
Pembicaraan Tan dengan Ayunindya berlangsung selama setengah jam sampai Ayunindya memutuskan untuk berhenti karena melihat sekretarisnya sudah selesai dengan es krimnya.
"Kalau begitu, aku permisi dulu, pak Tanaka, semoga kita bisa bertemu lagi suatu saat nanti." Pamit Ayunindya dengan ramah.
"Ya, semoga itu terjadi dalam waktu cepat," ujar Tan dengan ramah juga sambil terus mengucapkan nama Ayunindya dalam pikirannya.
Dia merasa sangat tidak asing dengan nama tersebut sehingga dia berusaha untuk mengingat-ingat nama itu dalam ingatannya.
Kepergian Ayunindya bersama sekretarisnya telah membuat Tan sendirian di meja tersebut. Makanan nasi gorengnya masih tersisa banyak karena dia harus menanggapi obrolan Ayunindya.
Sambil makan nasi goreng dengan porsi besar itu, dia terus menyebut-nyebut nama Ayunindya dalam pikirannya. Dengan menyebut nama Ayunindya terus menerus, dia berharap ada ingatan muncul tentang kapan dan dimana dia mendengar nama itu.
Satu suap, dia belum muncul, dua suap, masih belum juga muncul, tiga suap, empat suap sampai sepuluh suap baru dia teringat.
"Ah! Bukankah itu nama yang sama dengan nama dermawan cantik aku saat aku dirawat di rumah sakit karena kecelakaan menabrak mobilnya?" Gumam Tan. "Kenapa aku bisa melupakannya? Padahal aku ingin mengucapkan terima kasih atas bantuannya saat itu."
Tan merasa kesal pada dirinya karena melupakan hal yang sangat penting tersebut. "Apa aku pantas sebagai manusia, melupakan nama penolong aku!?"
Dia ingin mengejar Ayunindya, tapi makanannya belum habis dan tidak baik membuang-buang makanan karena itu sama saja membuang-buang rezeki yang diberikan Allah.
"Suatu saat aku pasti akan bertemu dengannya lagi, aku juga memiliki kartu namanya." Gumam Tan sambil melihat kartu nama yang terlihat mewah karena nama Ayunindya bertinta warna emas.
Tan melanjutkan makan nasi gorengnya dan setelah itu dia mengambil bakso, siomay, mie goreng dan beberapa cemilan ringan untuk dia santap semuanya.
Orang-orang melihat Tan seperti itu dan hanya bisa tertawa dengan mengejek dan menghinanya. "Dia memang terlihat keren, tapi itu hanya di luar saja, dalamnya ternyata seorang pria kampungan dan miskin!" Ujar seorang perempuan yang memakai make-up tebal di wajahnya.
"Ya, aku sempat tertarik dengannya tadi, sekarang tidak setelah melihat dia makan dengan sangat rakus, seperti belum pernah makan berhari-hari, bagaimana bisa dia masuk ke resepsi pernikahan tuan Harry? Apa dia tamu undangan? Jangan-jangan dia penyusup." Ujar perempuan yang memakai busana seperti mau pergi ke klub malam.
Tan tidak tahu kalau dirinya sudah menjadi bahan obrolan dan kekaguman para perempuan sudah hilang karena melihat Tan yang banyak makan.
Dia berhenti makan karena merasa kenyang. Tan ingin segera meninggalkan resepsi pernikahan itu karena sudah tidak ada lagi yang harus dilakukan di tempat itu.
Dia ingin pamit sama orang tua Saras dan pengantin tapi mengurungkan niatnya untuk itu dan memutuskan untuk pergi tanpa pamit pada pengantin dan orang tua Saras.
Tan hanya melihat sejenak ke arah pelaminan dan berdoa agar Allah melindungi, menambah rezeki dan memberikan semua hal terbaik untuk pasangan pengantin baru itu.
Meninggalkan ballroom, Tan berjalan di lorong lobby hotel Peace menuju ke lift. Namun pada saat itu dia berpapasan dengan teman-teman Saras saat masih menjadi mahasiswi, berjumlah 6 orang, dua laki-laki dan empat perempuan.
Tan mengenal mereka semua tapi tidak terlalu dekat, hanya sebatas mengenal saja. Bagaimanapun mereka adalah teman Saras dan sering ketemu saat Tan menghampiri Saras di kampus ataupun di luar kampus.
Tan hanya melewati mereka tanpa menyapa sama sekali. Tapi salah satu dari mereka sepertinya menyadari Tan sehingga berhenti dan berbalik.
"Hei bukakan pria yang lewat tadi Tanaka, mantan pacarnya Saras?" Ujar teman saras perempuan A.
"Tidak mungkin, kamu salah orang, mantan pacar Saras itu orangnya berpenampilan sangat tidak menarik, tapi pria tadi terlihat sangat keren dan agak tampan, dia mendekati kriteria pria idaman aku, bila saja dia lebih tinggi sekitar 100 centimeter lagi, pas sempurna untuk pria idaman aku." Ujar perempuan B.
"Kita tidak sedang membicarakan pria idaman kamu, tapi pria tadi terlihat seperti Tanaka, aku merasa yakin dengan itu." Ujar perempuan A.
"Panggil aja namanya, kalau berbalik jadi benar kalau pria itu Tanaka, mantan pacarnya Saras." Ujar perempuan C.
Mendengar itu membuat pria A langsung berteriak memanggil nama Tanaka dengan santainya. Dia tidak merasa kalau perbuatannya itu telah membuat temannya merasa sangat malu.
Mendengar namanya dipanggil, Tan segera berbalik dan melihat orang yang memanggil namanya adalah salah satu teman dekat Saras.
"Nah benarkan, pria itu Tanaka, mantan pacarnya Saras." Ujar perempuan A yang bangga karena tebakannya benar.
"Tidak mungkin, bagaimana bisa dia berubah menjadi pria yang cukup keren seperti itu, aku tidak peduli apakah dia tidak masuk kriteria pria idaman aku, aku ingin menjadi pacarnya, apa dia sudah punya pacar, atau istri, aku mau jadi selingkuhannya." Ujar perempuan B.
Kelima temannya hanya bisa menatap tidak percaya dengan apa yang dikatakan perempuan B.
Mereka berenam langsung berjalan menuju ke tempat Tanaka berada.
"Kamu benar-benar Tanaka?" Tanya pria B, merasa tidak yakin kalau pria yang lebih keren dihadapannya adalah Tanaka yang dia sering lihat di kampus dan juga saat nongkrong bersama Saras.
Tan menganggukkan kepalanya dan menyapa mereka dengan ramah. "Sudah lama tidak bertemu kalian, apa kalian baru datang ke resepsi pernikahan Saras?" Tanya Tan yang hanya sekedar basa-basi.
"Ya, kami baru datang, apa kamu habis dari sana?" Tanya pria A.
Tan menganggukkan kepalanya dan dia langsung mendapatkan kekaguman dari para pria. "Wow, kamu sangat hebat bisa datang ke resepsi pernikahan mantan pacar kamu, kalau aku pasti tidak mau datang atau kalau datang akan aku obrak-abrik acaranya agar menjadi kacau." Jelas pria B.
Tan hanya tersenyum mendengar itu. Dia merasa beruntung dan bersyukur karena diberikan kesabaran tinggi oleh Allah sehingga dia tidak melakukan hal yang bodoh seperti itu.
"Hei, kamu punya pacar? Kalau tidak aku mau jadi pacar kamu," Ujar perempuan B.
Tan tidak merespon hal itu dan berpamitan pada mereka dengan alasan ada hal yang harus dikerjakannya.
Setelah Tan pergi menjauh, mereka langsung membicarakan tentang mantan pacarnya Saras itu.
"Astaga, dia benar-benar keren, tidak hanya penampilannya tapi juga tindakannya yang datang ke resepsi pernikahan mantannya." Ujar pria A.
"Ya, makanya aku ingin jadi pacarnya." Ujar perempuan B.
"Apa kamu yakin? Dia itu memiliki sikap pendiam, penyendiri dan anti sosial dan juga aku dengan dari Saras kalau Tanaka itu miskin dan memiliki hutang yang banyak, itu alasan Saras putus dengannya karena sudah tidak tahan lagi dan tidak mau hidup dengan memiliki hutang banyak." Jelas perempuan D.
"Tidak masalah, aku kan hanya ingin jadi pacarnya bukan istrinya, setidaknya aku bisa pamer pada rekan kerja aku, kalau aku memiliki pacar yang keren dan tampan." Ujar perempuan B.
"Kamu terdengar kejam, dia itu manusia, bukan barang seperti perhiasan mahal yang bisa dipamerkan." Ujar perempuan C.
"Apa orang yang memiliki hutang banyak masih bisa dianggap orang? Dia aja tidak memiliki kebebasan karena hutangnya itu, dia akan terus bersembunyi dari para deb colector, bukankah itu sama seperti buronan kriminal?" Jelas perempuan B.
Sementara itu di sebuah kamar hotel Peace tipe eksekutif room. Ayunindya sedang duduk di sofa yang ada di depan tempat tidur tipe king size.
Dia merasa cukup lelah karena baru tiba di Yogyakarta malam kemarin dan belum dapat beristirahat dengan nyaman.
Dia berangkat ke bandara Soekarno Hatta (Soetta) dari perusahaan Jaya group jam 2 siang karena pesawatnya yang dinaikinya berangkat jam 5 sore. Dia berangkat lebih awal karena ada kemungkinan terjebak macet saat menuju ke bandara Soetta.
Sesampai di Yogyakarta jam 6 Magrib, Ayunindya langsung menuju ke hotel tempat resepsi pernikahan bawahannya berlangsung untuk beristirahat, akan tetapi karena dia menderita insomnia sehingga dia tidak bisa beristirahat dengan baik.
Saat pagi, dia harus bersiap-siap untuk menghadiri pernikahan bawahannya, manajer pemasaran jaya group, Harry Baktiar.
Sebenarnya dia tidak ingin menghadiri pernikahan bawahannya itu, tapi karena manajer pemasaran berhasil menangani beberapa proyek besar sehingga dia sebagai pimpinan, mau tidak mau harus hadir sebagai bentuk kepeduliannya pada bawahan yang berjasa besar untuk perusahaan.
Saat ini dia merasa sedikit lega karena bisa beristirahat sejenak, meskipun hanya beberapa jam saja karena sore nanti dia harus berangkat ke bandara lagi untuk kembali ke Jakarta.
Dalam peristirahatan tersebut, dia teringat dengan pria yang dia ajak ngobrol untuk pertama kalinya dia lakukan pada seorang pria. Dia tidak bisa melepaskan bayangan dari pria bernama Tanaka Saputra itu karena pria itu terlihat berbeda sikap dan perilakunya pada dirinya.
Selama ini banyak pria yang berusaha mendekatinya karena kecantikan yang dimilikinya dan kekayaan keluarganya.
"Tapi pria itu terlihat tidak melakukan hal seperti pria lainnya, malah dia tidak tertarik untuk mengobrol dengan aku, sibuk dengan makanannya yang memiliki porsi hampir seperti gunung." Pikir Ayunindya.
"Apa dia sengaja melakukan trik seperti itu agar aku menjadi tertarik dengannya atau memang dia tidak tertarik padaku?" Tanya Ayunindya pada dirinya.
"Dia memang terlihat berbeda dengan pria yang pernah aku temui." Gumam Ayunindya. "Apa aku bisa bertemu lagi dengannya? Setidaknya aku merasa sedikit nyaman mengobrol dengannya, selama setengah jam karena dia tidak seperti pria yang pernah aku temui, jadi tidak ada gombalan dan pujian yang terlalu berlebihan dan palsu yang masuk ke telinga aku saat mengobrol dengannya." Pikir Ayunindya.
Ayunindya kemudian memutuskan untuk memberikan tugas pada sekretarisnya untuk mencari informasi lebih lengkap tentang Tanaka Saputra.
Dia merasa pria itu telah berhasil membuat dirinya tertarik dan penasaran tentangnya.
Sementara itu, Tan yang mengendarai mobilnya di jalan Yogyakarta yang mengarah ke rumahnya tidak menyadari kalau perbuatannya sudah membuat salah satu perempuan paling cantik di Indonesia telah tertarik dan penasaran tentang dirinya.
Beberapa hari berlalu dengan cepat dan tanpa terasa hari sudah memasuki Minggu terakhir bulan Juni dan beberapa hari lagi akan memasuki bulan Juli.
Tan masih melakukan aktivitas seperti biasanya yakni trading di hari jam kerjanya. Selama itu juga, uang di rekeningnya sudah hampir mencapai ratusan miliar karena dia selalu mendapatkan profit dari tradingnya, minimal 30-50 juta rupiah perhari.
Selain itu juga dia tidak terlalu banyak mengeluarkan uang. Uangnya hanya dikeluarkan untuk membeli Token listrik yang dia isi 500 ribu, lalu buat belanja bahan makanan, memesan makanan secara online, membeli bensin untuk kedua kendaraannya, dan membayar saluran tv kabel serta WiFi.
Setiap bulannya dia hanya mengeluarkan uang sekitar 600-800 ribu rupiah untuk kebutuhan hidupnya. Sedangkan uangnya terus bertambah 30-50 juta rupiah. Apa itu tidak membuat rekening menjadi mengembung?
Tan baru saja selesai sholat Dzuhur dan ponselnya berbunyi. Dia melihat pada layar ponsel pintarnya itu menampilkan nama pemanggil yang tidak lain adalah bu'lek Asmuni, adik dari ibunya.
bu'lek Asmuni merupakan adik bungsu ibunya dan salah satu kerabat Tan yang masih memperdulikan dan membantu dirinya saat dirinya mengalami kesusahan setelah kedua orang tuanya meninggal.
"Assalamualaikum, bu'lek Muni, apa kabar?" Tanya Tan.
"Alhamdulillah baik, gimana kabar kamu juga Tan? Kamu sudah lama tidak nelpon bu'de." Tanya bu'lek Asmuni.
"Alhamdulillah sehat juga, bu'de, pa'lik Karto dan Sonya gimana? Baik saja kan? Maaf, Tan beberapa hari sibuk, jadi gak sempat nelpon bu'de." Jawab Tan.
"Ish, kamu ini, sok sibuk, pa'lik Karto dan Sonya sehat, kamu masih ada uang? pa'lik Karto baru saja mendapatkan bonus dari tempat kerjanya dan mau ngirim ke kamu, ya, tidak terlalu banyak, 500 ribu." Kata bu'lek Asmuni.
Tan yang mendengar itu merasa terharu karena adik bungsu ibunya dan suaminya masih mau membantu Tan. Padahal mereka juga hidup dalam keuangan pas-pasan, tapi masih mau mengirimkan uang untuk dirinya.
"Terima kasih, tapi tidak usah, Bu'de, Tan masih ada uang, Tan juga sudah tidak lagi nganggur, sudah dapat pekerjaan, bisa penuhi kebutuhan Tan saat ini, hutang Tan juga sudah lunas semua." Jelas Tan sambil menolak dengan halus.
"Alhamdulillah, kamu sudah dapat pekerjaan, kerja apa Tan?" Tanya bu'lek Asmuni.
bu'lek Asmuni benar-benar merasa bersyukur bahwa keponakannya telah mendapatkan pekerjaan dan hutang yang dideritanya juga sudah lunas.
"Tan jadi investor, kerjanya cuma melakukan investasi saham dan trading." Jawab Tan dengan singkat.
"Hmmm, bu'lek tidak terlalu mengerti, tapi itu perkejaan halal dan tidak melanggar hukum kan?" Tanya bu'lek Asmuni yang merasa khawatir keponakannya itu mengambil jalan pintas dengan melakukan pekerjaan haram dan melanggar hukum demi mendapatkan uang.
"Tentu saja halal dan tidak melanggar hukum, Tan mana berani melakukan pekerjaan yang haram dan melanggar hukum, Tan juga sarjana hukum, jadi tahu mana yang melanggar hukum dan mana yang tidak." Jelas Tan yang membuang pikiran bu'denya kalau dirinya melakukan pekerjaan yang tidak benar.
"Syukurlah, kamu masih dilindungi oleh Allah dari hal-hal melanggar hukum dan syariah Islam, meskipun begitu pa'lik Karto tetap ingin mengirim kamu uang, terima aja, buat nambah-nambahin uang jajan kamu," kata bu'lek Asmuni.
Tan tidak bisa menolak lagi bila bu'lek Asmuni sudah berbicara seperti itu. Hal yang dia bisa lakukan adalah memberikan uang itu ke Sonya, adik sepupunya yang baru lulus SMP tahun ini dan menjadi anak ABG SMA, anak perempuan satu-satunya bu'lek Asmuni dan pa'lik Karto.
"Baiklah, sampaikan terima kasih Tan untuk pa'lik Karto, Bu'de." Jawab Tan dengan penuh rasa syukur pada pa'lik dan bu'denya itu.
"Ya, kamu kapan main ke tempat Bu'de? bu'lek sudah kangen sama kamu, begitu juga dengan Sonya, dia selalu tanya kapan kamu datang kesini." Tanya bu'lek Asmuni.
"Secepatnya Bu'de, nanti Tan hubungi bu'lek kalau Tan mau kesana." Jawab Tan.
Tan dan bu'lek Asmuni terus berbicara selama hampir dua jam. Tan berbicara dengan bu'denya itu sambil menatap laptop yang menampilkan trading forex.
Dia langsung menutup transaksi saat posisi yang dia pilih hampir mencapai puncaknya sebelum menjadi turun berdasarkan penglihatan ajaibnya.
Dari penutupan transaksi tersebut, dia mendapatkan keuntungan 21 juta dari modal awal 10 juta yang diletakkan di tiga forex, sehingga dia untung 11 juta dari tiga forex.
Jumlah saldo akunnya telah terkumpul 42.474.430 rupiah.
Sangat disayangkan, batas tiap transaksi hanya sampai 10 juta saja. Bila tidak ada batasan, dia bisa mendapatkan keuntungan lebih banyak lagi.
Meskipun dia bisa meletakkan 10 juta di tiga forex, tetap saja keuntungan yang diperoleh berbeda-beda. Sangat jarang mendapat keuntungan lebih dari 20 juta setiap kali transaksi.