MIRACLE: SUPER RICH!!!

MIRACLE: SUPER RICH!!!
Reuni Sekolah Itu, Acaranya Pamer Kekayaan



Suasana hiruk pikuk di ruang privat G-5 restoran Galer berlangsung selama 10 menit. Para teman kelas 12-1 IPS yang hadir dalam acara reunian tersebut berebutan untuk mengobrol dengan Richard.



Hiruk pikuk itu selesai karena Richard berjalan menuju ke tempat Tan dan Martin berada.



"Hahaha, aku senang kamu datang juga, Tanaka, aku pikir kamu tidak datang ke acara reuni kelas kita karena karakter kamu itu saat SMA terlalu pendiam dan penyendiri." Ujar Richard sambil tersenyum dan bersalaman dengan Tan.



"Ya, meskipun aku memiliki karakter seperti itu, tetap saja aku harus datang ke acara reuni ini, bagaimanapun kamu telah mengundang aku, tidak baik rasanya bila aku tidak datang, apalagi ini acara reuni kelas 12-1 IPS." Jawab Tan sambil bersalaman dengan Richard.



"Bagus, Bagus, aku senang kamu datang, terima kasih." Ujar Richard dengan masih tersenyum tapi sudah tidak bersalaman lagi.



Dia kemudian menatap ke arah Martin dan bertegur sapa dengan teman dekat Tan tersebut sampai akhirnya dia pergi meninggalkan Tan dan Martin untuk menghampiri beberapa teman lainnya untuk bertegur sapa.



Beberapa menit kemudian, akhirnya semua orang yang ada di ruangan itu duduk di kursi masing-masing. Richard duduk di kursi dengan jarak empat kursi dari Martin.



Karena meja di ruangan tersebut berbentuk bundar sehingga tidak ada kursi utama atau tempat utama yang biasanya berada di ujung meja, semuanya duduk dalam posisi melingkar.



Meskipun mereka duduk dalam posisi seperti itu sehingga tidak ada perbedaan, tetap saja di atas meja bundar itu terdapat perbedaan status kekayaan. Para pria meletakkan ponsel Ayphone dan kunci mobil impor Eropa, seperti WMB, Mercedes B, WV, Audi, dan lainnya.



Namun, diantara segitu banyaknya kunci mobil impor Eropa tersebut, hanya satu yang paling menonjol, yakni kunci mobil milik Richard yang memiliki logo mobil brand Bugaty yang harga paling murah dari brand itu 40 miliar rupiah.



Namun yang menarik perhatian dari kunci mobil tersebut adalah terdapat nama seri dari mobil Bugaty tersebut.



"Tuan Richard, bukankah ini nama jenis mobil termahal dari brand Bugaty, centodiecy yang harganya hampir mendekati 130 miliar rupiah?" Ujar teman kelas 12-1 IPS yang memiliki hobi otomotif sehingga dia tahu banyak tentang brand mobil dan jenisnya.



"Ya, aku cukup beruntung memilikinya, Bugaty centodiecy dijual sangat eksklusif dan terbatas, hanya sepuluh unit yang diproduksi dan aku beruntung bisa mendapatkannya." Ujar Richard dengan santai dan tersenyum.



Meskipun begitu, dalam dirinya dia merasa senang karena ada yang menyadari kemewahan mobil miliknya tersebut. Dia harus bersusah payah untuk mendapatkan mobil tersebut, bahkan membujuk ibunya agar ayahnya, kepala keluarga Marx memberikan uang agar bisa mendapatkan mobil tersebut.



Sejak SMA, Richard sudah sering memamerkan kekayaan keluarganya. Dia sering mentraktir teman-temannya di kantin ataupun saat nongkrong di luar sehingga dirinya menjadi siswa terpopuler di SMA Nusantara.



Apalagi dirinya memiliki paras wajah yang tampan, body maskulin, kulit putih cerah yang merupakan turunan dari ibunya, keturunan dari Inggris-Indonesia, dan kapten basket SMA Nusantara yang sering memenangkan kejuaraan tingkat kabupaten, provinsi maupun nasional.



Meskipun dirinya terlihat sempurna di mata orang lain, tapi dia sangat kesal dengan Tan karena menghalangi kesempurnaannya sebagai manusia.



Dia tidak pernah berhasil menjadi juara satu dalam hal akademik. Tan selalu menghalangi dirinya untuk menjadi juara satu. Bahkan saat ujian akhir nasional, Tan meraih nilai tertinggi dan menjadi juara.



Hal inilah yang membuat Richard tidak pernah melupakan Tan karena dia merasa Tan adalah orang yang menghalanginya menjadi pria yang sempurna. Rasa kesalnya itu telah berubah menjadi dendam yang cukup dalam.



Richard melihat ke arah Tan untuk melihat ekspresi wajah iri dari pria yang menghancurkan kesempurnaan hidupnya di masa SMA. Dia berpikir sekarang Tan tidak bisa menghancurkan kesempurnaan hidupnya lagi.



Tapi saat melihat Tan bersikap biasa, mengobrol dengan santai pada Martin yang duduk di sebelahnya, membuat ekspresi Richard menjadi muram.



"Sialan, kenapa di bersikap biasa saja, bahkan tidak peduli, aku mengundangnya ke reuni ini karena ingin melihat wajahnya yang kusut dan iri pada aku, menyadari kalau kamu itu lebih rendah dari aku, tapi kenapa dia tidak terlihat peduli dengan ini?" Pikir Richard yang muram dan merasa marah dengan sikap ketidakpedulian Tan tersebut.



Meskipun begitu dia masih bisa mempertahankan ekspresinya dengan tersenyum dan bersikap ramah.



"Baiklah karena kelihatannya semuanya sudah disini, mari kita mulai saja acaranya, seseorang tolong panggilkan pelayan, aku telah memesan makanan dan minuman untuk acara ini, tapi bila kalian mau pesan yang lain, silahkan, kalian bisa pesan apapun di restoran ini, aku yang traktir." Ujar Richard yang membuat semua orang kecuali Tan dan Martin merasa senang.



Orang yang berada di dekat pintu dengan sukarela memanggil pelayan restoran tersebut.



Ada seorang pelayan perempuan yang datang dan pelayan itu langsung menuju ke tempat Richard karena dia melihat kalau pria itulah tuan besar dari kelompok tersebut.



Richard segera menyampaikan pada pelayan perempuan itu untuk menghidangkan makanan dan minuman yang telah dipesannya, begitu juga mencatat menu yang diminta oleh teman-temannya.



Pelayan itu pergi meninggalkan tempat tersebut sejenak untuk memberitahu ke pihak dapur bahwa makanan yang dipesan oleh Richard sudah dapat dihidangkan. Selain itu di juga membawa rekannya untuk membantu mencatat tambahan menu.



Saat hidangan makanan dan minuman tiba, Tan melihat minuman yang dihidangkan minuman beralkohol jenis red wine.



"Maaf, tidak usah, aku gak minum minuman beralkohol, tolong diganti dengan air mineral atau jus jeruk bila ada." Ujar Tan yang menghentikan pelayan saat akan menuangkan red wine ke gelasnya.



Martin juga meminta hal yang sama seperti Tan.



Pelayan itu menganggukkan kepalanya dan kebetulan Tan dan Martin adalah orang terakhir yang harus dilayaninya sehingga pelayan itu bisa langsung pergi untuk segera menyampaikan ke pihak atas pemesanan tersebut.



"Semuanya, mari kita bersulang." Ujar Richard yang berdiri sambil memegang gelas wine yang sudah berisi red wine.



Semua orang juga ikut melakukan hal yang sama seperti Richard, namun tidak dengan Tan dan Martin. Mereka berdua hanya berdiri tapi tidak memegang gelas wine karena kosong.



Mereka ikut berdiri hanya untuk menghormati Richard dan lainnya yang akan bersulang.



"Kenapa gelas wine kalian kosong?" Tanya orang yang berhadapan dengan Tan dan Martin.



Semua orang langsung menatap Tan dan Martin. Mereka menatap dengan pandangan hina.



"Kami berdua tidak meminum minuman beralkohol, tapi kami masih bisa ikut bersulang dengan kalian kan? Meskipun kami tidak meminum red wine seperti kalian." Jawab Martin dengan santai.



Orang itu hanya mendengus dan mengalihkan tatapannya ke Richard kembali.



"Apa kamu tidak menghargai teman kita, Richard? Dia sudah memesan red wine yang harganya jutaan rupiah demi kita." Ujar seorang perempuan dengan dress hitam yang cukup seksi.




"Huhh, sok suci, bukan kalian saja yang beragama Islam, aku dan beberapa teman lainnya juga beragama Islam, bukankah selama tidak mabuk, masih sadar, tidak masalah?" Sahut seseorang dengan ketus.



Tan dan Martin hanya diam saja mendengar respon seperti itu. Martin ingin sekali memberitahu pada orang itu kalau yang jadi masalah bukan masalah mabuk atau tidak mabuknya, dikit atau banyak, syari'at Islam sudah jelas melarangnya jadi kenapa harus mencari alasan atau celah.



Selain itu para ahli kesehatan juga menyatakan kalau minuman alkohol tidak baik untuk kesehatan tubuh.



"Tidak apa, bila Tanaka dan Martin tidak mau minum minuman beralkohol tidak masalah, jangan dipersoalkan, mereka yang rugi karena tidak bisa menikmati minuman seenak ini." Ujar Richard dengan tersenyum dan disambut tawa oleh yang lainnya.



Tan dan Martin hanya diam, bersikap acuh tak acuh. Tidak tersinggung atau marah akan hal itu.



"Mari kita bersulang untuk merayakan kebahagiaan kita saat ini bersulang!" Kata Richard.



"Bersulang!" Sahut semuanya kecuali Tan dan Martin.



Richard dan yang lainnya langsung meminum red wine tersebut secara perlahan-lahan, menikmati rasa red wine itu yang mengalir ke di mulut, tenggorokan dan berakhir di lambung.



"Waahh! Aku benar-benar beruntung bisa merasakan minuman seenak ini, aku pikir rasa red wine pahit dan membuat tenggorokan sakit seperti minuman alkohol lainnya tapi ternyata tidak, terima kasih Richard karena memberikan kesempatan padaku untuk merasakan red wine." Ujar pria yang duduk dekat Richard.



Dia dengan Richard hanya terpisah satu bangku.



"Ya, ya, terima kasih, Richard atau bisa kami panggil dengan tuan besar Richard saat ini, hahaha." Ujar pria yang duduk disebelah Richard.



"Hahaha, kalian terlalu berlebihan, ini hanya red wine biasa yang harganya masih satu jutaan, bukan yang sampai puluhan juta." Ujar Richard yang rendah hati, meskipun begitu dia merasa sangat senang dengan pujian-pujian tersebut.



"Meskipun begitu, kami semua sangat senang karena bisa merasakannya, benar apa tidak teman-teman?" Tanya seorang pria.



"Benar sekali, Rugi banget dua orang itu tidak ikut merasakan minuman seenak ini." Cibir seorang perempuan dengan sinis.



"Sok suci sih, jadinya gitu, gak bisa menikmati minuman yang enak ini, bersikap suci hanya saat hari tua aja,l, umur 50an atas, sekarang lebih baik menikmati keindahan dan kesenangan, benar gak?" Ujar pria lainnya dan langsung disambut gelak tawa.



Tan hanya tersenyum mendengar hal seperti itu dari teman-temannya sedangkan Martin hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Dia berpikir teman-teman kelasnya itu sudah pada mabuk.



"Hei, jangan gitu, itu keputusan mereka, hormati, jangan mengejek mereka, kasihan, sudah mari kita makan." Ujar Richard yang bertindak baik dan menjadi penengah.



Padahal dia merasa senang teman-teman sekelasnya itu memberikan cibiran dan hinaan pada Tan yang telah membuat dirinya sangat marah saat SMA.



Sedangkan Martin, Richard tidak ada masalah apapun dengannya. "Itu salah kamu sendiri kenapa ikut-ikutan seperti pria culun dan jelek itu." Pikir Richard.



Sikap dari Richard tersebut mendapat respon positif dari teman kelasnya dan mereka masih terus memuji-muji Richard.



Mereka semua kemudian menikmati makanan yang ada di atas meja bundar tersebut. Tan mengambil begitu banyak makanan sampai piringnya tidak muat lagi. Lambungnya memiliki kapasitas jumbo jadi dia bisa makan banyak.



Meskipun begitu, tubuhnya tidak memiliki lemak lebih sehingga tidak menjadi gendut seperti Martin. Hal ini karena Tan selalu berolahraga yoga setiap paginya, jadi lemak yang ada dalam tubuhnya tidak menumpuk seperti Martin.



"Huhhh, dasar rakus, udik, kampungan, bagaimana mungkin kamu makan seperti itu." Ujar seorang perempuan yang mengomentari perilaku makan Tan.



Tapi yang dibicarakan bersikap tidak peduli, Tan tetap dengan santai menikmati makanannya yang kebanyakan adalah daging, seperti ayam, kambing, sapi dan ikan.



Tidak ada makanan haram di atas meja tersebut, kecuali red wine. Jadi dia bisa menikmati makanan yang ada di atas meja bundar itu dengan tenang.



Martin yang melihat Tan hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. "Porsi makan kamu tidak berubah, masih sama atau mungkin bertambah?" Ujar Martin.



Dia merasa sedikit iri pada Tan yang memiliki porsi makan besar tapi tubuhnya tidak gemuk seperti dirinya. Martin juga ingin makan sebanyak Tan, tapi karena tubuhnya sudah gemuk, jadi dia memakan dengan porsi normal agar lemak di tubuhnya tidak bertambah lagi.



Acara makan-makan itu berlangsung selama 2 jam lebih karena mereka makan sambil bernostalgia ataupun memuji-muji Richard.



Richard pun langsung meminta seseorang untuk memanggil pelayan karena dia akan melakukan close table setelah memastikan tidak ada lagi teman-teman sekelasnya memesan makanan atau minuman lagi.



Seorang pegawai yang merupakan manajer restoran Galer datang dengan membawa bill holder dan memberikan bill holder itu ke Richard yang dia lihat sebagai tuan besar dari ruangan tersebut.



Manajer Galer sengaja menjadi pembawa bill holder karena ruang privat G-5 telah memberikan pemasukan yang cukup besar untuk restoran Galer, bahkan sudah melebihi target penjualan bulanan yang telah ditentukan oleh pihak atasannya.



Richard dengan santai membuka bill holder itu dan beberapa detik kemudian dia terkejut melihat total harga yang tertera di kertas nota yang ada di bill holder.



"Bagaimana bisa, totalnya mencapai 350 juta, aku pikir hanya 100-150 juta, apa ada kesalahan dalam perhitungan ini?" Pikir Richard.



"Apa perhitungan total harganya sudah benar? Apa ada kesalahan?" Tanya Richard dengan suara bisik.



Raut wajah manager itu yang tersenyum langsung berubah sedikit muram. Meskipun begitu dia memberi tahu kalau perhitungannya sudah benar bahkan total harga tersebut tidak dimasukkan dengan service charge sebagai itikat baik dari manajemen restoran Galer karena total biayanya sudah melebihi target penjualan bulanan.



Melihat raut wajah manager tersebut hanya membuat Richard merasa canggung. "Akan sangat memalukan bila aku tidak bisa membayar, tapi kartu kredit aku limitnya hanya sampai 200 juta, apa yang harus aku lakukan?" Pikir Richard.



Selagi Richard mencari jalan keluar, manager itu memanggil Richard lagi. "Tuan, mau bayar pakai kartu kredit atau debit?" Tanya manager itu yang sudah mulai curiga pada Richard tidak bisa membayar.



Richard hanya terdiam membisu, sehingga membuat orang yang duduk disampingnya merasa penasaran dengan apa yang terjadi pada Richard tersebut.



Dia kemudian berusaha melihat kertas nota yang ada di tangan Richard. Saat matanya tertuju ke total harga, betapa terkejutnya dia melihat total harganya mencapai 350 juta.