
Hari demi hari terus berlalu dengan sangat cepat dan tanpa terasa Tan sudah mengojol lebih dari satu setengah bulan.
Selama itu juga orderannya telah semakin bertambah dari hari-hari sebelumnya. Sekarang dia sudah terlihat sibuk menyelesaikan orderan seperti ojol lainnya.
Dalam satu hari, Tan bisa mendapatkan orderan sebanyak 15 orderan dan paling banyak dia dapatkan 20 orderan. Itupun karena dia hanya mengaktifkan fitur penumpang saja sedangkan fitur delivery, shopping, dan makanan dia matikan karena merepotkan.
Selain itu juga, hubungan dengan Azrina yang merupakan costumernya itu telah menjadi sangat dekat, tidak sedekat hubungan kekasih tapi hanya hubungan pertemanan biasa antara cowok dan cewek.
Azrina sering menghubungi Tan untuk meminta bantuan mengantarkannya ke tempat yang menjadi tujuannya dan tentu saja perempuan itu membayar Tan karena sudah mengantarnya.
Orang-orang yang biasa ojol sering menyebutkan hal ini dengan orderan offline.
Meskipun begitu, Tanaka selalu menolak bayaran itu karena dia memang sudah berjanji untuk membantu dengan ikhlas saat dia bisa melakukannya pada Azrina.
Akan tetapi kadang kala Azrina memaksa dirinya untuk menerima pembayaran tersebut sehingga Tan menerimanya karena terus dipaksa.
Selain melakukan orderan offline, Azrina juga sering meminta dirinya untuk ditemani pergi, entah itu jalan-jalan, makan bersama, nonton bioskop dan hal lainnya.
Intinya dia seperti sedang melakukan hang out selayaknya teman dengan Azrina.
Meskipun begitu, Tan tidak pernah menggunakan mobilnya untuk pergi hang out dengan Azrina karena menurutnya menggunakan motor lebih nyaman dan cepat.
Lagipula Azrina juga tidak ngeluh dengan pergi menggunakan motor.
"Hei tunggu!" Pinta Tan yang berjalan di belakang Azrina.
"Cepatlah, mas, nanti keburu antriannya jadi lebih panjang." Ujar Azrina yang berjalan lebih cepat dari Tan.
Mereka berdua saat ini berada di salah satu mall terbesar yang ada di kota Yogyakarta.
Tan bisa berada di mall tersebut karena diajak oleh Azrina untuk menemaninya pergi ke bioskop, menonton film Indonesia dengan genre roman komedi yang sedang buming-bumingnya.
Saat tiba di area bioskop, Tan melihat sudah begitu banyak orang yang mengantri.
"Astaga, ini film segitu terkenalnya? Sampai antriannya begitu panjang." Ujar Tan yang terkejut melihat antrian yang begitu panjangnya.
"Ini film yang sedang terkenal, karena ada aktor asing yang bermain yakni Kim Jang Un." Jawab Azrina.
Tanaka dan Azrina segera pergi mengantri dan mereka harus berdiri selama hampir dua jam untuk sampai ke loket tiket meskipun pihak bioskop sudah membuka 3 loket khusus untuk film tersebut dari empat loket yang tersedia.
Akan tetapi karena segitu banyaknya orang yang mengantri membuat prosesnya masih lama.
Azrina sebenarnya bisa saja membeli secara online, akan tetapi karena penjualan tiket secara onlinenya sudah habis, bahkan untuk satu Minggu ke depan.
Sehingga dia terpaksa harus membeli tiket secara manual hanya untuk menonton film tersebut.
Tan yang melihat antriannya masih lama, memutuskan untuk membeli minuman atau cemilan yang juga dijual di bioskop tersebut.
"Kamu mau minum apa?" Tanya Tan.
"Es lychee tea medium." Jawab Azrina.
Tanaka menganggukkan kepalanya dan kemudian dia pergi menuju ke tempat penjualan makanan dan minuman.
"Selamat datang di cafe X." Ujar seorang pegawai cafe tersebut.
"Es lychee tea medium 1 dan es lemon tea medium 1." Pinta Tan.
"Baik, apa tuan ingin popcorn juga? kami punya popcorn berbagai rasa dan yang paling direkomendasikan oleh kami popcorn butter caramel." Ujar pegawai itu yang sedang melakukan upseling. "Atau tuan ingin french fries? Kami punya dua rasa yakni original dan pedas."
Tanaka berpikir sejenak dan kemudian dia juga memesan popcorn yang direkomendasikan oleh pegawai itu dengan ukuran medium. Hanya ada dua ukuran saja untuk popcorn tersebut yakni small dan medium.
"Baik, saya ulangi pesanannya, popcorn butter caramel ukuran medium 1, lychee tea ukuran medium 1, lemon tea ukuran medium 1, ada tambahan lagi, tuan?" Tanya pegawai itu yang masih berupa untuk upseling.
"Tidak, itu saja." Jawab Tan.
"Baik, semuanya 142 ribu, pembayaran cash, kartu atau Qriss?" Tanya pegawai itu.
"Cash." Jawab Tan singkat sambil mengeluarkan dua lembar uang 100 ribu dan memberikan pada pegawai itu.
Pegawai itu segera melakukan proses pembayaran pada mesin kasir dalam waktu cepat sehingga struk pembayaran keluar dari mesin kasir itu dengan laci uang keluar secara otomatis.
Dia menyerahkan struk pembayaran itu dengan uang kembalian pada Tanaka. Akan tetapi Tanaka hanya mengambil struk pembayaran saja sedangkan uang kembalian diserahkan pada pegawai itu.
Pegawai itu terkejut dan menanyakan kembali pada Tan tentang itu. Pria itu hanya menganggukkan kepalanya.
"Terima kasih, bisa saya tahu atas nama siapa?" Tanya pegawai itu dengan tersenyum sumringah karena mendapatkan tips yang jarang terjadi.
"Tanaka." Jawab Tan.
Pegawai itu segera membuat pesanan yang dipesan oleh Tanaka dengan secepatnya.
Popcorn butter caramel sudah langsung tersedia di sebuah wadah plastik yang biasanya dijadikan sebagai wadah minuman sedangkan untuk minuman dia harus menuangkan terlebih dahulu.
"Terima kasih sudah menunggu, popcorn butter caramel medium, lychee tea medium dan lemon tea medium." Ujar pegawai itu yang kembali memastikan pesanan Tan.
Tan menganggukkan kepalanya, mengambil tiga pesanan tersebut dan menuju ke tempat Azrina berada yang sudah lebih maju antriannya dari sebelumnya.
Dia memberikan minuman pesanan Azrina dan perempuan itu ingin memberikan uang untuk minuman pesanannya tersebut.
"Tidak perlu, aku membelinya untukmu." Ujar Tan.
"Terima kasih." Ujar Azrina dengan tersenyum dan kemudian menyeruput minumannya itu.
"Ini aku, beli popcorn juga, sebagai cemilan." Ujar Tan sambil menyodorkan wadah popcorn tersebut.
Azrina tanpa basa-basi mengambil satu popcorn dari wadah tersebut dan memakannya. Dia sudah tidak malu-malu lagi dengan Tan karena hubungan mereka sudah lebih dekat dari sebelumnya.
Setelah mengantri selama hampir empat jam, akhirnya mereka berdua pun sampai di depan loket tiket.
"Dua tiket premiere untuk film Aku Dan Presiden." Pinta Azrina.
Pegawai loket tersebut segera memproses pesanan tersebut dan memberitahu bahwa jam yang tersedia tinggal jam terakhir, yakni jam sembilan malam.
Azrina melihat Tan sejenak untuk menanyakan pendapatnya tentang hal itu.
"Ya mau bagaimana lagi, kita sudah terlanjur mengantri, tidak mungkin kita pulang begitu saja." Ujar Tan yang seperti tahu arti tatapan Azrina. "Lagipula aku tidak masalah, bagaimana denganmu?"
"Aku tidak masalah, aku punya kunci pagar kost, jadi tidak masalah pulang larut malam." Jawab Azrina.
Setelah menemukan kesepakatan, Azrina segera memesan dua tiket tersebut dan memilih tempat duduk kosong terbaik dari tempat duduk terbaik yang sudah diambil oleh orang lain.
Setelah proses pemesanan selesai dan tinggal untuk membayar sebelum menerima tiket premiere tersebut, Tanaka segera memberikan dua lembar uang 100 ribu.
"Loh, biar aku saja yang bayar." Ujar Azrina. "Lagipula aku yang ngajak mas Tan untuk temenin nonton."
"Sudah, biar aku yang bayar, gak usah debat, masih banyak yang ngantri di belakang." Jawab Tan.
Pegawai loket itu segera melakukan pencetakan dua tiket premiere dan menyerahkan pada Azrina tanpa ada kembalian uang karena memang harga satu tiket premiere 100 ribu untuk hari Sabtu, Minggu dan weekend.
"Masih ada lima jam lagi sebelum filmnya dimulai, jadi kita mau ngapain?" Tanya Tan yang berjalan keluar dari bioskop itu.
"Hmmm, kita jalan-jalan saja di mall ini untuk menghabiskan waktu." Jawab Azrina yang berjalan di samping Tan.
Tan menganggukkan kepalanya dan karena mereka belum makan siang, mereka berdua menuju ke food court yang ada di mall tersebut untuk makan siang yang sebenarnya sudah sangat terlambat.
Tapi sebelum itu Tan harus menunaikan kewajibannya sebagai muslim terlebih dahulu sehingga dia meminta Azrina untuk pergi duluan ke food court sedangkan dia pergi ke rooftop mall tersebut untuk melaksanakan sholat Ashar di musholla yang ada di sana.
Dia tidak mengajak Azrina untuk melakukan kewajibannya sebagai muslimah karena dari responnya saat Tan memberitahu kalau dirinya akan ke mushola, Azrina hanya menganggukkan kepalanya dan pergi ke food court sendirian.
Setelah melakukan kewajibannya sebagai muslim yang tidak menghabiskan waktu sebanyak lebih dari lima menit, dia langsung pergi menuju ke food court untuk menyantap makan siangnya bersama dengan Azrina.
Sesampainya Tan di area food court, dia mencari-cari keberadaan Azrina sambil mengeluarkan ponsel pintarnya untuk menghubungi perempuan itu sebagai alternatif bila tidak menemukannya.
"Kamu dimana?" Tanya Tan yang tidak menemukan keberadaan Azrina.
"Aku berada di lantai 3, depan outlet pakaian xxxx." Jawab Azrina.
"Oke aku kesana, jangan pergi sampai aku tiba." Pinta Tan yang segera berjalan dan kemudian mengakhiri pembicaraan tersebut.
Dia segera ke lantai 3 dan mencari outlet yang dikatakan oleh Azrina. Setelah mencari-cari hampir setengah jam, dia menemukan perempuan itu berada di lokasi seberang dari tempatnya berada sehingga Tan harus berjalan memutar untuk sampai ke tempat perempuan itu.
"Kenapa kamu disini? Bukankah kita akan makan di food court?" Tanya Tan.
"Ya, aku jalan-jalan sebentar, mas." Jawab Azrina.
"Siapa ini, Rina?" Tanya seorang pria yang sedang merangkul pinggang seorang perempuan yang seumuran atau lebih atau kurang dengan Tan. Setidaknya tidak terlalu jauh dari umur pria itu.
Perempuan itu membawa beberapa kantong tas belanja brand pakaian pria maupun wanita.
Sebenarnya Tan sudah melihat dua orang itu saat dia mendekati Azrina, akan tetapi Tan mengabaikan mereka berdua dan fokus pada Azrina.
"Kamu tidak perlu tahu!" Jawab Azrina dengan ketus dan memegang tangan Tan, menariknya untuk pergi. "Ayo kita pergi mas."
Tan sedikit terkejut dengan reaksi Azrina itu dan juga selama dia berhubungan dengan perempuan itu, baru kali ini melakukan kontak fisik, meskipun hanya berpegangan tangan.
"Tunggu Rina, bukankah kamu ingin makan." Panggil pria itu yang membuat Azrina berhenti begitu juga dengan Tanaka. "Bagaimana kalau kita makan bersama? Apa tidak apa-apa sayang?"
"Tidak masalah sayang." Jawab perempuan itu. "Itupun kalau perempuan itu mau."
Tan dan Azrina berbalik melihat mantan pacarnya dengan kekasih barunya yang lebih tua darinya dengan tatapan tajam. Bila saja tatapan seperti pisau maka mantan pacarnya itu sudah tertusuk ribuan pisau.
Azrina merasa sangat menyesal dan kesal karena dirinya pernah menjalani hubungan dengan pria paling brengsek itu.
"Pria brengsek yang pernah aku bicarakan dan perempuan itu mungkin sugar baby-nya." Jawab Azrina dengan ketus.
Tan menganggukkan kepalanya, "Jadi apa yang ingin kamu lakukan?" Tanya Tan.
"Tentu saja kita pergi, memang apa lagi? Aku tidak ingin melihat wajahnya lagi untuk seumur hidupku." Jawab Azrina yang berbalik lagi untuk meninggalkan tempat itu.
Melihat Azrina yang pergi, mantan pacarnya itu masih terus mengucapkan kata-kata yang cukup provokasi tentang dirinya, mantan sahabatnya bahkan tentang Tanaka.
Azrina yang mendengar ucapan buruk tentang Tanaka, membuat dia berhenti melangkah dan berbalik menatap mantan pacarnya itu dengan sangat tajam, bahkan lebih tajam dari sebelumnya.
"Kamu!" Panggil Azrina dengan penuh kemarahan.
Tan berdiri di depan Azrina, menatap ke arah mantan pacar perempuan yang dia lindungi itu.
"Tadi, kamu bilang ingin makan juga, kalau begitu ayo kita makan bersama." Ajak Tan yang membuat Azrina kaget.
"Mas Tanaka!" Panggil Azrina di belakang Tanaka yang bingung. "Mengapa mas mengajaknya?"
"Maaf, aku ingin sedikit memberikan pelajaran padanya, bolehkah?" Tanya Tan yang meminta ijin pada Azrina.
Bila Azrina tidak mengijinkannya, maka Tan akan membatalkan rencananya itu.
Azrina berpikir sejenak dan kemudian membolehkan hal tersebut sehingga Tan melanjutkan rencananya.
"Kami berencana makan steak, apa tidak masalah?" Tanya Tan dengan santainya. "Kalau kalian berdua memiliki rencana ingin makan yang lain, ya apa boleh buat.
Dia ingin memberikan pelajaran pada mantan pacarnya Azrina itu dengan harta kekayaan yang dimilikinya dan dia memilih makanan steak karena dari sekian banyak jenis makanan, hanya makanan jenis daging yang mahal, apalagi daging sapi.
"Apa tidak masalah dengan steak? Kalau ya kita bisa ganti yang lain." Bisik Tan pada Azrina dibelakangnya.
"Tidak apa, aku juga suka dengan steak." Jawab Azrina yang masih bingung apa yang akan dilakukan oleh Tanaka.
"Sayang, mereka ingin makan steak, apa kamu tidak masalah?" Tanya mantan pacar Azrina itu pada sugar baby-nya.
"Tidak masalah, bila kamu juga menginginkannya, sayang." Ujar perempuan itu yang kemudian memberikan ciuman bibir to bibir dengan santainya.
Tanaka yang melihat itu merasa kalau mereka berdua benar-benar tidak memiliki rasa malu melakukan hal itu di tempat umum.
"Kalau begitu, ayo kita pergi, aku melihat ada restoran steak di dekat area food court." Ujar Tanaka yang segera berbalik, memegang tangan Azrina yang membuat perempuan itu terkejut dengan tindakan Tanaka tersebut.
Mantan pacar Azrina yang melihat itu merasa kesal karena bagaimanapun dia masih tidak terima kalau Azrina mengakhiri hubungan dengannya.
Dia masih menginginkan Azrina menjadi kekasihnya karena bagaimanapun belum ada wanita yang mengalahkan kecantikan dan perfect body yang dimiliki oleh Azrina.
Mantan pacar Azrina itu menjalin hubungan dengan mantan sahabat Azrina hanya untuk pelampiasan seksual baginya karena Azrina selalu memberikan penolakan untuk melakukan hal itu.
"Bagaimana bisa perempuan \*\*\*\*\*\* itu berhubungan dengan pria jelek dan membosankan seperti itu?" Pikir mantan pacar Azrina itu.
"Ada apa sayang?" Tanya perempuan yang berada di sebelahnya.
"Ah, tidak apa-apa, ayo kita ikuti mereka." Jawab mantan pacar Azrina sambil merangkul pinggang yang sesekali dia turunkan ke pantat perempuan itu dan meremasnya.
"Ah! Kamu ini nakal ya." Ujar perempuan itu dengan genit.
"Hahaha, aku sudah tidak sabar ingin merasakan keganasan yang kamu lakukan itu." Ujar mantan pacar Azrina itu.
Mereka berempat pun berjalan menuju ke lift agar lebih cepat sampai ke restoran steak tersebut.
Selama perjalanan itu, Tanaka dan Azrina harus benar-benar harus bertahan dengan sikap tidak tahu malunya dengan pasangan yang mengikuti mereka berdua.
Sesampainya di depan restoran yang bernama Meaty, mereka langsung masuk dan disambut oleh seorang pegawai restoran tersebut.
"Selamat datang di restoran Meaty, untuk berapa orang?" Tanya pegawai itu.
"Empat, apa ada ruang privat?" Tanya Tanaka.
"Mohon maaf, kami tidak menyediakan ruang privat." Jawab pegawai itu.
"Oh, baiklah, tidak masalah, ada meja yang kosong kan untuk empat orang?" Tanya Tanaka.
"Tentu saja ada, silahkan ikuti saya." Jawab pegawai itu.
Mereka berempat mengikuti pegawai itu yang memandu ke sebuah meja kosong.
Mereka berempat pun segera duduk dengan pasangan masing-masing dan pegawai itu memberikan buku menu ke mereka berempat masing-masing.
Mereka berempat pun membuka buku menu mereka masing-masing dan secara tiba-tiba, mantan pacar Azrina berbicara.
"Silahkan pesan apa saja yang kalian berdua inginkan, aku yang akan mentraktirnya." Ujar mantan pacar Azrina itu dengan penuh kesombongan.
Sugar baby mantan pacar Azrina itu langsung memuji kedermawanannya sehingga membuat pria itu merasa sangat tinggi hati.
Sedangkan Tanaka tersenyum seringai dan segera mengganti sedikit rencananya yakni tentang siapa yang akan mentraktir.
Awalnya dia yang akan mentraktir pasangan gak punya malu itu dengan makanan paling mahal di restoran steak tersebut.
Akan tetapi sekarang posisi yang mentraktir berubah sehingga Tanaka hanya tersenyum seringai.
"Benarkah? Wah kamu baik sekali." Puji Tanaka dengan berpura-pura merasa senang. "Kalau begitu, aku akan menerimanya dengan senang hati."
"Mbak, apa ada daging impor di restoran ini?" Tanya Tanaka.
"Tentu saja, permisi." Ujar pegawai itu yang meminta ijin untuk membalikkan lembaran menu ke halaman yang menampilkan daging impor.
"Kami memiliki daging sapi impor dari Kobe, jepang dan itu merupakan daging kualitas A5." Jelas pegawai itu.
Tanaka melihat harga yang tertera di buku menu bagian daging sapi impor paling murah adalah 1,5 juta untuk 200 gram.
"Kalau gitu, bisa berikan rekomendasi daging bagian apa yang paling enak, Mbak?" Pinta Tanaka.
Pegawai itu memberikan rekomendasi daging bagian tenderloin karena memang sangat nyaman untuk dimakan daripada bagian lainnya.
Tanaka melihat untuk tenderloin memiliki harga paling murah 2,4 juta untuk 200 gram.
"Hmmm, sepertinya enak, bagaimana denganmu, Azrina?" Tanya Tanaka yang menatap ke arah perempuan yang duduk dihadapannya sambil mengedipkan matanya.
"Ya, sepertinya memang enak, kalau gitu aku pesan yang itu juga." Ujar Azrina yang menyadari arti kedipan mata Tanaka.
Pria itu segera menatap ke arah mantan pacar Azrina yang sudah berkeringat dingin karena melihat harga steak tersebut.
"Bagaimana, tidak masalahkan? Kalau merasa terlalu mahal untuk mentraktir tidak masalah, biar aku saja yang mentraktir kalian berdua." Ujar Tanaka yang memprovokasi mantan pacar Azrina itu.
Meskipun mantan pacar Azrina itu akan mengambil ludahnya yang telah keluar, baginya tidak ada masalah karena harga segitu untuk empat porsi cukup kecil dengan harta kekayaan yang dimilikinya.
"T-tidak masalah, aku sudah mengatakan kalau ingin mentraktir jadi aku akan melakukannya, silahkan pesan yang kalian inginkan." Ujar mantan pacar Azrina dengan gugup.
Tanaka tersenyum dan kemudian memesan steak Kobe tenderloin 500 gram yang harganya mencapai 3,5juta dan Azrina juga sama tapi yang 200 gram karena 200 gram sudah cukup banyak untuknya.
Mendengar Tanaka yang memesan lebih besar membuat mantan pacar Azrina itu memaki-maki Tanaka dalam pikirannya, bahkan dia sudah memikirkan tubuh Tanaka yang ditusuk-tusuk ribuan pisau.
Meskipun begitu pria itu masih memberikan senyuman dengan keringat dingin keluar sedikit demi sedikit di wajahnya.
Pasangan tidak tahu malu itupun juga memesan yang sama seperti Azrina.
Pegawai restoran yang tidak tahu apa-apa itu hanya tersenyum senang karena dia akan mendapatkan komisi besar karena telah menjual menu daging impor Kobe tersebut sebanyak 4 porsi.
"Oh, kita belum berkenalan, aku Devon dan ini kekasihku, Vina." Ujar Devon yang memperkenalkan dirinya dan sugar baby-nya itu.
"Aku, Tanaka." Ujar Tanaka yang juga memperkenalkan dirinya.
"Oh, apa kamu orang jepang?" Tanya Devon.
"Tidak, aku orang Indonesia asli." Jawab Tanaka.
Devon menganggukkan kepalanya dan kemudian menatap ke arah Azrina.
"Kalau kamu belum tahu, aku itu mantan pacarnya Rina." Ujar Devon yang tiba-tiba mengungkit tentang hubungan sama Azrina. "Dia secara tiba-tiba meninggalkan aku begitu saja, aku tidak tahu alasannya karena itu terjadi secara tiba-tiba saja."
Azrina menatap dengan tajam ke arah Devon dan ingin sekali memotong lidahnya itu karena berkata kalau seolah dirinya yang salah.
"Tapi karena dia pergi meninggalkan aku, Vina muncul dan menyembuhkan perasaanku yang terluka akibat Azrina yang pergi tanpa alasan." Ujar Devon yang memegang tangan sugar baby-nya itu dengan erat, kemudian mengangkatnya dan mencium punggung tangan perempuan itu.
Dia ingin menunjukkan keromantisan antara dirinya dengan Vina agar Azrina merasa cemburu dan kesal.
"Hmmm, seperti itu ya." Ujar Tanaka dengan santainya. "Tapi mungkin Azrina melakukan itu karena itu adalah keputusan yang tepat untuk hidupnya."
Mendengar jawaban seperti itu membuat Devon menatap Tanaka dengan tatapan tersinggung.
"Upps, jangan tersinggung dulu." Ujar Tanaka yang melihat ekspresi wajah Devon. "Yang aku maksud itu adalah dengan keputusannya itu, dia jadi bertemu dengan aku."
Tanaka menatap kearah Azrina yang juga terkejut mendengar ucapannya. Dia hanya memberikan senyuman dan kedipan mata pada perempuan itu.
"Begitu ya, kalau boleh tahu, apa kamu kekasihnya?" Tanya Devon yang akhirnya menanyakan intinya secara langsung.
Tanaka menggelengkan kepalanya, "Tidak, aku hanya teman dekatnya." Jawab Tanaka dengan santainya.
Jawaban itu entah kenapa membuat Azrina merasa sangat kecewa sehingga tanpa sadar dia menundukkan kepalanya.
"Tapi kita tidak tahu kedepannya." Lanjut Tanaka yang membuat Azrina menegakkan kepalanya dan melihat ke arah Tanaka. "Bisa saja aku menjadi kekasihnya, bisa juga tidak, siapa yang bisa memastikan hal itu kecuali hanya Tuhan."