
"Jika kalian dekat itu karena takdir, bukan karena aku. Karena kedekatan kalian itu sudah tertulis di dalam catatan takdir. Sejuta kalipun kalian menolak, yang namanya takdir tidak akan bisa diubah." -Mozhadiella Ajnasafitri.
Matahari baru saja muncul dari persembunyiannya. Sinar mengkilau itu menghalangi mata Megi untuk dibuka. Aroma tanah basah merasuk ke dalam kamar Megi. Semalaman penuh, dia begadang sampai lupa untuk menutup jendela kamarnya. Apalagi yang dilakukan Megi setiap malam Minggu jika bukan begadang untuk menyelesaikan satu game. Dia memang berbeda dari yang lainnya. Di saat semua orang keluar, berharap untuk mendapat keberuntungan dengan datangnya jodoh yang tiba-tiba, tetapi tidak dengan Megi. Padahal tadi malam teman-temannya sudah berusaha membujuk Megi untuk keluar. Namun, tetap saja cowok yang satu ini teguh pada pendiriannya.
Dia mengucek matanya sembari meraih ponselnya yang berada di meja dekat tempat tidurnya. Kebiasaan anak muda zaman sekarang memang begitu. Tidak heran jika disebut generasi micin. Selain kebanyakan makan makanan yang mengandung micin, mereka juga memiliki kebiasaan mengambil ponsel selepas bangun tidur. Benda yang diambil saat bangun tidur adalah ponsel. Berbeda lagi jika dengan orang berkacamata. Mereka akan lebih memprioritaskan kacamatanya dahulu baru ponsel. Di zaman sekarang, mau tua ataupun muda semuanya memiliki ponsel.
Megi menyalakan ponselnya. Muncul di layar ponsel tulisan angka yang menunjukkan pukul tujuh lebih empat puluh menit. Dia bangkit dari tidurnya dan duduk sambil menguap lebar. Tangannya merentang. Dia meletakkan ponselnya di kasur dan segera berdiri. Jika sampai pukul delapan dia belum juga mandi, Mozha pasti akan menerkamnya habis-habisan. Masalah bermain game pasti juga akan selalu dibawa-bawa. Padahal Mozha sendiri juga sering begadang hanya untuk menyelesaikan satu jenis permainan.
Ketika menuju kamar mandi, dia kembali menguap. Seraya dia kembali ke kasur dan membaringkan tubuhnya sebentar. Matanya masih tertutup. Akan tetapi, dia kembali bangkit dan mengambil ponselnya untuk di cas. Dia membuka matanya perlahan-lahan. Namun, matanya menolak untuk terbuka. Megi mengambil air putih yang tersedia di meja komputernya bekas minum tadi malam. Dia menumpahkan air itu sedikit demi sedikit ke tangan kanannya seraya mengusapnya ke wajah. Kini, dia langsung mengguyur wajahnya dengan air itu hingga matanya terbuka lebar.
Seusai melakukan itu, dia langsung masuk ke kamar mandi. Bersiap-siap untuk sarapan dan menyapa Kakak terbawelnya itu. Hingga sekarang pun, orangtua Megi dan Mozha belum juga pulang. Megi sampai heran sendiri.
"Hari ini kegiatan orang ganteng apa, ya? Masa ngapelin mantan yang masih bersuami, sih? Nggak banget gitu kesannya. Tapi kalau diam di rumah, si Mozha bakal nyuruh-nyuruh kayak Kanjeng Mami. Ehm..., keluar aja kali, ya?" tanya Megi pada dirinya sendiri sambil mengguyur tubuhnya dengan air. Dia langsung menggosok giginya dengan dua sikat gigi sekaligus. Katanya biar cepat bersih. Setelah mandi dan bersiap-siap, Megi turun ke bawah untuk menghampiri Kakaknya. Aroma pewangi lantai itu semerbak di ruangan tengah. Memang, siapa yang sudah mengepel pagi-pagi begini?
Mata Megi membuka lebar-lebar saat dia tahu siapa yang sedang mengepel. Dia mengerjap beberapa kali. "Lo ngapain pagi-pagi ngepel rumah orang, perkedel?" tanyanya keheranan. Mau saja disuruh sama Mozha yang kurang waras, batin Megi sambil memegang kening kepalanya.
Ditanya seperti itu, Meta malah tertawa sumringah. "Ini udah siang kali, Meg. Emang semalam Megi tidur di mana sih? Di planet pluto, ya?"
"Kok di planet pluto, sih? Apa hubungannya, perkedel?" megi masih tidak paham. Mozha dan Meta sama-sama membingungkan. "Ya ada. Buktinya Megi ngelindur kalau ini masih pagi. Padahal udah siang bolong. Kata Madu, orang yang ngelindur itu biasanya tidur di planet pluto," jelas Meta terkesan menyindir.
Megi menyenderkan tubuhnya di dinding. "Madu siapa lagi?"
"Madu itu singkatan dari Mama Kedua," jawab Meta polos.
"Ya, Mama Kedua itu siapa? Gue mana tahu."
Meta tertawa seraya menepuk jidatnya sendiri. "Oh iya, maaf Meg. Meta lupa ngasih tahu kalau Mama Kedua Meta itu Mamanya Mate." Seketika Megi tertawa mendengar jawaban dari Meta. Itu sedikit lelucon. Megi kembali bertanya kepada Meta. "Memang lo udah dianggap menantu sama nyokapnya Mate? Mentang-mentang tetanggan lo bebas gitu manggil nyokapnya Mate itu Madu? Jangan berharap, deh, Ta. Mate itu udah punya pacar. Nggak mungkin dia itu membalas harapan lo. Jadi, demi kebaikan hati lo, lebih baik lo move on aja, deh. Gue itu sebenarnya mau ngomong ini dari dulu. tapi nggak pernah jadi, soalnya gue takut lo sakit hati."
"Terus kenapa sekarang ngomong? Udah siap kalau Meta sakit hati?"
Megi tersenyum. "Bukan begitu. Gue nggak tahan aja kalau lo masih diperlakukan kayak gini sama Mate. Meskipun lo itu nyebelin, tapi gue masih punya rasa simpati sama lo. Lagipula, lo itu cewek. Nggak seharusnya ngemis begini," ungkap Megi. Jika sudah keceplosan begini, untuk apa yang lainnya ditutupi?
"Meta nggak ngemis kok. Meta cuma berharap aja jika suatu saat nanti Mate bakal berjodoh sama Meta." Gadis polos itu masih saja mengelak. Megi menghela napasnya. "Kok lo makin **** ya, Ta? Ngemis sama berharap itu nggak ada bedanya. Sama-sama minta dibalas."
"Beda lah, hurufnya aja beda. Dan inget ya, Meg. Jangan bilang kalau Meta itu ****. Kalau Meta emang ****, Meta nggak bakal bisa sekolah sampai jenjang SMA," ujar Meta sambil melanjutkan kembali untuk mengepel lantai. Dia memasukkan kembali pewangi lantai ke dalam ember. Lalu dicelupkan pel itu ke dalam ember. Dia mengangkat pelnya dan memeras ujung pel itu. Selanjutnya, Meta menuju ke bagian sudut. Meninggalkan Megi tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Sepertinya gadis itu marah dengan ucapan Megi yang tiada remnya langsung menabrak ulu hati Meta.
Megi menggelengkan kepalanya. Dia memanggil Meta. Yang dipanggil langsung menoleh. "Nggak usah dimasukin hati kata-kata gue tadi. Mending masukin ke usus habis itu keluarin lewat kentut. Lega lo habis itu, percaya, deh." Entah Megi berniat melawak atau tidak, tetapi Meta tersenyum. "Leganya sih iya, tapi hanya sesaat."
"Yang penting kan pernah lega."
"Iya, iya."
"Btw, lo ngepel di rumah gue siapa yang nyuruh?"
"Nggak ada," jawab Meta langsung.
Megi memiringkan kepalanya dengan beribu pertanyaan yang belum terjawab.
"Meta nggak suka lihat lantai kotor begini. Jadi, relawan deh. Meta ngepel," balasnya sambil menggaruk rambutnya yang tidak gatal. Dia menyengir kuda kepada Megi. Ah, gadis ini memang kurang kerjaan. Namun, apa yang dilakukannya sangat membantu. Apalagi Megi tidak memiliki pembantu. Lumayan jika Meta membersihkan lantai rumahnya setiap hari Minggu. Jadi, Megi tidak perlu repot-repot meminta ART kepada orangtuanya. Itupun akan menghemat uang juga.
Megi terkekeh. Dia berniat untuk pergi, namun, dia masih memiliki satu pertanyaan yang belum ditanyakan kepada gadis polos di depannya itu. "Oh iya, lo ngapain ke rumah gue?"
Meta menggeleng. "Nggak tahu. Mbak Mozha yang nyuruh Meta datang ke sini. Katanya minta ditemani karaoke sama masak. Memang Megi belum sarapan, ya?"
Akan tetapi, Meta langsung menghalanginya sambil merentangkan kedua tangannya di depan Megi. "Apa-apaan, sih?!"
"Megi nggak boleh pergi."
"Siapa yang nggak bolehin gue pergi?" tanya Megi serius.
Meta menyengir. "Mbak Mozha, dong! Memang siapa lagi?"
"Mau ngapain, sih, elaaah. Gue mau cari sarapan di luar. Udah keroncongan ini perut gue. Udah, ah, mending lo nanti bilang aja sama Mozha kalau gue nyari sarapan di luar. Gampang, kan?" Meta masih tetap kekeh menghalangi Megi. Selain sikapnya yang sama dengan Mozha, gadis yang satu ini juga mau-mau saja disuruh. "Tidak semudah itu, Megi. Kalau Megi sampai nekat pergi, nanti Mbak Mozha bakal bilangin ke Tante-Om soal Megi yang begadang main game."
"Gue heran, deh. Dibayar berapa lo sampai nurut gitu sama dia?"
"Dibayar apa, ya?"
"Memang kalau Meta gue bayar, lo mau bayar juga? Waah keren, ya. Jadi ngeri sendiri." Sahut Mozha yang tiba-tiba datang tanpa diundang. "Heh bocah! Mau keluyuran ke mana lo?!"
Mozha berkacak pinggang. Megi memandang Kakaknya datar. "Gue bukan mau keluyuran nggak jelas yang akan lo bilang, Kak. Gue cuma mau cari makan. Lo kan belum masak. Terus, kalau gue nggak dibolehin pergi, gue harus makan apa? Makan hati?"
"Duduk anteng di rumah. Gue mau masak dulu sama calon adik ipar gue," ucap Mozha membuat Megi dan Meta saling perpandangan. Keduanya bingung dengan calon adik ipar yang Mozha maksud. Seketika Mozha langsung mengandeng tangan Meta dan menariknya menuju ke dapur. "AWAS AJA KALAU SAMPAI KABUR!!!" teriak Mozha.
Megi ikut berteriak. "ASAL MASAKNYA JANGAN LAMA."
Di sisi lain, Mozha sudah menyiapkan bahan-bahan memasaknya. Alasan mengapa Mozha mengajak Meta untuk menemaninya memasak karena Meta memang sudah pandai memasak. Sebab itu, makin ke sini Mozha semakin menyukai Meta yang dia anggap sebagai calon adik ipar yang sempurna. Selain baik dan sopan, dia juga bisa mengerjakan pekerjaan rumah. Meskipun Megi dan Meta masih kelas sebelas, tetapi Mozha sudah menyiapkan Meta sebagai kandidat calon adik iparnya. Akan tetapi, Mozha tidak suka jika urusannya diurus oleh orang lain. Namun, dia suka mengurus urusan orang lain. Segala sesuatu yang berhubungan dengan Megi, dia akan ikut campur.
Ini bukan kali pertamanya Mozha mengajak Meta memasak di rumahnya. Mungkin bila dihitung, ini sudah yang kesekian kalinya. Karena sejak SMP dulu Meta memang sudah sering diajak Mozha untuk memasak. Karena itu, Meta yang awalnya tidak suka memasak jadi suka karena ajakan Mozha yang tiada hentinya. Pertemuan Mozha dan Meta dulu langsung memikat hati Mozha untuk menjadikan Meta sebagai kandidat calon adik ipar. Tidak heran jika Mozha selalu membela Meta saat sedang bercekcok dengan Megi. Jika dilihat, Meta dan Mozha memang mudah untuk akrab dan saling berkompromi untuk mengerjai Megi.
"Kita mau masak apa, Mbak?" tanya Meta sambil memegang pisau. Dia sudah siap untuk membantu memotong daging. Meta sudah mengamati bahan-bahan sejak masuk ke dapur. Jika Meta menebak, Mozha akan mengajaknya untuk memasak rendang. Namun, bisa jadi memasak makanan yang berbahan daging. Mungkin saja hanya akan digoreng lalu ditiriskan supaya Megi tidak lama untuk menunggunya. Mozha membalikkan badannya. Dia tiba-tiba bingung akan memasak apa. Pasalnya bahan memasaknya kali ini daging. Pasti akan butuh waktu yang lama untuk memasaknya. Sebenarnya, rencana tadi malam adalah memasak sayur bayam. Tetapi, yang ada di tukang sayur tadi pagi hanya daging sapi dan sayuran kecuali bayam. Daripada kebingungan, Mozha langsung saja membeli daging sapi itu. "Enaknya apa ya, Ta?" Mozha balik bertanya.
"Kalau menurut Meta sih digoreng aja, Mbak. Kalau nggak gitu kasihan Megi belum sarapan, masa udah disuruh nunggu lama." Meta memegang daging sapi itu. Dia membolak-balikkan sambil memperhatikan warna daging itu. Sambil menunggu jawaban pasti dari Mozha, dia langsung membawa daging sapi itu untuk dicuci dahulu. "Ya udah, kita masak sayur sop sama daging goreng aja, ya? Di kulkas masih ada kok bahan sayur sop sisa kemarin," jawab Mozha seraya mengambil bahan sayur sop di kulkas.
Meta mengangguk. "Iya, Mbak."
Sekarang, baik Meta maupun Mozha sudah sibuk dengan bagian masing-masing. Mozha memotong sayuran, sedangkan Meta memotong daging sapi kecil-kecil. Kemudian Mozha memasukkan air ke dalam panci, dia menunggu sampai airnya panas. Meta meletakkan potongan daging sapinya di dalam wadah yang sudah berisi bumbu. Selanjutnya, Mozha memasukkan sayuran beserta bumbunya. Kini, dia mengaduknya berulang kali sambil mencicipi sedikit.
"Kak hape lo bunyi tuh!" teriak Megi memberitahu. Seketika Mozha langsung menyodorkan sendoknya kepada Meta. "Gantiin dulu ya, Ta. Gue mau ngangkat telepon," ucapnya dan dia bergegas menghampiri Megi.
"Kak, lo budek, ya?! Ini hape lo nyanyi terus!" seru Megi kembali.
Mozha mendengus. "Iya, iya, ini gue ke sana."
Sesampainya di ruang tengah, Mozha langsung menatap Megi tajam. "Dari siapa?" tanyanya langsung. Akan tetapi, Megi menggeleng. Mengedikkan kedua bahunya tanda tidak tahu. Mozha mengambil ponselnya dan langsung mengangkat panggilan itu. Selesai berbincang-bincang dengan si penelepon, Mozha menoleh kepada Megi. "Lo temani Meta masak. Awas aja kalau lo kabur. Gue tinggal dulu," ujarnya sambil berlari menuju kamarnya untuk mengambil tas.
Megi mengernyit. Apa-apaan ini?
"Lo mau ke mana, Kak?"
"Kepo lo jadi orang! Udah sana temani Meta! Gue ada urusan penting!" jawab Mozha ketus. Tanpa menunggu jawaban Megi, dia langsung pergi begitu saja. Dia bahkan lupa bagaimana caranya untuk berpamitan. Megi mendengus, kali ini terdengar lebih berat. Dia beranjak dari tempat duduknya dan berjalan menghampiri Meta di dapur.
Demi sarapan, dia akan menemani Meta memasak.