MIRACLE: SUPER RICH!!!

MIRACLE: SUPER RICH!!!
Plin Plan



Setelah mengakhiri pembicaraan dengan Bu'lek Asmuni, Tan meletakkan ponsel pintarnya ke samping, dia atas sofa panjang yang dia gunakan untuk duduk.



"Apa aku harus pergi?" Gumam Tan yang masih memikirkan tentang pembicaraan dengan Bu'lek Asmuni sebelumnya.



Dia sebenarnya tidak ingin pergi karena Tan tidak tahan dengan sikap dari saudara-saudara dari pihak ibunya, kecuali bu'lek Asmuni yang terlalu merendahkan dan meremehkan keluarganya, terutama ayahnya yang hanya pegawai rendahan di bank.



Meskipun bank tempat kerja ayahnya itu adalah bank pusat negaranya yang membuat, membuat kebijakan dan mengatur akan peredaran uang di negaranya, yakni Indonesia.



"Tapi aku sudah bilang ikut sama bu'lek Asmuni dan juga katanya nenek ingin bertemu dengan aku." Gumam Tan yang mulai plin plan akan keputusan yang akan dia ambil.



Selama hampir setengah jam, Tan berpikir apakah menghubungi Bu'lek Asmuni lagi untuk memberitahu kalau dirinya tidak jadi ikut atau tetap seperti yang dia katakan pada adik perempuan dari ibunya itu.



"Sepertinya aku memang harus ikut hadir, bagaimanapun nenek telah meminta aku untuk hadir, tidak mungkin aku menolak keinginan nenek, apalagi di hari ulang tahunnya." Gumam Tan yang sudah menegaskan keputusannya.



Selama setengah jam itu, Tan telah membuang waktu yang sia-sia hanya untuk mencari berbagai alasan agar dia tidak jadi ikut dalam acara kumpul keluarga tersebut, tapi semua alasan yang membuat dirinya tidak ikut dibantah olehnya sendiri sehingga hasilnya keputusannya masih sama seperti awal.



Ini sudah sering dia lakukan dan kebanyakan orang yang introvert juga melakukan hal yang sama seperti dirinya, mencari-cari alasan agar tidak keluar dari zona nyamannya, yakni kesendirian.



Setelah membuang waktu yang dianggap hanyalah sebuah kesia-siaan bagi orang yang bukan introvert, Tan mengambil kembali ponsel pintarnya untuk mencari lebih banyak lagi tentang perkejaan ojek online.



Sebuah pekerjaan yang sangat tidak cocok untuk seorang yang memiliki sifat introvert seperti dirinya itu.



Selagi mencari informasi tentang pekerjaan tersebut, sebuah pesan dari aplikasi ojol muncul di layar ponsel pintar tersebut.



Pesan yang memberitahukan pada Tan kalau ojol yang menerima orderannya telah tiba di depan rumahnya.



Tanpa banyak tingkah, Tan segera beranjak dari sofa nyamannya itu, menuju ke pintu samping yang berada di belakang sofa.



Berjalan keluar rumah setelah membuka pintu samping tersebut, menuju pintu pagar kecil.



"Selamat siang, pesanan makanan atas nama pak Tanaka?" Tanya driver ojol yang memakai sebuah jaket hitam dengan tulisan OKJECK berwarna emas terang di bagian dada kiri dan bendera Indonesia di bagian dada kanan pada jaket tersebut.



"Ya, dengan saya sendiri." Sahut Tan, sambil menerima kantong plastik yang berisi berbagai makanan untuk makan siangnya. "Pembayarannya sudah dilakukan dengan dompet digital kan?" Tanya Tan.



"Ya, kalau begitu saya permisi dulu pak." Ujar driver ojol tersebut.



"Oh, tunggu sebentar pak, saya ingin tanya sesuatu, boleh?" Tanya Tan yang menghentikan langkah kaki driver ojol itu.



"Boleh, mau tanya apa ya pak?" Tanya driver ojol itu.


Tan langsung bertanya beberapa hal tentang pekerjaan ojol, terutama tentang cara daftarnya.


Driver ojol itu dengan ramah menjawab setiap pertanyaan yang diajukan oleh Tan. Meskipun dia ingin cepat-cepat pergi ke tempat yang biasanya banyak orderan bermunculan.



Namun karena ada aturan tentang pelayanan terbaik untuk customer, dia harus memberikan pelayanan terbaik tersebut agar rantingnya tidak turun bila saja customer memberikan penilaian buruk hanya karena pelayanannya yang tidak bagus atau tidak memuaskan.



"Baiklah saya sudah lebih banyak mengerti, mohon maaf sudah menahan waktu Anda, pak." Ujar Tan.



"Tidak apa-apa, saya sebagai driver OKJECK memang harus memberikan pelayanan yang terbaik untuk setiap customer, mohon tolong bintang limanya ya pak." Ujar driver ojol itu.



Tan menganggukkan kepalanya dan kemudian melihat kepergian driver ojol itu sampai tidak terlihat lagi, baru dia menutup pagar dan masuk ke dalam rumah.



Setelah dia menaruh kantong plastik di atas meja makan, dia mengarahkan pandangan ke layar ponsel dan mengetuk beberapa kali di layar tersebut.



Tan sedang memberikan penilaian bintang lima dan sebuah tips untuk driver ojol tersebut dan tips yang diberikannya untuk driver ojol tersebut, sebesar 500 ribu.



Sebuah angka yang cukup besar untuk hanya sekedar tips dan itu akan membuat driver ojol itu akan terkejut saat mengetahui hal tersebut.



Akan tetapi bagi Tan itu hanya sebuah angka kecil bila dibandingkan dengan uang yang dimilikinya saat ini.


Sementara itu, Driver ojol yang mengantar pesanan makan siang Tan sudah sampai di lokasi strategis akan banyak muncul orderan.


Dia mengobrol dengan rekan-rekan ojol yang ada di tempat itu, baik itu sesama aplikator maupun yang berbeda, sambil menunggu orderan baru muncul di layar ponsel pintarnya.



Pada saat dia mengecek aplikasi ojol yang dikhususkan untuk driver, dia terkejut melihat kalau saldo akunnya telah bertambah 500 ribu.




"Astaga, mimpi apa aku semalam, baru kali ini ada costumer memberikan tips sampai 500 ribu." Ujar driver ojol itu.



Ucapan itu membuat driver ojol lainnya yang dekat dengannya mendengar dan merasa tidak percaya.



"Ini lihat sendiri, kalau tidak percaya." Ujar driver ojol itu.



Driver ojol lainnya langsung melihat layar ponsel pintar driver ojol itu dan mereka tercengang tidak percaya karena baru pertama kalinya mereka melihat tips dengan angka sebesar itu.



"Wow, apa costumer kamu ini orang kaya? Bagaimana mungkin dia benar-benar memberikan tips sebesar itu." Tanya seorang driver yang juga menggunakan aplikator yang sama.



"Dari segi penampilan dan rumahnya, costumer ini terlihat seperti orang biasa saja, tidak kaya ataupun miskin, tapi bila dia berikan tips sebesar ini, tentu saja kalau orang itu benar-benar kaya raya dan dermawan." Jelas driver ojol itu dengan sangat bersyukur atas kelimpahan rejeki yang tiba-tiba tersebut.



Pada saat itu juga, secara tiba-tiba suara notifikasi orderan berbunyi di ponsel pintarnya dan itu membuat driver ojol itu tersenyum senang.



Sedangkan driver lainnya merasa iri dengan driver ojol itu karena bukan mereka yang mendapatkan uang sebanyak itu.



"Wo~ baru datang, langsung nyantol, gacor!" Ujar driver ojol lainnya yang menggunakan aplikator yang sama.



"Hahaha, mungkin hari ini pintu rejeki aku lagi dibuka lebar oleh Tuhan." Jawab santai driver ojol itu yang melangkahkan kakinya menuju ke motor dan meninggalkan tempat itu menuju ke lokasi costumer berada.



Waktu berjalan dengan cepat tanpa terasa, hari kemarin, Minggu telah usai dan diganti dengan hari ini, hari Senin.



Tan yang selesai dengan mandi paginya, langsung berpakaian rapi, tapi tetap kasual, yakni sebuah kaos dengan dibaluti jaket zipper dan celana jeans panjang.



Menghadap kaca sambil menyisir rambut yang agak basah dan acak-acakan agar menjadi rapi.



Merasa rambutnya sudah terlihat rapi, Tan langsung mengambil tas ransel untuk memeriksa isi tas tersebut.



"Akte lahir serta foto copy nya, formulir pendaftaran, 12 pas foto 4x6, kartu keluarga serta foto copy nya, foto copy E-KT, dan BPKB." Gumam Tan sambil memeriksa satu persatu akan apa yang dia ucapkan itu sudah ada di dalam tas ransel tersebut.



Merasa semua dokumen persyaratan yang harus dia bawa telah berada di dalam tas ransel, Tan segera berjalan ke pintu samping rumahnya untuk keluar dari rumah tesebut, menuju ke garasi untuk mengeluarkan sepeda motor.



Hari ini, dia memiliki banyak hal yang harus dia lakukan di luar rumah, sehingga dia harus berangkat pagi-pagi.



Ada tiga tempat yang harus dia kunjungi, pertama kantor polisi untuk membuat SKCK, kedua tempat penjualan motor bekas dan terakhir dealer motor resmi dari merk yang sama dengan motor yang akan dia jual hari ini.



Tan membuat SKCK karena itu adalah salah satu dokumen persyaratan yang akan digunakan untuk mendaftar menjadi driver ojol.



Motornya dia jual karena perusahaan aplikator yang akan menjadi tempat dia mendaftar sebagai ojol tidak sesuai dengan persyaratan tahun kelayakan motor yang diinginkan oleh perusahaan aplikator tersebut.



Sehingga dia harus terpaksa menjual motor lamanya yang sudah banyak sejarah dilalui dengannya itu dan membeli motor baru agar bisa memenuhi persyaratan pendaftaran ojol tesebut.



"Ini akan menjadi hari terakhir aku mengendarai motor ini." Gumam Tan sambil mengelus motornya yang sudah menemaninya dari zaman awal mahasiswa sampai sekarang.



Banyak kenangan yang ada pada motor itu, terutama kenangan saat dirinya masih berpacaran dengan Saras.



"Kenapa aku harus mengingat dirinya lagi? Dia sudah memutuskan masa depannya dengan pria lain, bukan padaku, jadi lupakanlah dia, Tanaka!" Gumam Tan yang memperingati dirinya sendiri.



Pria itu menggelengkan kepalanya dan menghembuskan nafasnya mencoba untuk menghapus kenangan Saras yang telah dia jalani dengan menggunakan motor maticnya itu.



"Sepertinya menjual motor matic ini ada bagusnya juga." Gumam Tan lagi, sambil mengarahkan motor keluar garasi.



Dia membuka pintu pagar besar dan membawa motor itu keluar dari area halaman rumahnya.



Tan segera mengendarai motor matic lamanya itu ke jalan, setelah dia menutup pagar dan menguncinya dengan sebuah gembok.



Dia mengendarai motor itu menuju ke arah pusat kota Yogyakarta, karena di sanalah kantor polisi, tempat dia akan membuat SKCK.