
Keesokkan harinya, Tanaka yang telah berpakaian rapi dengan setelan semi formal yang pernah dia pakai saat pergi ke pernikahan mantan pacarnya datang ke sebuah gedung bernama menara Jaya Group yang berada di kawasan SCBD yang terkenal dengan kawasan khusus bisnis di Jakarta Selatan.
Dia datang ke bangunan tersebut untuk memenuhi undangan dari Ayunindya. Tanaka tidak datang sendirian, tapi dia datang dengan sahabatnya, Martin.
"Aku masih tidak percaya, kamu tiba-tiba nelpon aku, beritahu aku kalau kamu sedang berada di Jakarta hanya beberapa hari setelah aku meninggalkan kota Jogja dan kemudian meminta aku menemani kamu untuk hadir dalam pesta ulang tahun karena mendapatkan undangan." Jelas Martin yang telah memarkirkan mobilnya di tempat yang tersedia di area menara Jaya Group.
Area parkir tersebut dipenuhi dengan mobil yang lebih mahal daripada mobilnya dan kebanyakan adalah mobil impor dari eropa. Hanya dirinya yang memakai mobil murahan yang banyak dimiliki oleh kalangan menengah ke bawah.
"Ya, ini sebenarnya diluar rencana, aku kan sudah bilang kalau aku datang ke Jakarta untuk mengurus visa dan kemudian berangkat Korea Selatan, tapi aku baru tahu kalau ngurus visa itu tidak langsung jadi, harus nunggu beberapa hari baru jadi." Jelas Tanaka sambil melepaskan seat belt dan bersiap untuk keluar dari mobil Martin tersebut.
"Aku pikir acara ulang tahun biasa saja dan kamu minta temenin karena gak tahu jalan di Jakarta " Ujar Martin yang juga melakukan hal yang sama seperti Tanaka. "Tapi ternyata kita menghadiri acara ulang tahun dari salah satu perusahaan top di Indonesia, bagaimana bisa kamu mendapatkan undangannya? Padahal gak sembarangan orang bisa mendapatkan undangan dari perusahaan Jaya Group."
"Ya, itu terjadi secara tidak sengaja saja, dia tiba-tiba saja mengundang aku untuk datang, karena telah diundang aku harus datang untuk menghormatinya." Ujar Tanaka yang setelah keluar dari mobil dan merapikan setelan semi formalnya.
Martin juga sudah keluar dan merapikan pakaian setelan formalnya, dasi, jas dan celana bahannya.
"Kamu harus menceritakan tentang ini padaku sejelas mungkin karena ini juga menyangkut perusahaan kita." Ujar Martin. "Mungkin saja kita bisa berinvestasi di salah satu perusahaan Jaya Group."
Tanaka hanya menganggukkan kepalanya dan kemudian berjalan menuju lobby bangunan tersebut. Martin mengikutinya, berjalan disampingnya.
Saat memasuki bangunan yang seperti lobby hotel bintang lima tersebut, Tanaka dan Martin mengikuti para tamu undangan acara ulang tahun Jaya Group.
Mereka dan para tamu undangan itu berhenti di depan sebuah dua pintu yang terbuka lebar dan ada dua petugas yang memegang tab.
Dua petugas tersebut memeriksa tamu undangan dengan melakukan scan barcode pada kartu undangan sebelum diijinkan untuk masuk ke dalam ruangan yang menjadi tempat acara berlangsung.
"Hei, kamu bawa kartu undangannya kan?" Tanya Martin dengan berbisik.
"Tidak, aku tidak punya kartu undangan sama sekali." Jawab Tanaka dengan santainya.
Martin terkejut mendengar itu karena tanpa kartu undangan mereka berdua tidak akan bisa masuk ke dalam ruangan tersebut.
"Bagaimana bisa kamu tidak memiliki kartu undangannya? Bagaimana kita bisa masuk?" Tanya Martin.
"Kenalan aku mengatakan akan memasukkan nama aku dalam list tamu undangan." Jawab Tanaka dengan sikap masih tenang tidak ada rasa cemas atau khawatir sama sekali.
Sangat berbeda dengan sahabatnya itu yang cemas karena Tanaka tidak memiliki kartu undangan tapi tetap ingin hadir dalam acara ulang tahun perusahaan Jaya Group.
Meskipun begitu, Martin hanya menganggukkan kepalanya dan percaya dengan sahabatnya itu.
Saat tiba giliran mereka, petugas yang berjaga di depan pintu dan memegang tab yang berisi daftar nama tamu undangan meminta Tanaka untuk menunjukkan kartu undangan.
"Kami tidak memiliki kartu undangan, tapi namaku ada dalam list, tolong diperiksa." Ujar Tanaka.
Tentu saja hal itu membuat petugas itu merasa heran dan curiga pada Tanaka dan Martin. Meskipun begitu petugas itu tetap melakukan apa yang diminta oleh Tanaka.
Dia langsung mengetik di panel pencarian setelah Tanaka menyebutkan namanya.
"Mohon maaf, nama Anda tidak ada dalam list tamu undangan." Ujar petugas itu.
Mendengar itu membuat Tanaka mengernyitkan dahinya karena nama tidak ada dalam daftar tamu undangan, tidak seperti yang dikatakan oleh Ayunindya kemarin hari.
"Coba lakukan lagi, mungkin ada yang salah pengerjaannya." Ujar Tanaka yang masih percaya dengan ucapan Ayunindya.
Petugas itu mulai tambah curiga tapi dia tetap melakukannya karena dia berpikiran sama seperti Tanaka, ada kesalahan dalam pengetikan sebelumnya.
Setelah melakukannya, nama Tanaka tetap tidak muncul dan petugas itu yakin kalau Tanaka bukanlah tamu undangan sehingga dia meminta menyingkir agar tamu undangan lainnya bisa diperiksa.
Tanaka dan Martin hanya bisa menyingkir, membiarkan tamu undangan yang ada di belakang mereka diperiksa oleh petugas tersebut.
"Apa mereka berdua sudah gila, ingin masuk tanpa kartu undangan?"
"Hahaha, mungkin saja mereka berdua berpikir ini acara biasa yang bisa menyusup dengan mudah seperti acara pernikahan gitu, agar bisa dapat makan gratis."
"Bagaimana mungkin mereka sebodoh ini? Apa mereka berdua tidak tahu kalau acara ini adalah acara dari perusahaan ternama di Indonesia jadi tidak sembarang orang bisa hadir."
Berbagai cemoohan dan hinaan menyerang Tanaka dan Martin dari para tamu undangan yang masih berada di depan pintu ruangan acara.
Martin hanya menundukkan kepalanya dan merasa malu dengan hal tersebut.
"Hei, apa kamu benar-benar diundang?" Tanya Martin.
Tanaka menganggukkan kepalanya, "Dia mengatakan kalau aku bisa hadir karena akan memasukkan nama aku dalam list tamu undangan." Ujar Tanaka.
"Siapa sih kenalan kamu itu, sampai bisa menjanjikan hal seperti ini?" Tanya Martin.
"Dia itu ... "
Belum juga Tanaka menjawab seseorang memanggil namanya sehingga dirinya dan Martin melihat ke arah orang tersebut.
Seorang perempuan yang merangkul lengan seorang pria berjalan mendekati mereka berdua.
"Tan, apa yang kamu lakukan disini?" Tanya perempuan itu. "Apa kamu diundang acara perayaan berdirinya perusahaan Jaya Group?"
"Itu ... "
Tanaka tidak bisa menjawab karena dia bingung untuk memberikan jawabannya.
"Siapa? Apa ini kenalan yang kamu bilang itu?" Tanya Martin dengan berbisik.
"Bukan, ini mantan pacarku yang sudah menikah, pria disampingnya suaminya." Jawab Tanaka dengan berbisik juga.
Martin terkejut mendengar itu, dia tidak menyangka kalau Tanaka pernah menjalin hubungan asmara dengan seorang perempuan.
"Bila kamu tamu undangan, ayo kita masuk bersama." Ajak suaminya Saras, Harry.
"Itu ... "
Belum juga Tanaka menjawab, seseorang sudah memberikan jawaban.
"Mereka berdua tidak bisa masuk karena tidak memiliki kartu undangan." Ujar seseorang pria dengan seorang perempuan yang juga merangkul lengan pria itu.
Mereka berempat segera melihat orang yang berbicara itu dan Tanaka, Martin mengenal keduanya.
"Richard, Karen?" Tanya Martin.
"Ya, sudah lama kita tidak bertemu sejak reuni itu, Martin, Tanaka." Ujar Richard dengan bergaya arogan dan sombong.
Tanaka dan Martin menganggukkan kepalanya.
"Apa kamu dan Karen berpacaran?" Tanya Martin.
Karen adalah salah satu siswi yang menjadi primadonanya SMA Cita Harapan tempat mereka bersekolah.
Perempuan itu sempat menyukai Tanaka yang memiliki wajah tampan dan pintar, bahkan menembaknya tapi diacuhkan oleh Tanaka begitu saja.
Meskipun begitu, Karen masih mencoba untuk mendekati Tanaka, tapi sampai akhirnya dia gagal mendapatkan Tanaka sebagai kekasih, bahkan sebagai teman saja juga gagal.
Richard dengan tersenyum bangga merangkul pinggang Karen yang memang sudah disukainya sejak SMA.
"Ya, kami jadian setelah acara reuni tersebut." Ujar Richard dengan tersenyum seringai, menatap ke arah Tanaka.
Akan tetapi karena dia tidak ingin mendapatkan image jelek di sekolah, membuat dirinya menahan rasa cemburunya tersebut.
Tanaka hanya tersenyum dengan tenang dan memberikan selamat atas jadiannya Richard dan Karen dengan sangat tulus.
Tentu saja ucapan selamat dengan tulus itu membuat Richard dan Karen merasa kesal. Richard kesal karena Tanaka tidak cemburu sama sekali dan Karen kesal karena Tanaka menerimanya begitu saja.
"Tuan Richard, saya Harry Baktiar, kepala seksi pelaksana pemasaran Jaya Group." Ujar Harry yang menyodorkan tangannya untuk bersalaman dengan Richard.
Richard melepaskan rangkulan pinggang Karen agar bisa bersalaman dengan Harry.
"Tuan Richard, kalau boleh tahu apa maksud perkataan Anda tadi tentang tidak memiliki kartu undangan?" Tanya Harry sambil melihat ke arah Tanaka dan Martin.
Richard kemudian menceritakan apa yang terjadi sebelum Harry dan Saras muncul.
"Astaga, jadi kedua orang ini mencoba untuk menyusup?" Ujar Harry dengan suara sedikit keras agar semua orang mendengarnya sehingga Tanaka dan Martin merasa malu.
Martin pun tidak terima dengan tuduhan tersebut. "Siapa yang kamu sebut penyusup?" Tanya Martin yang kesal. "Kami memang tidak memiliki kartu undangan, tapi ada kenalan dari sahabatku ini yang memberitahu kalau namanya akan dimasukkan ke dalam list tamu."
"Hahaha, terus apa nama kalian ada dalam list tamu?" Tanya Harry dengan angkuhnya. "Tidak ada kan? Jadi tidak ada bedanya dengan kalian berdua mencoba untuk menyusup."
Mendengar itu membuat Martin tidak bisa berkata-kata lagi karena memang nama Tanaka tidak ada dalam list tamu.
"Ini adalah acara penting yang diselenggarakan oleh perusahaan Jaya Group untuk memperingati hari berdirinya, dan tamu undangannya adalah orang-orang terpilih yang semuanya memiliki kartu undangan." Jelas Harry.
"Salah satunya seperti tuan Richard ini yang merupakan pewaris utama perusahaan Marx Group." Ungkap Harry yang membuat Richard semakin tinggi hati.
Martin merasa kesal dengan apa yang dilakukan oleh Harry sedangkan Tanaka hanya diam saja.
Dia pun berbisik pada Martin untuk meninggalkan tempat tersebut karena tidak ada yang bisa mereka lakukan lagi di tempat itu.
Melihat Tanaka dan Martin yang akan pergi membuat Harry dan Richard semakin terus mengatakan hal-hal yang membuat Tanaka dan Martin akan merasa sangat malu.
"Apa kalian berdua ingin pergi setelah ketahuan ingin menyusup ke acara ini?" Tanya Richard sambil tertawa ngejek.
"Bila aku jadi kalian, aku akan melakukan operasi plastik agar wajah memalukan kalian itu tidak lagi dikenal banyak orang." Ujar Harry.
Tentu saja ucapan mereka berdua dibuat keras sehingga orang-orang disekitar dapat mendengar dan membuat Tanaka dan Martin menjadi bahan perbincangan mereka semua, tentu saja perbincangan yang mereka lakukan bukan hal positif tapi negatif semuanya.
Martin merasa sangat kesal dengan Richard dan Harry, dia ingin sekali memukul wajah mereka berdua tapi ditahan oleh Tanaka karena hal itu akan menambah permasalahan yang terjadi saat ini.
"Kita pergi saja, Martin." Ujar Tanaka dengan singkat, sambil mendorong sahabatnya itu untuk berjalan keluar bangunan tersebut.
Namun baru beberapa langkah mereka berjalan ada seseorang yang muncul dan menanyakan hal keributan yang terjadi di luar hall room yang akan menjadi tempat acara perayaan berdirinya perusahaan Jaya Group pada petugas pemeriksa kartu undangan.
"Ada keributan apa ini?" Tanya orang itu.
"Maafkan saya, nona Cindy, itu ada dua orang yang berusaha ingin masuk tapi tidak memiliki kartu undangan." Ujar petugas tersebut sambil menunjuk ke arah Tanaka dan Martin yang sedang berjalan.
Cindy melihat ke arah Tanaka dan Martin, namun dia melupakan wajah Tanaka sehingga dia hanya menganggap dia orang tersebut hanyalah dua orang bodoh yang ingin menyusup ke dalam acara agar bisa dapat makan gratis.
Akan tetapi beberapa saat kemudian, dia teringat akan perintah dari Ayunindya yang belum dia lakukan karena saking banyaknya tugas yang harus dia lakukan untuk acara ini.
Bagaimanapun bosnya, Ayunindya telah menjadi penanggung jawab acara perayaan tersebut sehingga sebagai sekretarisnya dia memiliki banyak tugas yang harus dilakukan agar keberlangsungan acaranya berhasil dengan baik.
"Apa salah satu dari mereka menyebut namanya?" Tanya Cindy.
"Ya, kalau tidak salah tadi namanya ... Ta ... Ka?" Jawab petugas itu yang lupa nama Tanaka. "Maaf, nona Cindy, saya lupa, tapi namanya mirip seperti nama orang Jepang."
Cindy langsung menyadari kalau orang yang baru saja pergi itu adalah tamu bosnya yang diminta untuk dimasukkan ke dalam list tamu, tapi belum sempat dilakukannya sehingga dia pergi ke pintu hall room untuk jaga-jaga bila saja tamu bosnya itu datang.
Sementara itu, Tanaka yang berada di depan pintu lobby bagian luar sedang berusaha menenangkan Martin yang kelihatannya masih marah atas peristiwa yang terjadi sebelumnya.
"Bagaimana bisa kamu membiarkan mereka mempermalukan diri kita, Tan?" Ujar Martin yang kesal.
"Sudah, tenang, tenang, jangan terlalu diambil hati, itu hanya akan membuat capek saja bila meladeni mereka itu." Jelas Tanaka. "Lagipula kita memang tidak memiliki kartu undangan dan namaku juga tidak ada dalam list tamu undangan, jadi apa yang bisa kita lakukan?"
"Meskipun begitu, tidak seharusnya mereka mempermalukan kita seperti ini di depan banyak orang." Ujar Martin. "Lagipula, kenapa kamu tidak hubungi saja kenalan kamu itu? Bilang padanya kalau namamu tidak ada dalam list tamu undangan."
Tanaka hanya terdiam saja karena dia tidak ingin menelepon Ayunindya hanya karena hal kecil seperti ini, meskipun dia yang mengundangnya, tapi tetap saja ada atau tidak ada dirinya tidak akan berpengaruh pada acara perusahaan Jaya Group.
"Sudahlah, kita pergi saja dari tempat ini dan cari tempat nongkrong yang bagus sambil membicarakan soal perusahaan kita." Ajak Tanaka.
Martin hanya menghela nafas panjang dan kemudian menganggukkan kepalanya karena dia juga sudah tidak ada mood untuk mengikuti acara dari salah satu perusahaan terbesar dan terkenal di Indonesia tersebut.
"Tunggu, kalian berdua, tolong tunggu sebentar." Ujar Cindy yang telah menghampiri Tanaka dan Martin yang akan pergi menuju ke parkiran mobil.
Dua pria itu segera berhenti dan berbalik melihat Cindy yang berjalan mendekati mereka dan akhirnya berdiri di hadapan mereka berdua.
Tanaka dan Martin saling menatap untuk melihat apakah ada yang mengenal perempuan yang berdiri dihadapan mereka berdua apa tidak.
"Maaf, Anda siapa ya? Apa ada hal yang bisa aku bantu?" Tanya Tanaka setelah mengetahui kalau perempuan yang ada dihadapannya bukan kenalan Martin.
"Hei, Tan, apa dia bukan kenalan kamu?" Tanya Martin dengan berbisik.
"Bukan, aku tidak mengenal perempuan ini." Jawab Tanaka dengan berbisik juga.
"Maaf, apa salah satu dari kalian ada yang bernama Tanaka Syahputra?" Tanya Cindy.
Mendengar namanya disebut, Tanaka mengangkat satu alisnya ke atas karena merasa bingung. Dia merasa belum pernah bertemu dengan perempuan yang ada di hadapannya.
"Katanya kamu tidak kenal, bagaimana bisa dia tahu nama lengkap kamu?" Tanya Martin dengan berbisik.
"Aku juga tidak tahu, aku benar-benar tidak mengenalnya, bahkan ini adalah pertemuan pertama kami berdua." Jawab Tanaka dengan berbisik.
"Itu aku, maaf Anda siapa ya? Bagaimana bisa tahu namaku?" Tanya Tanaka.
"Ah, mohon maaf, aku Cindy Montana, sekretarisnya nona Ayunindya, direktur pemasaran dan pengembangan Jaya Group." Ujar Cindy yang memperkenalkan dirinya.
"Mohon maaf sebelumnya, nona Ayunindya sudah meminta aku untuk memasukkan nama tuan Tanaka dalam list tamu undangan, tapi aku lupa melakukannya, tolong maafkan aku, tuan Tanaka." Ujar Cindy sambil merendahkan tubuhnya sedikit ke bawah.
"Oh, begitu, tidak apa-apa, aku hanya merasa bingung saja tadi karena tidak ada namaku, padahal nona Ayunindya yang telah mengundang aku untuk datang ke acara ini." Ujar Tanaka dengan tenang karena sudah tahu alasan kenapa namanya tidak ada.
"Ya, maafkan aku atas hal ini, bila tuan Tanaka berkenan, tuan bisa masuk untuk mengikuti acaranya." Ajak Cindy.
"Apa boleh? Namaku tidak ada dalam list tamu undangan?" Tanya Tanaka.
Cindy menganggukkan kepalanya dan tidak mempermasalahkan hal tersebut karena bagaimanapun Tanaka adalah tamu undangan bosnya yang merupakan putri satu-satunya dari direktur utama Jaya Group dan akan menjadi pewaris utama perusahaan Jaya Group nantinya.
Mendengar kalau dirinya bisa masuk meskipun tidak ada kartu undangan ataupun namanya dalam list tamu undangan, Tanaka melihat ke arah Martin untuk meminta pendapatnya.
"Apalagi yang kita tunggu, nona ini telah memberitahu kalau kita bisa masuk, jadi kita hanya melakukannya seperti yang dikatakan oleh nona ini." Ujar Martin.
Tanaka menganggukkan kepalanya dan mereka bertiga kembali masuk ke dalam bangunan tersebut dan berjalan menuju ke hall room tempat acaranya berlangsung.
Tanaka dan Martin tidak perlu mengantri karena Cindy yang memimpin mereka masuk dan memberitahu pada petugas kalau Tanaka adalah tamu dari Ayunindya dan Martin adalah teman yang diajak oleh Tanaka.
Petugas itu hanya menganggukkan kepalanya dan membiarkan mereka bertiga masuk begitu saja tanpa perlu melakukan check in kartu undangan.
"Silahkan duduk disini dan silahkan nikmati hidangan yang tersedia sebelum acara dimulai, aku akan memberitahu pada nona Ayunindya tentang kehadiran tuan Tanaka." Ujar Cindy yang meninggalkan dua pria tersebut.