
Tanaka menunggu jawaban dari Martin yang masih belum merespon sarannya untuk membuat perusahaan.
"Halo, apa kamu masih disana, Martin?" Panggil Tanaka.
Martin pun terkejut dan sadar dari lamunannya.
"Ya, kamu bilang apa tadi?" Tanya Martin yang otaknya benar-benar tidak bisa merespon dengan baik pada saat itu.
"Kamu ingin buat perusahaan sendiri atau tidak? Perusahaannya bergerak di bidang apa itu terserah kamu, aku akan memberikan modalnya." Jawab Tanaka.
Akan tetapi belum juga Martin memberikan jawaban atas hal tersebut, orderan sudah masuk sehingga Tanaka menerima orderan tersebut terlebih dahulu.
"Pikirkanlah baik-baik, kalau kamu tidak ingin juga tidak apa-apa, ini cuma saran saja." Ujar Tanaka yang mengakhiri pembicaraan untuk menyelesaikan orderan yang masuk tersebut.
Tiga hari telah berlalu sejak Tanaka membicarakan hal tentang pembuatan perusahaan pada Martin yang juga belum memberikan jawaban atas saran tersebut.
Dia pun berpikir kalau Martin tidak ada keinginan untuk membuat perusahaan sehingga Tanaka tidak lagi menghubungi Martin untuk hal tersebut.
Akan tetapi pada keesokan harinya, Martin menghubunginya yang mana dia memberitahu Tanaka kalau dirinya sudah berada di stasiun Yogyakarta.
Tentu saja itu membuat Tanaka terkejut dan dia sedang berada cukup jauh dari stasiun tersebut. Dia baru saja menyelesaikan orderannya dan itu berada di pinggiran kota Yogyakarta yang lumayan jauh.
"Tunggu aku disana." Pinta Tanaka sambil menonaktifkan akun ojolnya dan langsung pergi ke arah stasiun dengan cepat.
Saat hampir dekat stasiun, Tanaka melepaskan atribut ojolnya dan memasukkan semuanya ke dalam bagasi biar lebih nyaman dan tidak bermasalah dengan bentor ataupun becak yang mangkal di depan stasiun Yogyakarta.
"Kamu dimana?" Tanya Tanaka yang menghubungi Martin.
"Aku ada di cafe samping rel kereta." Jawab Martin.
Tanaka segera mengakhiri pembicaraan tersebut dan menuju ke tempat cafe yang disebutkan oleh Martin tersebut.
Setelah sampai dia memarkirkan motornya tepat di depan kafe tersebut, berjalan memasuki kafe untuk mencari Martin.
"Tanaka!" Panggil Martin yang melihat Tanaka.
Tanpa menunggu lama, Tanaka segera berjalan menuju ke tempat Martin berada dan saat sudah saling dekat, mereka berdua bersalaman.
"Kenapa kamu tiba-tiba berada di Yogya?" Tanya Tanaka.
"Ya, aku ingin kasih surprise padamu." Jawab Martin. "Bagaimana? Kamu terkejut dengan kehadiran aku?"
"Tentu saja, kamu telpon aku dan bilang sudah berada di stasiun Yogyakarta secara tiba-tiba." Jawab Tanaka.
Dia melihat Martin datang sendirian, tidak dengan keluarganya.
"Kamu datang sendirian? Mana istri dan anakmu?" Tanya Tanaka.
"Aku datang sendirian karena aku datang ke kota ini selain karena ingin bertemu denganmu dan bernostalgia, aku ingin kita membicarakan lebih banyak lagi tentang apa yang kamu omongin itu." Jelas Martin.
Tanaka menganggukkan kepalanya dan mereka harus pergi dari tempat itu karena suasananya tidak nyaman untuk obrolan berat.
Mereka berdua pun pergi dari kafe tersebut menuju ke tempat yang lebih nyaman. Saat Tanaka membuka bagasi untuk memberikan helm ojolnya, Martin sedikit terkejut karena dia tidak menyangka kalau Tanaka yang seorang introvert kelas berat akan mau melakukan pekerjaan ojol.
"Sudah berapa lama kamu menjadi ojol?" Tanya Martin sambil menerima helm ojol tersebut.
"Belum terlalu lama, aku baru mulai bulan kemarin." Jawab Tanaka.
Martin menganggukkan kepalanya namun dia merasa bingung karena Tanaka yang dia tahu adalah pria rumahan, pria yang tidak akan pernah keluar dari rumahnya, kecuali ada bencana alam, sekolah dan sesuatu yang sangat penting dan harus membuatnya keluar dari rumah.
Selain itu dia tidak akan pernah keluar dari rumahnya karena saat masih SMA, setelah selesai jam sekolah, dia akan langsung pulang, tanpa mau pergi hangout ke warnet, game center ataupun tempat nongkrong.
"Tapi kenapa tiba-tiba dia memilih kegiatan yang lebih banyak diluar rumah?" Pikir Martin.
"Jadi kita akan pergi kemana?" Tanya Martin.
"Rumahku." Jawab Tanaka dengan cepat.
Martin menghela nafas karena sahabat SMA-nya itu masih belum berubah sama sekali, masih pria rumahan.
"Mumpung kamu sudah berada di luar rumah, lebih baik kita ngobrolnya di tempat selain rumahmu." Saran Martin.
Tanaka menganggukkan kepalanya, "Dimana?" Tanya Tanaka dengan santainya.
Martin kembali menghela nafas mendengar pertanyaan itu karena seharusnya Tanaka yang tinggal di Yogyakarta tahu tempat yang cocok untuk mengobrol dengan nyaman.
"Sebenarnya yang tinggal di kota ini aku atau kamu?" Tanya Martin. "Bagaimana bisa kamu tanya aku yang merupakan orang luar?"
"Kamu ada benarnya juga, tapi aku benar-benar tidak tahu tempat yang nyaman untuk kita ngobrol." Ujar Tanaka.
Namun beberapa saat kemudian, dia teringat akan suatu tempat dan letaknya juga tidak terlalu jauh dari stasiun Yogyakarta.
"Aku ada satu tempat dan mungkin hanya tempat itu yang aku tahu untuk kita mengobrol dengan nyaman." Ungkap Tanaka.
Mereka berdua pun langsung menuju ke tempat sebuah kafe yang berada di kota baru yang bernama kafe Luna De Luna, tempat pertama kalinya Azrina dan Tanaka menghabiskan banyak waktu bersama.
Sesampainya di kafe tersebut, Tanaka segera menghentikan motornya di tempat parkir motor yang tersedia di kafe tersebut dan mereka berdua langsung masuk ke dalam kafe tersebut.
Suasana di dalam kafe tersebut tidak terlalu ramai karena kafe itu ramainya saat sore hari sampai malam.
Saat siang begini pengunjung yang datang ke kafe tersebut tidak terlalu banyak sehingga banyak kursi yang kosong.
Seorang pegawai kafe tersebut langsung menyambut Tanaka dan Martin saat masuk.
"Selamat datang di kafe Luna De Luna, untuk berapa orang?" Tanya pegawai itu.
"Dua orang." Jawab Tanaka.
Pegawai itu menganggukkan kepalanya dan kemudian meminta dua pria itu untuk mengikutinya menuju tempat yang tidak terlalu jauh dari pintu masuk.
Namun Tanaka meminta tempat yang agak private pada pegawai itu yang kemudian membawanya ke tempat yang diminta oleh Tanaka tersebut.
Setelah mencatat beberapa pesanan Tanaka dan Martin yang ada dalam menu kafe tersebut, pegawai itu segera meninggalkan dua pria itu untuk menuju ke bagian bar dan kitchen.
"Bagaimana kamu yang pria rumahan bisa menemukan kafe cukup bagus seperti ini?" Tanya Martin.
"Ya, itu sejak aku ngojol, aku banyak menemukan tempat-tempat yang menarik, bahkan aku sudah hampir tahu semua jalan yang ada di kota Yogyakarta dan sekitarnya." Jelas Tanaka dengan sedikit bangga akan hal itu.
"Hooo, sahabatku yang aku kenal sudah banyak berubah ternyata, dulunya kamu hanya tahu jalan menuju ke sekolah dan rumahku saat masih di Jogja." Puji Martin.
Mereka berdua pun mengobrol tentang banyak hal yang gak jelas sampai bernostalgia sejenak tentang masa-masa SMA sampai pada waktunya Martin langsung membicarakan tujuannya datang ke Jogja tanpa memberikan kabar pada Tanaka.
"Jadi soal yang kamu katakan itu, tentang membuat perusahaan ... apa kamu serius?" Tanya Martin.
"Tentu saja aku serius, kalau tidak aku tidak akan mengungkitnya." Jawab Tanaka. "Lagipula aku memang ada kepikiran untuk membuat sebuah usaha."
"Awalnya aku ingin melanjutkan usaha online aku dan membangun sebuah kos-kosan." Jelas Tanaka. "Tapi saat mendengar kamu berhenti dari pekerjaan itu, membuat aku mendapatkan ide untuk membuat usaha bersama denganmu."
Martin menganggukkan kepalanya dan dia pun membicarakan hal-hal yang lebih spesifik tentang usaha apa yang akan dilakukan oleh dirinya dan Tanaka, termasuk berapa modal awalnya.
"Kalau modal awal, aku bisa memberikan lebih dari satu milyar, namun untuk usahanya, aku sarankan disesuaikan dengan apa yang kamu kuasai dan pekerjaan yang kamu lakukan sebelumnya." Jelas Tanaka.
"Kamu ingin perusahaan keuangan dan investasi?" Tanya Martin.
Tanaka menganggukkan kepalanya karena dia tahu Martin menguasai bidang tersebut sedangkan dirinya tidak pandai dalam mengelola usaha atau bisnis.
"Sebenarnya tidak dengan keuangan karena bisa terjerumus pada praktek riba." Ujar Tanaka. "Aku hanya ingin kita membuat perusahaan investasi saja."
"Perusahaan investasi? Investasi seperti apa? Emas, crypto, saham atau lainnya?" Tanya Martin.
"Ya, aku tidak tahu, makanya aku mengajak kamu untuk membuatnya bersama karena itu bidang usaha yang kamu kuasai." Jawab Tanaka. "Bentuk perusahaan investasi seperti apa, kamu yang tentukan, aku hanya akan memberikan modalnya padamu."
Martin hanya menganggukkan kepalanya dan kemudian menanyakan tentang nama perusahaan yang mereka gunakan.
Akan tetapi pada saat itu juga pesanan mereka telah tiba sehingga mereka berdua terhenti sejenak untuk menyantap hidangan pesanan makanan dan minuman mereka masing-masing.
Setelah beberapa suap, keduanya memberikan beberapa nama untuk perusahaan investasi tersebut dan saling memberikan penilaian terhadap nama-nama tersebut, sampai akhirnya Tanaka memberikan nama yang cukup asing dan unik.
"Fantastis Investment." Ujar Tanaka. "Aku pikir belum ada nama perusahaan investasi seperti itu, bagaimana?"
Tanaka mengambil nama itu karena hidupnya benar-benar berubah fantastis sejak dia mendapatkan anugerah penglihatan super yang bisa melihat pergerakan harga saham selama 24 jam.
"Fantastis Investment? Nama yang cukup unik dan menarik." Ucap Martin. "Okelah kita pakai nama itu."
Martin akan mengurus semua administrasi yang diperlukan dalam pembuatan perusahaan tersebut dan akan selalu memberikan kabar tentang proses tersebut pada Tanaka.
Dia juga menginginkan Tanaka untuk tinggal di Jakarta karena itu akan lebih mudah dalam komunikasi, tapi Tanaka menolaknya karena dia tidak tahan dengan keramaian kota metropolitan tersebut.
Berada di kota Yogyakarta membuat dia merasa sangat nyaman dan tenang daripada di kota Jakarta.
Setelah obrolan yang cukup serius itu, Martin dan Tanaka mengubah topik pembicaraan yang lebih santai dan itu adalah tentang pasangan hidupnya Tanaka yang masih belum ada atau ditemukan.
Tanaka tidak terlalu menganggap pasangan hidupnya adalah hal yang cukup penting sehingga dia tidak berusaha untuk mencari jodoh yang telah ditakdirkan oleh Tuhan untuk dirinya.
Dia benar-benar menikmati hidup jomblonya dengan bahagia sejak ditinggal menikah oleh mantan pacarnya, Saras.
"Soal kencan buta itu, aku dan istriku benar-benar minta maaf padamu." Ujar Martin. "Istriku benar-benar tidak tahu kalau temannya itu akan berprilaku seperti itu padamu."
Ucapan Martin itu membuat Tanaka kembali mengingat dengan perempuan yang menjadi pasangan kencan buta nya itu untuk pertama kalinya, saat dia berada di Jakarta.
"Tidak perlu minta maaf segala, aku telah melupakan hal itu." Ujar Tanaka. "Lagipula itu juga bagus, perempuan itu menunjukkan wajah aslinya sehingga aku langsung tahu, akan lebih berbahaya kalau dia menyembunyikan dan baru tahu setelah aku menikah dengannya."
Martin menganggukkan kepalanya, tapi rasa bersalah pada Tanaka tentang kejadian itu masih dia rasakan. Istrinya juga telah memarahi temannya itu bahkan sampai mengambil keputusan untuk memutuskan hubungan dan komunikasi dengan perempuan itu.