
"Kita berpisah disini, teman-teman kamu juga tidak mengikuti kita." Ujar Tan yang berhadapan dengan Ayunindya.
Tan menyadari kalau dirinya sedang dimanfaatkan oleh perempuan cantik itu sebagai alasan untuk pergi dari teman-temannya dan dia baru menyadari hal itu lima menit setelah meninggalkan restoran.
"Maaf dan terima kasih sudah mau membiarkan tindakanku ini." Ujar Ayunindya yang merasa bersalah.
"Tidak masalah, kamu juga melakukan ini karena tidak ingin berlama-lama lagi dengan mereka kan?" Tanya Tan.
Ayunindya menganggukkan kepalanya dengan singkat.
"Kalau gitu, aku pergi." Ujar Tan dengan singkat.
Dia berjalan mendekati pintu lift dan menekan tombol lift yang berbentuk panah ke atas.
Tan dan Ayunindya, berada di lantai B2. Mobil Ayunindya terparkir di lantai tersebut, sedangkan pria itu tidak membawa mobilnya sehingga dia harus kembali ke lantai tempat lobby mall itu berada agar bisa memesan taksi atau ojek online.
"Tunggu, apa kamu masih memiliki urusan di mall ini?" Tanya Ayunindya secara tiba-tiba.
Tan kembali menatap ke Ayunindya dan menggelengkan kepalanya. "Aku ingin pulang."
"Apa kamu kesini menggunakan kendaraan pribadi?" Tanya Ayunindya lagi.
Sekali lagi Tan menggelengkan kepalanya.
"Oh, kalau gitu, kamu bisa ikut denganku, aku akan mengantar kamu pulang." Ajak Ayunindya sebagai balasan atas apa yang telah dilakukan oleh Tan pada dirinya.
Tan terdiam sejenak, memikirkan apakah menerima ajakan tersebut atau tidak.
Melihat Tan yang terdiam seperti sedang memikirkan ajakannya, membuat Ayunindya merasa sedikit kesal.
"Apakah itu sesuatu yang harus kamu pikirkan? Aku telah melakukan sesuatu tidak pernah aku lakukan pada pria manapun yang bukan dari keluargaku." Pikir Ayunindya.
"Seharusnya, dia langsung menerima saat aku mengajaknya daripada harus memikirkannya." Lanjutnya.
Setelah berpikir dengan suasana diam tanpa bersuara sedikitpun, Tan menolak ajakan Ayunindya.
"Maaf, aku naik ojek online saja, lagipula itu akan merepotkan kamu, apalagi dengan situasi jalanan di kota ini yang macet." Ujar Tan.
Mendengar penolakan tersebut, membuat Ayunindya terkejut. Dia berpikir semua pria yang bukan dari keluarganya akan dengan senang hati menerima ajakannya.
"Apa pria ini tidak menyukai wanita? Bagaimana bisa dia menolak ajakanku? atau mungkin dia berperilaku sok jual mahal padaku" Pikir Ayunindya dengan sedikit mengernyitkan dahinya.
"Seharusnya itu yang aku lakukan, bukan dia, aku telah bersikap rendah diri dengan menawarkan tumpangan, tapi dengan mudahnya dia menolak begitu saja." Pikir Ayunindya.
Beberapa saat kemudian, suara lift berbunyi dengan bersaman pintu lift terbuka. Tan melangkahkan kakinya memasuki lift tersebut dan saat ingin menekan tombol lift yang akan menutup pintu agar bisa membawanya ke lantai tempat lobby mall berada, Ayunindya menahan satu sisi pintu lift sehingga pintu itu tidak jadi tertutup.
"Tunggu, tolong ikutlah denganku, biarkan aku mengantar kamu, ini bentuk terima kasih aku karena kamu sudah membantu aku sebelumnya." Ujar Ayunindya yang sedikit memaksa.
Hal ini, baru pertama kalinya dia lakukan pada seorang pria asing dan dia merasa heran dan terkejut dengan sikapnya tersebut.
"Kenapa aku melakukan hal seperti ini padanya? Bukankah aku terlihat sedikit murahan?" Pikir Ayunindya yang heran akan sikap dirinya.
Tan hanya terdiam melihat Ayunindya yang memaksanya untuk ikut dengannya. Dia ingin menolak ajakan tersebut untuk kedua kalinya karena akan merasa tidak nyaman dan canggung selama perjalanan.
Akan tetapi setelah berpikir sejenak dia memutuskan untuk menerima ajakan tersebut karena menolak kedua kalinya ajakan seseorang yang memiliki niat baik tidak etis. Itu akan membuat orang yang mengajak menjadi tersinggung.
"Kenapa kamu harus memikirkannya lagi?" Pikir Ayunindya yang kesal, tapi tidak diperlihatkan secara jelas dari ekspresi wajahnya yang hanya menampilkan senyuman.
Tan berjalan keluar lift lagi dan kembali berhadapan dengan Ayunindya lagi.
"Apa kamu benar-benar tidak merasa kerepotan? Mungkin saja arah tempat aku tinggal dan tempat tinggal kamu berlainan arah." Tanya Tan.
"Kamu tinggal dimana, tuan Tanaka?" Tanya Ayunindya.
"Aku menginap di hotel Milineal Sirih" jawab Tan.
"Milineal Sirih? apa itu di tanah Abang?" Tanya Ayunindya yang ingin memastikan tempatnya.
"Aku tidak tahu, aku bukan orang Jakarta, tapi yang pasti, aku tahunya itu ada di kampung Bali." Jawab Tan.
"Oh, ya maaf, aku lupa kalau tuan Tanaka bukan orang Jakarta, dan hotel tempat kamu menginap juga searah dengan tempat aku tinggal." Kata Ayunindya.
Tan hanya menganggukkan kepalanya sebagai respon akan perkataan wanita yang ada dihadapannya dan wanita itu pun segera menuntun Tan menuju ke tempat mobilnya yang terparkir di basemen mall tersebut.
Tidak butuh waktu yang lama untuk sampai di tempat mobil Ayunindya terparkir karena jaraknya tidak terlalu jauh dari tempat lift berada.
Tan melihat mobil yang digunakan oleh Ayunindya adalah tipe SUV, berwarna abu-abu cerah dan buatan Eropa.
Tan tahu mobil itu buatan Eropa, karena dia melihat logo yang ada di bagian depan mobil tersebut dengan huruf B yang ada di tubuh burung tanpa kepala.
Setahu Tan, tidak ada merk dengan logo seperti itu dalam mobil buatan Asia.
"Mobil yang cukup bagus dan mewah, apa ini mobil buatan Eropa?" Tanya Tan.
"Ya, kalau tidak salah, aku dengar ini mobil buatan Inggris, namanya Bentley, tapi aku lupa nama series nya karena ini hadiah yang aku terima dari seseorang." Jelas Ayunindya yang hanya bersikap biasa karena dia tidak terlalu tertarik dengan hal-hal otomotif.
Tan juga tidak terlalu mengetahui atau tertarik dengan hal-hal otomotif. Dia memuji mobil milik Ayunindya juga hanya sekedar basa-basi.
"Wow, mobil buatan Eropa sebagai hadiah, orang itu pasti sangat kaya raya, kalau boleh tahu berapa harga mobil ini?" Tanya Tan yang sedikit penasaran.
Setahu dia mobil buatan Eropa mahal-mahal daripada mobil Asia karena untuk mendapatkannya harus di kirim dari pabrik negara asal mobil tersebut atau negara terdekat yang sudah membangun pabrik dari perusahaan mobil tersebut sehingga akan adanya tambahan biaya tambahan seperti biaya shipping, pajak impor, pajak barang mewah dan biaya tambahan lainnya.
"Hmm, kalau tidak salah, dia bilang harganya 9-10 miliar rupiah." Ujar Ayunindya dengan santainya.
"10 miliar! orang itu sudah dipastikan memiliki kekayaan yang cukup melimpah dan aku yakin kalau orang itu adalah seorang pria yang ingin memikat hati perempuan ini, tidak mungkin perempuan, kecuali perempuan itu tidak normal dalam orientasi seksualnya." Pikir Tan.
Ayunindya mengakhiri pembicaraan tentang mobil hadiahnya itu dengan meminta Tan untuk masuk ke dalam mobilnya.
Tan segera berjalan menuju ke pintu depan, membukanya setelah Ayunindya menekan tombol pembuka kunci pintu otomatis melalui remote kecil yang dipegangnya.
Tanpa basa-basi, Tan duduk di kursi penumpang depan dengan sofa yang terasa empuk dan nyaman. Dia juga melihat dashboard mobil tesebut yang sudah tercampur nuansa klasik dan modern.
Sangat berbeda dengan mobil miliknya yang semuanya terkesan modern, tidak ada nuansa klasik pada interiornya.
Selagi Tan mengagumi interior yang ada dalam mobil tersebut sambil memasangkan seatbelt, Ayunindya sudah berada di kursi pengemudi dan menutup pintu.
Dia menghidupkan mesin mobil dengan menekan sebuah tombol yang ada di dashboard, mengaktifkan aplikasi map yang ada dalam layar sentuh dengan tujuan hotel tempat Tan menginap.
Hanya dalam beberapa menit saja, mobil tesebut langsung bergerak meninggalkan mall dan memasuki jalan raya yang dipenuhi dengan berbagai jenis kendaraan sehingga mobil tersebut harus bergerak secara perlahan-lahan.