
Setengah jam telah berlalu sejak Tan duduk sendirian di salah satu kursi yang ada di restoran Galer. Minuman pertamanya sudah habis sehingga dia memesan minuman keduanya yang sama dengan minuman pertamanya dan saat ini minuman itu tinggal setengah.
Pesan group WhatsApp teman SMA-nya sudah mulai banyak bermunculan dan kebanyakan dari mereka sudah tiba di restoran Galer.
Tan berada tidak terlalu jauh dengan pintu utama restoran tersebut, namun karena dia membelakangi pintu tersebut sehingga dia tidak tahu teman sekelasnya telah tiba.
Meskipun dia tidak membelakangi pintu utama restoran tersebut, Tan juga tidak akan tahu bagaimana rupa teman sekelasnya itu karena teman sekelasnya yang dia ingat hanyalah Martin.
"Sepertinya sudah banyak yang datang, tapi Martin belum datang juga sampai sekarang." Pikir Tan yang terus menerus menatap ponselnya, menunggu Martin menghubunginya.
Dia merasa sudah seperti sedang menunggu seorang perempuan menghubungi dirinya untuk memberikan jawaban setelah mengungkapkan perasaannya pada perempuan itu.
"Mengapa lama sekali Martin datangnya? Apa dia terjebak macet yang parah? Bagaimana kalau dia tidak datang?" Banyak pertanyaan yang muncul dalam pikiran Tan.
Dia juga merasa was-was kalau Martin tidak jadi datang. Berharap kalau hal itu tidak terjadi.
"Akan terasa sangat canggung bagiku bertemu dengan mereka karena aku tidak terlalu dekat dengan mereka, tapi kalau tidak datang, aku akan dicap sebagai orang sombong karena mereka sudah tahu kalau aku berada di Jakarta dan diundang dalam reuni tersebut oleh ... astaga, aku lupa namanya." Pikir Tan yang telah melupakan teman sekelasnya yang bernama Richard.
Selagi dia termenung sambil melihat ponsel pintarnya, sebuah panggilan WhatsApp muncul di layar ponsel pintarnya itu. Nama yang menghubungi Tan tertera dengan nama Martin.
Tan sudah memasukan kontak Martin ke dalam list kontaknya sehingga namanya tertera di ponselnya.
"Kamu ada dimana? Aku sudah bersama dengan teman-teman di ruang private G-5." Tanya Martin sebelum Tan mengucapkan sesuatu.
"Aku masih di restoran Galer, di ruang biasa." Jawab Tan dengan singkat sambil melihat-lihat sekeliling, mencari keberadaan ruangan private G-5 tersebut.
Dia sedikit terkejut saat Martin sudah tiba tanpa diketahuinya.
"Oke, aku keluar, jangan matikan panggilan ini." Ujar Martin yang keluar dari ruangan private tersebut.
Dia melihat-lihat sekeliling mencari keberadaan Tan yang akhirnya dia berhasil mengetahui keberadaan teman lamanya tersebut.
"Aku sudah melihat kamu." Ujar Martin yang mengakhiri obrolan secara sepihak.
Dia langsung berjalan menuju ke tempat Tan berada dan saat dekat dia memanggil nama teman satu mejanya itu saat SMA.
Tan langsung mengarahkan penglihatan ke asal suara yang memanggil namanya. Dia melihat seorang pria agak besar pada bagian perut, berpakaian stelan pegawai kantor swasta dengan tinggi sekitar 168-170 cm dan berambut pendek.
"Martin?" Tanya Tan untuk memastikan apakah orang itu teman dekatnya saat SMA atau bukan.
"Ya, astaga Tan, kamu benar-benar gak berubah, masih tetap jelek aja." Ujar Martin sambil bersalaman dan kemudian berpelukan.
Setelah itu mereka berpisah dan berdiri saling berhadapan dengan jarak sekitar 50-90 cm.
"Hahaha, aku memang tidak berubah, tapi kamu ... Benar benar sangat berubah, dari jelek menjadi tambah jelek, apa yang terjadi pada perut kamu ini? Apa ada bayi perut kamu ini? Dimana tubuh berotot yang kamu banggakan padaku saat SMA?" Tanya Tan yang mengejek tapi hanya untuk bercanda.
"Hahaha, sialan kamu, ini efek dari pria yang sudah menikah, kamu juga akan mengalaminya saat kamu ... Kamu sudah nikah?" Tanya Martin.
Tan menggelengkan kepalanya. Dia berpikir seandainya Saras tidak memutuskan untuk berpisah dengannya, tentu dia akan melamar dan menikahi Saras saat kehidupannya mulai membaik seperti sekarang ini.
"Astaga, kamu masih jomblo? Kapan tuh burung menemukan sarangnya, bila kamu masih mempertahankan status jomblo kamu itu, hahaha." Ujar Martin dengan gaya ceplas-ceplosnya yang masih ada dalam dirinya.
Tan hanya menggeleng-gelengkan kepalanya dan melihat beberapa orang-orang yang berada dekat dengan mereka berdua menatap Tan dan Martin dengan berbagai ekspresi wajah.
Meskipun suara Martin tidak terlalu besar saat berbicara, tapi tetap saja orang-orang yang berada dekat masih bisa mendengarnya.
Para pria hanya bersikap biasa, tapi para perempuan menatap Tan dan Martin dengan tatapan jijik dan hina.
"Ayo, Tan, kita gabung dengan yang lainnya." Ajak Martin.
Tan menganggukkan kepalanya dan sebelum dia mengikuti Martin menuju ke ruang privat G-5 tempat reuni kelasnya berlangsung, Tan harus close table, membayar semua pesanannya.
Dia harus mengeluarkan hampir Rp.200.000 hanya untuk dua minuman yang sama. Hal ini karena biaya servis charge nya lumayan besar, 15%.
Setelah membayar, Tan dan Martin berjalan bersama menuju ke ruang privat G-5 tempat teman-teman SMA mereka berada. Saat Martin membuka pintu ruang tersebut dengan menggeser ke samping kanan, orang-orang yang berada di dalam melihat ke arah Martin dan Tan sejenak, lalu mereka mengabaikan dua orang tersebut.
Martin dan Tan tidak mempermasalahkan sikap mereka, bahkan saat Martin tiba, para teman-teman sekelasnya itu juga tidak terlalu menyambut kedatangan Martin.
Hal itu karena mereka melihat pakaian yang dikenakan oleh Martin hanyalah pakaian stelan pegawai kantor swasta murahan yang dapat ditemukan di toko pakaian bagian obral.
Sedangkan Tan, mereka lebih tidak peduli karena melihat pakaian Tan yang lebih sangat biasa, tidak ada kesan mewah seperti yang mereka gunakan.
Para teman-teman sekelasnya itu memakai pakaian yang cukup mewah, menunjukan status sosial mereka bukanlah status sosial biasa.
Para perempuan menggunakan pakaian terbaik yang mereka miliki, tentu saja itu pakaian brand luar negeri yang cukup terkenal.
Para perempuan memamerkan tas yang mereka taruh di atas meja dan tentu saja merupakan barang mewah dari brand luar negeri yang terkenal, CH, LV, HM, GC dan lainnya.
Mereka juga memamerkan perhiasan yang mereka gunakan seperti kalung, anting, gelang dan lainnya.
Sedangkan para pria juga memamerkan pakaian yang mereka gunakan, tapi mereka lebih memamerkan ponsel pintar yang kebanyakan adalah Ayphone terbaru, kunci mobil, tentu saja mobil impor Eropa bukan Asia, dan jam tangan.
Tentu saja mereka melalukan itu untuk menunjukkan kekayaan yang mereka miliki. Mereka tidak ingin dipandang rendah oleh yang lainnya.
Ruangan privat itu memiliki luas sekitar 30 meter persegi dengan beberapa lukisan pemandangan dan abstrak menghiasi dinding ruangan tersebut.
Terdapat satu-satunya meja bulat yang berukuran besar dan bisa menampung kursi sebanyak 25 kursi. Meja bundar itu juga terdapat papan bundar yang bisa diputar sehingga orang yang memakai meja bundar itu dapat memutar papan tersebut untuk mengambil makanan yang diinginkannya tanpa harus menghampiri makanan tersebut atau merepotkan orang lain.
Tan dan Martin mengambil kursi yang cukup jauh dari kumpulan orang-orang yang berperilaku riya tersebut.
Tan menggelengkan kepalanya, "Sebenarnya aku sedikit menyesal mengambil jurusan hukum karena tidak cocok dengan karakter yang aku miliki, kamu tahu sendiri bagaimana karakter aku."
"Ya, aku juga saat kaget kamu memutuskan untuk mengambil jurusan hukum dengan karakter kamu seperti itu, tapi kamu terlihat yakin, jadi aku tidak berkata-kata apapun lagi untuk membuat kamu mengubah keputusan kamu itu." Kata Martin.
"Karena itu aku merasa menyesal telah mengambil jurusan hukum, saat itu aku hanya berpikiran betapa kerennya menjadi pengacara seperti karakter Matt Murdoch dalam film Daredevil, tapi aku tidak melihat atau menyadari kalau pekerjaan lulusan dari jurusan hukum harus banyak berinteraksi dengan orang-orang, bila tahu seperti itu, aku lebih memilih jurusan IT." Jelas Tan.
"Hahaha, kalau gitu kenapa kamu tidak keluar dan beralih ke jurusan IT?" Tanya Martin.
"Tidak ada biaya lagi untuk pindah jurusan, masuk ke jurusan hukum itu saja sudah menghabiskan biaya hampir 40 juta." Kata Tan.
Martin menganggukkan kepalanya. Dia tahu biaya pendidikan tinggi itu lebih mahal daripada biaya pendidikan wajib.
"Jadi sekarang kamu kerja apa? Kalau tidak jadi pengacara atau sejenisnya." Tanya Martin.
"Tidak ada, aku tidak melakukan pekerjaan apapun, hanya menghabiskan waktu di rumah, meskipun ada usaha online tapi tidak berjalan dengan baik dan sekarang aku berusaha mendapatkan penghasilan dari trading forex." Jawab Tan.
Mendengar ucapan Tan mengenai trading forex membuat orang yang duduk dekatnya tertawa.
Orang itu berpikir melakukan trading hanyalah perkejaan sia-sia karena butuh modal besar dan skill yang mumpuni agar bisa mendapatkan untung banyak.
Orang itu juga pernah melakukan trading forex dan berharap mendapatkan keuntungan banyak, tapi kenyataan menampar dirinya, modalnya 5 juta habis hanya dalam 3 hari.
Tentu saja hal itu membuat menyerah dan tidak pernah lagi melakukan trading. Baginya pekerjaan itu harus di perusahaan swasta terkemuka, BUMN atau menjadi pegawai negeri karena penghasilan akan selalu terjamin setiap bulannya.
Sedangkan menjadi trader tidak menjamin kalau setiap bulannya akan mendapatkan penghasilan.
Oleh karena itu dia tertawa mendengar Tan ingin mendapatkan penghasilan dari trading forex.
Tan dan Martin mengabaikan teman sekelasnya yang duduk agak dekat dengan mereka dan tertawa.
"Jadi kamu saat ini menjadi seorang trader? Aku juga bekerja di bidang investasi, tapi bukan bagian trading, broker saham efek di perusahaan PT Indo Investama Sekuritas, kamu tahu perusahaan itu kan? Itu perusahaan yang masuk 20 besar perusahaan sekuritas yang ada di Indonesia." Ujar Martin
Tan hanya menganggukkan kepalanya, meskipun dia tidak tahu apapun tentang perusahaan tersebut. Dia hanya tahu BPS adalah perusahaan sekuritas karena dia membuka rekening efek di bank tersebut.
"Meskipun aku bekerja sebagai broker di perusahaan sekuritas itu, jabatan aku sampai saat ini hanyalah broker junior selama 3,5 tahun, haaa~" Ujar Martin yang menghela nafas panjang.
Meskipun dia sudah bekerja selama itu, perusahaan belum menaikan jabatannya menjadi broker senior karena Martin selalu terlibat masalah dengan pihak investornya.
Dia sudah melakukan pekerjaannya dengan baik sebagai broker dengan memberikan saran saham yang harus dibeli dan di jual pada Investor yang menjadi kliennya, tapi para kliennya tidak ada yang mau mendengarkannya.
Para kliennya hanya memberikan perintah pada Martin untuk membeli dan menjual. Saat keputusan yang diambil oleh mereka salah sehingga menyebabkan kerugian besar, para kliennya akan menyalahkan dirinya sehingga mereka menarik semua uang mereka dan berhenti berinvestasi dengan sekuritas perusahaannya.
Hal ini tentu saja berakibat pada penilaian kinerja Martin yang tidak bisa menjaga kliennya untuk tetap berinvestasi dengan perusahaan tersebut.
Dia ingin sekali berhenti dari perusahaan dan mencari pekerjaan lainnya. Tapi dia merasa khawatir akan kehidupan istri dan anaknya bila dia berhenti. Belum tentu dia bisa langsung mendapatkan pekerjaan baru setelah berhenti di perusahaan tersebut.
Dengan terpaksa dia memilih tetap bertahan di perusahaan tersebut, sampai ada jaminan dirinya akan mendapatkan pekerjaan baru saat keluar dari perusahaan tersebut.
Selagi Tan dan Martin mengobrol, teman sekelasnya yang berada di Jakarta sudah banyak yang datang dan menempati kursi yang tersedia sehingga dari 20 kursi yang ada di ruangan tersebut, hanya tersisa lima kursi.
Meskipun teman sekelasnya sudah banyak yang datang, mereka terlihat mengabaikan Tan dan Martin. Tidak ada satupun yang mengajak mereka untuk mengobrol atau bertegur sapa.
Bahkan teman-teman sekelasnya yang baru datang juga tidak bertegur sapa dengan mereka berdua.
Bila itu Tan, maka hal yang wajar karena mereka tidak dekat dengan pria introvert itu, bahkan mereka lupa atau tidak tahu kalau Tan adalah teman sekelas mereka.
Namun hal yang berbeda bagi Martin, pria ini sering bersosialisasi dengan mereka sehingga tidak mungkin kalau mereka tidak mengetahui tentang Martin.
Akan mereka mengabaikan teman dekat Tan itu, bahkan para pria memberikan tatapan ejekan pada Martin hanya karena mereka melihat pakaian kerja Martin yang biasa saja.
Sedangkan para perempuan menatap hina dan jijik pada Martin dengan alasan yang sama.
Teman-teman sekelas Tan dan Martin sudah benar-benar berubah. Mereka membuat batasan sendiri dalam bersosialisasi hanya berdasarkan penampilan seseorang.
Bila penampilan orang itu tidak memenuhi kriteria yang mereka terapkan, maka yang ada adalah sikap pengabaian, hinaan dan merendahkan.
Meskipun begitu, Martin dan Tan hanya bersikap acuh. Bagi mereka berdua tidak peduli bagaimana sikap dan perilaku mereka terhadap mereka berdua, selama tidak ada tindakan nyata secara langsung ditunjukkan pada mereka berdua.
Tatapan atau cibiran negatif secara bisik-bisik tidak akan membuat Tan dan Martin marah.
Pria introvert itu memiliki sikap apatis terhadap orang yang bersikap buruk padanya, sedangkan teman dekatnya itu telah terbiasa menjadi bahan ghibah di kantornya karena dia tidak naik jabatan meskipun sudah 3,5 tahun bekerja sebagai broker saham di perusahaan sekuritas tempat dia bekerja, sedangkan teman kerja yang masuk bersamanya telah naik jabatan hanya satu tahun bahkan ada yang enam bulan.
Beberapa saat kemudian, tokoh utama dan juga penggagas acara reuni tersebut, Richard Marx muncul.
Pria itu langsung disambut dengan penuh semangat oleh teman-teman kelas 12-1 IPS yang ada dalam ruangan tersebut.
Para pria yang memiliki tujuan bisnis berdiri dan menghampiri Richard untuk bersalaman sekaligus memberikan kartu namanya yang juga tertera nama perusahaan tempat dia bekerja.
Sedangkan para yang tidak memiliki tujuan bisnis juga melakukan hal sama. Setidaknya dalam pikiran mereka, harus menjalin hubungan baik dengan Richard Marx yang merupakan anggota keluarga konglomerat, Marx.
Keluarga Marx memiliki perusahaan terbesar nomor tiga di Indonesia, Marx group dengan aset perusahaan mencapai 635 triliun pertahun.
Perusahaan Marx group bergerak dalam bidang kuliner, perhotelan, perhiasan dan pakaian. Berdasarkan empat bisnis yang mereka miliki itu, keluarga konglomerat itu memiliki pendapatan pertahun mencapai 446 triliun.
Oleh karena itu banyak teman-teman kelas 12-1 IPS berusaha menjalin hubungan baik dengan Richard. Apalagi yang perempuan yang bekerja keras untuk mendapatkan Richard sebagai pasangannya.