MIRACLE: SUPER RICH!!!

MIRACLE: SUPER RICH!!!
Buat ojek online, motor mana yang nyaman?



Berjalan memasuki halaman depan dealer motor resmi dari brand yang sama dengan motor lamanya, Tan melihat begitu banyak motor dengan berbagai tipe dipajang dalam bangunan dealer motor itu.



Tan membuka pintu kaca dan udara sejuk langsung dia rasakan saat itu juga, menghilangkan udara penat panas saat berada di luar bangunan tersebut.



"Selamat datang di dealer resmi H\*nda Mandraguna, dengan saya Astri, ada yang bisa saya bantu." Sapa seorang pegawai dealer berjenis kelamin perempuan tersebut.



"Saya ingin beli motor." Jawab Tan.



"Oh, maaf, kalau boleh tahu nama tuan siapa?" Tanya Astri dengan ramah.



"Tanaka" jawab Tan singkat.



"Baik, tuan Tanaka, motor tipe seperti apa yang tuan inginkan?" Tanya Astri.



"Kami memiliki tiga tipe motor, tipe CUB atau lebih dikenal motor bebek, tipe sporty, dan tipe matic." Jelas Astri sambil mengambil sebuah brosur yang ada di laci meja resepsionis.



Tan melihat-lihat brosur tersebut, beserta selembar kertas bewarna putih yang tertera harga motor serta besarnya harga angsuran kredit.



Tan mengabaikan pada bagian angsuran kredit karena dia tidak ingin menjalankan praktik riba. Dia hanya melihat harga-harga dari setiap jenis motor dari tiga tipe motor tersebut.



"Mbak, kalau buat ojek online, motor mana yang nyaman untuk dipakai?" Tanya Tan dengan santai.



Mendengar pertanyaan seperti itu membuat Astri sedikit terkejut karena selama dia bekerja di dealer motor tersebut belum ada yang bertanya seperti itu.



Selain itu ada pandangan merendahkan dari pandangan Astri terhadap Tan saat pria itu menyebutkan kata ojek online.



Dalam pandangannya pekerjaan ojek online itu merupakan pekerjaan kasta rendah dan berada dibawah kasta pekerjaan yang dilakukannya saat ini, yakni sebuah karyawan dengan gaji tinggi sesuai dengan UMR kota Yogyakarta.



Astri adalah tipikal perempuan yang memandang status seseorang itu berdasarkan golongan gaji yang dimiliki orang tersebut.



Sehingga dia selalu menetapkan bagi pria yang ingin menjalin hubungan khusus dengannya, harus memiliki gaji minimal 10 juta ke atas.



Meskipun dia menganggap pekerjaan ojek online adalah pekerjaan kasta rendah, tapi dia tetap menggunakan jasa pekerjaan tesebut untuk menunjang kegiatan hariannya seperti berangkat kerja ataupun memesan makanan.



"Kalau ditanya seperti itu saya juga kurang tahu, karena saya tidak pernah bekerja sebagai driver ojek online." Ujar Astri dengan ramah tapi ada nada merendahkan tentang pekerjaan ojek online.



"Begitu ya, salah saya juga bertanya seperti itu pada mbak, maaf." Kata Tan yang tidak menyadari akan nada merendahkan dari Astri tersebut.



Astri dengan cepat memanggil rekannya untuk mengambil posisinya melayani Tan, dia tidak ingin berurusan dengan orang yang memilih ojek online dalam karir pekerjaannya.



"Tania, sini." Panggil Astri pada rekan kerjanya itu yang sedang melakukan menemani pasangan suami istri yang ingin membelikan motor untuk anak laki-lakinya sebagai hadiah karena sudah masuk SMA.



Tania adalah pegawai dealer yang baru bekerja selama 5 bulan dan baru diangkat menjadi karyawan tetap setelah menyelesaikan masa magangnya selama 3 bulan.



"Ya, mbak Astri." Ujar Tania saat berada di dekat seniornya itu.



"Kamu layani mas ini, biar aku yang layani pasangan itu." Ujar Astri.



Tania hanya menganggukkan kepalanya sebagai respon. Bagaimanapun juga ia baru bekerja di tempat itu selama 5 bulan jadi dia hanya bisa menuruti perintah dari seniornya sebagai junior yang baik.



Astri tanpa berkata-kata pada Tan langsung main pergi begitu saja dan Tan hanya bersikap biasa tanpa ada perasaan tersinggung atau apapun itu.



Hal itu karena Tan tidak menyadari kalau perempuan yang main pergi begitu saja sudah merendahkan dirinya.



"Halo tuan, saya Tania, mohon maaf nama tuan siapa?" Sapa Tania dengan ramah dan sopan.



"Tanaka." Jawab Tan dengan singkat dan santai.



"Baik, tuan Tanaka, apa sudah tentukan motor apa yang tuan Tanaka ingin beli?" Tanya Tania.



"Nah, inilah yang membuat saya bingung, mbak, saya ingin beli motor untuk ngojol, tapi saya bingung motor apa yang nyaman untuk itu." Jelas Tan.



Tania menganggukkan kepalanya dan memberikan senyuman alami, bukan bisnis. "Kalau begitu, saya sarankan untuk motor tipe matic, saya juga sering memesan ojol untuk berangkat kerja dan paling nyaman memang motor jenis matic, tuan Tanaka." Jelas Tania.



"Tapi itu perspektif dari saya, tidak bisa dijadikan referensi secara umum, karena perspektif orang-orang kan berbeda-beda, tapi menurut saya, memang motor matic yang lebih nyaman untuk ojek online, tuan Tanaka." Lanjut Tania.



Tan menganggukkan kepalanya dan dia juga sudah bertanya pada driver ojol yang membawanya tadi tentang hal tersebut dan jawabannya sama.



"Kalau begitu, bisa rekomendasikan motor matic keluaran terbaru dan berkualitas bagus untuk saya?" Tanya Tan.



"Oh, kalau kualitas, semua motor H\*nda berkualitas bagus, tuan Tanaka, tapi untuk rekomendasi, bisa saya tahu berapa budget yang ingin dikeluarkan oleh tuan Tanaka?" Tanya Tania.



Tan merasa bingung untuk menjawab karena dia tidak ada masalah untuk mengeluarkan uang sebanyak apapun itu dengan jumlah nominal uang yang dimilikinya saat ini.



Uang yang dimilikinya saat ini sudah mencapai ratusan miliar dan hampir mencapai triliunan. Bisa dikatakan dia adalah seorang pria yang pantas mendapatkan gelar sultan terkaya di negara Indonesia.



Bahkan pemilik bank BPS yang merupakan orang terkaya di Indonesia sudah dia rebut gelar itu, bila saja Tan mempublikasikan harta kekayaannya tesebut ke publik dengan cara memamerkan di media sosial yang dimilikinya seperti kebanyakan, selebritis, selebgram, penjabat dan orang kaya lakukan.



Tan tidak melakukan hal tersebut dan tidak ada kepikiran untuk melakukan hal tersebut karena dia tidak ingin menyombongkan harta yang dimiliki atau bersikap riya.



Dia hanya ingin menjadi orang biasa yang selalu melakukan kewajiban dan mendapatkan haknya sebagai warga negara Indonesia.



"Berikan saja rekomendasi motor matic yang paling berkualitas dari motor matic H\*nda yang ada saat ini." Jawab Tan.



Mendengar jawaban yang terdengar sombong, meskipun sebenarnya Tan tidak ada maksud untuk sombong, membuat Tania menaikkan dua alisnya ke atas karena terkejut.



Tania langsung berpikiran iseng untuk memberikan motor yang paling mahal dari merk motor H\*nda yang pernah ada. Harga motor itu hampir menyamai harga sebuah mobil baru.




Akan tetapi, di luar pikiran perempuan itu, Tan menanggapinya dengan serius dan menanyakan tentang visual dari motor matic mahal itu.



Perempuan itu langsung kebingungan karena tidak ada brosur yang menampilkan visual motor tersebut. Selain itu, saat ini motor matic yang mahal itu tidak ada di dealer tempat dia bekerja.



Diakibatkan motor tersebut terlalu eksklusif dan sangat jarang untuk dibeli oleh masyarakat biasa, sehingga perlu pemesanan terlebih dahulu untuk membeli motor tesebut yang nantinya akan dikirim langsung dari dealer H\*nda pusat yang ada di Jakarta ke tempat pembeli.



Hanya golongan tertentu yang mau membeli motor yang harganya hampir menyamai sebuah mobil tersebut.



"Mohon tunggu sebentar, tuan Tanaka." Ujar Tania yang segera mengeluarkan ponsel pintarnya.



Dia langsung membuka aplikasi pencarian dan mengetik kata kunci F\*rza.



Hanya dalam waktu cepat beberapa website langsung muncul yang menampilkan informasi tentang motor itu.



Tania segera membuka website resmi H\*nda yang kemudian menampilkan bentuk visual dari motor paling mahal di brand H\*nda.



"Ini bentuk visual motornya, tuan Tanaka." Ujar Tania sambil menyerahkan ponsel pintarnya pada Tan.



Tan melihat visual motor tersebut hanya dalam beberapa menit dan kemudian dia mengembalikan ponsel pintar itu ke pemiliknya.



Dia mengeluarkan ponsel pintarnya dan membuka You\*ube untuk melihat motor itu dalam bentuk video.



"Hmm, terlihat bagus." Ujar Tan saat melihat sebuah video yang mereview motor tersebut.



"Baiklah, aku akan membeli motor ini." Ujar Tan.



Tentu saja Tania langsung terkejut mendengar itu. Dia tidak menyangka kalau Tan akan benar-benar membeli motor paling mahal itu tanpa berpikir panjang.



"M-mohon tunggu sebentar, tuan Tanaka." Ujar Tania dengan panik.



Bagaimanapun dia baru bekerja selama 5 bulan dan ini adalah pertama kalinya dia akan menjual unit motor dengan harga paling tinggi.



Dia segera beranjak dari tempat duduknya dan mendatangi seniornya yang secara kebetulan adalah pegawai paling senior dari bagian tempat dia bekerja.



Astri melihat sikap juniornya itu yang terlihat panik, selagi dia menunggu pasangan suami istri yang sedang membujuk anak laki-lakinya untuk membeli motor matic dengan harga paling rendah.



Akan tetapi anak laki-lakinya yang egois, manja dan bertulang lunak tetap menginginkan motor sport yang harganya mencapai 30 juta lebih.



Bagaimanapun dia ingin terlihat gagah dengan motor sport yang maskulin tersebut daripada motor matic, meskipun dia bertulang lunak.



Dia merasa penasaran dengan apa yang terjadi pada juniornya itu, tapi jaraknya terlalu jauh untuk mengetahui apa yang terjadi.



Tania segera menjelaskan pada pegawai paling senior itu terkait apa yang sedang terjadi padanya. Pegawai paling senior itu hanya menganggukkan kepalanya dengan tenang, tidak terlihat panik seperti Tania.



Pegawai paling senior itu langsung berjalan dan duduk di hadapan Tan, sedangkan Tania berdiri di belakang pegawai paling senior itu.



"Halo, tuan Tanaka, saya Reza, saya dengar dari rekan saya, Tania, tuan Tanaka akan membeli motor F\*rza?" Tanya Reza dengan ramah dan sopan.



Tan menganggukkan kepalanya dengan singkat. "Apakah ada masalah?" Tanya Tan.



"Oh, tidak, tidak ada masalah apapun, hanya saja untuk motor matic F\*rza yang tuan Tanaka inginkan sedang tidak ada di tempat kami, sehingga kami perlu mendatangkan dari pusat yang berada di Jakarta, apa tuan Tanaka tidak bermasalah dengan itu?" Jelas Reza.



"Berapa lama?" Tanya Tan singkat.



"Saya akan bertanya ke pusat terlebih dahulu untuk mengetahui apa ada atau tidaknya ketersediaan motor matic F\*rza." Jelas Reza.



"Bila ada, kemungkinan besar motornya akan tiba dalam waktu 3-7 hari, bila ternyata kosong, maka akan membutuhkan waktu yang lebih lama biasanya 1 bulan dan itu yang paling cepat." Lanjut Reza.



Tan merasa waktu satu bulan itu terlalu lama. Dia berpikiran kalau tidak ada ketersediaan motor itu, dia akan membeli motor yang ada saat ini di dealer.



"Baiklah, tolong tanyakan dulu, apakah ada ketersediaan atau tidak motor itu, kalau tidak saya akan membeli motor yang ada saat ini saja, 1 bulan itu terlalu lama." Ujar Tan.



Reza menganggukkan kepalanya dan kemudian dia mengangkat gagang telpon yang berada di atas meja counter, menekan beberapa tombol angka yang ada telpon tersebut.



Tan menunggu dengan tenang, sambil melihat-lihat motor yang dipajang di dalam dealer tersebut.



Beberapa menit kemudian, Reza sudah selesai dengan pembicaraan dengan pihak pusat, sehingga dia mengembalikan gagang telpon tersebut ke tempat semula.



"Terima kasih sudah mau menunggu, ketersediaan motor F\*rza sudah dipastikan ada dan siap dikirimkan ke sini, seperti yang saya katakan waktunya 3-7 hari, apa tidak masalah, tuan Tanaka?" Tanya Reza.



Tan menganggukkan kepalanya. Dia tidak masalah kalau itu hanya dalam waktu 1 Minggu.



"Baiklah, bisa kita mulai melakukan proses administrasi pembeliannya tuan Tanaka?" Tanya Reza.



"Tapi karena motornya tidak ada saat ini, tuan Tanaka harus membayar DP 50% dari harga motor tersebut dan uang DP itu tidak bisa diambil lagi bila tuan Tanaka membatalkan pembelian, apa tidak masalah, tuan Tanaka?" Jelas Reza.



Tan menganggukkan kepalanya. "Tidak masalah." Ujar Tan.



"Baik pengurusan administrasi pembeliannya akan dilakukan oleh rekan saya, Tania dan uang DP 50% itu harus dibayar secara tunai tidak bisa kredit." Jelas Reza yang menjelaskan lebih rinci terkait administrasi pembelian motor tersebut.



"Ya, saya juga tidak ada keinginan untuk membeli secara kredit, saya akan membeli secara tunai." Ujar Tan dengan santai.



Mendengar itu membuat Reza dan Tania langsung menaikan alisnya. Mereka terkejut mendengar Tan akan membayar secara tunai.



Biasanya para costumer yang datang untuk membeli motor di dealer itu memakai sistem kredit dalam pembayarannya, sangat jarang membayar secara tunai.