
Seperti yang telah direncanakan sebelumnya, Tanaka dan keluarga pa'lik Karto pergi ke kantor kedutaan besar Korea Selatan untuk mengurus visa.
Mereka mengikuti semua rangkaian persyaratan untuk bisa mendapatkan visa termasuk wawancara singkat dengan pihak kedutaan besar negara tersebut.
Namun karena mereka semua belum pernah pergi keluar negeri sehingga mereka tidak tahu kalau mengurus visa tersebut akan membutuhkan beberapa hari untuk mendapatkan visa tersebut.
Hal ini tentu membuat mereka harus mengubah jadwal penerbangan dengan membayar pinalti sebesar 20% dari harga tiket pesawat.
Meskipun begitu Tanaka tidak mempersoalkan hal tersebut dia tetap membayar uang pinalti tersebut dengan santainya karena uang yang ada dalam rekening banknya lebih dari kata cukup untuk membayar pinalti tersebut.
Mereka selesai mengurus visa tersebut tepat jam setengah 12 siang dan itu sudah memasuki jam makan siang sehingga Tanaka mengajak keluarga dari adik ibunya itu untuk makan di restoran.
"Soya, apa ada restoran yang bisa kamu rekomendasikan?" Tanya Tanaka.
"Hmmm, yang bisa aku rekomendasikan banyak tapi itu tempat nongkrong, semacam kafe gitu bukan restoran." Jawab Sonya. "Aku cari dulu ... "
Sonya langsung mengeluarkan Ayphone nya dan mencari restoran restoran yang bagus di aplikasi pencarian.
"Ada beberapa tempat yang sepertinya bagus dan salah satunya searah dengan jalan pulang." Ujar Sonya.
"Kalau begitu kita pulang saja." Sahut bu'lek Asmuni. "Kita makan di rumah saja."
Pa'lik Karto juga setuju dengan saran dari istrinya itu. Dia lebih senang makan di rumah daripada di luar.
"Ya~ kenapa gitu? Sesekali kita makan diluar lah, nyak." Tolak Sonya. "Lagipula kalau pulang, kita bisa telat untuk makan siangnya, mumpung ada bang Tan yang saat ini menjadi sultan yang bayarin, hehehe."
Sonya langsung mendapatkan ceramah dari ibunya itu karena ucapannya itu.
"Apa yang dikatakan Soya benar bu'lek." Ujar Tanaka.
"Yang mana? Yang bang Tan jadi sultan?" Tanya Sonya tertawa cengengesan.
"Bukan itu, tapi telat makan siang kalau pulang." Jawab Tanaka yang kemudian menghela nafas.
"Lebih baik, makan siangnya di luar saja, Soya berikan lokasi terdekat." Ujar Tanaka yang meminta Sonya untuk memberikan lokasi agar bu'lek Asmuni dan pa'lik Karto tidak sempat untuk berubah pikiran lagi.
Sonya yang seperti tahu apa maksud Tanaka segera mencari lokasi restoran terdekat dan dia menemukan sebuah restoran dengan menu makanan dari negara yang akan mereka datangi.
"Ada, tapi ini restoran makanan Korea Selatan, mumpung kita akan pergi ke negara itu, lebih baik cicipi aja lebih dulu makanannya." Jelas Sonya.
Tanaka menganggukkan kepalanya, tapi bu'lek Asmuni dan pa'lik Karto ingin menolak karena mereka tidak terbiasa dengan makanan luar negeri. Namun, saat melihat anak perempuan mereka itu yang sangat menginginkannya, mereka berdua hanya menganggukkan kepalanya.
Sonya langsung memesan taksi online melalui ponsel pintarnya itu untuk menuju ke restoran tersebut.
Perjalanan menuju ke restoran tersebut membutuhkan waktu sekitar 30 menit. Saat tiba dan memasuki restoran tersebut, mereka langsung dihadapkan dengan interior sebuah restoran yang mirip seperti restoran yang ada di dalam drama atau film Korea Selatan.
"Selamat datang di restoran Baekbanpaik, untuk berapa orang?" Tanya seorang pegawai restoran tersebut.
"Empat orang." Jawab Sonya.
"Apa ada ruang privat?" Tanya Tanaka.
Pegawai itu menganggukkan kepalanya dan kemudian memandu mereka menuju ke sebuah ruangan privat.
Sesampainya di ruangan tersebut, pegawai itu memberikan buku menu pada setiap orang. Tanaka melihat dalam menu tersebut ada kata pork yang berarti daging babi.
"Kami muslim, apa ada menu yang tidak berbahan yang berhubungan dengan babi?" Tanya Tanaka pada pegawai tersebut.
Mendengar ucapan Tanaka membuat Sonya, pa'lik Karto dan bu'lek Asmuni langsung berhenti melihat buku menu, menatap Tanaka dan pegawai restoran itu.
"Tentu saja ada, kami menyediakan menu halal, semua yang tidak ada tulisan pork, itu semuanya makanan halal." Jelas pegawai tersebut.
Tanaka menganggukkan kepalanya dan kembali melihat buku menu tersebut.
"Nak Tan, apa makanan disini halal semua?" Tanya bu'lek Asmuni yang khawatir.
"Nyonya, tidak perlu khawatir, restoran Baekbanpaik juga menyediakan menu halal untuk pelanggan muslim, semua bahan yang dipakai tidak mengandung bahan-bahan yang diharamkan." Jelas pegawai itu. "Kami sudah memberikan keterangan dalam buku menu, mana saja makanan yang non halal."
Bu'lek Asmuni hanya menganggukkan kepalanya dan kembali melihat buku menu tersebut dan kali ini dia merasa terkejut dengan harga yang tertera dalam buku menu tersebut karena tidak ada harga dibawah 50 ribu, semuanya berada di atas angka tersebut.
Hanya pada bagian minuman yang harganya dibawah 50 ribu.
"Bu'lek, pa'lik, sudah tentukan mau makan apa?" Tanya Tanaka.
Meskipun dia bertanya seperti itu pada kedua orang dewasa itu, dia sendiri sebenarnya juga merasa bingung mau pesan apa karena Tanaka benar-benar sangat asing dengan makanan Korea Selatan.
"Bu'lek dan pa'lik tidak tahu mau pesan apa karena ini pertama kalinya kami makan makanan dari negara ini." Jawab pa'lik Karto.
Tanaka hanya menganggukkan kepalanya, dia melihat ke Sonya dan sepertinya dia masih melihat-lihat tanpa ada kebingungan dengan makanannya tapi bingung mau makan yang mana dari menu yang ada buku tersebut.
"Bisa rekomendasikan makanan yang bisa dinikmati bersama-sama?" Tanya Tanaka.
Pegawai itu langsung memberikan beberapa menu yang bisa dinikmati bersama-sama, salah satunya adalah menu BBQ.
Tanaka segera memilih tiga menu yang bisa disantap bersama tersebut, termasuk salah satunya adalah BBQ sapi dalam tiga porsi karena Sonya menyerah untuk memilih makanannya sendiri.
Gadis itu hanya memilih satu menu dan itu bukanlah menu utama, hanya cemilan yakni cemilan khas Korea Selatan, tteok-bokki.
Setelah pegawai tersebut pergi dengan catatan pesanan tersebut, bu'lek Asmuni langsung menyampaikan rasa gundahnya.
"Makanan disini sangat mahal." Ujar bu'lek Asmuni.
Pa'lik Karto menganggukkan kepalanya, "Ini lebih mahal daripada makanan di restoran hotel bintang 4, lebih baik kita cari tempat yang lebih murah seperti warteg atau masakan Padang." Jelas pa'lik Karto.
Sonya yang mendengar keluhan dari kedua orang tuanya langsung menggelengkan kepalanya.
"Kenapa tidak bilang sebelumya, Nyak, Babe, pesanannya sudah dicatat dan akan dibuat." Ujar Sonya.
"Ya itu karena tadi ada pegawainya, Nyak kan malu kalau bilang langsung saat ada dia." Ngeles bu'lek Asmuni. "Lagipula kenapa kamu pilih restoran ini?"
"Lah, mana Soya tahu kalau makanannya mahal begini." Bantah Sonya. "Lagipula bang Tan juga tidak mengeluh tentang harga di restoran ini, jadi Soya pikir tidak masalah."
Mendengar pertengkaran kecil ibu dan anak itu membuat Tanaka tertawa kecil dan dia langsung menengahi pertengkaran tersebut.
"Tidak apa, bu'lek, pa'lik, kita makan saja disini, Tan bisa bayar kok, tenang saja." Ujar Tanaka. "Lagipula kalau kita sudah telanjur datang kesini dan akan memakan waktu lebih lama lagi bila mencari tempat makan lainnya, bisa-bisa jam makan siang sudah selesai."
Pa'lik Karto dan bu'lek Asmuni masih merasa gelisah dengan harga makanan tersebut tapi Tanaka terus menenangkan kedua orang tua tersebut agar tidak perlu mengkhawatirkan tentang mahal atau tidaknya makanan di restoran yang mereka datangi tersebut.
Tanaka yang merasa harus pergi ke toilet untuk menyelesaikan panggilan alamnya segera keluar dari ruangan tersebut.
Setelah selesai dengan panggilan alamnya itu, dia secara tidak sengaja berpapasan dengan seorang perempuan dengan wajah yang familiar saat ingin kembali ke ruangan privat.
Perempuan itu juga melihat Tanaka dan juga merasakan hal yang sama.
"Nona Ayunindya?" Tanya Tanaka.
"Tuan Tanaka?" Ujar Ayunindya yang balik tanya.
"Kita bertemu lagi." Ujar Tanaka sambil menyodorkan tangannya untuk bersalaman.
"Ya, aku tidak menyangka kalau kita akan bertemu disini." Ujar Ayunindya sambil menerima salam tangan tersebut. "Apa tuan Tanaka sedang makan siang di restoran ini?"
Tanaka menganggukkan kepalanya sambil melepaskan salam tangan tersebut.
"Ya, aku sedang makan bersama dengan keluarga bu'lek aku." Jawab Tanaka. "Apa, nona Ayunindya juga sedang makan siang disini?"
"Seharusnya seperti itu, aku sedang ada janji dengan seorang klien dan dia menyukai makanan Korea Selatan jadi aku janji bertemu disini, tapi dia tiba-tiba saja tidak bisa datang." Jelas Ayunindya.
Tanaka menganggukkan kepalanya, "Jadi apa, nona Ayunindya sudah makan siang?" Tanya Tanaka.
"Belum, aku akan langsung kembali ke kantor." Jawab Ayunindya.
"Kalau begitu, maukah nona Ayunindya ikut makan bersama kami?" Tanya Tanaka tanpa ada maksud tersembunyi, hanya menawarkan untuk ikut makan siang bersama.
Ayunindya berpikir sejenak tentang ajakan tersebut. Dia berpikiran kalau Tanaka memiliki maksud lain seperti kebanyakan para pria yang dia kenal.
Tapi setelah dipikir-pikir lagi, Tanaka tidak sama seperti pria yang dia kenal selama ini karena tidak ada rasa tertarik sedikitpun pada pesona dirinya.
"Terima kasih, aku hanya menganggu acara makan siang keluarga tuan Tanaka." Tolak Ayunindya secara halus.
"Tidak, tidak, aku tidak merasa terganggu sama sekali, begitu juga dengan keluarga bu'lek aku." Ungkap Tanaka. "Lagipula ini sudah memasuki jam makan siang, bila Anda kembali ke kantor itu akan sangat telat, apalagi dengan jalan di Jakarta yang selalu macet tanpa mengenal waktu."
Ayunindya berpikir sejenak lagi sambil melihat tatapan mata Tanaka yang benar-benar tulus menawarkan hal tersebut dengan tulus tanpa terlihat ada maksud tersembunyi sama sekali.
Dia sebenarnya sudah sangat lapar dan seperti perkataan Tanaka, jam makan siang memang akan selesai saat dirinya sampai di kantor sehingga dia akan mampir di restoran cepat saji dan makan di mobil.
"Tentu saja tidak merepotkan sama sekali, malahan bu'lek aku akan senang bertambah satu orang lagi untuk makan siang bersama." Jelas Tanaka.
Ayunindya pun menganggukkan kepalanya dan mereka berjalan berdampingan menuju ke ruang privat tersebut.
Saat mereka berdua masuk, dua pegawai restoran yang membawa kereta dorong makanan bertingkat sedang menyajikan makanan yang telah dipesan di atas meja.
Tanaka memandu Ayunindya duduk di samping kirinya, berhadapan dengan bu'lek Asmuni dan pa'lik Karto. Samping kanan Tanaka ada Sonya yang sedang melihat dengan ekspresi wajah heran akan kehadiran Ayunindya.
Tidak hanya gadis itu, bu'lek Asmuni dan pa'lik Karto juga memberikan eskpresi wajah yang sama seperti anak gadisnya itu.
Ayunindya meminta pegawai restoran itu untuk memberikan satu porsi nasi setelah Tanaka mempersilahkan dirinya untuk memesan makanan yang ada dalam buku menu.
Namun karena sudah ada tiga menu makanan yang bisa disantap bersama, perempuan itu hanya memesan satu porsi nasi saja.
"Nak Tan, bisa kamu beritahu pada kami, siapa perempuan yang bersama kamu ini?" Tanya bu'lek Asmuni.
"Kakak! Apa kakak pacarnya bang Tan?" Tanya Sonya yang langsung ceplas-ceplos.
Tanaka hanya menatap tajam pada Sonya agar dia tidak berkata hal yang aneh. Namun orang yang ditatapnya hanya tersenyum cengengesan.
"Apa itu benar, nak Tan?" Tanya bu'lek Asmuni yang merasa senang karena Tanaka memiliki kekasih dan ingin diperkenalkan mereka bertiga.
"Tidak, tidak, ini nona Ayunindya, dia hanya kenalan Tan saja, bu'lek." Jelas Tanaka. "Jangan dengarkan Soya, dia hanya bicara sembarangan saja."
Ayunindya pun memperkenalkan dirinya pada bu'lek Asmuni dan keluarganya itu. Dia juga menjelaskan tentang kenapa dirinya bisa berada bersama mereka.
"Ya, Tan mengajaknya untuk makan siang bersama karena dia tidak jadi bertemu dengan kliennya." Jelas Tanaka. "Daripada kembali ke kantor dan jam makan siang akan berakhir, tidak ada salahnya untuk makan siang bersama kita."
Bu'lek Asmuni dan pa'lik Karto menganggukkan kepalanya karena mereka setuju dengan ucapan Tanaka.
"Jadi kakak ini bukan pacarnya bang Tan?" Tanya Sonya yang kecewa.
"Huss! Diam, makan saja, jangan bicara aneh-aneh lagi." Peringat Tanaka. "Jangan membuat nona Ayunindya menjadi tidak nyaman dengan ucapanmu itu."
Sonya hanya menjulurkan lidahnya, mengejek Tanaka yang juga menjulurkan lidahnya sebagai balasan.
Ayunindya yang melihat tingkah kekanakan pria yang ada disampingnya hanya tertawa kecil.
Beberapa saat kemudian, nasi putih yang dipesannya sudah tiba sehingga mereka langsung menyantap makanan tersebut.
Namun saat ingin membakar daging BBQ, Tanaka dan lainnya tidak tahu caranya karena ini pertama kalinya mereka memakan daging BBQ yang masih mentah.
Ayunindya menawarkan dirinya untuk memasak daging BBQ tersebut, termasuk memotong-motongnya agar lebih mudah untuk dimakan.
Sebenarnya pegawai restoran itu bisa melakukannya sebagai pelayanan ekstra tapi Ayunindya berinisiatif untuk melakukan hal tersebut.
Ini adalah pertama kalinya dia melakukan hal seperti itu karena biasanya dia tidak pernah melakukannya, bahkan saat makan bersama dengan keluarganya sekalipun dia tidak pernah memasak daging BBQ karena akan ada orang lain, entah itu koki atau pegawai yang akan melakukannya.
Dia berinisiatif seperti itu karena merasakan kekeluargaan yang sangat kuat dan nyaman dari Tanaka bersama kerabat pria itu, jadi dia ingin melakukannya sendiri.
Bu'lek Asmuni banyak berbincang-bincang dengan Ayunindya dalam berbagai hal termasuk Sonya yang langsung pindah ke samping Ayunindya karena ingin berbincang-bincang juga.
Sementara itu, Tanaka dan pa'lik Karto hanya makan dengan tenang sampai akhirnya makan siang tersebut sudah selesai.
Tanaka yang menghabiskan semua makanan tersebut dan Ayunindya merasa kaget dengan nafsu makan pria yang ada disampingnya itu.
Sonya memanggil seorang pegawai restoran untuk meminta tagihannya setelah disuruh oleh Tanaka.
Pegawai itu pun langsung datang dengan membawa cover bill yang berisi kertas struk pembayaran.
Tanaka menerima cover bill tersebut dan membukanya dan melihat total harganya hampir mencapai 25 juta, sebuah angka kecil bila dibandingkan dengan angka yang ada dalam rekening banknya.
"Berapa totalnya Tanaka? Apakah sangat besar?" Tanya pa'lik Karto yang cemas.
Begitu juga dengan istrinya yang sangat cemas dengan total makanan yang mereka makan.
"Tidak mahal, pa'lik, bu'lek, tidak usah khawatir, Tan bisa membayarnya." Ujar Tanaka sambil mengeluarkan dompetnya untuk mengambil kartu debitnya yang hanya ada satu saja.
"Biarkan aku yang membayarnya." Pinta Ayunindya saat melihat Tanaka akan menyerahkan kartu debitnya.
"Tidak, tidak, aku yang mengajak nona Ayunindya jadi aku yang akan membayarnya." Tolak Tanaka yang memasukkan kartu debitnya ke dalam cover bill tersebut dan kemudian diserahkan kembali ke pegawai itu agar bisa diproses di kasir.
"Tapi ... " Ujar Ayunindya yang terpotong oleh Sonya.
"Kak Ayunindya tidak perlu khawatir, abang aku ini seorang sultan." Ujar Sonya dengan sedikit sombong akan kekayaan yang dimiliki sepupunya itu.
Ayunindya hanya menganggukkan kepalanya, meskipun dia tidak terlalu menanggapi ucapan Sonya.
Dia sudah banyak mendengar orang-orang selalu melebih-lebihkan harta kekayaannya sehingga dipanggil sebagai sultan tapi sebenarnya harta kekayaannya tidaklah sebesar yang dikatakan oleh orang yang mengaku sebagai sultan.
Setelah makanan yang mereka makan sudah masuk kedalam lambung semuanya, mereka keluar dari tempat itu.
Tanaka menuju ke kasir untuk melakukan proses pembayaran sekaligus mengambil kartu debitnya sedangkan yang lainnya keluar dari restoran itu.
Dengan cepat Tanaka menyelesaikan pembayaran tersebut tanpa ada halangan sama sekali. Dia segera menyusul yang lainnya.
Saat berada di luar, pa'lik Karto merasa penasaran dengan total harga makan siang tersebut sehingga dia meminta struk pembayaran tersebut pada Tanaka.
"22 juta! Bagaimana bisa harganya sebesar ini hanya untuk makan siang?" Tanya pa'lik Karto yang terkejut saat melihat total harga yang ada dalam struk pembayaran.
Bu'lek Asmuni juga terkejut dengan total harga makan siang mereka itu karena baru kali ini dirinya makan siang diluar dengan harga yang cukup fantastis itu.
"Nak Tan, bukankah ini terlalu besar? Apa ada kesalahan dalam perhitungannya? Coba kamu balik lagi dan minta untuk diperiksa lagi mungkin saja ada kesalahan." Pinta bu'lek Asmuni.
"Tidak ada kesalahan, itu sudah benar semua, tadi kita pesan banyak sehingga wajar kalau harganya segitu." Ujar Tanaka.
"Tapi ... " Ujar bu'lek Asmuni yang langsung dipotong oleh Tanaka.
"Sudah, jangan dibahas lagi, lebih baik kita pulang saja." Ujar Tanaka.
Dia kemudian melihat ke arah Ayunindya yang sedang berbicara dengan Sonya.
"Lihat, kak Ayunindya, abang aku ini mengeluarkan uang sebanyak itu dengan sangat santai hanya untuk makan siang, bukankah dia benar-benar sultan?" Ujar Sonya.
Ayunindya hanya diam saja sambil melihat Tanaka karena memang apa yang dilakukan oleh Tanaka terlalu berlebihan untuk hanya sekadar makan siang.
Dia merasa penasaran berapa besar harta kekayaan yang dimiliki Tanaka, selain itu juga dia berpikir apakah tindakannya itu hanya untuk memamerkan harta kekayaannya pada dirinya atau bukan?
"Sepertinya kita akan berpisah disini." Ujar Tanaka yang membuat Ayunindya tersadar dari lamunannya. "Kamu akan pulang, Anda akan kembali ke kantor Anda kan?"
Ayunindya menganggukkan kepalanya dengan singkat sebagai respon terhadap pertanyaan itu.
Tanaka langsung meminta Sonya untuk memesan taksi online untuk membawa mereka pulang sementara itu Ayunindya masih berdiri bersama mereka.
Hal itu tentu saja membuat Tanaka merasa bingung dan seperti tahu kebingungan pria itu, Ayunindya berbicara.
"Apa tuan Tanaka besok malam memiliki agenda?" Tanya Ayunindya.
Tanaka menggelengkan kepalanya, "Tidak, kenapa?" Tanya Tanaka.
"Apa kak Ayunindya ingin mengajak bang Tan untuk kencan?" Tanya Sonya secara tiba-tiba.
Tanaka langsung menatap adik sepupunya itu agar dia diam saja. Tapi Sonya hanya tersenyum cengengesan.
"Bisa dikatakan seperti itu." Ujar Ayunindya yang membuat Tanaka terkejut begitu juga dengan Sonya, bu'lek dan pa'lik.
"Besok adalah hari berdirinya perusahaan Jaya group, jadi akan ada perayaan, jadi aku ingin mengundang tuan Tanaka untuk bisa hadir bila tidak ada agenda apapun." Jelas Ayunindya yang membuat Tanaka dan tiga kerabatnya itu telah salah sangka.
"Apa aku bisa hadir? Aku tidak memiliki undangannya sama sekali?" Tanya Tanaka.
"Tentu saja bisa, aku akan memasukkan nama Anda dalam daftar tamu undangan meskipun tuan Tanaka tidak memiliki kartu undangannya sama." Jelas Ayunindya.
Tanaka menganggukkan kepalanya dan dia juga menanyakan apa dirinya bisa membawa satu orang untuk hadir di acara tersebut.
"Tentu saja bisa, bahkan pak Karto, Bu Asmuni dan Sonya bisa hadir kalau mau." Ujar Ayunindya.
Akan tetapi ketiga kerabat Tanaka tersebut menolaknya dengan halus karena mereka tidak ada kepentingan untuk hadir dalam acara tersebut.
Setelah menyampaikan hal tersebut Ayunindya pamit untuk segera kembali ke kantor dan pada saat itu juga, taksi online yang menerima orderan Sonya telah tiba di depan restoran sehingga mereka benar-benar berpisah ke tujuannya masing-masing.