
"350 juta! Apa kamu ingin merampok tuan besar Richard? Bagaimana bisa makanan sebanyak ini harganya sampai 350 juta, kalau ini bukan penipuan maka ini perampokan, aku akan mengajukan tuntutan atas hal ini, aku punya kenalan pengacara yang cukup terkenal dan juga ada kenalan di lembaga perlindungan konsumen, jadi hitung lagi dengan benar." Ujar orang yang duduk disebelah Richard dengan sombongnya.
Mendengar ucapan dan ancaman dari pria itu, membuat wajah manager itu menjadi sangat muram dan marah.
"Bila tidak sanggup bayar, kenapa pesan banyak makanan? Awas aja kalau tidak bisa bayar, tidak ada satupun dari kalian yang bisa keluar dari sini sampai ada yang membayar." Pikir manager itu.
Namun dia menahan rasa marahnya atas ancaman tersebut karena bila dia marah, maka akan berdampak buruk bagi restoran Galer. Dia telah bekerja cukup lama di restoran Galer jadi dia telah bertemu dengan berbagai macam costumer, salah satunya yang sedang dia alami saat ini.
Memesan banyak makanan tanpa menyadari berapa banyak uang yang ada, hanya karena ingin terlihat keren atau pamer pada orang lain.
Jabatannya sebagai manager bukan karena dia dapatkan dengan cara mudah. Dia harus berkerja keras cukup keras sampai harus mengorbankan berbagai hal hanya untuk mendapatkan kepercayaan dari atasannya untuk diberikan jabatan posisi tersebut.
"Maaf tuan, perhitungan yang kami lakukan sudah benar, tidak ada kesalahan, bahkan kami tidak memasukkan service charge dalam tagihan ini sebagai bonus untuk tuan karena sudah membeli banyak makanan di tempat restoran kami." Jelas manager itu dengan nada sopan dan tetap tersenyum.
"Tapi gak sampai 350 juta juga kan, ini namanya perampokan! Jangan sampai restoran ini menjadi viral karena hal ini." Ujar pria itu yang masih memberikan ancaman.
Teman-teman lainnya juga memberikan ancaman pada manager itu, bahkan sudah ada yang mengeluarkan ponsel untuk merekam.
Manager tersebut bersikap tidak peduli dengan ancaman tersebut karena kesalahan tidak ada pada pihaknya tapi pada mereka jadi dia tidak perlu merasa khawatir akan hal tersebut.
Pegawai kasir sudah melakukan perhitungan sebanyak tiga kali saat melihat total harganya mencapai 350 juta, bahkan dirinya menyaksikan secara langsung perhitungan tersebut, jadi tidak ada kesalahan dengan total harga tersebut.
Dengan pengalamannya yang sudah bisa dikatakan sebagai veteran dalam pekerjaannya tersebut, manager itu masih bersikap ramah meskipun dalam pikirannya sudah merasa jengkel.
"Tuan, tolong jangan memberikan pernyataan yang tidak benar, kami sudah melakukan perhitungan sebanyak tiga kali dan hasilnya sama, jadi tidak mungkin salah, jangan sampai tindakan tuan-tuan dan nyonya-nyonya ini membuat malu sendiri, jadi tolong bayar makanan sesuai dengan pesanan yang anda pesan, kami menerima kartu kredit dan debit." Ujar manager itu dengan sopan namun tegas dan ada sedikit ancaman pada ucapannya tersebut.
"Kamu!" Teriak pria keras kepala itu.
Sementara itu, Richard sudah merasa malu karena hal tersebut. Dia telah menemukan penyebab total harganya menjadi 350 juta.
"Siapa yang pesan kaviar? Bahkan pesanannya berjumlah 12 porsi! 1 porsi aja harganya 10 juta, ini bukan kaviar biasa, tapi kaviar jenis premium." Pikir Richard yang melihat list pesanan di kertas nota tersebut.
350 juta memang jumlah yang kecil bagi keluarganya, tapi baginya itu jumlah yang lumayan besar. 350 juta itu merupakan total gajinya selama tiga bulan yang bekerja di perusahaan keluarganya.
Richard ingin sekali memukul wajah teman sekelasnya yang memesan makanan mahal tersebut karena merekalah yang menyebabkan hal ini terjadi.
"Tuan, bisakah kita melakukan pembayarannya? Mohon maaf bila aku menyinggung tuan dan nyonya sekalian, tapi tuan dan nyonya tidak ada kepikiran untuk makan gratis di tempat ini kan?" Tanya manager itu yang masih tersenyum tapi ucapannya penuh penghinaan.
"Kamu! Jangan asal nuduh, kami akan bayar, apa kamu tidak tahu kalau tuan besar ini adalah anggota keluarga Marx yang merupakan pemilik perusahaan Marx group dengan aset triliunan, 350 juta itu angka yang kecil bagi tuan besar ini." Ujar pria keras kepala itu yang ingin menarik perhatian Richard sehingga hubungannya bisa terjalin dengan baik.
Akan tetapi keinginannya itu malah menjadi bumerang, Richard menatap pria yang duduk disebelahnya itu dengan tatapan penuh kebencian karena sudah menyebutkan nama keluarga besarnya.
Bila saja dengan tatapan sama seperti sebuah senjata tajam, maka pria itu sudah tertusuk berkali-kali seperti seorang psikopat pembunuh yang menusuk benda tajam ke tubuh korbannya dengan ekspresi gembira.
"Kenapa kamu membawa nama keluarga aku? Ini akan menjadi bencana bila ayah, kakek atau yang lainnya tahu kalau aku telah mempermalukan nama keluarga hanya karena tidak bisa membayar." Pikir Richard.
Pria keras kepala itu tidak tahu kalau tatapan yang diberikan oleh Richard adalah kebencian. Dia malah semakin bersemangat dan meminta Richard untuk membungkam mulut manager restoran Galer tersebut dengan membayar pesanan tersebut.
"Tidak bisa ... " Gumam Richard.
"Eh? Tuan besar ucap apa tadi, aku tidak bisa mendengar dengan jelas." Tanya pria keras kepala itu.
"Aku tidak bisa membayar, kartu kreditku, limitnya hanya sampai 200 juta dan juga di kartu debit hanya ada 30 juta, aku tidak bisa membayarnya, lagipula siapa yang memesan kaviar!? Apa kalian tidak tahu kalau satu porsi kaviar ini harganya 10 juta, dan dalam bill ini jumlah kaviarnya sebanyak 12 porsi, aku saja tidak memesan makanan itu tapi kalian ... " Kata Richard dengan penuh emosi dan tidak bisa berkata apapun lagi.
Pria keras kepala yang berdiri dengan angkuh langsung terduduk lemas saat mendengar Richard tidak bisa membayar. Selain itu, dia adalah salah satu orang yang memesan kaviar tersebut.
Dia tidak menyangka kalau harga satu porsi kaviar mencapai 10 juta. Pria itu pikir harganya hanya 1-3 jutaan.
Terjadi kegaduhan dan kebingungan karena Richard tidak bisa membayar. Mereka juga tidak bisa mengeluarkan uang untuk membayar karena bagaimanapun jumlahnya bukan ratusan ribu atau jutaan tapi ratusan juta.
Meskipun mereka bisa melakukan iuran untuk menutupi kekurangan Richard tetap aja tidak bisa karena mereka tidak akan ada yang mau mengeluarkan uangnya lebih dari satu juta.
Bagaimanapun uang adalah hal yang sangat penting dan sangat sulit untuk mendapatkannya, jadi perlu berpikir dia kali untuk mengeluarkan uang, meskipun itu hanya 1 rupiah.
"Bagaimana ini Tanaka? Sepertinya kita akan mendapatkan masalah yang cukup panjang dan polisi pasti akan terlibat akan hal ini." Tanya Martin pada Tan dengan suara bisik.
Martin mau mengeluarkan uangnya untuk iuran, tapi dia hanya bisa mengeluarkan uangnya sebanyak 2 juta, tidak lebih karena ada keluarganya yang harus dia nafkahi, meskipun uang 2 juta itu sudah sangat besar baginya yang hanya bergaji dibawah 10 juta setiap bulannya.
Tan hanya menghela nafas panjang karena dia tidak menduga acara reuni kelasnya akan menjadi seperti ini.
"Tuan, bisakah kita melakukan pembayaran? Bila tidak, saya akan menghubungi polisi, tolong anda sekalian tidak keluar dari tempat ini sampai pesanan telah dibayar." Ujar manager itu yang segera berjalan menuju pintu untuk keluar dan menghubungi polisi.
Mendengar kata polisi membuat Richard semakin panik.
"Tunggu, jangan panggil polisi, kami akan membayar," kata Richard dengan nada memohon.
Dia telah benar-benar sangat malu karena hal ini. Harga dirinya sebagai anggota keluarga Marx yang merupakan salah satu keluarga konglomerat di Indonesia telah jatuh.
Apalagi bila dirinya muncul dalam sebuah berita yang membuat ayah atau kakeknya tahu akan hal ini. Tentu saja, tidak hanya dimarahi tapi juga di usir dari rumah dan ayahnya menghapus namanya dari daftar kartu keluarga.
"Teman-teman, bisakah aku meminjam uang, cukup 120 juta, menutupi kekurangan, aku akan segera mengembalikan paling lama dua hari." Ujar Richard yang merasa harga dirinya kembali terjatuh semakin dalam karena harus meminta pinjaman pada teman sekelasnya.
Tidak ada yang bisa memberikan respon bahkan mereka menghindari bertatapan dengan Richard.
Melihat sikap teman-teman sekelasnya itu membuat Richard sangat marah. Rona wajahnya memerah karena marah. Dia ingin sekali mengumpat, memaki para teman sekelasnya itu.
"Kalian! Bukankah beberapa jam yang lalu kalian terus menjilat padaku? Tapi saat aku membutuhkan bantuan kalian hanya diam, brengsek!" Pikir Richard.
"Tuan, bisakah kita melakukan pembayaran? Kalau tidak aku akan memanggil polisi untuk menyelesaikan hal ini." Ujar manager itu yang memberikan ancaman.
Melihat tidak ada respon, manager itu kembali berjalan dan saat mendekati pintu seseorang bersuara.
"Kami akan bayar!" Sahut Tan yang membuat manager itu berhenti dan menatap ke arah Tan.
Tidak hanya manager itu yang menatap Tan, teman-teman sekelasnya juga menatap Tan dengan pandangan tidak percaya dengan apa yang mereka dengar.
"Tolong jangan libatkan polisi dengan masalah kecil seperti ini, mereka masih banyak urusan yang lebih penting di luar sana." Ucap Tan dengan ekspresi wajah yang cukup tenang, tidak ada raut wajah cemas atau khawatir seperti teman-teman sekelasnya.
Martin yang berada di sampingnya langsung berbisik. "Apa kamu punya uang? Ini bukan ratusan ribu atau jutaan tapi ratusan juta." Tanya Martin.
"Tenang, bila aku tidak punya uang, tidak mungkin aku mengatakan hal tadi." Jawab Tan dengan santai.
Manager itu segera mendekati Tan dan bertanya padanya untuk memastikan. "Apa tuan benar-benar akan membayarnya?"
Tan menganggukkan kepalanya, "Apa bisa bayar dengan kartu debit bank NI?" Tanya Tan.
"Tentu bisa, tuan, tapi akan dikenakan biaya tambahan karena kami tidak memiliki mesin pembayaran ekslusif bank NI." Jawab manager itu dengan ramah dan tersenyum.
"Tidak masalah." Ujar Tan dengan singkat.
Tan mengeluarkan dompetnya, mengambil kartu debit satu satunya tersebut. Tentu saja kartu debitnya sudah di upgrade ke tingkat tertinggi yakni no limit atau tidak ada pembatasan sama sekali, tidak seperti kartu debit sebelum yang memiliki limit transaksi per harinya.
Dia sudah dihubungi oleh otoritas pihak bank NI yang ingin menawarkan untuk mengupgrade kartu debitnya setelah pihak bank NI mengetahui jumlah saldo rekening yang dimiliki oleh Tan yang mencapai miliaran, sekaligus menjaga nasabah VVIP bagi bank NI.
Meskipun tidak ada pembatasan sama sekali, tetap saja transaksi tersebut disesuaikan dengan jumlah saldo rekening yang dimiliki Tan saat ini.
Selama jumlah yang ada pada saldo rekeningnya cukup atau lebih maka proses transaksi tersebut dapat berjalan dengan lancar.
Namun sebelum menyerahkan pada manager itu, Tan memberitahu pada teman-temannya itu.
"Aku hanya akan membayar makanan dan minuman yang non alkohol saja, yang alkohol kalian bisa membayarnya."
Dia tidak ingin uangnya dipakai untuk membayar minuman yang dinyatakan haram oleh syari'at agamanya.
Meskipun Tan berkata seperti itu, teman-teman sekelasnya tidak merasa senang. Mereka memandang Tan dengan pandangan tidak percaya kalau Tan memiliki uang sebanyak itu, bahkan ada yang mencibirnya dengan suara rendah.
Setelah mengatakan itu manager itu tidak langsung menerima kartu debit tersebut. Dia keluar sejenak untuk mengambil mesin pembayaran Bank universal yang ada di kasir.
Hanya beberapa menit saja dia sudah kembali dengan mesin pembayaran tersebut. Tan segera memberikan kartu debit unlimited tersebut dan manager langsung melakukan proses pembayaran sesuai dengan jumlah pembayaran yang telah dikurangi dengan minuman beralkohol seperti permintaan dari Tan.
Rp.300.000.000 telah berkurang dari jumlah saldo rekening yang dimiliki oleh Tan yang mencapai miliaran. 300 juta itu, bagi Tan sama seperti 300 rupiah seperti bila jumlah uangnya yang ada dalam rekening bank NI digabungkan dengan uang US Dollar yang dia dapatkan dari trading saham yang saat ini dia lakukan dengan mata uang tersebut.
\*Srrrrr~
Suara muncul bersamaan dengan keluarnya struk pembayaran dari mesin pembayaran tersebut.
Tentu saja hal itu membuat teman sekelas Tan terkejut mendengar suara tersebut dan melihat struk pembayaran keluar dari mesin tersebut.
"Dia berhasil membayarnya?"
"Bagaimana mungkin? Berapa banyak uang yang dimilikinya?"
"Apa Tanaka itu sebenarnya anggota dari keluarga konglomerat?"
"Masih belum terlambat untuk mendekatinya kan? Dia belum punya pacar atau istri kan? Meskipun punya aku mau menjadi simpanannya."
Berbagai tanggapan bermunculan saat manager telah selesai memproses pembayaran tersebut dengan tenang, tidak ada raut wajah kaget akan hal tersebut. Bagaimanapun dia merasa senang karena dia telah mendapatkan pembayaran tersebut meskipun masih kurang.
Setidaknya dia akan membiarkan Tan pergi dari tempat tersebut karena sudah membayar, sedangkan yang lainnya harus ditahan sampai sisa pembayaran selesai dilakukan.
"Tuan, sisa pembayarannya tinggal 50 juta, saya pikir dengan sisa jumlah segitu tuan bisa membayarnya saat ini, benarkan tuan?" Tanya manager tersebut pada Richard setelah menyerahkan kartu debit unlimited pada pemiliknya, yakni Tan.
Meskipun manager itu bertanya dengan memberikan ekspresi wajah senyum bisnisnya, namun ucapannya terdengar merendahkan atau menghina.
Dengan raut wajah yang tidak bisa di gambarkan lagi dan sedikit kemerahan karena menahan rasa marah dan malu, Richard menyerahkan kartu kreditnya pada manager tersebut.
Manager itu segera menerima kartu kredit Richard dan melakukan proses sisa pembayaran yang hanya tinggal 50 juta rupiah.
"Terima kasih sudah berkunjung ke restoran kami, kami tunggu kunjungan tuan dan nyonya untuk selanjutnya." Ujar manager tersebut yang sudah selesai melakukan proses sisa pembayaran, menyerahkan kartu kredit Richard dan kemudian pergi dari tempat tersebut dengan tenang.
Sementara itu suasana di ruangan private yang dipakai untuk acara reuni kelas 12- 1 IPS terjadi kecanggungan yang luar biasa. Tidak ada satupun yang mengeluarkan suara sama sekali.