MIRACLE: SUPER RICH!!!

MIRACLE: SUPER RICH!!!
Bertemu Dengan Teman SMA



Tan berjalan menuju ke tempat mobilnya parkir di plaza Indonesia itu. Dia telah kehilangan moodnya untuk berjalan-jalan di mall tersebut.


Awalnya dia akan berjalan-jalan beberapa jam sambil melihat-lihat fashion yang ada di mall tersebut. Membeli beberapa pakaian untuk dirinya, Sonya, Pa'lik dan bu'lek nya.


Namun karena perempuan yang tiba-tiba mencegatnya dan mencoba untuk sok dekat dengannya telah membuat dirinya ingin meninggalkan mall tersebut.


Sesampai di mobil Olandersnya, Sonya langsung menaruh tas belanja dan tas laptop di kursi penumpang bagian belakang dan kemudian menuju ke kursi penumpang depan.


"Hahahaha, tadi benar-benar menyenangkan, melihat pelacur itu menjadi malu karena bang Tan menolaknya." Ujar Sonya dengan tertawa karena mengingat wajah perempuan cantik seksi yang kesal dan malu.


"Jaga ucapan kamu Soya! Bila kamu menghinanya dengan memanggil dia seperti itu akan membuat kamu lebih rendah dari orang yang kamu hina itu, kamu dapat dosa dan orang yang kamu hina itu mendapatkan pahalanya." Jelas Tan yang mengingatkan Sonya akan kesalahannya.


Adik sepupunya itu terdiam dan merasa bersalah. "Maaf bang Tan, Soya kelepasan tadi."


"Tidak ada gunanya kamu meminta maaf sama aku, yang kamu hina bukan aku tapi perempuan itu, tapi bila kamu tidak mengulanginya lagi, itu sudah bagus." Ujar Tan.


Sonya menganggukkan kepalanya dan Tan langsung menjalankan mobilnya itu menuju ke pintu keluar parkiran plaza Indonesia.


"Ini hampir masuk jam makan siang, mau kembali ke hotel atau kita makan diluar?" Tanya Tan.


"Makan di luar saja, Soya tahu tempat makan yang enak."


"Kalau begitu, beritahu bu'lek dan Pakde, kalau kita akan makan diluar, tanya juga apa mereka juga ingin ikut." Ujar Tan yang berhenti di antrian pintu keluar parkiran mobil mall itu.


Sonya langsung menghubungi ibunya dengan ponsel lamanya karena ponsel barunya masih dalam kotak, meskipun segelnya sudah dibuka saat pengecekan di gerai untuk melihat apakah semuanya berfungsi atau tidak dan semua alat pendukung seperti baterai, kabel penghubung, dan lainnya tersedia atau tidak.


"Halo, assalamualaikum nyak ... bang Tan dan Sonya ingin makan siang di luar, nyak dan babe mau ikut?" Tanya Sonya.


Tan tidak terlalu mendengar suara percakapan bu'lek Asmuni dan beberapa menit kemudian Sonya menatap ke dirinya.


"Nyak dan babe katanya gak ikut, mau makan di warteg dekat rumah saja." Ujar Sonya.


"Kalau begitu, bilang sama Bu'de, makan siang di restoran aja, daripada harus berjalan jauh, ntar biayanya, bilang aja masukkan ke tagihan kamar 401 atas nama Tanaka Saputra saat bayar." Pinta Tan yang mulai menjalankan mobilnya dan berhenti di loket pembayaran parkiran.


Sonya langsung memberitahukan apa yang dikatakan oleh kakak sepupunya itu pada ibunya dan setelah itu pembicaraan berakhir.


"Kata nyak, lebih baik makan di warteg dekat rumah sekalian ambil pakaian seragam dan tas sekolah Sonya untuk dibawa ke hotel agar besok Sonya berangkat langsung ke sekolah dari hotel." Jelas Sonya.


Tan hanya menganggukkan kepalanya dan dia langsung mengendarai mobil itu keluar dari parkiran mall.


Sesampai di jalan besar yang lumayan macet, Sonya langsung memberikan arahan jalan yang menuju ke tempat makan siang mereka berdua.


Selama hampir dua jam, Tan mengendarai mobil Olandersnya menuju ke salah satu daerah Jakarta Selatan yang terkenal kawasan bisnis, yakni Kemang.


Perjalanan menuju ke Kemang tidak memakan waktu yang cukup lama karena jalanan tidak macet parah seperti hari biasa di jam pergi atau jam pulang.


"Jadi dimana tempatnya?" Tanya Tan yang sudah muak dengan jalan yang macet.


Meskipun Sonya memberitahu kalau jalanan yang mereka lalui bukalah macet karena kecepatan mobil masih bisa di angka 20-30 km/jam.


Jalanan bisa dikatakan macet oleh warga Jakarta bila mobil sudah tidak mampu untuk berjalan lagi atau kecepatan hanya mencapai 10 km/jam.


"Sebentar lagi sampai ... Nah itu dia, di sebelah kiri itu bang Tan yang ada gambar ayam memberikan jempol." Ujar Sonya sambil menunjuk ke tanda ayam jempol tersebut.


Tan langsung merasa lega karena tidak akan berlama-lama di dalam mobil lagi. Dia segera memberikan tanda lampu kiri saat jarak dengan tempat makan itu tinggal 50 meter lagi.


Memasuki area tempat makan ayam jempol itu yang tempat parkir mobilnya hanya tersisa satu. Dia langsung mengambil tempat tersebut dengan cepat sebelum ada mobil lainnya yang mengambil tempat tersebut.


"Tas belanjanya dan tas laptopnya taruh di bawah jok, aku dengar di Jakarta malingnya pada berani semua, mereka beraksi di siang hari dan memecahkan kaca mobil untuk mengambil barang berharga yang mereka lihat di dalam mobil." Ujar Tan.


Sonya yang mendengar itu hanya terkekeh. "Itu kalau parkir di pinggir jalan atau sembarangan, kalau di area parkir gini tidak akan ada yang berani melakukannya." Jelas Sonya.


"Ya, untuk antisipasi aja, daripada nanti benar-benar terjadi kan bisa rugi." Ujar Tan.


Sonya menghela nafas sejenak dan kemudian melakukan apa yang diminta oleh kakak sepupunya itu. Dia segera keluar, berjalan ke pintu belakang dan memindahkan barang belanjaannya ke bawah jok sehingga tidak akan kelihatan dari luar bila mengintip melalui jendela mobil.


Selagi Sonya melakukan itu, Tan melihat kalau tempat makan yang dipilih oleh Sonya memiliki dua lantai dan lantai dia merupakan area terbuka karena tidak ada dinding atau jendela yang menutupi ruangan di lantai dua tersebut.


Selain itu, tempat makan itu juga sangat ramai dengan orang-orang berbagai usia yang kebanyakan adalah anak muda.


"Ayo masuk bang Tan." Ajak Sonya yang sudah meletakkan barang belanjaan di bawah jok kursi belakang.


Tan langsung menekan tombol kunci mobil secara otomatis sekaligus mengaktifkan alarm mobil.


Mereka berdua langsung masuk dan disambut oleh pegawai restoran tersebut.


"Selamat datang di restoran ayam jempol cabang Kemang, apa hanya dua orang?" Tanya pegawai yang menyambut Tan dan Sonya.


"Iya, apa ruang no smoking ada yang kosong?" Tanya Sonya yang mengambil alih pembicaraan dan Tan hanya diam saja.


"Mohon maaf, untuk ruang no smoking saat ini penuh, tinggal di ruang smoking di lantai dua, masih ada yang kosong." Jawab pegawai itu.


Tan melihat area no smoking yang berada di lantai satu kebanyakan dipakai oleh pengunjung yang sudah berkeluarga, datang makan siang dengan anak-anak mereka.


"Tidak apa, kami bisa berada di ruang smoking." Ujar Sonya.


Pegawai itu kemudian menuntun mereka berdua menuju ke lantai dua yang kebanyakan adalah para remaja SMA dan anak muda yang berumur 20an keatas.


Tentu saja beberapa anak muda itu ada yang merokok sambil mengobrol atau bermain game dengan ponsel mereka masing-masing.


"Silahkan menunya." Ujar pegawai itu yang memberikan buku menu pada Tan dan Sonya.


Pria introvert itu melihat-lihat sejenak menu utama restoran tersebut yang kebanyakan adalah ayam dengan berbagai jenis olahan. Dalam menu restoran itu juga terdapat menu dessert dan snack yang biasa ditemukan di cafe-cafe.


"Soya, kamu sering kesini, jadi tolong pilih menu yang enak di restoran ini." Ujar Tan yang langsung menuju ke menu Snack, dessert dan minuman.


"Kalau gitu, bang Tan mau yang bakar atau krispi? Tanya Sonya.


"Apa saja tidak masalah, pilih yang menurut kamu paling enak di restoran ini, jangan khawatirkan harganya." Jawab Tan dengan santai.


"Kak, pesan nasi untuk empat porsi, satu paha krispi pedas manis, satu sayap krispi original, kulit krispi pedas satu dan satu strawberry milkshake, bang Tan minumnya apa?" Tanya Sonya yang menatap Tan.


"Orange squash, yang paha tadi jadikan dua," kata Tan.


Pegawai itu mencatat semua pesanan tersebut dan kembali mengulang pesanan agar tidak terjadi miskomunikasi sehingga tidak adanya kesalahan pesanan.


Setelah memastikan semuanya benar, pegawai itu pergi meninggalkan mereka berdua dengan membawa buku menunya lagi.


Tan melihat-lihat sekelilingnya yang penuh dengan keramaian. Meskipun dia tidak menyukai keramaian seperti yang ada di restoran tersebut, namun dia bisa menahan rasa tidak nyamannya itu.


"Ini restoran ayam jempol yang cukup terkenal di Jakarta, tempatnya tidak pernah sepi, menu utamanya ayam semua, Soya sering kesini dengan nyak dan babe saat ada waktu, atau juga sama teman-teman Soya saat libur sekolah ... " Ujar Sonya yang menjelaskan restoran favoritnya tersebut.


Melihat keramaian yang ada di restoran, Tan berpikir kalau restoran ayam jempol memang sangat terkenal dan makanannya juga pasti enak.


Kalau tidak, gak mungkin restoran ini akan penuh dengan pengunjung.


Setelah melihat-lihat, Tan dan Sonya mengobrol tentang berbagai hal sampai seseorang datang dan memanggil namanya.


"Bukankah kamu, Tanaka Saputra dari kelas 12-1 IPS SMA Nusantara 1?" Tanya seorang pria dengan wajah biasa namun berpenampilan memukau dengan pakaian serba brand luar negeri dari kaki sampai kepala.


Dia tidak sendirian, tapi bersama dengan seorang perempuan yang terlihat cantik dengan make up nya dan pakaian berserta aksesoris brand luar negeri juga.


Tan hanya melihat dua orang itu dan tidak mengenali dua orang itu. Akan tetapi si pria menyebutkan kelas dan SMA-nya yang berarti pria itu juga bersekolah di sana.


"Sepertinya kamu melupakan aku, ya itu wajar karena saat SMA kamu orangnya pendiam dan jarang berinteraksi dengan teman sekelas kamu." Jelas pria itu yang sangat mengenali karakter Tan.


Pria introvert itu selama di SMA juga jarang berinteraksi dengan teman-teman SMA yang sekelasnya dengannya. Meskipun begitu, bukan berarti dia tidak memiliki teman.


Ada satu teman yang sangat dekat dengannya dan itu adalah teman satu meja dengan dirinya saat kelas 11-2 IPS dan kembali satu kelas saat kelas 12-1 IPS sehingga dia kembali menjadi teman satu meja dengannya lagi.


"Aku Richard Marx, ketua kelas 12-1 dan juga ketua OSIS, apa kamu sudah mengingatnya?" Tanya Richard dengan senyuman.


Tan mencoba untuk kembali mengingat-ingat nama teman-teman sekelasnya saat kelas 12-1 IPS. Dia memiliki ingatan yang cukup kuat. Karena itu, dia tidak pernah mendapatkan ranking dibawah 3 besar.


Selain itu, hal inilah yang menjadikan alasan Tan memilih jurusan hukum untuk pendidikan lanjutannya yang berakhir penyesalan baginya karena sudah mengambil jurusan yang tidak cocok dengan karakter psikologinya.


"Ya, aku ingat, kamu adalah salah satu most wanted SMA Nusantara yang dijuluki sebagai F1 dan pria paling populer di kalangan para siswi SMA Nusantara 1." Ujar Tan yang sudah mengingat indentitas Richard.


"Hahaha, kamu tidak perlu mengatakan hal seperti itu, aku merasa hanya sebagai siswa biasa saja, tidak seperti yang kamu ucapkan Tanaka, tapi bagaimanapun itu adalah masa laluku yang tidak bisa aku ubah, hahaha." Ujar Richard yang merendahkan diri tapi tetap merasa tinggi hati secara halus.


"Apa kamu pindah ke Jakarta sekarang? Ah ya, tiga hari lagi aku mengadakan reuni untuk teman-teman kita yang berada di Jakarta, kebetulan kamu berada di Jakarta, kamu harus hadir, banyak teman kita yang berada di Jakarta akan hadir, kita bisa bernostalgia tentang masa-masa SMA dulu." Jelas Richard.


Mendengar adanya acara reuni tersebut membuat dia mengernyitkan dahinya. Dia ingin sekali tidak hadir dalam acara itu karena dia tidak terlalu dekat dengan teman-teman SMA nya, kecuali satu orang yakni teman satu meja dengannya, yakni Martin Hartadi.


Seperti tidak melihat sikap penolakan dari Tan, Richard meminta nomor kontak pria introvert itu yang kemudian dimasukkan ke dalam grup WhatsApp kelas 12-1 IPS SMA Nusantara.


Selain itu dia juga mengambil foto selfie dengan Tan yang langsung dikirim ke grup WhatsApp tersebut dengan caption, "Teman-teman, coba tebak aku dengan siapa sekarang?"


Setelah memberikan kabar ke grup WhatsApp, Richard melihat ke arah Sonya sejenak dan kemudian menatap Tan lagi dengan pandangan yang penuh arti.


"Ini adik sepupu aku, namanya Sonya." Kata Tan yang memperkenalkan Sonya pada Richard dan menjelaskan hubungannya agar teman sekelasnya itu tidak berpikiran aneh tentang dirinya saat melihat Sonya yang masih remaja.


"Hahaha, kamu adik sepupunya, aku Richard Marx, teman satu sekolah dan sekelas dengan Tanaka." Ujar Richard sambil meletakkan tangan kanannya ke bahu kanan Tan.


Sonya hanya menganggukkan kepalanya sebagai responnya.


"Kelihatannya, kalian baru datang, baiklah, aku undur diri dulu, karena ada urusan, Tanaka, ingat kamu harus hadir di acara reuni kelas kita, alamat tempatnya ada di grup WhatsApp, kamu bisa lihat sendiri, sampai ketemu lagi di sana." Ujar Richard yang kemudian pergi meninggalkan Tan dan Sonya bersama dengan perempuan yang sangat dekat dengannya.


"Haaa~ ini akan sangat merepotkan, padahal aku hanya ingin bersantai-santai di Jakarta, kenapa harus bertemu dengannya." Ujar Tan yang menghela nafas.


"Kalau tidak ingin datang bilang aja bang Tan." Sahut Sonya yang tahu kalau Tan tidak ingin hadir pada acara reuni itu.


"Inginnya seperti itu, tapi mereka akan menganggap aku sombong karena gak mau datang, meskipun aku tidak dekat dengan mereka, tapi tetap saja aku tidak mau dicap atau dikatakan pria sombong, haaa~." Kata Tan yang menghela nafas lagi.


"Kalau gitu datang aja." Kata Sonya dengan santai.


Tan menatap adik sepupunya itu dengan pandangan kesal. "Kamu benar-benar gak memberikan solusi yang bagus." Kata Tan.


"Hahaha, bukankah bang Tan sendiri yang bilang gak mau dikatakan sombong oleh teman SMA bang Tan itu, jadi solusinya ya datang aja, ini juga hanya beberapa jam saja dan bang Tan tidak bertemu dengan mereka setiap hari juga kan?" Jelas Sonya.


Tan menganggukkan kepalanya dan dia langsung mengalihkan pembicaraan ke hal lainnya sampai mereka berhenti sesaat karena pesanan mereka telah tiba.


Tanpa pikir panjang, mereka berdua langsung menyantap semua makanan yang ada di atas meja, makanan yang mereka pesan dengan begitu lahapnya.


Sonya tidak seperti Tan yang memiliki lambung yang besar dan tidak cukup hanya satu porsi makanan.


Remaja perempuan itu berhenti makan hanya dengan satu porsi nasi, dua paha ayam dan satu sayap, lalu kulit ayam krispi sebagai cemilannya menunggu Tan selesai dengan makanan yang tersisa.