
Tan dan Saras masih menunggu makanan mereka tiba. Selama menunggu itu Saras mencoba untuk mengobrol sama Tan hanya untuk menghabiskan waktu agar tidak terlalu bosan.
Sekedar basa basi, seperti menanyakan kabar Tan setelah dirinya berpisah. Saras tidak tahu bagaimana kabar Tan setelah itu karena mereka berdua telah putus kontak. Tan tidak pernah menghubungi atau mengirim pesan pada Saras begitu juga sebaliknya.
Saras tahu kalau Tan memiliki sikap yang sangat introvert atau penyendiri. Dia tidak akan memberikan kabarnya atau keadaannya pada orang lain, bahkan pada kerabat keluarganya sendiri bila tidak ada yang bertanya atau menghubunginya.
Akan tetapi selama Saras berpacaran dengan Tan, komunikasi tidak pernah putus dan Tan adalah pihak pertama yang akan menghubunginya.
Namun setelah mereka berpisah, Tan tidak pernah melakukan hal seperti itu lagi dan Saras juga tidak terlalu memikirkannya karena dia sudah memiliki Harry, tunangannya yang saat ini sudah resmi karena orang tuanya dengan orang tua Harry sudah saling bertemu dan langsung menentukan hari pernikahan.
Saras juga menanyakan tentang kondisi hutang Tan, tapi Tan hanya memberitahu padanya kalau semuanya baik-baik saja, tidak lebih dari itu.
Saras juga tidak ingin bertanya lebih dalam lagi karena orang yang ditanya tidak ingin memberikan jawaban yang jelas tentang hal itu.
Saat tidak menemukan bahan pembicaraan lagi, Saras mengeluarkan ponsel pintarnya untuk berkomunikasi dengan Harry melalui WhatsApp.
Melihat Saras tidak akan bertanya lagi, Tan yang mulai mengajak mengobrol.
"Apa tunangan kamu tahu kalau kamu bertemu dengan aku? Jangan sampai tunangan kamu menjadi salah paham pada aku karena kamu bertemu dengan aku tanpa diketahuinya." Tanya Tan yang mengkhawatirkan hal tersebut.
Dia tidak ingin menjadi penyebab pertengkaran antara Saras dan Harry hanya karena Saras bertemu dengan dirinya tanpa diketahuinya.
Bagaimanapun Tan tidak ingin merusak hubungan orang lain yang sudah sampai ke pertunangan, selangkah lagi menuju ke pelaminan.
Meskipun pertemuan ini bukan inisiatifnya, tapi inisiatif Saras tetap saja dia tidak ingin menjadi penyebab kesalahpahaman tunangan mantan pacarnya itu.
"Jangan khawatir, dia tahu aku bertemu dengan kamu hari ini, kami berdua saling membicarakan hal-hal apa saja yang kami berdua lakukan." Jawab Saras tanpa melihat ke arah Tan, fokus pada ponsel pintarnya berupa Ayphone 13 max terbaru yang harganya 20-30 juta.
Sedangkan Tan masih dengan ponsel jadul Somay A2 yang harganya kurang dari 5 juta dan sekarang sudah jatuh menjadi 1 juta rupiah.
Meskipun begitu, Tan belum ada keinginan untuk berganti dengan ponsel pintar baru dan kalaupun ada dia akan membeli ponsel dengan OS Android daripada OS lainnya karena OS Android lebih mudah digunakan dan dia juga sudah terbiasa menggunakan OS tersebut.
"Begitukah, syukurlah, aku tidak ingin dia salah paham padaku karena kamu mengajak aku untuk bertemu." Ujar Tan.
Saras mengalihkan perhatian pada Tan dan berkata, "Harry bukan tipikal gampang cemburu, apalagi cemburu padamu, aku sudah menceritakan semua hal tentang kamu jadi baginya kamu tidak selevel dengannya dan tidak pantas untuk dicemburui, jadi tidak usah khawatir." Jelas Saras.
Tan terdiam sejenak dan kemudian berkata lagi, "Kamu sangat berubah sejak kita berpisah, aku hampir tidak menyadari kalau apa yang aku lihat saat ini adalah kamu yang pernah menjadi pacar aku."
"Kamu aja yang tidak menyadarinya Tan, ini adalah diriku sebenarnya, saat aku berpacaran dengan kamu, tentu aku harus menahan semuanya untuk mengimbangi apa yang kamu miliki." Ujar Saras.
"Aku tidak mungkin meminta kamu untuk memberikan aku barang mewah, padahal aku sangat menyukainya, aku sama seperti wanita lainnya yang menyukai barang mewah, tapi karena kamu tidak mampu aku menahannya, aku harus sadar diri kalau pasangan aku itu tidak mampu untuk memenuhi semua keinginan aku yang sebenarnya," jelas Saras.
Tan hanya terdiam dan menyadari kalau apa yang dikatakan oleh Saras benar. Saat itu dia memang tidak mampu untuk memenuhi keinginan Saras, tapi sekarang dia sudah mampu tapi sangat disayangkan dirinya sudah berpisah dengan Saras yang sudah bertunangan.
"Sekarang aku sudah menemukan pria yang bisa memberikan apa yang aku inginkan sejak dulu yang tidak mungkin bisa aku dapatkan darimu, cinta itu memang penting dalam sebuah hubungan, tapi uang juga sangat penting, bila hanya cinta saja tanpa ada uang, apa itu bisa membuat orang tetap hidup? Orang membutuhkan uang agar bisa bertahan hidup, tidak hanya sekedar cinta saja." Lanjut Saras.
Tan hanya terdiam tidak berencana untuk membantah karena memang perkataan Saras benar, orang tidak bisa hidup hanya dengan cinta tapi butuh uang untuk memenuhi kebutuhan agar bisa hidup.
Bila dirinya adalah Tan yang dulu yang masih mengalami masalah keuangan dan ditumpuk dengan hutang, dia tidak akan bisa membalas perkataan Saras tapi saat ini dia memiliki uang yang mencapai lebih dari 2 miliar rupiah, akan tetapi dia memilih diam karena untuk apa membalas atau memberitahu pada pasangan orang lain tentang kekayaan yang dimilikinya.
Bukankah itu itu hanya ingin pamer kekayaan yang dimilikinya pada orang lain. Tan tidak bisa berbangga ria dengan perilaku seperti itu, malah dia merasa sangat malu.
"Kamu benar, uang sangat penting untuk bertahan hidup, maafkan aku bila dulu aku tidak bisa melakukan atau memberikan apa yang kamu inginkan." Ujar Tan yang merasa bersalah pada Saras.
"Apa maksudmu dulu? Sekarang aja kamu tidak bisa melakukannya, kamu masih belum memiliki pemasukan dan hutang yang kamu miliki aja belum dilunasi, tapi sekarang kamu sok-sok'an mentraktir aku, itulah yang membuat aku memutuskan berpisah padamu Tan, kamu tidak pernah belajar dari kesalahan yang kamu perbuat selama ini dan tidak menutupi kelemahan kamu, kamu hanya ingin melakukan semua yang muncul di kepala kamu tanpa memikirkan akibatnya." Jelas Saras.
"Bila kamu seperti ini, tidak akan ada masa depan yang bagus terjadi dan kamu hanya akan membuat pasangan dan keluarga kamu menderita." Lanjut Saras.
Tan hanya menganggukkan kepalanya dan menerima kritikan dari mantan pacarnya itu. Bagaimanapun mantan pacarnya adalah orang yang paling dekat dengan selama beberapa tahun sehingga lebih tahu kelemahan yang ada pada dirinya selain kedua orang tuanya yang sudah almarhum.
Beberapa menit kemudian, makanan telah tiba, Tan dan Saras langsung menyantap makanan tersebut dalam keadaan diam, tanpa ada pembicaraan sama sekali. Hanya tangan dan mulut yang bergerak.
"Aku minta bertemu sama kamu karena ingin memberikan undangan pernikahan aku dan Herry pada kamu Tan." Ujar Saras yang membuat Tan terkejut.
"Hari H nya awal Minggu depan kalau kamu tidak datang tidak apa, tapi aku ingin kamu datang sebagai tanda sahnya perpisahan kita dan kamu mengikhlaskan aku dengan Harry." Lanjut Saras.
Tan tidak bisa berkata apa-apa karena dia sangat terkejut. Bukan terkejut dengan Saras yang akan menikah dengan Harry karena itu sudah pasti terjadi. Tapi yang membuat dia kaget adalah betapa cepatnya proses tersebut.
Dia baru berpisah bulan lalu dan kemudian saat bertemu sudah bertunangan, lalu sekarang sudah lanjut ke pernikahan.
"Bukankah ini terlalu cepat? Apa dia tidak memikirkan aku yang sudah menjalani kisah kasih selama 6 tahun." Pikir Tan.
Dia membuka segel undangan yang terkesan mewah dan melihat isi dari undangan tersebut yang mana resepsi pernikahannya diadakan di sebuah sebuah hotel dekat tugu arah Utara.
Tan menghela nafas sejenak dan kemudian berkata, "Kamu sudah mengundang aku, tentu aku akan datang dan ikut merayakan hari bahagia kamu ini." Ujar Tan yang membuat Saras sedikit terkejut.
"Kamu yakin? Kamu benar-benar akan datang, Tan?" Tanya Saras untuk meyakinkan dirinya atas ucapan Tan tersebut.
Mantan pacarnya itu menganggukkan kepalanya. "Kamu sudah mengundang aku, tidak mungkin aku tidak hadir di hari bahagia kamu ini, sebagai mantan pacar kamu aku harus melihat dengan kepala aku sendiri bahwa kamu memang bahagia, masalah kebahagiaan itu bukan sama aku, itu bukanlah sebuah masalah bagi aku, aku hanya ingin melihat kamu bahagia dan merayakan bersama saja, itulah aku pasti akan datang." Jelas Tan.
Saras tersenyum mendengar jawaban Tan seperti itu. "Terima kasih Tan, kamu memang pria yang baik, aku memang bukan jodoh kamu, tapi di luar sana masih banyak perempuan yang akan menjadi jodoh kamu, tolong rubah sikap kamu, jangan membuat jodoh kamu menderita." Ujar Saras.
Tan hanya menganggukkan kepalanya tanpa perlu berbicara untuk merespon perkataan Saras.
Setelah menyerahkan undangan pernikahannya, Saras memutuskan untuk pulang kerumahnya agar bisa beristirahat. Bagaimanapun dia telah bekerja selama delapan jam di perusahaan properti sebagai staf legal.
Sebagai staf legal di perusahaan properti, dia harus bekerja keras daripada tim legal perusahaan lainnya karena dia harus mengurus berbagai berkas hukum yang berkaitan properti, terutama mengenai tanah dan perijinan untuk membangun perumahan.
"Kamu naik taksi online ke sini?" Tanya Tan pada Saras yang berjalan keluar cafe bersamanya.
Saras menganggukkan kepalanya dan dia bersiap untuk memesan taksi online.
"Kalau begitu, biar aku antar kamu pulang, bagaimanapun ini sudah terlalu malam dan bahaya bagi perempuan untuk pulang sendirian menggunakan taksi online." Ujar Tan.
Saras menggelengkan kepalanya. Dia lebih baik menggunakan taksi online karena bisa beristirahat daripada harus dibonceng oleh Tan dengan motor matic jadulnya itu.
"Tunggulah disini, aku akan mengambil kendaraannya, tolong jangan pesan taksi online, biarkan aku mengantar kamu ke rumah untuk terakhir kalinya." Bujuk Tan saat melihat ada tanda-tanda penolakan.
Saras berpikir sejenak dan kemudian menganggukkan kepalanya. Bagaimanapun dia sudah dibujuk oleh Tan dan juga ini akan menjadi kenangan terakhirnya menaiki motor matic jadul milik mantan pacarnya itu.
Tan segera berlari menuju ke hotel yang tidak jauh dari cafe tersebut, tempat dia memarkirkan mobilnya karena tidak ada tempat untuk memarkirkan mobil di depan cafe Moonlight.
Melihat Tan yang berlari menuju ke sebuah hotel membuat Saras bingung dan bertanya-tanya, "Kenapa memakirkan motornya di sana? Bukankah disini juga bisa?"
Saras menunggu beberapa menit dan Tan belum juga muncul. Dia mulai merasa kesal dan ingin memesan taksi online karena sudah merasa sangat lelah.
Akan tetapi, baru saja dia membuka aplikasi taksi online, sebuah mobil SUV berhenti di depan cafe dan kaca jendela bagian samping kanan depan turun, menampilkan wajah Tan yang sedang duduk di kursi pengemudi mobil SUV tersebut.
"Saras, ayo naik." Panggil Tan dengan singkat.
"Tan? Sejak kapan kamu bisa mengendarai mobil? Dan mobil siapa ini?" Tanya Saras dalam kebingungan.
Saras tidak terlalu tahu dengan otomotif, namun dia tahu mana mobil murahan, mana yang mahal dan mewah.
Mobil yang dikendarai Tan terlihat mewah dan pastinya harga mobil tersebut di atas ratusan juta, setidaknya minimal 1 miliar rupiah.
"Aku jelaskan di dalam, ayo naik," Kata Tan yang meminta Saras untuk segera naik. Dia tidak bisa menghentikan mobilnya lama-lama di tempat itu karena bukan tempat parkir mobil. Dia bisa ditilang polisi bila memakirkan mobilnya di tempat tersebut.
Saras segera berjalan menuju ke pintu depan sebelah kanan untuk duduk di kursi penumpang depan, samping Tan yang akan mengemudikan mobil SUV tersebut.
Setelah Saras naik dan memasangkan sabuk pengaman, Tan mulai menjalankan mobilnya menuju ke rumah Saras.