MIRACLE: SUPER RICH!!!

MIRACLE: SUPER RICH!!!
Costumer Perempuan Cantik



Hari demi hari terus berganti-ganti tanpa bisa dihentikan. Tan sudah mulai bekerja sebagai driver ojol dan itu sudah berlangsung satu Minggu.



Selama itu juga dia hanya mendapatkan order 3 sampai 7 orderan per harinya.



Hal ini dikarenakan Tan masih bisa dikatakan sebagai driver baru yang belum memiliki riwayat tempat sehingga masih kalah dengan driver ojol senior yang sudah banyak riwayat di berbagai tempat.



Meskipun begitu Tan tidak mempermasalahkannya karena dia menjadi driver ojol juga bukan sebagai pekerjaan utamanya dalam mendapatkan uang tapi hanya untuk mendapatkan alasan agar tidak berada dalam rumah terus menerus.



Dia menetapkan waktu kerja setengah 5 pagi sampai 3 sore. Saat Jam 12 siang tiba, aplikasi ojolnya dia off kan untuk sholat Dzuhur dan beristirahat sejenak sampai jam 1 siang.



Rutinitas harian itu dia lakukan selama lima hari setiap satu Minggu.



Selama menjalani aktivitas ojolnya itu, aktivitas hariannya sebagai trader saham dan forex tidak berhenti, Tan masih melakukannya disaat orderan belum diberikan oleh sistem aplikasi AYOJEK.



Saat ini, Tan sedang duduk santai di bangku taman yang berada di atas trotoar, pinggir jalan yang ada di area kota baru, tepat di seberang kantor Telkom dan dibelakang bangku taman itu adalah tempat parkirnya sepeda motor muridnya SMA negeri 3.



Dia tidak sendirian, ada juga beberapa driver ojol lainnya, baik yang satu aplikator maupun yang berbeda aplikator.



Tempat tersebut memang sering ditempati oleh banyak driver ojol disaat jam satu siang, waktu anak-anak sekolah pulang.



Tempat itu merupakan tempat strategis yang cakupannya banyak tempat untuk orderan masuk.



"Pagi tadi aku dapat costumer cewek cantik banget dan pakaian cukup menyenangkan mata pria!" Ujar seorang driver ojol yang sama aplikatornya dengan Tan.


Nama driver ojol itu, Faisal. Tan mengenal driver ojol itu karena dia juga sering muncul di tempat itu.


"Dimana?" Tanya seorang pria yang agak tua, bernama Wantoro.



"Daerah Jakal" Jawab Faisal.



"Terus tindak lanjutnya?" Tanya seorang driver ojol bernama Amer.



"Gak ada, aku cuma mau beritahu informasi saja." Ujar Faisal.



"Ya, percuma kalau gitu, seharusnya ... "



Tan hanya mendengarkan obrolan santai antar driver ojol itu yang semuanya satu aplikator dengannya dalam diam sambil melihat layar ponselnya yang menampilkan pergerakan grafik forex.



"Bang Tan diam wae dari tadi, wes 20 pasti ney." Ucap Faisal secara tiba-tiba.



Tan mengarahkan pandangan ke pria yang baru lulus SMK setahun yang lalu itu.



"20 apaan, aku ini driver anyar, dapat lebih dari 10 aja sudah sangat bersyukur." Jawab Tan.



"Beda dengan kalian yang akunnya sudah setingkat dewa, tidak sampai 2 jam, langsung nyantol, aku aja udah tiga kali dilewati pak Wantoro disini." Jelas Tan.



Mendengar namanya disebutkan, Wantoro hanya tertawa pelan.



"Ya mau gimana, ini sistem yang berikan order secara otomatis, mau tidak mau aku ambil." Ujar Wantoro.



"Resiko driver baru ya gini, harus pasrah dengan driver suhu, seperti pak Wantoro." Kata Tan. "Tolong ajarin aku biar bisa jadi suhu seperti Anda, pak." Tambah Tan dengan bercanda.



Baru saja Tan berkata seperti itu, ponsel milik Wantoro berbunyi seperti lonceng dan itu adalah bunyi yang cukup dikenal oleh Tan dan driver lainnya yang satu aplikator.



"Nah, kan, baru juga dibilang, udah nyantol lagi, dilewati 4 kali aku oleh pak Wantoro, akun punyaku masih bayi." Ujar Tan dengan nada bercanda.



Wantoro hanya tertawa sambil melihat ke arah layar ponsel pintarnya.



"Nyantol di mana pak?" Tanya Amer.



"SMA STC." Jawab Wantoro. "Aku kerja dulu ya." Lanjutnya.



"Hati-hati pak." Ujar Faisal.



Beberapa menit kepergian Wantoro, ponsel milik Amer mengeluarkan suara notifikasi orderan dengan titik lokasi penjemputannya sama.



Begitu juga dengan Faisal yang mendapatkan orderan di tempat yang sama.



"Wah, aku ditinggal sendirian." Ngeluh Tan dengan bercanda.



"Nanti juga dapat, tunggu aja." Ujar Amer yang bersiap-siap untuk berangkat menjemput costumernya.



Tan hanya menganggukkan kepalanya dan melihat dia driver ojol yang dikenalnya itu pergi meninggalkan dirinya yang hanya sendirian.



Meskipun sebenarnya dia tidak sendirian, masih ada driver ojol lainnya, tapi Tan tidak mengenal para driver ojol tersebut.



Dia pun menyibukkan lagi dengan aktivitas trading forex nya sampai beberapa menit kemudian, notifikasi orderan muncul di layar ponsel pintarnya itu.



"Akhirnya aku dikasih order juga oleh AYOJEK." Ujar Tan yang segera bersiap-siap berangkat.



Tidak sampai 5 menit, dia sudah berada di titik lokasi.



"Atas nama Azrina?" Tanya Tan pada seorang perempuan dengan postur tubuh ramping, agak tinggi dari rata-rata wanita Indonesia, berwajah bersih tanpa ada noda atau bintik-bintik yang mengotori wajahnya itu.




Tan memberikan helm ojolnya pada perempuan itu dan menunggu dia naik ke motor maticnya sebelum berangkat menuju ke titik lokasi tujuan, yakni H-mall.



Selama perjalanan menuju titik tujuan, Tan hanya berkonsentrasi pada jalan dan kemudi motor maticnya sedangkan Azrina sibuk dengan ponselnya.



Mereka berdua hanya berdiam, tanpa berbicara sama sekali, sibuk dengan urusan mereka masing-masing.



Tan melajukan motornya dengan kecepatan normal dan berusaha untuk memberikan kenyamanan dalam perjalanan tersebut agar penilaian yang diberikan oleh costumernya padanya bukan penilaian buruk.



Akibat tidak adanya obrolan yang terjadi, mereka berdua sampai di lokasi dengan cepat.



"Berapa pak?" Tanya Azrina sesudah dia turun dari motor.



Tan terkejut mendengar perempuan itu memanggil dirinya dengan sebutan pak.



"Apa wajahku cukup tua untuk dipanggil pak?" Pikir Tan.



Meskipun begitu, dia tidak mempermasalahkannya dan memberitahu harga yang tertera di aplikasi.



Sebenarnya di aplikasi ojol yang ada di ponsel Azrina juga sudah ada harganya, tapi karena tipikal orang Indonesia yang selalu bertanya lagi meskipun sudah tahu.



Itu dilakukan hanya sekedar basa-basi untuk memastikan lagi apakah ada perubahan atau tidak.



"16900 kak." Jawab Tan.



Azrina mengeluarkan selembar uang kertas dengan nominal 20 ribu.



"Kembaliannya diambil aja untuk bapak." Ujar Azrina yang langsung pergi tanpa menunggu respon dari Tan.



"Kak, tunggu sebentar." Panggil Tan.



Wanita itu segera berhenti, "Ada apa pak? Kan saya sudah bilang kembaliannya untuk bapak."



"Ya, saya sangat berterima kasih, tapi- " Ucap Tan yang terpotong.



"Tapi apa pak? Saya buru-buru ney, uangnya kurang? Bukankah tadi bapak bilang 16900, saya kasih 20 ribu, jadi tidak kurang kan?" Tanya Azrina yang tidak sabaran.



"Iya, betul uangnya tidak kurang kak, malah lebih, tapi tolong helm ojolnya kembalikan pada saya, kalau kakak terus bawa, saya akan kerepotan nanti bila ada orderan penumpang yang masuk." Jelas Tan.



Azrina yang mendengar itu langsung menyadari kalau dirinya masih memakai helm ojol.



"Ohh, maaf, aku benar-benar lupa." Ujar Azrina yang segera melepaskan helm ojol di kepalanya dan memberikan pada Tan.



"Ya, tidak apa-apa kak." Jawab Tan yang menerima helm ojolnya.



"Aku benar-benar minta maaf ya pak!" Ujar Azrina dengan merasa bersalah dan malu.



Tan hanya menganggukkan kepalanya dan kemudian pergi meninggalkan Azrina, keluar dari kawasan H-mall, pergi ke lokasi yang tidak terlalu jauh dari H-mall agar bisa mendapatkan orderan dari mall itu lagi.



Lokasi yang didatanginya itu juga penuh dengan driver ojol, baik itu yang satu aplikator dengannya maupun yang beda aplikator.



Tidak ada satupun driver ojol yang dia kenal di tempat itu, sehingga dia menghabiskan waktunya, menunggu orderan masuk lagi dengan melakukan trading forex.



Trading saham hanya dilakukannya di awal pembukaan pasar saham Indonesia atau BEI dan sepuluh menit sebelum penutupan pasar tersebut.



Tentu saja Tan tidak perlu melihat pergerakan harga pasar saham seperti pasar forex karena pergerakan harga pasar saham dengan forex sangat berbeda kecepatan.



Harga forex sangat cepat perubahannya sehingga perlu diperhatikan dengan seksama agar tidak mendapatkan kerugian yang cukup besar bila sewaktu-waktu harga forex yang di beli oleh Tan jatuh.



Sangat berbeda dengan harga pasar saham yang pergerakan harganya lumayan lambat dari pergerakan harga forex sehingga Tan hanya melakukan transaksi pembelian di awal pembukaan dan penjualan di 10 menit akhir penutupan pasar saham Indonesia.



Selagi Tan berkosentrasi dengan trading forex, sebuah orderan muncul di layar ponselnya. Dia segera mengakhiri trading forex tersebut dengan melakukan setting otomatis penjualan dengan harga yang telah di tetapkan pada semua forex yang dia beli sebelumnya.



Orderan yang dia terima adalah orderan penumpang dan titik lokasi penjemputan nya berada di H-mall.



Tanpa basa-basi lagi, Tan segera melajukan motornya ke lokasi titik lokasi penjemputan tersebut. Pihak H-mall telah menyediakan lokasi khusus untuk driver ojol, khusus motor agar lebih mudah menjemput atau menurunkan penumpang.



Saat tiba di lokasi khusus tersebut, Tan baru melihat nama yang melakukan order adalah orang yang dia antar sebelumnya.



"Ternyata order yang aku pesan didapatkan oleh bapak lagi." Ujar Azrina yang masih memanggil Tan dengan panggilan bapak.



"Iya kak, mungkin hari ini memang sudah takdirnya aku membantu aktivitas kakak." Ucap Tan sambil memberikan helm ojolnya pada perempuan itu.



Azrina menerima helm tersebut, memakainya di kepala dan segera menaiki motor matic Tan di bagian belakang.



Tan segera melajukan motornya itu dengan titik tujuan di tempat yang sama saat dia menjemput Azrina sebelumnya.



Dalam perjalanan tersebut juga sama seperti sebelumnya, tidak ada percakapan terjadi.



Tan sibuk dengan urusannya mengendarai motor dengan penuh kehati-hatian dan kenyamanan sedangkan Azrina hanya menatap jalanan dengan pandangan yang hampir seperti orang melamun.