MIRACLE: SUPER RICH!!!

MIRACLE: SUPER RICH!!!
Mendaftar Sekolah Mengemudi mobil



Mendapatkan penolakan itu membuat ekspresi wajah Saras menjadi muram yang kemudian berubah menjadi kesal.


"Tan, seharusnya kamu menerima kebaikan tunangan aku ini, tapi kamu malah menolaknya, sadar diri kalau kamu itu masih punya hutang yang harus dibayar dan malah makan di restoran hotel bintang lima." Kata Saras yang berbicara dengan ketus dengan suara sedikit keras sehingga orang-orang yang berada di dekatnya dapat mendengar.


"Aku meminta tunangan aku yang baik hati ini untuk membayar tagihan kamu itu agar kamu bisa menyimpan uang kamu itu untuk membayar hutang, tunangan aku ini bukan orang sembarangan, dia adalah manajer pemasaran di perusahaan Jaya group yang ada di Jakarta dengan gaji 65 juta/bulan dan memiliki mobil Porsche Panamera seharga 3,9 miliar rupiah, uang 1,5 juta hanya secuil bagi tunangan aku, Harry Armando." Jelas Saras yang membanggakan kekayaan tunangannya.


Selain itu, dia juga memamerkan berbagai barang mewah dan branded yang telah diberikan oleh Harry, seperti tas Gusci dan Hermez.


Lalu ada perhiasan yang dia gunakan saat ini yang juga berasal dari merk terkenal di luar negeri yang harganya mencapai 45 juta lebih.


Tan yang mendengar itu sedikit kaget, bukan kaget karena kekayaan Harry dan pemberian barang mewah pada Saras tapi perilaku Saras yang sangat berubah. Saat menjadi pacarnya, Saras bukanlah tipe wanita materialis seperti saat ini.


Meskipun ada beberapa saat dia membicarakan berbagai hal tentang perhiasan, fashion, dan aksesoris dari merk terkenal dan ingin memilikinya, namun dia tidak meminta Tan untuk memberikan barang mewah itu sebagai hadiah untuknya.


Saras tahu dengan keuangan Tan yang Tidak mungkin mantan pacarnya itu bisa memberikan barang semewah itu karena Tan aja kesulitan untuk bertahan hidup, apalagi ditambah dengan adanya hutang, semakin tambah beban hidupnya bila Saras meminta hadiah barang mewah itu.


Perhiasan, fashion atau tas yang dibelinya untuk hadiah oleh Tan adalah produk lokal pinggir jalan yang harganya tidak lebih dari 100 ribu rupiah.


Namun, Saras tidak tahu bahwa Tan saat ini bisa mendapatkan barang-barang mewah itu, tidak peduli berapapun harganya dia yakin bisa membelinya untuk Saras


Selama dirinya memiliki penglihatan ajaib masa depan dalam kurung waktu 24 jam yang hanya bisa dia gunakan untuk melihat perkembangan harga investasi jangka panjang maupun jangka pendek.


"Ya Allah, apakah ini alasan Engkau memisahkan kami berdua karena Engkau mengetahui bahwa Saras memiliki sifat dan perilaku yang buruk padaku?" Tanya Tan dalam pikirannya.


Untuk pertama kalinya dia merasa lega sekaligus bersyukur berpisah dengan Saras. Allah SWT telah menolong dan melindungi dirinya dari maut kesengsaraan wanita materialis bernama Saras Mustika


Tan mengabaikan semua perkataan Saras dan meminta pegawai kasir untuk mempercepat proses pembayaran karena dia ingin jauh-jauh dari Saras.


Melihat sikap pengabaian Tan, membuat Saras semakin kesal sehingga dia terus menerus mencemooh dan merendahkan Tan dihadapan tunangannya.


"Sudahlah sayang, kamu sudah menunjukan hati yang baik padanya, bila dia tidak mau menerimanya biarkan saja, dia juga yang akan rugi karena tidak mau menerima kebaikan kamu." Kata Harry yang menenangkan Saras.


Harry sebenarnya tidak ingin mengeluarkan uang untuk membayar tagihan mantan pacar tunangannya itu karena tidak ada untungnya dia melakukan hal seperti itu.


Namun karena dia tahu kalau tunangannya itu ingin pamer atas kekayaan yang dimilikinya pada mantan pacarnya, dia mengabulkan keinginan Saras.


Bagaimanapun dia ingin memperlihatkan juga bahwa hanya dirinya yang pantas untuk mendapatkan Saras, bukan Tan yang diketahuinya pengangguran dan banyak hutang.


Harry sudah mengenal Saras sejak SMA kelas 1. Pada saat itu dirinya tidak sekaya seperti saat ini, keluarga juga keluarga biasa dengan perekonomian yang cukup untuk bertahan hidup.


Selain itu dia juga saat itu sangat culun sehingga kurang percaya diri untuk menyatakan perasaannya pada Saras saat itu.


Namun karena dirinya memiliki otak yang sedikit lebih cerdas dari orang pada umumnya, dia berhasil masuk ke fakultas ekonomi bisnis, Universitas Negeri Indonesia dengan jurusan manajemen, lalu setelah lulus lanjut masuk ke Harvard, Amerika serikat dengan mengambil jurusan bisnis melalui jalur beasiswa sehingga dia mendapatkan gelar MBA dengan prestasi cumlaude.


Dia kembali ke Indonesia setelah tiga tahun lamanya dan langsung mendaftar kerja di perusahaan Jaya group sebagai staf pemasaran yang kemudian naik jabatan hanya dalam beberapa bulan menjadi manajer karena berhasil mengerjakan proyek-proyek besar di perusahaan tersebut.


Dia bisa kembali bertemu dengan Saras, perempuan yang disukainya saat SMA itu secara tidak sengaja saat dirinya datang ke cabang perusahaan yang ada di Yogyakarta bersama dengan atasannya, direktur pemasaran dan pengembangan, Ayunindya Batari Jayantaka, anak kedua dan putri pertama dari keluarga Jayantaka yang merupakan pemilik perusahaan tempat dirinya bekerja.


Saat itu, Saras adalah staf legal dari perusahaan yang akan menjadi mitra bisnis perusahaan Jayantaka cabang Yogyakarta.


Karena ini adalah proyek besar dengan dana yang hampir mendekati 1 triliun, Ayunindya harus hadir sebagai direktur pemasaran dan pengembangan perusahaan Jayantaka untuk penandatanganan kontrak kerjasama.


Mereka bertemu saat itu yang kemudian kembali saling berhubungan di sela-sela waktu pekerjaannya selama Harry berada di Yogyakarta.


Sampai akhirnya dia memutuskan untuk melamar Saras secara tidak resmi pada Saras dan kedua orang tuanya.


Orang tua Harry belum saling bertemu dengan orang tua Saras, tapi Harry sudah menyatakan komitmennya pada orang tua Saras bahwa dia akan menjadikan Saras sebagai istrinya.


Saat itu Saras masih menjadi pacar Tan dan Harry tidak tahu karena Saras tidak memberi tahu hal itu padanya.


Kedua orang tuanya juga tidak memberi tahu pada Harry kalau anak perempuannya memiliki pacar karena melihat Tan yang tidak memiliki masa depan baik untuk anak perempuan mereka itu, mereka menerima Harry dengan tangan terbuka.


Satu hari setelah pelamaran tidak resmi itu, Saras bertemu dengan Tan untuk mengakhiri hubungannya dengan pria yang dianggap miskin dan tidak punya masa depan itu.


Proses pembayaran telah berhasil dilakukan, Tan segera pergi dari tempat itu dengan berpamitan pada Harry dan Saras hanya untuk bersikap sopan santun.


Meskipun mereka berdua menatap Tan dengan pandangan menghina dan merendahkan, dia tidak merasa tersinggung sama sekali, bahkan tidak memikirkannya sama sekali.


Saat akan melewati pintu restoran yang berfungsi untuk keluar masuk restoran, dia langsung disapa oleh Rita dan Mery yang sudah agak berubah sikapnya, melakukan tugasnya sesuai dengan SOP.


"Terima kasih atas kunjungannya dan kami tunggu kedatangan tuan ke restoran Royal Magurukmo dikemudian hari." Kata Mery dan Rita dengan sopan dan ramah.


Tan berhenti tepat di depan Rita yang merasa bingung dengan tindakan Tan. Dia melihat pria itu mengeluarkan dompet dari saku celana samping jeans-nya, membukanya sehingga terlihat beberapa lembaran uang 100 ribu dalam jumlah yang banyak, ada sekitar lebih dari satu juta.


"Ini tip buat mbaknya karena sudah melayani aku dengan baik, dari awal sampai akhir." Kata Tan sambil memberikan uang 100 ribu sebanyak lima lembar.


Rita terkejut dengan jumlah tip tersebut, sedangkan Mery lebih terkejut sekaligus sangat iri karena rekan kerjanya itu mendapat tip yang begitu banyak.


"Seandainya aku tidak berpikiran jelek pada pria ini dan melayaninya dengan baik dari awal, aku yang akan mendapatkan tip itu." Pikir Mery yang sangat menyesal.


"Tuan, ini terlalu besar untuk sebuah tip." Kata Rita dengan pandangan tidak percaya.


Dia sebenarnya tidak akan menolak tip yang diberikan oleh pengunjung atas pelayanannya. Tip itu adalah bentuk kepuasan dari pengunjung atas pelayanannya yang sangat baik.


Tapi kebanyakan pengunjung yang memberikan tip, paling besar nominalnya 100 ribu, tidak ada yang memberikan lebih dari itu selama ini, sampai akhirnya Tan memberikan tip 500 ribu rupiah padanya.


"Tolong diambil, ini bentuk apresiasi aku pada mbak yang sudah melakukan pekerjaan terbaik saat melayani aku, jangan menolaknya karena tidak baik menolak rezeki." Ucap Tan yang masih menyodorkan uang tip tersebut pada Rita.


Dengan ragu-ragu dicampur rasa senang karena mendapatkan uang banyak, Rita menerima uang tip itu dengan senang hati sambil memberikan senyum selebar mungkin di bibirnya.


Siapa yang bisa menolak bila ada orang yang menyodorkan uang dalam jumlah banyak. Tentu saja dengan tujuan yang baik bukan merugikan salah satu pihak.


Dia bahkan berpikir bahwa Tan akan meminta nomor kontaknya agar bisa saling berkomunikasi.


Bagaimanapun juga, Rita cukup percaya diri dengan kecantikan, postur tubuh dan penampilannya yang tidak kalah dengan artis-artis amatir di televisi.


Dia tidak akan menolak bila Tan meminta nomor kontaknya karena dia merasa Tan juga tidak terlalu jelek-jelek amat, masih masuk dalam standar tipe prianya.


Selain itu, Tan juga dilihat sebagai orang kaya karena Rita melihat lembaran uang 100 ribu yang cukup banyak di dompet pria itu dan dengan mudahnya memberikan tip 500 ribu rupiah, jadi ada kemungkinan masa depannya akan lebih baik bila dirinya menjadi istri pria yang ada dihadapannya saat ini.


"Setidaknya aku tidak akan mengalami masalah dengan uang bila menjadi istrinya." Pikir Rita.


Akan tetapi itu hanyalah pikirannya saja yang terlalu percaya diri karena dia melihat Tan langsung pergi meninggalkan restoran itu, tanpa meminta nomor kontaknya.


Tentu saja hal ini membuat Rita sangat malu karena sudah memikirkan hal seperti itu. Dia ingin sekali menggali lubang dan bersembunyi di dalam lubang itu.


Selepas keluar dari restoran itu, Tan langsung memesan taksi online dan menunggu kedatangan taksi online itu di lobby luar hotel Royal Magurukmo.


Tujuannya tidak lain adalah rumahnya karena dia tidak tahu harus pergi kemana lagi. Dia juga tidak memiliki teman. Hubungan sosialnya selama ini hanya sama Saras dan sekarang tidak lagi.


Sebagai pengidap introver stadium empat, dia hanya keluar bila ada perlu sesuatu yang diinginkannya dan hal itu harus membuat dirinya keluar rumah atau memiliki tujuan yang jelas. Bila tidak ada dua hal itu, maka dia akan berada di rumah sepanjang hari.


Hidupnya memang terlihat membosankan bagi orang yang melihat atau mendengar aktivitasnya, tapi baginya atau bagi orang yang mengidap psikologis yang sama seperti dirinya itu adalah hal biasa, hal yang menjadi rutinitas hidupnya.


Beberapa hari berlalu dengan cepat dan Tan menghabiskan waktu hariannya dengan tetap melakukan trading sesuai dengan jadwal yang telah dia tentukan sendiri.


Dalam beberapa hari tersebut, rekeningnya sudah mencapai 1 miliar lebih sehingga dia sudah pantas untuk menyandang sebagai miliarder.


Meskipun begitu, dia rasa bingungnya semakin bertambah. Dia kebingungan untuk menggunakan uang yang dimilikinya saat ini.


Dia sudah menggunakan uangnya untuk membayar renovasi rumah sebesar 25 juta dan di bayar lunas pada saat itu juga.


Renovasinya sudah selesai hanya dalam satu pekan sehingga rumahnya kembali terlihat baru lagi, bahkan lebih bagus saat ayahnya membeli rumah tersebut.


25 juta itu jumlah yang cukup kecil baginya saat ini yang uang telah menjadi 1 miliar lebih di rekeningnya. Dia harus kembali berpikir untuk menggunakan uang sebanyak itu karena bila hanya disimpan terasa melakukan hal yang sangat sia-sia.


Tan juga sudah membeli beberapa saham perusahaan di BEI melalui sekuritas BPS. Tentu saja dia membeli saham-saham yang perusahaan memiliki kredibilitasnya terjamin dan keuangan perusahaan itu stabil dalam setahun.


Dia sama sekali tidak memakai penglihatan ajaibnya saat membeli saham perusahaan tersebut karena hal itu tidak terlalu berpengaruh banyak pada keuntungan yang didapatkannya dalam jangka panjang.


Sehingga dia hanya membeli perusahaan yang memang aman untuk investasi jangka panjang, setidaknya, minimal untuk satu tahun.


Meskipun begitu, uangnya masih tersisa banyak meskipun dia sudah mengeluarkan 500 juta rupiah untuk membeli beberapa saham perusahaan yang aman tersebut.


Akibat melakukan trading terus menerus uang yang ada di rekerningnya tidak pernah berkurang, malah bertambah terus menerus.


Dia membeli laptop terbaru dari merk terkenal asal Korea Selatan dan mulai melakukan trading dengan laptop itu daripada dengan ponsel yang sudah membuat matanya sakit karena layarnya kecil.


Tentu saja dia melakukan trading dengan menggunakan website trading yang sama dengan aplikasi miracle trading karena uang modal tradingnya berada aplikasi tersebut.


Selain itu, miracle trading juga merupakan aplikasi yang tidak mengalami masalah atau kendala saat dirinya melakukan trading. Pergerakan harga tradingnya juga sangat sesuai dengan apa yang terjadi di pasar global.


"Apa aku beli mobil saja? Tapi aku tidak bisa nyetir mobil." Ucap Tan pada dirinya sambil bersantai di sofa depan tv dengan laptop di atas meja persegi berkaki pendek depan sofa tersebut.


Tan tidak bisa mengendarai mobil karena dia tidak bisa mengendarai kendaraan yang transmisi manual.


Meskipun sudah ada mobil matic seperti motor matic, tapi tetap saja mengendarai mobil dengan mengendarai motor sangat berbeda.


"Mungkin lebih baik aku, ikut kelas mengemudi dan kemudian membuat SIM A." Kata Tan pada dirinya.


Dia kemudian langsung mencari sekolah mengemudi mobil melalui aplikasi peta yang ada di ponsel pintarnya. Dia mencari posisi sekolah mengemudi paling terdekat dengan rumahnya.


Ada beberapa titik sekolah mengemudi mobil yang muncul dalam aplikasi peta tersebut, namun Tan memilih ranting yang paling bagus dari beberapa sekolah mengemudi mobil tersebut.


"Oke mari pergi ke sana sekarang." Kata Tan pada dirinya yang mematikan laptop dan kemudian beranjak dari sofa untuk pergi keluar menuju ke sekolah mengemudi mobil tersebut menggunakan sepeda motor maticnya.


Hanya dalam beberapa menit, Tan sampai ke sekolah mengemudi tersebut yang berada di area ruko. Bangunan ruko itu tidak terlalu besar dan tinggi, hanya ada dua lantai.


Tan memakirkan motornya di depan ruko tersebut dan langsung masuk ke dalam sekolah mengemudi tersebut yang berukuran kecil dan sepi.


"Selamat datang di sekolah mengemudi Lancar Mahir, ada yang bisa saya bantu, mas?" Sapa seorang perempuan yang terlihat berumur antara 28-32 tahun dengan ramah dan sopan.


"Aku ingin mendaftar kelas mengemudi mobil disini, berapa harganya?" Tanya Tan.


Perempuan itu kemudian mengeluarkan pamflet yang menjelaskan tentang paket kelas mengemudi di sekolah tersebut.


Tan melihat ada dua jenis kelas di pamflet tersebut, yakni kelas ekonomi, pertemuan 6x dalam sepekan dengan durasi belajar 2 jam dan kelas premium dengan pertemuan 4x dalam sepekan dan durasinya 4 jam.


Tanpa pikir panjang, dia mengambil kelas premium karena dia tidak ingin berlama-lama meskipun harganya mencapai 650 ribu rupiah.


Setelah melakukan registrasi dan pembayaran lunas secara tunai, proses belajar mengemudi tersebut langsung dilakukan saat itu juga.


Perempuan itu beranjak ke lantai dua untuk memanggil instruktur mengemudi mobil yang masih stand by karena belum mendapatkan murid.


Beberapa saat kemudian perempuan itu kembali turun dengan seorang pria yang sudah terlihat berumur lebih 40 tahun.


"Apa kamu yang akan belajar mengemudi?" Tanya pria tua itu.


Tan menganggukkan kepalanya dan kemudian dia diminta untuk ikut dengannya keluar dari ruko tersebut, menuju ke sebuah mobil Aznava dengan transmisi manual.


Sekolah mengemudi tidak menyediakan mobil matic dalam pembelajarannya karena saat ujian pembuatan SIM, tidak ada mobil matic, hanya ada mobil transmisi manual.