
Martin tidak berlama-lama di kota Yogyakarta karena dua hari kemudian, dia telah kembali ke Jakarta untuk mengurus semua administrasi dan hal-hal lainnya yang harus dia lakukan untuk membuat perusahaan fantastis Investment bisa berdiri secara legal dan menjalankan aktivitasnya sebagai perusahaan investasi.
Tanaka menyerahkan semua hal yang diperlukan untuk pembuatan perusahaan tersebut pada Martin dan dirinya hanya mengirimkan dana 1,5 miliar rupiah sebagai modal awal untuk pendirian ke rekening perusahaan yang akan dibuat oleh Martin.
Sebenarnya Tanaka ingin menjadikan modal awal perusahaan sebesar 500 miliar, tapi Martin menolaknya karena itu terlalu banyak untuk dijadikan sebagai modal awal perusahaan.
Selain itu juga, Tanaka akan dijadikan sebagai direktur utama, tapi Tanaka menolaknya karena dia tidak ingin terlibat dalam aktivitas perusahaan tersebut.
Sejak awal dia mengajukan saran pada Martin untuk membuat perusahaan adalah untuk membantu dirinya jadi Martin lah yang pantas untuk memimpin perusahaan tersebut sedangkan dirinya hanya sebagai investor saja.
Namun Martin tetap bersikukuh agar Tanaka tetap terlibat dalam aktivitas perusahaan yang akan mereka dirikan sehingga Martin meletakkan posisi Tanaka sebagai komisaris utama yang mana Tanaka tidak akan terlibat langsung dalam aktivitas perusahaan tapi hanya akan menjadi pengawas perusahaan.
Meskipun Tanaka menolaknya dengan alasannya itu, Martin tidak mendengarkan dan mengancam kalau perusahaan tersebut tidak akan jadi didirikan kecuali jabatan tersebut diterima oleh Tanaka.
Selain masalah jabatan, masalah kepemilikan perusahaan dalam bentuk saham juga menjadi perdebatan, Tanaka hanya ingin 10% dan sisanya dimiliki oleh Martin.
Namun sahabatnya itu meminta Tanaka untuk mengambil seluruh perusahaan tersebut sedangkan dirinya akan menerima gaji saja. Martin berpikiran seperti itu karena semua modal awal perusahaan dikeluarkan oleh Tanaka sedangkan dirinya tidak ada sama sekali keluar uang.
"Tujuan aku membuat perusahaan ini bukan karena ingin memiliki perusahaan, tapi itu semua karena ingin membantu kamu." Jelas Tanaka. "Lagipula kamu adalah pemimpin perusahaan, akan menjadi masalah nantinya dalam hal menetapkan keputusan bila kamu tidak memiliki hak suara sama sekali dalam perusahaan kita ini."
"Tapi tidak 10% juga, ini uang kamu dan aku sama sekali tidak mengeluarkan satu rupiah pun untuk perusahaan kita ini, jadi setidaknya ambil 99% dan 1%, aku tidak masalah." Ujar Martin.
"Itu tetap jadi masalah, aku sudah bilang kamu ini pemimpin perusahaannya, jadi sudah sewajarnya pemimpin perusahaan itu memiliki saham perusahaan lebih besar daripada yang lainnya." Ungkap Tanaka.
"Tapi ... "
"Haaa~ gini aja, aku akan ambil 45% dan kamu sisanya, titik! Tidak ada debat lagi masalah ini!" Tegas Tanaka.
Martin pun hanya menganggukkan kepalanya dan akhirnya mereka berdua menyelesaikan masalah awal tersebut dengan cepat.
Setelah kembalinya Martin ke Jakarta untuk mengurus segala hal yang berkaitan dengan pendirian perusahaan Fantastis Investment tersebut yang lokasi perusahaannya juga di kota Jakarta, Tanaka menjalankan aktivitasnya hariannya sebagai ojol dan kadang kala pergi bersama dengan Azrina ke berbagai tempat.
Aktivitas trading forex dan sahamnya juga masih terus dia lakukan di sela-sela waktu ojolnya sehingga pemasukannya terus bertambah tidak pernah berkurang sama sekali.
Hari ulang tahun neneknya semakin dekat sehingga Tanaka memutuskan untuk menyiapkan diri untuk berangkat ke luar negeri.
"Baiklah, mungkin hanya segini saja." Gumam Tanaka sambil melihat tumpukan pakaian yang aka dia masukan ke dalam koper ukuran medium, koper yang pernah dia gunakan untuk membawa oleh-oleh untuk keluarga pa'lik Karto saat pergi ke Jakarta.
Tanaka hanya membawa satu set pakaian formal dia gunakan saat menghadiri pernikahan mantannya, empat kaos, tiga jaket hoodie, dua celana panjang dan tiga celana pendek, dan 10 ****** *****.
Dia tidak membutuhkan banyak pakaian yang harus dia pakai selama di ibukota Korea Selatan itu karena dirinya tidak akan tinggal lebih dari satu Minggu. Setelah acara ulang tahun neneknya selesai dia akan langsung kembali ke Indonesia.
Meskipun dia ingin lebih lama menghabiskan waktu dengan neneknya itu, tapi dia tidak terlalu dekat dengan anggota keluarga yang lainnya selain keluarga pa'lik Karto.
Tanaka melihat jam yang melingkar di pergelangan tangan kanannya hampir menunjukkan pukul 11 pagi.
Dia segera mempercepat packing pakaiannya dan segera menuju ke stasiun Yogyakarta agar bisa menaiki kereta bandara yang akan membawanya ke bandara internasional Yogyakarta yang ada di kabupaten Kulon Progo.
Tanaka akan pergi ke Jakarta dan menginap selama tiga hari di tempat pa'lik nya itu untuk mengurus visa perjalanan di kedutaan besar Korea Selatan dan kemudian pergi bersama menuju ke Seoul untuk menghadiri acara ulang tahun neneknya itu.
Meskipun sebenarnya ada acara lainnya, yakni pernikahan sepupunya, tapi Tanaka tidak kepikiran untuk menghadirinya. Bila saja neneknya tidak berulang tahun, maka Tanaka tidak akan datang ke kota Seoul tersebut.
"Hu, apa ada yang ngetem di sekitar xt square?" Tanya Tanaka yang mengirim pesan grup WhatsApp ojolnya. "Kalau ada, bisa offline, aku mau ke stasiun tugu sekarang juga."
Hanya dalam beberapa menit balasan langsung bermunculan dan kebanyakan dari teman-teman ojolnya yang tergabung dalam grup WhatsApp itu berada cukup jauh sehingga dia tidak ada yang bisa mengantar dirinya secara offline.
Tanaka tidak mempersoalkan itu, dia segera memesan ojol dari aplikator yang sama dengan dirinya sebagai driver ojol.
Dalam waktu cepat, dia sudah mendapatkan driver ojol tersebut dan lokasinya tidak terlalu jauh, berdasarkan waktu yang tertera di aplikasi, hanya 2 menit saja untuk tiba di alamatnya.
Tanaka segera bersiap-siap untuk meninggalkan rumah tersebut dengan memastikan semua hal-hal berbahaya sudah teratasi dengan baik seperti gas dan listrik.
*Ting! Ting!
Suara aplikasi ojolnya berbunyi yang menandakan drivernya sudah tiba sehingga Tanaka segera pergi keluar rumah dengan memastikan semua pintu dan jendela sudah benar-benar terkunci rapat.
"Selamat pagi pak, atas nama Tanaka?" Tanya driver ojol yang menerima orderan Tanaka.
"Ya, tujuan ke stasiun Yogyakarta, ya pak." Jawab Tanaka.
"Ya, kopernya bisa ditaruh di depan, pak?" Tanya driver ojol itu.
"Apa bisa? Tidak keganggu?" Tanya Tanaka.
"Tidak, pak, tenang saja." Jawab driver ojol itu.
Tanaka menganggukkan kepalanya dan kemudian menyerahkan koper tersebut pada driver ojol untuk diletakkan di sela antara jok motor dengan kemudi motor.
Tanaka menerima helm ojol dan naik ke motor untuk duduk di belakang driver ojol itu.
"Sudah siap, pak? Apa tidak ada lagi yang ketinggalan?" Tanya driver ojol itu.
"Tidak ada pak, bisa berangkat sekarang." Jawab Tanaka.
Driver ojol itu menganggukkan kepalanya dan kemudian memutar pedal gas sehingga motor matic tersebut bisa berjalan secara perlahan-lahan.
Jarak antara stasiun dengan rumah Tanaka tidak terlalu jauh, bila menggunakan jalur biasa akan membutuhkan waktu sekitar 20 menit tapi bila memakai jalur tikus bisa sekitar 15 menit.
Waktu berjalan dengan cepat, sebelum jam 3 sore, Tanaka sudah sampai di bandara Soekarno-Hatta. Dia segera pergi ke lobby bandara tersebut untuk memesan taksi konvensional agar lebih cepat daripada harus memesan taksi online yang membuatnya harus menunggu.
Tidak begitu banyak taksi yang ngetem di depan lobby bandara dan Tanaka mendatangi salah satu taksi yang sedang ngetem paling dekat dengannya.
Dia membuka pintu taksi tersebut dan saat akan masuk, seseorang sudah lebih dulu masuk ke taksi itu.
"Terima kasih." Ujar orang tersebut dengan santainya. "Pak, ke apartemen Thamrin."
Tanaka hanya melihat dengan diam dan saat pintu taksi itu ditutup oleh orang itu saja dia masih diam karena otaknya masih mencerna akan apa yang terjadi tersebut.
Pria itu baru sadar saat taksi yang seharusnya akan dia masuki telah pergi meninggalkan dirinya dengan orang yang main nyosor tersebut.
"Apa-apaan tadi itu?" Tanya Tanaka dalam pikirannya dan kemudian menghela nafas panjang.
Dia pun beranjak ke taksi lainnya yang dekat dan kali ini tidak ada yang main nyosor seperti sebelumnya karena dia berhasil masuk dengan kopernya berada di sampingnya daripada meletakkan di bagasi taksi.
"Tolong antar ke hotel Milenial Sirih." Pinta Tanaka pada pengemudi taksi tersebut.
Driver taksi itu hanya menganggukkan kepalanya dan kemudian menjalankan mobil taksi tersebut ke tempat yang disebutkan oleh Tanaka.
Seperti saat dia pergi ke stasiun Yogyakarta dengan ojol, driver taksi konvensional itu melakukan obrolan basa basi dengan Tanaka dan pria itu meladeninya sampai mereka sampai di lokasi.
Tanaka memberikan bayaran lebih dari harga yang tertera pada mesin argo taksi tersebut. Baginya tidak ada salahnya berbagi sedikit harta kekayaannya pada orang lain selama dia masih bisa melakukannya.
"Terima kasih pak, semoga Anda selalu dilancarkan rezekinya oleh Tuhan Yang Maha Esa." Ujar driver taksi tersebut.
Tanaka hanya menganggukkan kepalanya sambil tersenyum dan langsung ke luar dari mobil tersebut dengan kopernya.
Dia berdiri di trotoar depan hotel yang pernah dia nginap saat berada di Jakarta dan kemudian mengeluarkan ponsel pintarnya untuk memesan ojol untuk pergi ke rumah pa'lik Karto.
Tanaka tidak langsung menuju ke rumah pa'lik nya itu karena jalanan lumayan sempit dan akan merepotkan untuk pergi dengan mobil sehingga dia lebih memesan ojol untuk pergi rumah saudara ibunya itu.
Hanya dalam waktu cepat, driver ojol yang menerima orderannya telah tiba di depannya. Driver itu menyerahkan helm yang akan digunakan Tanaka dan kemudian pria itu naik ke motor matic dengan memangku kopernya karena tidak bisa diletakkan di depan.
Karena menggunakan motor, Tanaka tidak perlu membutuhkan waktu lama untuk sampai ke rumah pa'lik Karto.
Driver ojol itu melakukan hal yang sama seperti driver taksi, yakni mendoakan kelancaran rezeki untuk Tanaka.
Tanaka hanya menganggukkan kepalanya dan berjalan masuk ke gang yang berada dibelakangnya sambil mengangkat kopernya, tidak menarik karena jalan gangnya tidak rata dan bisa merusak roda koper.
"Assalamualaikum!" Ujar Tanaka yang sedikit teriak saat sudah berada di depan rumah pa'lik Karto.
"Waalaikumsalam!" Jawab seorang perempuan yang Tanaka kenal suaranya itu.
"Eee, nak Tanaka sudah sampai, kenapa gak bilang-bilang kalau hari ini datangnya?" Tanya bu'lek Asmuni.
"Ya, mau kasih kejutan saja." Jawab Tanaka sambil menyalami dan mencium punggung tangan kanan adik perempuan dari ibunya itu. "Pa'lik dan Sonya mana, bu'lek?"
"Pa'lik sedang pergi dan Sonya belum pulang sekolah, ada kegiatan ekstrakurikuler di sekolahnya." Jawab bu'lek Asmuni.
Perempuan itu mengajak Tanaka untuk masuk ke dalam rumah. Mereka berdua duduk di sofa tamu.
"Duduklah, nak Tan pasti capek, bu'lek buatkan minum dulu." Ujar bu'lek Asmuni.
"Tidak usah bu'lek, Tan gak haus, kalau haus nanti bisa ambil sendiri." Tolak Tanaka.
Namun bu'lek nya itu tetap masuk ke dapur untuk membuatkan minuman untuk keponakannya itu.
Setelah beberapa saat perempuan yang sudah lumayan berumur itu, muncul dihadapan Tanaka dengan membawa sebuah nampan yang ada cangkir berisi teh hangat.
"Silahkan diminum, nak Tan." Pinta bu'lek Asmuni.
Tanaka menganggukkan kepalanya dan kemudian meminum teh hangat tersebut.
"Nak Tan sudah buat paspor kan?" Tanya bu'lek Asmuni.
Tanaka menganggukkan kepalanya setelah menyeruput teh hangat tersebut. "Sudah bu'lek." Jawab Tanaka dengan singkat.
"Kalau begitu tinggal ngurus visa dan cari tiket pesawat untuk ke Seoul." Ujar bu'lek Asmuni. "Pa'lik mu itu sedang cari tiket pesawat yang lagi promo sama kenalannya, tapi belum juga dapat sampai sekarang."
"Daripada nunggu yang gak pasti dan akhirnya kita gak berangkat, Tan akan pesan tiket pesawatnya sekarang saja." Saran Tanaka.
"Tapi harga tiketnya pasti mahal-mahal kalau gak ada promo." Ujar bu'lek Asmuni.
"Tidak perlu khawatir, Tanaka punya uang untuk itu." Balas Tanaka dengan santainya.
Bu'lek Asmuni tidak bisa memberikan keputusan tentang hal tersebut. Dia harus membicarakan pada suaminya terlebih dahulu.
Waktu berjalan dengan cepat, hari sudah malam sehingga Tanaka menyantap makan malam bersama dengan keluarga pa'lik Karto.
Bu'lek Asmuni sudah membicarakan tentang apa yang dirinya dengan Tanaka bicarakan saat sore hari tadi dan suaminya itu terpaksa setuju karena waktunya sudah tidak banyak lagi.
Setelah makan malam, Sonya dan Tanaka pergi ke ruang tamu untuk mencari tiket pesawat ke Seoul secara online menggunakan laptop Sonya yang dibelikan oleh Tanaka.
"Cari yang penerbangan langsung." Pinta Tanaka.
Sonya langsung melakukan apa yang diminta oleh Tanaka dan dia menemukan dua penebangan dari maskapai Korea Selatan dan Tiongkok. Tidak ada maskapai Indonesia yang melakukan penebangan secara langsung ke Korea Selatan.
Tanaka pun memilih maskapai penerbangan dari negara yang menjadi tujuannya daripada maskapai dari negara asing.
"Coba lihat yang first class." Pinta Tanaka.
Sonya menganggukkan kepalanya dan melakukan perintah Tanaka tapi tidak ada first class yang dibuka pada maskapai tersebut untuk Indonesia - Korea Selatan sehingga Tanaka meminta Sonya membuka yang kelas bisnis.
"Harganya 28 jutaan dan berangkatnya jam 9 malam." Ujar Sonya.
"Coba kamu tanya pada babe dan emak mu tentang jam berangkat ini." Pinta Tanaka.
Sonya pun segera menuju ke ruang keluarga untuk menanyakan hal tersebut pada kedua orangtuanya dan beberapa saat kemudian dia kembali dengan hasil tidak ada masalah dengan waktu tersebut.
"Oke, ambil aja yang itu." Pinta Tanaka.
"Yang bener? Harganya hampir 30 juta loh?" Tanya Sonya.
"Kamu meremehkan kemampuan ekonomi abang sepupumu ini?" Tanya Tanaka dengan sedikit sombong. "Harga segitu mah murah."
Sonya hanya tersenyum paksa mendengar ucapan sombong dari Tanaka tersebut.
"Ya, ya, maafkan rakyat jelata ini, tuan sultan Tanaka Syahputra." Ujar Sonya yang berakting seorang rakyat biasa sedang berhadapan dengan seorang sultan yang kaya raya.
"Hahaha, bagus kalau kamu mengerti, sekarang cepat lakukan perintahku, ambil tiket kelas bisnis itu segera, wahai rakyat jelata." Ujar Tanaka yang ikut bermain akting.
Mereka berdua pun tertawa setelah melakukan akting gak jelas tersebut.
Sonya langsung melakukan pemesanan empat tiket kelas bisnis tersebut yang totalnya mencapai 112 jutaan.
Setelah mendapatkan kode pembayarannya, Tanaka mengambil ponsel pintarnya itu dan membuka aplikasi m-banking untuk melakukan pembayaran.
Dengan langkah cepat tanpa ada halangan sedikitpun proses pembayaran sudah selesai dan mereka berdua sudah mendapatkan kode booking yang nantinya akan dipakai saat check in pesawat.
Setelah melakukan pembelian tiket pesawat Tanaka dan Sonya pun bergabung dengan dua orang tua yang berada di ruang keluarga yang sedang menonton acara TV.
"Berapa harganya, nak Tan?" Tanya pa'lik Karto.
"28 jutaan, pa'lik." Jawab Tanaka dengan santainya.
"Mahal banget, apa gak ada tiket promo?" Tanya bu'lek Asmuni yang terkejut, begitu juga dengan suaminya.
"Gak ada, bu'lek, ini mahal karena penerbangan langsung, tidak pakai transit segala." Jawab Tanaka.
"Kenapa gak pakai yang transit saja? Kan lebih murah?" Tanya bu'lek Asmuni.
"Itu cukup melelahkan, bu'lek, lebih bagus penerbangan langsung, biar cepat sampainya." Jawab Tanaka dengan tenang.
"Ya, mak, apalagi bang Tanaka pilih yang kelas bisnis, itu sudah lebih nyaman daripada kelas ekonomi." Ujar Sonya yang membuat kedua orang tuanya terkejut.
"Duh, kamu ini, kenapa pilih kelas bisnis? Pantes saja mahal harganya." Tanya bu'lek Asmuni. "Bisa diganti apa tidak kelasnya menjadi yang ekonomi?"
Mendengar itu membuat Sonya menggelengkan kepalanya. "Tidak bisa diganti lagi, Mak, kalau ganti jadwal penerbangan bisa." Jawab Sonya.
Mendengar itu membuat bu'lek Asmuni dan pa'lik Karto hanya bisa terdiam saja.
"Karena sudah terlanjur, mau diapakan lagi, tiketnya pa'lik, Sonya dan bu'lek, akan pa'lik ganti, tapi tidak bisa sekarang, mungkin membutuhkan waktu, tidak apa-apa kan nak Tan?" Tanya pa'lik Karto.
Tanaka menggelengkan kepalanya untuk menolak hal tersebut karena dia memang sengaja untuk membelikan tiket tersebut untuk keluarga pa'lik nya tersebut.
"Tapi ... " Ujar pa'lik Karto yang terpotong.
"Tidak perlu, pa'lik, Tan memang ingin membelinya untuk pa'lik Karto, Sonya dan bu'lek Asmuni, tidak perlu diganti, uang Tanaka masih tersisa banyak." Ujar Tanaka yang sedikit memaksa untuk pa'lik nya agar tidak perlu mengembalikan uang tiket tersebut.
Pa'lik Karto pun hanya menganggukkan kepalanya dan dia mengucapkan terima kasih.
Setelah itu, mereka berempat menghabiskan waktu bersama di ruang TV sampai akhirnya mereka masuk ke dalam kamar, kecuali Tanaka yang akan tidur di ruang TV karena tidak ada kamar yang bisa dia gunakan.
Meskipun pa'lik Karto menyarankan Tanaka untuk tidur di kamarnya Sonya dan gadis itu tidur di kamar pa'lik dan bu'lek, tapi Tanaka menolaknya karena tidak masalah baginya untuk tidur di depan TV dengan hanya menggunakan sofa saja.