
Martin dan Tan telah berada di mobil selama lebih dari 2 jam dan jalanan sudah mulai agak renggang, tidak padat seperti sebelumnya. Meskipun begitu kemacetan masih terjadi.
"Bagaimana Tan? Apa kamu ingin melakukan kencan buta? Aku akan memberitahu pada istriku nantinya untuk memperkenalkan salah satu teman perempuannya padamu." Tanya Martin.
Tan masih merenung, berpikir tentang tawaran tersebut. "Aku tidak tahu, Apa aku harus menerimanya atau tidak? Aku merasa tidak percaya diri nantinya, kamu tahu sendiri kalau aku ini orang yang sulit bersosialisasi dengan orang yang baru aku kenal." Jelas Tan dengan penuh kebimbangan.
"Kamu benar, tapi itu tidak menjadi masalah, aku yakin kamu bisa, kamu harus keluar dari zona nyaman kamu mulai sekarang bila ingin menemukan jodoh kamu, bila terus menerus berada di zona nyaman, kapan ketemunya kalau begitu." jelas Martin.
"Tapi-" ucapan Tan langsung dipotong.
"Tidak ada tapi-tapi lagi, lakukan saja, berhasil atau tidaknya kencan buta ini, itu urusan nanti, ketemuan aja dulu." Sahut Martin dengan tegas.
Dia sedikit memberikan paksaan pada Tan karena bila tidak seperti itu maka sahabatnya itu akan terus menerus memberikan berbagai alasan untuk menolak tawarannya agar tetap berada di zona nyamannya.
Tan tidak sadar kalau dirinya melakukan hal seperti itu karena itu telah menjadi kebiasaannya sehingga sulit untuk keluar dari hal tersebut, meskipun Tan ingin keluar dari kebiasaannya itu.
Martin sudah sangat mengenal karakter sahabat SMA nya itu sehingga dia harus memberikan sedikit paksaan agar Tan mau melakukan sarannya.
"Tan, kamu sampai kapan berada di Jakarta?" Tanya Martin.
"Lusa aku sudah kembali ke Jogja, kenapa?" Tanya balik Tan.
"Bisakah kamu tambah lagi waktu sampai 3-4 hari lagi?" Tanya Martin.
"Tidak masalah, emangnya kenapa?" tanya balik Tan.
"Tentu saja untuk kencan buta kamu itu, tidak mungkin kencan butanya dilakukan besok juga, butuh waktu untuk mengaturnya dan juga aku belum memberitahu tentang hal ini pada istriku." Jelas Martin.
Tan menganggukkan kepalanya karena dia juga berpikir ada benarnya dengan hal itu.
Waktu terus berjalan dengan cepat saat mereka mengobrol tentang berbagai hal yang mereka jalani selama ini, seperti mereka sedang mengisi hal-hal yang telah kosong saat mereka berdua harus berpisah dan putus komunikasi sejak lulus dari SMA.
Tanpa terasa mereka telah sampai di hotel Milenial Sirih tempat Tan menginap. Martin memberhentikan mobilnya tepat di luar lobby hotel tersebut.
"Terima kasih, sudah mau mengantar aku, Martin." ucap Tan sebelum dia keluar dari mobil SUV tersebut.
"Tidak masalah, nanti akan aku kabari lagi waktu dan tempatnya." Balas Martin.
Tan menganggukan kepalanya, "Ok, kabarin aja kapan pun itu, aku banyak waktu kosongnya."
"Ck, dasar pengangguran! Tapi aku cukup iri juga sama kamu, pengangguran tapi bisa memiliki banyak uang, tolong katakan rahasianya pada sahabat kamu ini."
Tan hanya tertawa singkat dan kemudian membuka pintu mobil tersebut untuk keluar.
"Hei, jangan pelit begitu pada sahabat lama kamu ini, tolong katakan padaku rahasianya!" ujar Martin yang membuka jendela penumpang bagian depan secara otomatis saat Tan sudah keluar dan menutup pintu mobil tersebut.
"Sudah sana, balik, kasian istri kamu menahan tidurnya karena menunggu kepulangan kamu, aku juga sudah cukup lelah, mau tidur, huaaaa~." ujar Tan yang menguap.
"Cih, dasar pelit!" kata Martin.
"Hahaha, tidak sekarang, nanti saat pas waktunya, akan aku beritahu, tapi tidak sekarang, aku bingung untuk mulai darimana bilangnya." Jelas Tan dengan tersenyum.
Martin menatap Tan sejenak dan kemudian dia menganggukkan kepalanya. "Kamu berhutang satu rahasia padaku Tan." Tegas Martin.
Tan menganggukkan kepalanya, "Tentu, sampai jumpa lagi, Martin, terima kasih sudah mengantar aku." ucap Tan yang menjauh dari mobil tersebut.
Martin menganggukkan kepalanya dan kemudian pergi meninggalkan Tan di hotel tersebut. Tan menatap kepergian Martin dan saat mobil yang dikendarai oleh sahabat lamanya itu menghilang dari pandangannya, dia langsung berbalik, berjalan memasuki hotel tersebut untuk beristirahat.
Dia melihat pada jam tangannya sudah menunjukan pukul setengah satu dini hari.
"Hmm~ apa aku lakukan sholat tahajud daripada tidur, mumpung aku masih terbangun saat ini." pikir Tan.
Waktu terus berjalan dengan cepat, sampai pada hari dimana Tan akan melakukan kencan buta dengan seorang teman perempuan dari istri sahabatnya, Martin.
Satu hari sebelumnya, saat malam hari, Martin telah mengirim foto dan nomor perempuan yang akan menjadi pasangan kencan buta untuk Tan.
Berdasarkan foto yang dikirim oleh Martin tersebut, Tan dapat melihat kalau perempuan tersebut memang terlihat cantik, lebih cantik dari mantannya yakni Saras.
Akan tetapi tidak ada perasaan apapun saat dia melihat foto tersebut. Perasaan yang muncul saat dia melihat Saras pertama kali. Tan berpikir kalau dirinya tidak memiliki perasaan apapun setelah melihat foto tersebut karena itu hanyalah sebuah foto bukan melihat secara langsung.
Sehingga ada kemungkinan perasaan saat dia bertemu dengan Saras akan muncul lagi bila dirinya bertemu secara langsung di hari kencan buta.
"Restoran Sederhana, inikah tempatnya?" Gumam Tan yang membaca nama tempat yang terpasang di atas pintu masuk sebuah restoran yang ada di plaza Senayan.
Meskipun namanya restoran sederhana, namun yang dilihat oleh Tan tidaklah sederhana, malah terlihat sangat eksklusif.
Tan mendatangi tempat tersebut karena beberapa menit setelah dia mendapatkan pesan dari Martin, dia mendapatkan pesan dari perempuan yang menjadi pasangan kencan butanya.
"Kamu adalah pasangan kencan buta aku, kan? Aku orangnya cukup sibuk dan tidak memiliki banyak waktu luang, besok, jam setengah delapan malam datang ke restoran sederhana yang berada di plaza Senayan dan tunggu aku."
Tan yang terkejut dan kebingungan untuk membalas pesan tersebut. Saat dia sedang kebingungan untuk membalas pesan tersebut.
"Kamu tidak perlu membalas pesan ini, cukup datang saja ke tempat dan jam yang sudah aku beritahu padamu, aku akan memesan tempat disana atas nama Karen Admesa, jadi tunggu aja disana, bila aku tidak datang maka aku tidak memiliki waktu luang, kamu dapat pergi."
Begitulah pesan yang diberikan oleh pasangan kencan buta Tan yang membuat pria itu merasa aneh dan berpikir ada yang salah dengan perempuan yang menjadi pasangan kencan butanya tersebut.
Akan tetapi karena sahabatnya sudah mengatur kencan butanya, maka dia hanya harus tetap datang untuk bertemu sebagai bentuk menghormati sahabatnya itu yang sudah mau membantu dirinya.
"Selamat datang di restoran sederhana plaza Senayan, apa tuan sendirian?" Tanya seorang pegawai yang menerima tamu di belakang counter kecil.
"Ya, untuk saat ini ... Apakah ada reservasi atas nama Karen Admesa?" Tanya Tan.
"Mohon tunggu sebentar
Pegawai restoran itu langsung mengecek list reservasi dengan nama yang disebutkan oleh Tan, nama yang menjadi pasangan kencan buta Tan saat ini.
Pegawai itu melihat dalam daftar reservasi memang ada atas nama Karen Admesa, sehingga tanpa membuang waktu lagi, dia memanggil seorang rekannya untuk mengantar Tan menuju ke tempat yang sudah diatur.
Pegawai restoran tersebut membawa Tan menuju ke sebuah ruangan privat yang mana dalam tempat tersebut memiliki sebuah interior sederhana dan minimalis, namun terkesan mewah dan elegan.
"Apa tuan ingin memesan sesuatu sekarang?" Tanya pegawai yang mengantar Tan saat pria itu sudah duduk di salah satu kursi yang di ruangan tersebut.
Pegawai itu menganggukkan kepalanya dan langsung pergi meninggalkan Tan sendirian.
Tan menghabiskan waktu di ruangan tersebut, menunggu pasangan kencan butanya dengan trading forex melalui ponsel pintarnya.
Dia melihat-lihat beberapa forex yang akan naik nilainya melalui penglihatan keajaiban yang dimilikinya tersebut.
Setelah menetapkan nilai harga pembelian dan penjualan secara otomatis pada beberapa forex yang akan naik nilainya dengan cukup signifikan, Tan langsung beralih dengan melihat beberapa berita dan sosial medianya.
Waktu berlalu dengan cepat dan tanpa terasa 15 menit lagi akan sampai pada jam setengah delapan malam.
Tan datang telah menunggu di ruangan tersebut sendirian dalam waktu yang cukup lama. Dia datang ke tempat tersebut jam setengah tujuh malam agar dirinya tidak terlambat karena terjebak macet.
Namun sampai saat ini, pasangan kencan butanya belum juga muncul, bahkan tidak memberikan kabar sama sekali tentang keberadaannya dimana.
Hal itu membuat Tan berinisiatif untuk mengirimkan pesan WA pada perempuan tersebut tentang keberadaan dirinya dan juga kepastian apakah perempuan itu jadi datang atau tidak.
Beberapa menit setelah mengirimkan pesan tersebut, dia mendapatkan balasan.
"Tunggu aja, aku sudah di plaza Senayan dan sedang shopping dulu, jadi jangan kirim pesan lagi, kamu menganggu waktu shoping aku, tunggu aja."
Melihat balasan seperti itu membuat Tan terdiam dan merasa kesal. Dia ingin segera pergi dari tempat tersebut, akan tetapi karena ingat dengan Martin yang sudah mengatur kencan buta ini untuk dirinya dia menahan diri dan memutuskan untuk menunggu seperti yang diminta oleh Karen.
Setelah menunggu satu setengah jam lewat dari waktu yang beritahu, Tan akhirnya dapat melihat wujud dari perempuan yang bernama Karen Admesa secara langsung.
Perempuan itu memakai pakaian yang mengikuti fashion konglomerat Korea Selatan yang sering muncul dalam dalam drama atau film dari negara tersebut.
Selain itu pada kedua tangannya terdapat dua tipe tas, yakni pada lengan kanan terdapat tas branded luar negeri dengan merk PRD yang harganya mencapai puluhan juta sedangkan pada tangan kiri di memegang beberapa tali kantong belanjanya.
Tan melihat tidak ada rasa bersalah apapun atas keterlambatannya, malah Karen memberikan ekspresi wajah penuh kebanggaan dan kesombongan saat menatap Tan.
"75 poin." Ucap Karen secara tiba-tiba yang membuat Tan kebingungan.
Dia berjalan dengan tenang menuju ke kursi yang ada di hadapan Tan. Meskipun dia sudah berada di kursi tersebut, Karen tidak langsung duduk yang membuat Tan kebingungan lagi.
"Apa kamu tidak tahu bagaimana cara memperlakukan seorang putri cantik seperti aku? You're not a gentleman! -20 point" ucap Karen.
"Hahh?" Gumam Tan yang kebingungan.
"Oh my God! You really don't know how to treat a lady like me! Do I have to tell you how you should behave with a beautiful princess like me?" Ucap Karen dengan angkuh.
Tan merenung sejenak dan kemudian menyadari apa yang diinginkan oleh Karen. Pria itu segera bangkit dari kursinya, berjalan menuju ke kursi Karen untuk menarik sedikit ke belakang agar Karen dapat duduk.
"Silahkan ... " Ujar Tan dengan sopan.
Perempuan itu segera berjalan di depan kursi tersebut dan Tan mendorong kembali dengan pelan agar Karen bisa duduk.
"-10 poin." Ujar Karen dengan singkat dan tidak mengucapkan terima kasih sama sekali atas perlakuan Tan.
Pria itu hanya diam, kembali ke kursinya sehingga dia dapat berhadapan dengan Karen.
"Merk mobil apa yang kamu gunakan untuk sampai ke tempat ini?" Tanya Karen secara tiba-tiba.
"Aku memakai ojek online." Jawab Tan dengan tenang meskipun dia merasa aneh dengan pertanyaan yang tiba-tiba tersebut.
"Ojek online? ... Apa kamu tidak memiliki mobil?" Tanya Karen.
" ... punya." Jawab Tan.
"Apa mobil Eropa? Apa merk nya?" Tanya Karen.
"Tidak, itu dari Jepang, Bishi." Jawab Tan dengan sopan meskipun dia sudah merasa aneh dengan pertanyaan-pertanyaan yang diberikan oleh perempuan itu.
"Bishi? Apa mobil yang kamu miliki itu mobil pick up?" Tanya Karen dengan menaikkan alisnya.
"Bukan, ini sejenis SUV, Olanders Phev" Jawab Tan yang masih menanggapi Karen hanya untuk sekedar kesopanan.
"Ohhh~lumayan, meskipun bukan mobil Eropa, tapi itu sudah lumayan, +15 poin." Ucap Karen.
Tan hanya diam saja karena dia tidak tahu harus bagaimana merespon hal tersebut.
"Apa kamu memiliki apartemen seharga lebih 50 miliar atau rumah dengan luas minimal satu hektar?" Tanya Karen lagi.
Tan menggelengkan kepalanya. "Aku tidak memiliki keduanya, tapi aku memiliki rumah peninggalan orang tua aku di kota Yogyakarta, luasnya sekitar 360an." Jawab Tan.
"Hmm ... Cukup buruk, -5 poin, tapi tidak masalah, bagaimana dengan pekerjaan, kamu bekerja dimana?" Tanya Karen.
"Aku tidak bekerja dimana-mana, hanya seorang yang menghabiskan waktu di rumah sambil bermain ponsel atau laptop." Jelas Tan dengan jujur.
Karen tidak bisa mempercayai apa yang dia dengar atas ucapan Tan.
"Kamu seorang pengangguran! Hahaha, kamu pasti bercanda, kamu pasti memiliki semacam perusahaan sendiri atau keluarga, kan?" Tanya Karen.
Tan lagi-lagi menggelengkan kepalanya. "Tidak ada." Jawab Tan dengan singkat.
Karen mengerutkan keningnya sangat dalam dan kemudian mencemooh Tan.
"Kamu tidak memiliki apapun yang cukup berharga untuk ditunjukkan padaku tapi kamu cukup berani melakukan kencan buta dengan aku, apa kamu pikir cukup layak? -100 poin!" Ucap Karen dengan pandangan rendah.
Tan hanya menatapnya dengan pandangan kosong. Dia tidak tahu harus bagaimana merespon ucapan perempuan yang menjadi pasangan kencan butanya itu.
"Lebih baik kita cukupkan sampai disini saja, aku harus pergi sekarang, sudah cukup terbuang banyak waktu percuma karena harus datang ke sini untuk bertemu dengan kamu." Ujar Karen yang kemudian bangkit dari kursinya sambil mengambil tas branded dan kantong belanjanya.
Dia berjalan melewati Tan untuk bisa ke pintu ruangan tersebut. Sedangkan Tan masih terdiam karena masih tidak tahu harus bagaimana merespon perkataan Karen.
"Oh, ya kamu bisa tetap disini untuk menyantap makanan yang disediakan oleh pihak restoran ini, kamu tidak perlu khawatir tentang pembayarannya, aku yang tanggung." Ujar Karen yang berhenti dan berbalik, menatap Tan yang membelakanginya.
"Kapan lagi kamu bisa makan makanan yang enak dan mewah, ini juga hitung-hitung sebagai sedekah aku pada orang miskin seperti kamu, hahaha~" ucap Karen sebelum dia pergi meninggalkan Tan.