.
"Tidak, dia ingin memesan lagi." Kata Rita sambil mengambil buku menu dan tersenyum senang karena dia akan mendapatkan komisi besar saat gajian.
"Memesan lagi, apa dia sudah gila? Apa dia memiliki uang untuk membayarnya? Bagaimana kalau dia tidak bisa bayar nantinya?" kata Mery yang masih mempertahankan pikirannya kalau Tan adalah pria miskin.
Terlebih dia telah mendengar dari mantan pacarnya kalau Tan memiliki hutang dan tidak bisa membayar angsurannya.
Sebenarnya Rita juga memikirkan hal yang dikatakan oleh Mery, dia merasa was-was kalau Tan tidak bisa bayar sehingga dia tidak mendapatkan komisi apapun.
Tapi Rita hanya bisa berharap kalau hal itu tidak terjadi dan percaya bahwa dia menerima komisi yang banyak saat gajian.
Dia dengan cepat menghampiri Tan yang mejanya sudah bersih dari piring-piring sisa makanan dan minuman dari pesanan pertamanya.
Rita memberikan buku menu dan kemudian mencatat pesanan kedua dari pengunjung yang kontroversi itu.
Tan memesan dumpling 4 empat musim, beef gyoza, bakwan jagung, soto iga dan dia ingin rekomendasi dessert pada Rita.
"Tolong rekomendasikan menu dessert, mana yang enak menurut mbak?" Tanya Tan.
"Saya menyarankan tuan memesan Japanese cheese cake." Kata Rita.
Dia sebenarnya ingin merekomendasikan menu dessert yang memiliki harga tertinggi agar dia mendapatkan komisi lebih besar, namun Rita memilih kue keju Jepang karena itu sangat cocok untuk dessert menurutnya.
"Kalau begitu aku pesan itu dan air mineral." Kata Tan yang menutup buku menu dan menyerahkan pada Rita.
Perempuan itu membaca ulang lagi pesanan Tan dan kemudian setelah terverifikasi pesanannya sesuai, dia segera meninggalkan Tan untuk menyerahkan pesanan itu ke bagian dapur.
Setelah menyerahkan pesanan ke bagian dapur, Rita kembali lagi ke posisinya dan langsung di interogasi oleh Mery.
"Apa? Apa yang dia pesan? air mineral?" Cemooh Mery.
"Ya, dia pesan air mineral-" Kata Rita yang perkataannya disela oleh Mery. "Sudah kuduga, dia hanya pesan mineral, tidak mungkin dia memesan makanan lagi."
Rita tidak terlalu peduli dengan perkataan Mery, dia segera menyebutkan pesanan Tan selain air mineral tersebut.
"Tidak mungkin, dia pesan sebanyak itu, apa dia memiliki perut karet, tidak bukan itu intinya, dia sudah memesan makanan dengan total 180 ribu dan bila digabungkan dengan yang pertama itu sudah mencapai 600 ribu lebih, belum lagi PPN 11% dan service charge 10%, yang bila di total ... " Kata Mery yang terhenti karena dia sedang menghitung.
"1,5 juta lebih." Sahut Rita yang yang lebih cepat menghitung jumlah total pembayaran Tan nantinya daripada Mery.
"Dia mengeluarkan uang sebanyak itu hanya untuk makan malam sendirian, apa dia bukan pria miskin seperti yang aku pikirkan? Tapi aku dengar dari mantan pacarnya, dia memiliki hutang." Pikir Mery.
"Apa dia pria bodoh atau orang yang ingin menikmati kemewahan sebelum mengakhiri hidupnya?" Tanya Mery dalam pikirannya.
Sementara itu, Tan tidak tahu kalau dirinya sedang menjadi topik pembicaraan yang cukup seru bagi Rita dan Mery.
Dia hanya menyibukkan diri dengan ponsel pintarnya sambil melirik-lirik sebuah meja khusus untuk 4-8 orang yang ada di hadapannya, tidak terlalu jauh dari tempat dirinya berada.
Dia melihat ke tempat itu karena disana ada Saras dengan tunangannya yang sedang menyantap makanan sambil bermesraan.
Terlihat ekspresi wajah Saras yang sangat gembira dan terus bersikap manja dengan tunangannya itu, sangat berbeda sikapnya saat masih berpacaran dengan dirinya.
"Apa dulu aku dan dia hanya hubungan sepihak, lalu kenapa dia mau menerima perasaan aku kalau dia tidak menyukai aku?" Tanya Tan dalam pikirannya.
Ada rasa marah, kecewa dan sedih dalam dirinya melihat sikap yang sangat berbeda dari Saras dengan tunangannya daripada dirinya menjadi kekasih perempuan itu.
Dia marah karena Saras tidak menganggap dirinya sebagai kekasih walaupun menerima perasaannya. Ini semacam dirinya telah dimanfaatkan oleh Saras saat menjadi pasangan kekasih.
Memang benar dengan pepatah yang mengatakan cinta itu buta, karena dirinya menjadi budak cinta membuat matanya telah tertutup oleh perlakuan dan sikap Saras padanya.
Dia sedih karena telah membuang waktu, tenaga dan uang demi cinta sepihak yang dilakukan oleh Saras.
"Apa ini cobaan baru yang Engkau berikan padaku, ya Allah?" Ujar Tan yang kemudian menghela nafas.
Dia mengira dengan dirinya memiliki uang, maka semuanya akan kembali normal, dia bisa bertahan hidup, menjalin kasih lagi dengan Saras, menikah dan membentuk keluarga dengan perempuan itu.
Tapi itu hanyalah angan-angan dirinya saja. Kenyataan telah menampar wajahnya berkali-kali agar dirinya bangun dari mimpi yang panjang.
Beberapa menit kemudian, seorang pelayan pria membawa lima dari enam pesanan Tan, yakni beef gyoza dumpling empat musim, bakwan jagung, air mineral, dan Japanese cheese cake. Sedangkan Soto iganya datang tiga menit kemudian.
Tanpa membuang-buang waktu lagi, Tan melibas semua makanan itu untuk dimasukan ke dalam lambungnya dan diolah dengan baik, hanya dalam waktu kurang dari satu jam.
"Fiuh, akhirnya aku bisa merasakan lambungku hampir terasa penuh." Kata Tan yang merasa sangat puas dengan semua makanan yang dipesannya.
Rasa dan kualitas makanan yang dipesannya itu sepadan dengan harga yang harus dia keluarkan, meskipun dia sedikit kecewa karena bagian nasi goreng, porsinya tidak ada setengahnya dari nasi goreng yang dijual dekat rumahnya.
Dia tidak ingin lambungnya terisi penuh karena itu hanya akan membuatnya sakit perut dan guru agamanya saat SMA juga mengatakan "Kalau makan jangan sampai kenyang, berhentilah segera bila sudah merasa hampir kenyang, itu sunnah Rasulullah SAW."
Oleh karena itu dia selalu berhenti makan saat dirinya sudah merasa hampir kenyang.
Sekarang dia ingin melakukan pembayaran akan tetapi dia kembali kebingungan untuk melakukan pembayaran.
Dia tidak tahu tata cara pembayaran yang dilakukan di restoran hotel bintang lima.
Spa sama dengan pembayaran di restoran atau warung makan pada umumnya, yakni datang langsung ke kasir.
Dalam keadaan kebingungan tersebut, Tan kembali dikejutkan dengan kehadiran Rita yang muncul secara tiba-tiba untuk memberikan bantuan pada dirinya.
"Astaga, kualitas pelayanan di restoran hotel bintang lima, sangat menakjubkan," kata Tan dalam pikirannya dengan penuh kekaguman, terutama pada Rita yang sejak awal sampai akhir, dia memberikan pelayanan terbaik untuknya.
"Sepertinya aku harus memberikan tip untuk pegawai ini." Pikir Tan yang telah memutuskan memberikan tip pada Rita yang tidak tahu kalau dirinya akan diberikan tip oleh Tan.
Tan memberitahu pada Rita tentang keinginannya melakukan pembayaran. Perempuan itu langsung menganggukkan kepalanya dan meminta Tan untuk menunggu sebentar.
Dia langsung berjalan menuju ke bagian kasir untuk memberitahu pada pegawai kasir bahwa nomor meja tempat Tan telah close table dan segera dilakukan total perhitungan pesanan pada meja tersebut.
Rita mengambil kertas struk pembayaran milik Tan yang dilakukan perhitungan oleh petugas kasir.
Dengan gerakan cepat, Rita kembali ke tempat Tan kurang dari lima menit dan dia sudah menyerahkan kertas struk pembayaran pada Tan.
"1,5 juta, aku menghabiskan makan malam sebanyak ini? Astaga, ini adalah makan malam termahal yang pernah aku lakukan." Kata Tan yang terkejut dengan total harga tersebut.
Dia awalnya mengira kalau totalnya hanya sampai 500-700 ribu, tapi ternyata harga yang tertera di menu belum termasuk PPN 11% dan juga ada service charge 10%.
Service charge adalah hal yang baru bagi Tan karena di rumah makan Padang atau warung makan tidak ada service charge.
Meskipun begitu dia masih bisa membayarnya karena dengan uang 600 juta lebih yang ada di rekerningnya saat ini, 1,5 juta hanyalah angka kecil baginya. Itu hampir sama dia harus mengeluarkan uang 150.000 rupiah.
Sementara itu Rita yang berdiri di dekat Tan merasa khawatir saat melihat gelagat terkejut Tan.
Dia khawatir pria itu tidak bisa membayar sehingga dia tidak akan mendapatkan komisi atas penjualan yang dilakukannya itu pada Tan.
Akan tetapi rasa cemas dan khawatirnya itu langsung hilang saat Tan berkata, "Apakah bisa membayar dengan kartu debit bank NI?" Tanya Tan.
"Tentu bisa, tapi bila tuan menggunakan kartu kredit bank Merdeka atau BPS, akan mendapatkan potongan harga 10% dengan nominal pembayaran minimum 500 ribu rupiah." Jelas Rita dengan penuh kegembiraan karena dia akan mendapatkan komisi besar saat gajian nanti.
Tan memilih membayar pakai kartu debit daripada kredit karena dia tidak punya dan dia tidak mau berhutang apapun lagi. Tan sudah trauma dengan memiliki utang.
Lagipula, dia juga gak punya kartu kredit di kedua bank itu dan tidak ada rencana untuk membuat kartu kredit.
"Ada uang untuk membayar kenapa harus hutang dan kenapa juga transaksi dengan kartu kredit bisa mendapatkan diskon daripada membayar dengan kartu debit, bukanlah itu terbalik." Pikir Tan.
Rita kemudian mengarahkan Tan untuk langsung ke kasir, melakukan proses pembayaran.
Tanpa menunggu waktu lama lagi, pria introvert akut itu segera bangkit dan berjalan menuju ke tempat kasir sedangkan Rita kembali ke tempat semulanya sambil tersenyum sumringah.
Dia memberitahu hal tersebut pada Mery yang membuat perempuan angkuh itu merasa iri. "Seandainya aku yang melayani pria itu, aku yang akan mendapatkan komisi besar itu, astaga aku tidak tahu kalau ternyata pria itu bukan pria miskin tapi pria kaya." Pikir Mery yang menyesal.
Sesampai di kasir dia harus mengantri karena ada dua orang yang sedang melakukan transaksi pembayaran di kasir tersebut.
Restoran itu menempatkan dua kasir dan keduanya sedang melayani pembayaran pengunjung restoran tersebut.
Saat sedang menunggu, Saras dan Harry, tunangan mantan pacarnya itu datang ke kasir untuk melakukan pembayaran juga.
Mereka berdua mengantri tepat di samping Tan yang berusaha mengabaikannya karena dia sempat melirik Saras masih bersikap manja pada Harry.
Itu membuat dirinya semakin kecewa pada dirinya sendiri karena sudah menghabiskan banyak waktu, tenaga dan uang pada perempuan yang tidak mencintai dirinya.
Saras juga menyadari keberadaan Tan, tapi mengabaikannya juga, hanya fokus pada Harry, tunangannya. Meskipun begitu dia juga penasaran berapa tagihan yang harus dibayar mantan pacarnya itu dan apakah Tan bisa membayarnya?
Setelah menunggu beberapa menit, tiba saatnya Tan membayar. Dia menyerahkan struk pembayarannya pada pegawai kasir dan kemudian mengambil dompet yang ada di saku samping celana jeans-nya.
"Baik, semuanya 1.534.500 rupiah tuan, mau dibayar tunai atau kartu?" Tanya pegawai kasir itu.
Belum sempat Tan menjawab dan memberikan kartu debit bank NI nya, tiba-tiba Saras mengeluarkan suara terkejut.
"1,5 juta lebih untuk makan malam hanya sendirian, astaga kamu benar-benar boros, padahal kamu masih ada hutang, Tan." Kata Saras yang meremehkan dan menghina Tan.
Dia kemudian meminta tunangannya untuk membayar tagihan mantan pacarnya itu karena bagaimanapun Tan dan dirinya sudah banyak menghabiskan waktu.
Selain itu juga, dia ingin pamer pada Tan bahwa tunangannya adalah pria kaya daripada Tan yang dianggapnya masih miskin.
"Baiklah, apa sih tidak aku lakukan buat kamu bahagia dan senang, kamu memang perempuan yang baik." Puji Harry pada tunangannya itu.
Saras bertingkah lebih manja lagi pada Harry karena perkataannya itu.
"Biarkan aku yang membayarnya, sekalian gabungkan dengan tagihan aku." Pinta Harry sambil mengeluarkan kartu kreditnya, berwarna emas.
Petugas kasir yang melayani Tan tidak langsung merespon perkataan Harry, dia terlebih dahulu melihat ke Tan, menunggu respon atas tawaran itu.
"Terima kasih atas kemurahan hatinya, tapi aku harus menolaknya, aku bisa bayar sendiri." Kata Tan yang langsung memberikan kartu debit bank NI miliknya pada kasir.