MIRACLE: SUPER RICH!!!

MIRACLE: SUPER RICH!!!
Mantan Pacar Mengajak Bertemu



7 hari telah berlalu sejak Tan membeli mobil seharga 1,32 miliar rupiah dan mobil tersebut sudah sampai di rumahnya lima hari dari waktu yang seharusnya diberitahu oleh Greg saat membeli mobil tersebut.


Mobil barunya itu dalam kondisi bagus tanpa ada kerusakan atau cacat sama sekali. Dia juga mendapatkan beberapa bonus dari dealer pada mobilnya itu, seperti lapisan kaca film yang ada pada setiap jendela kanan dan kiri dengan presentase kegelapan tidak kurang dari 70% tembusnya cahaya.


Sedangkan pada kaca depan dan belakang juga diberikan tapi tidak kurang dari 40% dan pada pemberian kaca film pada bagian depan hanya untuk di bagian atas dengan lebar tidak lebih sepertiga dari tinggi kaca depan. Pada kaca depan dapat secara menyeluruh untuk digunakan kaca film.


Selain itu juga diberikan karpet alas kaki pada bagian depan dan bagian tengah untuk membuat mobil tidak terlalu kotor dan mudah dibersihkan.


Tan baru menyadari, mobil Olandersnya yang berada di garasi rumahnya, telah membuat motornya tidak bisa lagi ditaruh di garasi karena tidak muat


Panjang dari mobil itu hampir mendekati pintu garasi, sisi kanan dan kirinya terlalu sempit untuk meletakkan motor. Hal ini tentu membuat Tan harus meletakkan motornya di depan pintu samping rumahnya dan harus memberikan tambahan pintu teralis sebagai pengaman agar motornya tidak dicuri.


Tentu saja Tan tidak mempermasalahkan hal itu karena dia memiliki uang untuk membayar jasa pembuatan pintu teralis tersebut.


Uang di rekeningnya yang saat membeli mobil tersisa ratusan jutaan, telah kembali menjadi miliaran, 1.67 miliar setelah melalukan trading yang saat itu tidak hanya forex tapi juga minyak mentah dan emas karena pasar minyak mentah dan emas sedang dalam kondisi sangat bagus pada hari tersebut.


Dia mendapatkan keuntungan sebanyak 1 miliar rupiah setelah melakukan trading minyak mentah dan emas selama satu hari delapan jam, sesuai dengan jadwalnya. Sedangkan pada forex hanya mendapatkan keuntungan 200 juta selama 7 hari sesuai dengan jadwalnya.


Saat ini pun Tan masih melakukan trading karena hari Kamis masih termasuk jadwal dia harus melakukan trading, namun pada hari hari ini dia hanya melakukan trading forex, tidak lagi dengan trading emas dan minyak mentah karena keadaan pasar dua komoditi itu mendapatkan keuntungan banyak daripada forex.


Hanya pada Jumat sampai Minggu kemarin pasar dua komoditi itu sedang dalam kondisi bagus dan bisa mendapatkan keuntungan banyak sampai 1 miliar rupiah.


Seandainya Tan melanggar jadwal kerjanya yang telah ditentukan dengan melakukan trading di hari Sabtu dan Minggu, dia akan mendapatkan keuntungan lebih dari 1 miliar rupiah.


Tapi Tan tetap pada pendiriannya, dia hanya melakukan trading sesuai dengan jadwalnya. Dia tidak terlalu rakus untuk mendapatkan uang karena uang yang telah didapatkan selama jadwal kerjanya sudah dapat memenuhi kebutuhannya bahkan sangat lebih.


Meskipun Tan memiliki mobil, tapi dia belum pernah memakainya sama sekali. Itu disebabkan karena dua hal, pertama dia baru mendapatkan surat jalan sedangkan STNK dan BPKB nya akan didapatkan minimal 14 hari, di hitung 2 hari setelah dia membeli mobil tersebut.


Kedua adalah karena dia adalah introvert akut yang hanya keluar bila ada sesuatu yang diperlukannya atau memiliki tujuan yang jelas untuk keluar rumah.


Jadi selama tidak memenuhi dua syarat itu, dia tidak akan keluar rumah sama sekali.


Akan tetapi, beberapa menit kemudian dia harus berpikir ulang untuk berada di rumah karena dia mendapatkan pesan WhatsApp dari mantan pacarnya, Saras untuk bertemu dengannya di sebuah cafe dekat tugu Yogyakarta, jam 8 malam.


Tan mengernyitkan dahinya melihat pesan dari mantan pacarnya itu. Bila sebelumnya dia tidak bertemu Saras dengan Harry, tunangannya, dia akan merasa senang mendapatkan pesan tersebut, tapi sekarang tidak ada lagi rasa senang atau gembira mendapatkan pesan dari Saras.


Perasaannya pada perempuan itu sudah hilang begitu saja entah kemana pada dirinya. Meskipun begitu Tan memenuhi undangan pertemuan mantan pacarnya itu.


Dia hanya membalas emoticon Ok pada Saras dan kemudian kembali fokus dengan tradingnya di laptop.


Sementara itu, Saras yang mendapatkan balasan hanya berupa emoticon Ok oleh Tan merasa jengkel dan kesal. Dia beranggapan kalau Tan akan memberikan balasan yang lebih dari hanya sekedar emoticon Ok.


"Dasar brengsek, dia tidak pernah memberikan balasan seperti ini padaku sebelumnya." Kata Saras dalam pikirannya yang merasa kesal dan kemudian dia mengabaikan dengan melakukan pekerjaannya sebagai staf legal di sebuah perusahaan properti.


Sementara itu Tan tidak tahu kalau dirinya akan di cemooh oleh Saras karena balasan WhatsApp nya itu. Dia dengan santai melakukan trading forex sampai adzan Ashar berkumandang.


Dia segera menghentikan trading dan menarik 210 juta rupiah ke rekeningnya dan meninggalkan 10 juta di akun saldo miracle trading sebagai modal trading selanjutnya.


Tan sebenarnya ingin meninggalkan lebih banyak lagi, tapi miracle trading memiliki limit batasan maksimal 10 juta setiap transaksi trading. Jadi dia selama beberapa hari ini melakukan trading dengan modal 10 juta di awal dan kemudian bertambah 2x lipat dari modal awal setiap waktunya.


Dia segera mematikan laptopnya dan kemudian menuju ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu agar bisa melaksanakan sholat Ashar.


Setelah sholat Ashar, serta dengan dzikir dan doanya selesai, Tan kembali ke kamar mandi untuk melakukan mandi sorenya yang kemudian dia menghabiskan waktu di rooftop dengan bersantai menikmati suasana sore hari dengan meminum teh hangat yang dia buat sendiri dan beberapa cemilan roti dan kue yang dipesannya melalui online sampai adzan Magrib berkumandang.


Hanya beberapa menit kemudian adzan Magrib berkumandang sehingga dia kembali masuk ke dalam rumahnya untuk melaksanakan sholat Magrib dan beberapa menit selanjutnya sholat Isya.


Dia hampir tidak pernah melakukan sholat di mesjid lagi semenjak ayahnya meninggal dunia karena sifat introvertnya itu yang tidak menyukai ada orang lebih dari dua dalam satu tempat, meskipun guru agamanya saat di SMA selalu mengatakan untuk melakukan sholat berjamaah di masjid.


Dia hanya akan sholat di mesjid saat sholat Jum'at, idul Fitri dan idul Adha. Tiga jenis sholat itu tidak memungkinkan dirinya harus melakukan sendirian, harus berjamaah sehingga mau tidak mau dia harus pergi ke mesjid untuk melaksanakannya.


Saat jam hampir menunjukkan pukul 8 malam, Tan segera bersiap-siap pergi menuju tempat pertemuan yang telah di shareloc melalui pesan WhatsApp.


Dia memakai pakaian hariannya, yakni celana training abu-abu, kaos polos hitam yang dibalut dengan jaket training yang sama dengan celana training tersebut. Alas kakinya juga hanya berupa sandal jepit berwarna hitam.


Meskipun Tan sudah memiliki uang untuk membeli pakaian, aksesoris dan alas kaki branded yang nilainya puluhan juta, tapi dia tidak melakukannya karena merasa hal itu tidak terlalu diperlukan.


Dia jarang keluar rumah jadi untuk apa membeli barang-barang mewah seperti itu. Pakaian dalam lemarinya sudah cukup untuk melindungi kulit tubuhnya.


Saat berada di teras, Tan kembali berpikir untuk memakai motor maticnya atau mobil maticnya. Dia sudah mendapatkan SIM A sehingga tidak perlu khawatir bila ada razia oleh pihak kepolisian, meskipun razia malam hari itu sangat jarang dilakukan oleh pihak kepolisian.


"Mungkin lebih baik menggunakan mobil, setidaknya aku harus menggunakannya karena sudah beli daripada hanya berada di garasi sepanjang hari." Kata Tan yang langsung membuka pintu garasi, menghidupkan mesin mobil untuk memanaskan mesin mobil selama beberapa menit.


Tan segera mengeluarkan mobil tersebut dari garasi. Dia tidak perlu bersusah-susah payah menginjak pedal kopling untuk menggerakkan mobil tersebut karena mobilnya itu memiliki transmisi otomatis.


Dia hanya menggerakkan tuas yang ada di sebelah kirinya ke huruf D dengan menekan kunci pengaman pada tuas dan melepaskan pada saat tuas itu sejajar dengan huruf D.


Mobil akan bergerak secara perlahan-lahan tanpa perlu menginjak pedal gas, namun karena dia ingin cepat mengeluarkan mobilnya itu, dia menginjak pedal gas secukupnya saja.


Hanya kurang dari lima menit, Tan berhasil mengeluarkan mobilnya untuk pertama kalinya dari dalam garasi. Sebelumnya dia hanya memasukkan mobil itu ke dalam garasi saat mobilnya di antar oleh pihak dealer ke rumahnya.


Dia tidak langsung pergi karena pintu garasi dan pagar belum ditutup dan dikunci. Rumahnya tidak memiliki asisten rumah tangga atau satpam seperti rumah-rumah orang kaya raya atau konglomerat.


Tan harus melakukan semua sendiri, meskipun sebenarnya dia bisa saja memperkerjakan asisten rumah tangga (ART) atau satpam karena bisa memberikan gaji pada mereka.


Tapi karena rumahnya kecil, dia bisa mengurus semuanya sendirian tanpa perlu ART dan juga tidak perlu satpam karena tidak ada tempat untuk ruang satpam di rumahnya yang tanahnya seluas 70 meter persegi.


Setelah mengamankan rumahnya,dia segera masuk ke dalam mobil, duduk di kursi pengemudi dan melajukan mobilnya itu menunju ketempat pertemuan dengan Saras.


Dia mengikuti jalan seusai dengan aplikasi peta yang ada di layar dasboard mobilnya. Kurang dari 10 menit sebelum jam 8 malam pas, dia telah sampai di lokasi sesuai dengan shareloc dari Saras.


Tan segera mencari tempat parkir, namun dia tidak menemukan tempat parkir mobilnya sehingga dia terpaksa harus kembali memutar agar memakirkan mobilnya di parkiran mobil bawah tanah di salah satu hotel yang dekat dengan cafe itu.


Tan baru bisa berada di cafe yang bernama Moonlight itu tepat pukul 20.15 WIB. Dia sudah terlambat 15 menit dari waktu yang dijanjikan. Meskipun begitu dia tidak merasa bersalah karena Saras akan datang 30 menit dari waktu yang dijanjikan.


Tan sudah sangat mengenalnya sehingga dia tidak akan merasa bersalah bila datang terlambat, selama itu tidak lebih dari 30 menit.


Seperti yang dia duga, Tan tidak melihat keberadaan Saras di cafe tersebut. Bahkan dia sudah mencocokkan nama cafe dan posisinya yang tertera di shareloc dengan cafe tersebut.


"Aku sudah di lokasi." Tan mengirimkan pesan WhatsApp pada Saras, memberitahu keberadaannya tanpa perlu bertanya Saras berada dimana.


Hal yang selalu dia lakukan saat janjian bertemu dengan Saras. Dia akan memberitahu kalau dirinya sudah berada di lokasi dan Saras akan datang tepat 30 menit dari waktu yang dijanjikan.


Orang-orang yang berada di cafe itu pada melihat dan membicarakan Tan yang datang dengan memakai set training dan sandal jepit. Sebuah hal yang aneh atau tidak lazim untuk dipakai saat berkunjung ke cafe.


Meskipun begitu, Tan hanya berusaha untuk mengabaikan semua itu dengan memesan minuman berupa milkshake Taro, dan fish n' chips sebagai cemilannya menunggu kedatangan Saras.


Cafe itu memakai pengunjung langsung membayar setelah melakukan pemesanan sehingga Tan langsung membayar dengan memberikan uang tunai 100 ribu pada pegawai kasir.


Sejak dirinya memiliki jumlah uang yang cukup banyak, Tan hampir tidak pernah mengisi dompetnya dengan uang kurang dari nominal 50 ribu rupiah.


Uang dengan nominal kurang dari 50 rupiah selalu dia tabung di dalam tabungan buatan sendiri, yakni kaleng khongguan yang tutupnya dia plester dan dia lubangi sebagai tempat memasukan uangnya.


Setelah membayar, Tan langsung duduk di kursi sofa yang dikhususkan untuk pengunjung lebih dari dua orang, tapi karena tidak ada larangan tempat itu hanya digunakan lebih empat orang, Tan memilih tempat duduk tersebut karena itu lebih nyaman daripada duduk di kursi kayu.


Hanya lima menit setelah dia duduk, pesanannya telah tiba dan bersamaan dengan itu Saras sudah tiba di cafe Moonlight tersebut.


Dia melihat-lihat sekitar, mencari keberadaan Tan. Saat menemukan Tan, Saras segera menuju ke tempat mantan pacarnya dan duduk dihadapan tanpa ada basa-basi atau meminta maaf karena sudah terlambat.


Tipikal yang sangat Tan ketahui dari Saras sehingga dia tidak tersinggung atau marah akan hal itu. Tapi bila itu terjadi sebaliknya, Tan harus minta maaf pada Saras karena dia akan marah.


Tanpa meminta ijin sama sekali pada Tan, Saras mengambil satu fish n' chips dan langsung memakannya. Dia juga memanggil pelayan untuk memesan minuman di tempat.


"Bila kamu lapar, pesan aja makanan, aku yang bayar." Kata Tan yang membuat Saras melihat sejenak ke mantan pacarnya itu.


"Apa kamu yakin? Apa kamu bisa membayarnya? Bagaimana dengan hutang kamu nantinya?" Tanya Saras.


"Itu urusan aku, tidak usah kamu pikirkan, silahkan saja pesan apa yang ingin kamu makan, aku yang bayar." Kata Tan yang tidak memberi tahu kalau hutangnya sudah lunas semua dan dia memiliki uang lebih dari 2 miliar rupiah di rekeningnya.


"Kalau itu mau kamu, aku tidak akan segan-segan, jangan menyesal bila kamu tidak bisa membayar hutang kamu nantinya." Kata Saras yang kemudian memesan spicy chicken rice dan mocktail tropical mint.


Tan juga memesan makanan untuk dijadikan makan malamnya. Dia memesan chicken katsu rice.


Setelah mencatat dan menjumlahkan harga pesanan tersebut dia pergi meninggalkan Tan dan Saras setelah menerima selembar 100 ribu dan 50 ribu rupiah.


"Jadi apa yang ingin kamu bicarakan?" Tanya Tan yang tidak ada basa-basi.


"Apa kamu ingin pergi ke suatu tempat?" Jawab Saras dengan pertanyaan baru.


Tan menggelengkan kepalanya. Dia hanya tidak ingin berlama-lama berada di luar rumah sehingga dia langsung bertanya pada Saras dan saat selesai makan dia akan langsung pulang.


"Kalau begitu tidak usah terburu-buru, aku akan mengatakannya setelah kita makan." Kata Saras yang kemudian mengalihkan pembicaraan ke hal lainnya yang tidak lebih dari basa basi pada Tan. Hanya menghabiskan waktu sampai makanan tiba.