
Motor yang dikendarai oleh Tan, dengan cepat sampai di lokasi akhir dari orderan yang dibuat oleh Azrina.
"Kak, sudah sampai." Ujar Tan saat merasa penumpangnya tidak turun juga dari motor, meskipun sudah di lokasi tujuan dan berhenti.
Meskipun Tan mengatakan hal itu, Azrina tidak mendengarnya, bahkan dia tidak menyadari kalau dirinya sudah berada di lokasi tujuannya.
Dia hanya duduk diam dan melamun dengan pandangan ke arah bawah.
"Kak?" Panggil Tan lagi sambil melihat ke belakang.
"Eh, ah, ya, ada apa pak?" Tanya Azrina yang terkejut.
"Kita sudah sampai, kak." Jawab Tan.
"Hmm ... Apa?" Tanya Azrina dengan ekspresi linglung.
"Kita sudah sampai kak, di jalan Johar no 07, kota baru." Jawab Tan.
Azrina melihat-lihat sekitarnya sampai otaknya telah kembali berfungsi dengan normal sehingga menyadari kalau dia memang sudah berada di jalan Johar, tempat kediamannya berada.
"Ah, maaf, aku tidak sadar kalau sudah sampai." Ujar Azrina yang langsung turun dari motor Tan.
"Berapa pak?" Tanya Azrina.
Tan menyebutkan nominal harga dan itu sedikit lebih murah daripada saat pergi ke H-mall. Ini dikarenakan rute yang diarahkan oleh aplikator lebih pendek daripada sebelumnya.
Azrina mengeluarkan selembar uang kertas 50 ribu.
"Kembaliannya 30 ribu aja pak." Ujar Azrina.
Tan hanya menganggukkan kepalanya dan memberikan uang selembar 20 ribu yang sebelumnya milik Azrina saat membayar di H-mall.
"Kak, helmnya." Ucap Tan saat menyadari kalau Azrina ingin masuk ke area rumahnya.
"Oh, ya, maaf pak, lagi-lagi aku lupa." Ucap Azrina yang tertawa pelan.
Dia melepaskan helm yang ada di kepalanya dan ingin memberikan pada Tan, tapi helm tersebut tertahan di tangan perempuan itu.
Tan merasa heran akan hal tersebut dan beberapa saat kemudian dia terkejut karena melihat Azrina telah mengeluarkan air mata yang mengalir membasahi kedua pipinya.
"Eh? Eh? Ada apa ini? Kenapa dia tiba-tiba menangis?" Tanya Tan dalam pikirannya.
"Maaf pak, tiba-tiba aku seperti ini." Ucap Azrina sambil mengusap air mata yang membasahi kedua pipinya setelah memberikan helm pada Tan.
"Ya, tidak apa-apa, sepertinya kakak punya masalah yang cukup berat, meskipun saya orang asing bagi kakak dan tidak ada hak untuk mengatakan ini, tapi bila kakak mau mendengarkan, saya ingin mengatakan sesuatu pada kakak yang mungkin bisa meringankan masalah kakak." Jelas Tan.
"Apa itu pak?" Tanya Azrina yang penasaran.
"Tuhan tidak akan memberikan cobaan pada hambanya tanpa ada solusi, semua cobaan yang diberikan oleh Tuhan pasti selalu ada solusinya dan cobaan itu tidak mungkin melebihi dari kemampuan yang bisa dilakukan oleh hambanya." Jelas Tan.
"Jadi jangan menyerah dan terus berjuang, saya yakin kakak bisa menyelesaikan masalah yang kakak hadapi saat ini." Lanjut Tan.
Azrina menganggukkan kepalanya. "Terima kasih pak atas nasehatnya."
"Tidak masalah, bila perkataan saya dapat meringankan masalah yang kakak hadapi, saya sangat senang dan bersyukur bisa melakukannya." Jelas Tan.
"Kalau gitu, saya permisi dulu, kak." Ucap Tan yang mulai menghidupkan mesin motornya dan ingin meninggalkan Azrina.
"Pak ... " Panggil Azrina secara tiba-tiba.
Tan melihat ke arah Azrina lagi.
"Ya, kak?" Tanya Tan.
"Hmm ... Apa bapak sibuk? Punya waktu? Saya ingin minta tolong pada bapak lagi." Ucap Azrina dengan ragu.
"Kalau ditanya sibuk atau tidak, saya hanya menunggu orderan masuk saja, jadi bisa dikatakan tidak terlalu sibuk, apa yang bisa saya bantu kak?" Tanya Tan.
Dia memang tidak sibuk karena akunnya masih dalam tahap akun bayi yang baru lahir kurang dari satu bulan.
"Aku ingin bapak menemaniku sebentar saja, apa bapak bisa? Tentu saja aku akan membayar waktu yang bapak habiskan saat bersamaku." Tanya Azrina.
Tan terkejut mendengar itu.
"Kenapa saya? Apa Kakak tidak punya teman dekat ... Baiklah kak, saya bisa meluangkan waktu untuk kakak." Ujar Tan yang mengabulkan keinginan dari Azrina.
Dia melakukan hal itu saat melihat gelagat Azrina yang saat ditanya teman dekat, ada eskpresi marah, kecewa dan sedih dari wajahnya.
Selain itu, Tan merasa kalau perempuan yang menjadi costumernya itu memang perlu orang untuk mendengarkan keluh kesahnya.
"Terima kasih pak, di dekat sini ada cafe yang bagus, kita bisa kesana." Ujar Azrina.
Tan menganggukkan kepalanya dan memberikan helm ojolnya pada perempuan itu sekali lagi.
Azrina menerimanya, memakai helm ojol itu di kepalanya lagi dan kemudian naik ke motor untuk duduk di belakang Tan.
Saat dirasa Azrina sudah dalam posisi sudah siap untuk berangkat, Tan langsung mengendarai motor maticnya itu menuju ke kafe dengan arahan dari perempuan itu.
Perjalanan dari tempat tinggal Azrina menuju ke kafe, hanya menghabiskan waktu sekitar 7 menit.
Tan melihat nama kafe yang mereka berdua datangi itu adalah kafe Luna De Luna.
Mereka berdua segera masuk ke dalam cafe tersebut setelah Tan memarkirkan motornya ke tempat parkir motor yang disediakan oleh kafe itu.
Suasana kafe itu memakai konsep ala bohemian dengan arsitektur mirip seperti sebuah villa klasik zaman kekaisaran Romawi.
Tidak terlalu banyak orang yang mengunjungi tempat tersebut, Tan hanya melihat ada 8 pengunjung.
Azrina berjalan menuju ke area yang tidak ada pengunjung lainnya yang menempati kursi di area tersebut karena dia tidak ingin orang-orang mendengar curhatan nya.
Saat berjalan menuju ke area tersebut, beberapa orang menatap dengan penuh keheranan akan kehadiran Tan dan Azrina.
Orang-orang itu menatap heran karena Tan masih menggunakan jaket ojolnya, berjalan berdampingan dengan seorang perempuan cantik dan mengunjungi sebuah kafe yang bisa cukup dikenal sebagai kafe yang pengunjungnya adalah golongan menengah ke atas.
Mereka mengambil tempat yang paling ujung atau pojok dan duduk saling berhadapan.
Seorang pelayan pria datang menghampiri mereka berdua dengan membawa buku menu, menyerahkan pada Azrina dan Tan.
"Silahkan pesan apapun yang bapak inginkan, jangan khawatir, aku yang akan bayar." Ujar Azrina sambil melihat menu yang ada di kafe tesebut.
Tatapan pelayan pria itu langsung ke arah Tan dan tersenyum sinis karena mendengar kalau Azrina yang membayar bukan Tan.
Selain itu, dia merasa sedikit senang dan lega karena tidak ada hubungan khusus antara Tan dan Azrina seperti yang dia dan lainnya pikirkan.
Kesimpulan itu dia ambil setelah mendengar Azrina memanggil Tan dengan panggilan bapak.
Tan hanya memesan minuman es teh leci sedangkan Azrina memesan pizza original buatan kafe itu dan sebuah minuman milkshake vanilla.
Setelah pelayan itu pergi, Tan dan Azrina hanya terdiam seribu bahasa. Tan hanya menunggu Azrina yang berbicara karena dia di undang hanya untuk menemani Azrina untuk mendengarkan keluh kesahnya.
Sedangkan Azrina merasa bingung untuk memulai darimana dia harus bercerita. Hal ini karena Tan adalah orang asing yang tiba-tiba dia ajak untuk menemaninya agar dia bisa mengeluarkan semua keluh kesahnya.
Sebenarnya, dia juga merasa kaget pada dirinya sendiri yang tiba-tiba mengajak seseorang untuk menemani dirinya, apalagi orang itu adalah pria.
Dia membutuhkan seorang untuk mendengarkan keluh kesahnya daripada dipendam terus menerus akan membawa kerugian bagi dirinya sendiri.
Azrina memiliki seorang teman perempuan yang sangat dekat dengannya dan menjadi teman curhatnya baik itu saat senang maupun saat sedih.
Akan tetapi saat ini, teman dekatnya itu tidak bisa dia jadikan sebagai teman curhatnya karena saat ini curhatannya berhubungan dengan teman dekatnya itu.
Mereka berdua masih terdiam begitu saja sampai seorang pelayan perempuan datang membawa minuman yang mereka pesan.
Pelayan itu meletakkan minuman di atas meja sesuai dengan yang dipesan oleh Tan dan Azrina, setelah itu dia langsung pergi meninggalkan mereka berdua.
Meskipun pelayan perempuan itu sudah pergi, tapi Azrina masih belum mau membuka mulutnya untuk berbicara dan Tan masih menunggu perempuan itu berbicara.
"Hahhh~"
Azrina menghela nafas panjang dan kemudian dia mulai berbicara.
"Pacarku selingkuh ... " Ujar Azrina dengan nada suara sedih, kecewa dan marah.
Tan yang mendengarnya terkejut, tapi dia masih diam, membiarkan perempuan yang di hadapannya untuk terus berbicara.
Dia merasa dirinya tidak harus berbicara karena Azrina hanya butuh seseorang untuk mendengarkan masalah yang dihadapinya, bukan meminta solusi atau motivator.
"Aku baru mengetahuinya tadi saat di H-mall dari teman dekatku yang sudah aku kenal dan akrab sejak SMA." Ucap Azrina.
"Tapi sahabatku yang sudah aku anggap sebagai keluarga, aku yang tidak memiliki adik ataupun kakak, sudah menganggap dia sebagai saudara perempuanku, hampir masa hidupku sejak SMA sampai beberapa waktu yang lalu aku habiskan bersamanya, baik senang maupun susah ... " jelas Azrina yang terus berbicara dan mulai mengeluarkan air matanya.
Tan hanya diam mendengar cerita Azrina dan saat air mata keluar, membasahi pipinya, Tan memberikan beberapa lembar tisu yang ada di atas meja padanya.
"Dan bapak tahu kalau ternyata selingkuhan pacarku itu adalah sahabatku itu!" Ujar Azrina dengan nada sedikit keras.
Tan masih diam seribu bahasa, dia hanya berusaha menjadi pendengar yang baik, bahkan dia mengabaikan orang-orang menatap ke arah mereka berdua saat Azrina bersuara keras tadi.
Dia hanya bersikap acuh pada sekitarnya karena saat ini dia hanya fokus pada cerita Azrina karena hal itulah yang dibutuhkan oleh perempuan itu darinya saat ini.