MIRACLE: SUPER RICH!!!

MIRACLE: SUPER RICH!!!
Menjual Motor



Perjalanan menuju ke kantor polisi yang berada di pusat kota Yogyakarta, tidak memakan waktu yang cukup lama. Hanya sekitar dua jam dia sudah sampai di kantor polisi tingkat kota.



Memarkirkan motornya di tempat yang tersedia di kantor polisi tersebut dan langsung mendatangi tempat penerimaan tamu untuk memberitahu tujuan kedatangannya di kantor polisi tersebut pada petugas jaga.



"Assalamualaikum, selamat pagi, pak, saya ingin membuat SKCK." Ujar Tan pada seorang petugas jaga.



"Selamat pagi, dokumen syarat-syaratnya sudah ada semua?" Tanya petugas jaga itu dengan ramah.



"Sudah pak." Jawab Tan dengan singkat.



"Kalau gitu, silahkan tinggalkan E-KTP atau kartu indentitas anda disini, tulis nama anda, alamat dan keperluannya di buku tamu ini." Jelas petugas jaga itu.



Tan mengeluarkan E-KTP dari dalam dompet untuk diserahkan pada petugas itu dan menulis di buku tamu sesuai dengan arahan dari petugas jaga tesebut.



Setelah menulis di buku tamu, Tan bertanya pada petugas jaga itu akan lokasi pembuatan SKCK nya. Petugas jaga itu langsung mengarahkan Tan tempat tersebut.



" ... Akan ada tulisan di pintu, pembuatan SKCK, kalau sudah selesai, kembali kesini untuk mengambil indentitas Anda ini." Jelas petugas jaga itu.



Tan menganggukkan kepalanya dan berjalan mengikuti arahan dari petugas jaga itu.



Setelah beberapa langkah, masuk ke dalam area kantor polisi, Tan menemukan sebuah pintu yang ada tulisan pembuatan SKCK.



Tanpa pikir panjang, dia berjalan mendekati pintu tersebut dan membukanya.



Saat masuk, Tan langsung berhadapan dengan seorang petugas dan kemudian mengarahkannya untuk menjalankan beberapa prosedur dalam pembuatan SKCK tesebut, seperti perekaman sidik jari, wawancara singkat, pengambilan foto dan prosedur lainnya.



Proses pembuatan SKCK tersebut berlangsung tidak sampai dua jam dan sangat cepat karena hanya ada tiga orang yang ada di tempat itu untuk membuat SKCK.



Setelah menerima lembaran kertas SKCK dari petugas di tempat itu, Tan langsung pergi meninggalkan kantor polisi setelah sebelumnya mengambil E-KTP nya lagi di tempat penerimaan tamu.



Dia pergi menuju ke tempat lokasi kedua, yakni tempat jual beli motor bekas. Tan, sebelumnya sudah menandai lokasi jual beli motor bekas itu dalam aplikasi peta yang ada dalam ponsel pintarnya.



Dia hanya menandai toko tersebut secara asal dan memilih tempat yang tidak terlalu jauh dari lokasinya saat ini.



Mengikuti arahan dari aplikasi peta yang ada di ponsel pintarnya, Tan sampai di toko tersebut dalam waktu hanya satu setengah jam saja.



Dia melihat di toko tersebut terpanjang begitu banyak jenis motor dengan berbagai merk.



"Selamat datang di Mandiri motors, ada yang bisa saya bantu, mas?" Tanya seorang pria dengan pakaian rapi, rambut klimis dan berkacamata.



"Saya ingin menjual motor ini, bisakah?" Tanya Tan.



Mendengar kalau Tan yang ingin menjual motor bukan membeli motor, ada sedikit perubahan dari raut wajah pria klimis itu.



Dia merasa sedikit kecewa, tapi tetap memberikan senyuman bisnis dan pelayanan yang ramah sesuai dengan SOP.



"Tahun berapa ya, mas, motor ini?" Tanya pria klimis itu.



"Tahun 2009." Jawab Tan singkat.



"Hmm ... masih menggunakan mesin tipe karburator ... Bawa BPKP dan STNK nya?" Tanya pria klimis itu.



Tan menganggukkan kepalanya dengan singkat sebagai jawaban atas pertanyaan itu.



"Kalau gitu, bisa kami periksa terlebih dahulu kondisi motornya?" Tanya pria klimis itu lagi.



"Silahkan." Jawab Tan singkat.



Pria klimis itu segera memanggil seorang rekannya yang bertugas sebagai montir untuk mengecek kondisi motor Tan.



Seorang pria yang memakai kaos dengan desain band metal dan celana jeans panjang biru datang. Dia segera menghidupkan mesin motor Tan untuk mendengarkan suara mesinnya.



Selain itu, pria itu juga mengecek hal-hal lainnya dengan sangat teliti. Sedangkan pria klimis memeriksa BPKB dan STNK yang diberikan oleh Tan.



"Masnya, jarang servis, ya? Lalu motor ini pernah kecelakaan atau jatuh?" Tanya pria berkaos band metal itu.



Tan menganggukkan kepalanya, dia memang jarang menservis motornya itu karena sebelumnya kekurangan uang dan setelah ada uang pun dia masih jarang melakukannya karena sangat jarang keluar rumah menggunakan motor.



"Motor ini pernah kecelakaan, tapi semuanya sudah di perbaiki dengan baik." Ujar Tan.



"Ya, saya tahu, tapi tanda-tanda kerusakannya masih ada, seperti stang motor ini yang sedikit miring ke kanan dan tidak stabil, lalu shock breaker depannya sudah mati, perlu di ganti." Jelas pria berkaos band metal itu.




"Baiklah, mas, saya beli motornya mas dengan harga 1,8 juta, gimana mas?" Tanya pria klimis itu.



Mendengar harga yang cukup rendah membuat Tan ingin bernegosiasi. Dia sebenarnya tidak mempermasalahkan harga jual motornya segitu, tapi dia merasa harga 1,8 juta adalah harga yang cukup rendah dari harga seharusnya.



"Apa tidak bisa dinaikkan lagi harganya? misalnya 2,5 juta gitu." Tanya Tan.



"Maaf mas, itu sudah harga tertinggi yang bisa saya tawarkan dengan kondisi motor masnya seperti ini dan juga pajak tahunan motor ini tinggal satu bulan lagi." Jelas pria klimis itu.



"Kalau gitu, genapkan saja 2 juta, bisa apa tidak?" Tanya Tan.



Pria klimis itu berpikir sejenak. Dia sedang menghitung akan keuntungannya yang dia dapatkan bila membeli motor Tan dengan harga 2 juta.



"Baiklah, mas, saya setuju dengan harga 2 juta, bisakah saya pinjam E-KTP masnya untuk saya foto copy sebagai dokumen balik nama nantinya." Ujar pria klimis itu.



Tan menganggukkan kepalanya, mengeluarkan dompet untuk memberikan kartu indentitasnya pada pria klimis itu.



"Silahkan ikuti saya untuk mendatangi beberapa dokumen." Ujar pria klimis itu.



Sebelum Tan mengikuti pria klimis itu, pria berkaos band metal meminta Tan untuk mengambil barang-barang penting yang ada dalam bagasi motor matic tersebut, sebelum dia membawanya ke tempat bengkel untuk memeriksa lebih jauh mesin motor tesebut.



"Tidak ada yang perlu diambil, tidak ada barang penting dalam bagasi motor." Kata Tan.



Proses penjualan motor berlangsung dengan cepat. Tan menerima uang tunai 2 juta yang dikirimkan langsung ke rekening banknya.



Merasa tidak ada urusan lagi di toko jual beli motor bekas itu, Tan segera pergi meninggalkan toko tersebut untuk menuju ke sebuah dealer motor terdekat.



"Oh, padahal jaraknya 5 kilo, tapi harga ojol nya hampir 20 ribu." Gumam Tan saat melihat harga yang tertera di aplikasi ojol tersebut.



Tan mencoba memakai aplikasi ojol lainnya yang ada di ponsel pintarnya dan kebanyakan memang harganya hampir mencapai 20 ribu.



Meskipun sebenarnya dia tidak mempermasalahkan harga segitu dengan kekayaannya yang dimiliki saat ini, tapi tetap saja, menyukai harga yang murah atau rendah adalah sebuah kebiasaan yang tidak bisa dihilangkan begitu saja.



Siapa juga yang bisa menolak harga murah dan sebagai warga negara Indonesia yang kebanyakan menyukai hal-hal serba murah dalam hal apapun itu, dia tidak bisa menolak karakter yang sudah mendarah daging tersebut.



Bahkan kalau ada yang gratis, dia akan merasa sangat senang dan lebih gembira.



Tan segera memesan ojol dari aplikasi yang harga orderannya paling murah daripada aplikasi ojol yang ada di ponsel pintarnya tesebut.



Setelah menunggu hampir 3 menit, driver ojol yang mengambil orderannya tiba.



"Atas nama mas Tanaka?" Tanya driver ojol tersebut yang menggunakan jaket ojol berwarna abu-abu dengan tulisan AYOJEK terpampang jelas di atas saku zipper kanan jaket tersebut.



"Ya, mas." Jawab Tan singkat.



"Saya kira, costumer yang pesan ojol orang Jepang, karena nama yang tertera di aplikasi."



"Hahaha, banyak yang bilang gitu mas, tapi saya orang Indonesia asli sejak lahir."



Driver itu, tertawa kecil sambil memberikan helm ojol yang juga bewarna abu-abu pada Tan. Dia juga mengkonfirmasi tujuan orderan yang dilakukan oleh Tan sebelum berangkat.



Dalam perjalanan menuju ke dealer motor, Tan berinisiatif untuk bertanya lebih banyak tentang pekerjaan ojol, terutama tentang sistem kerja dari aplikator yang dipakai oleh driver ojol tersebut.



Dalam perjalanan tersebut, informasi tentang ojol menjadi bertambah dan tanpa terasa mereka sudah sampai di tempat tujuan.



Tan turun dari motor ojol tersebut, memberikan helm serta uang 100 ribu sebagai pembayaran atas jasa yang dilakukan oleh driver ojol tersebut.



"Tidak usah kembaliannya, ambil aja mas." Ujar Tan.



"Eh? Yang benar mas?" Tanya driver ojol itu yang kaget.



"Iya, ambil aja buat mas, semuanya." Ujar Tan.



"Wah terima kasih banyak, mas, semoga mas diberikan kelancaran rezeki dan dimudahkan segala urusan mas oleh Tuhan, Amin." Ujar driver ojol itu yang merasa senang karena mendapatkan pembayaran lebih banyak dari seharusnya.



"Amin, mas." Ujar Tan dengan singkat.



Driver ojol itu melanjutkan perjalanannya, meninggalkan Tan yang berdiri di dekat pintu gerbang dari dealer motor yang akan dia datangi.