
"Jangan sekali-kali menarik nafsu seorang cowok kalau nggak mau di apa-apain. Suka ke orang nggak harus begini caranya." -Maldiano Ranggadean.
Kalau bukan karena ulah Megi, sekarang Maru tak perlu ada di perpustakaan ini. Tak sampai di situ. Bahkan ia tak perlu repot-repot untuk membersihkan ruangan ini. Ingin sekali dia memarahi Megi sedari tadi. Tapi semua niatannya itu kini terulung kembali. Percuma katanya. Ujung-ujungnya ia juga akan tetap membersihkan perpustakaan.
"Sori, ya, Ru." Megi mendekat. Tatapannya sangat tulus kepada Maru. Cowok itu menghampirinya dengan membawa sebotol air mineral.
Maru hanya mengangguk. Ia menjauhi Megi. Berganti tempat untuk tidak mengobrol dengan Megi. Dia tidak marah. Dia hanya kesal. Maka dari itu, ia lebih memilih untuk tidak berbicara apapun dengan Megi. Meski hanya sepatah kata.
Megi sendiri mengerutkan alisnya. Kenapa tiba-tiba Maru menjauhinya?
Apa dia marah?
Seolah kini perasaan bersalah menumpuk di dalam diri Megi. Dia terdiam di tempatnya. Memikirkan apa yang sudah dia lakukan kepada Maru. Rasanya biasa-biasa saja. Tidak terlalu buruk. Ya, meskipun memang lumayan. Tapi apa karena itu Maru marah?
Semarah itukah?
Megi tak ada pikiran lain. Ia melangkahkan kakinya, menghampiri Maru di ujung rak. "Lo marah?" tanyanya.
Tetapi, Maru hanya menggeleng.
Membuat Megi bingung harus bagaimana lagi.
"Ya udah, deh. Maafin gue, ya? Janji deh. Lain kali nggak ngulang lagi. Tapi jangan diemin gue kayak gini, dong," ujarnya memelas.
Maru menoleh. "Apa, sih? Nggak usah lebay, deh. Gue nggak apa-apa kok." Setelah mengatakan itu ia langsung pergi begitu saja.
"Kalau nggak apa-apa kenapa marah? Ngatain gue lebay lagi. Bukannya dia yang lebay? Dihukum begini aja udah marah. Dasar cewek, nggak mau salah." Selepas itu dia kembali ke tempat semula. Berkumpul bersama teman-temannya di meja yang berada di pojok. Sebenarnya, tempat awal itu bukan di pojok. Tapi karena banyak colokan di pojok, alhasil Mamat memindahkan meja itu ke pojok. Padahal ada banyak kursi. Tetapi mereka lebih suka menggunakan meja daripada kursi.
Tidak ada dari teman Megi yang mengerjakan hukuman dengan benar kecuali Maru. Jangankan mengerjakan hukuman, memegang alat pembersih saja tidak.
Maldi menepuk bahu Megi. Tumben sekali dia melakukan itu. Bahkan jarang. Sampai-sampai semuanya menoleh kepadanya. Maldi merasa terganggu seketika. "Apaan sih lo pada!"
"Ngomong aja kali, nggak usah pakai nepuk-nepuk begitu. Dikira nggak dengar apa," cetus Mesky seenaknya.
"Bukan nggak dengar, Kang. Tapi emang gitu," Mamat ikut menimbrung. Maldi mengangkat dagunya. "Gitu gimana maksud lo?" tanyanya beramarah.
Megi hanya bisa mengembuskan napas. "Kambuh, kan, kambuh."
"Oye-oye! Bang Maldi ngamuk, nih, guys! Mending nyanyi aja. Iye nggak, Bang?" Mamat menepuk bahu Mesky dengan cengiran khasnya itu.
Mesky mengacungkan jempol.
"Wakilin, Mat! Kita 'kan anak PT MTM, Mundur Tanpa Maju. Ayooo, gasss," suara Mesky menggelegar di perpustakaan.
Sementara Maldi ikut terkekeh. Mamat langsung berdiri di atas meja sambil memegang ponsel sebagai mic-nya. "Aku mundur alon-alon mergo sadar aku sopo," ucapnya mulai bernyanyi. (Aku mundur pelan-pelan karna sadar aku siapa)
"Oye-oye!" tambah Mesky ikut bergoyang.
"Hazeeek! Mamat in your area," teriak Mamat makin menjadi. "Bombayah, yah, yah, yah, Oppa."
Megi menyahut sambil mengacungkan dua jempol. "Tambah lagi, Mat!"
"Oke, tancap gas teman-teman! Oh my-my-my, oh my-my-my, oh my-my-my, yeah!" Mamat melakukan dance BTS dengan lagu terbarunya. "Yo lo lo yo lo yo, cangcimen, cangcimen, cangcimen."
Mesky bertanya. "Cangcimen apaan, Mat?"
"Itu lho, kacang kuaci permen."
"Ooooh," balasnya. Mamat kembali berteriak, "Mundur alon, Mamat in your a----" (Pelan)
"Berisik lo pada," sembur Mars mengakhiri konser dadakan Mamat.
Sekarang, harusnya mereka sadar. Jangan masukkan Mars ke dalam perkumpulan saat sedang konser seperti ini.
Itu sama saja dengan memanggil sebuah petir.
***
"Lho, lo ngapain di sini, Ru? Tumben banget lo masih di sekolah jam segini," kata Marsha menyapa Maru. Sejak pulang sekolah tadi Marsha memang tidak langsung pulang. Ia harus kumpul OSIS dulu. Entah sudah yang kesekian kali hal ini terjadi. Sejujurnya, hal itu terjadi juga karena dia sendiri yang meminta. Katanya ada sesuatu hal yang perlu diluruskan lagi.
Maru menghela napas, menatap Marsha. "Lo lupa kalau gue harus bersihin perpustakaan dulu?" tanyanya berbalik.
Marsha menyengir kuda.
"Lo nyaman pakai seragam kayak gitu, Sha?" Maru mengganti topik pembicaraan. Meskipun dia bukan anak OSIS, tapi dia tahu aturan dan hukuman yang berlaku di sekolah ini. Apalagi yang teruntuk anak OSIS. Ia malah sangat paham dengan hal itu. Entah tahu dari mana, tapi dia memang sangat tahu hal itu. Contoh saja seperti pakaian Marsha sekarang. Guru BK tidak akan segan-segan untuk memberi skors kepadanya. Ditambah pula dia adalah anggota OSIS. Bisa-bisa dia diberi denda dan juga skors yang banyak. Namun, meskipun Marsha mengetahui tentang itu, dia malah bersikap biasa-biasa saja. Beruntungnya dia tidak terkena razia guru BK karena dia memakai jaket yang besar dan beralasan sedang tidak enak badan.
Tidak sampai di situ. Banyak anak-anak cowok yang menatap Marsha lama. Bahkan ada yang sampai tidak berkedip. Jujur saja, siswi-siswi yang awalnya biasa saja ketika berubah bisa melewati siswi-siswi yang luar biasa. Seolah melebihi batas normal.
Marsha yang semula hanya berpenampilan biasa saja, hari ini berubah menjadi cabe-cabean kalau kata teman-teman ceweknya. Awalnya dia hanya memakai seragam yang normal. Dengan rok yang tidak terlalu pendek dan tidak ketat. Bahkan sangat longgar. Baju yang besar dan tebal. Tidak ada kata transparan ketika dia memakai seragam yang biasanya. Marsha, tidak pernah memakai make up. Gadis itu biasanya cuma memakai bedak tabur dan juga sunbclok. Bibirnya pun tak pernah diolesi dengan lip balm ataupun yang lain. Seolah apa yang ada di diri Marsha sangatlah alami.
Bayangkan saja jika semula biasa, sekarang lebih membahana.
Marsha sedikit tersinggung dengan pertanyaan Maru. Lebih tepatnya ia tidak suka ditanya seperti itu. Tetapi ia memilih untuk bersikap biasa saja. Dengan bangganya dia mengangguk sambil tersenyum menampilkan deretan gigi putihnya.
"Nyaman, kok. Memang kenapa? Lo iri gue berubah jadi cantik begini?"
"Nggak lah. Lo pikir gue kurang cantik apa sampai harus dandan kek gitu dulu? Lagian, tuh, ya. Gue cuma nanya lo nyaman apa nggak kok. So, jawaban lo antara iya dan nggak." Maru menyelipkan satu anak rambutnya yang tiba-tiba mengganggu pandangannya. Marsha mengangguk-angguk saja. Tak tahu paham atau tidak. "Iya, iya, gue ngerti. Nggak usah ngegas begitu, dong. Urusan nyaman atau nggak itu bukan urusan lo, Ru. Yang begini kan gue bukan lo. Udahlah, nggak usah bahas hal itu lagi," jawabnya ingin mengalihkan topik pembicaraan antara dirinya dan Maru.
Balasan Marsha membuat Maru tidak ada pilihan lain lagi. "Gue bukan mau ikut campur. Gue cuma mau ngingetin lo soal aturan dan hukuman. Kalau lo nggak mau ya udah. Gue juga nggak maksa. Ya udah. Gue cabut dulu, ya."
"Eh, tunggu dulu," sergah Marsha sambil menarik lengan Maru.
Dia mendekat ke Maru seraya merangkulnya. "Btw, Megi ada di dalam, kan?"
Mendengar pertanyaan itu, Maru mengernyit. Sejak kapan Marsha mulai mencari-cari Megi seperti ini. Aneh. Seperti orang yang sedang kasmaran saja. Begitulah sekiranya yang sedang Maru pikirkan sekarang. Dia menggigit bibir bawahnya sambil melepaskan rangkulan Marsha.
"Gimana?" Marsha bertanya lagi.
Maru mengangkat kedua bahunya tanda tak tahu. Dia malas untuk menjawab pertanyaan itu.
Marsha menggoyang-goyangkan tubuh Maru. "Iiihh, Maru! Jawab, dong! Lo cemburu apa gimana, sih?!" Marsha mengercutkan bibirnya. "Atau jangan-jangan..., lo lagi PMS? Iya, kan? Ngaku nggak lo!"
"Apa, sih, Sha. Gue nggak lagi PMS, kok. Gue juga nggak cemburu. Gue lagi nggak mood ngomong aja," tukasnya emosi. Lantas meninggalkan Marsha.
"Dasar cacing kepanasan," celutuknya sepeninggal Maru di hadapannya.
Selepas Maru pergi, Marsha langsung menghadap ke jendela. Merapikan pakaiannya dan juga rambutnya. Dia mengambil bando dari dalam tasnya. Bando pink itu ia pakai di rambutnya. Padahal, Marsha tak pernah memakai bando ketika di sekolah. Hanya beberapa hari ini saja ia memakainya.
Dikeluarkannya lipstik merah menyala dari saku bajunya. Lantas ia oleskan lipstik itu di bibirnya. Setelah merasa pas, ia segera memasukkan lipstiknya itu.
Lalu dia masuk ke dalam perpustakaan. Dilihatnya Megi dan segerombolannya ada di pojok. Marsha menghampiri mereka dengan gaya berjalan lenggak-lenggok bak model. Sengaja ia hari ini memakai rok yang lebih pendek dan ketat dari biasanya. Tak sampai di situ, ia juga memakai baju seragam yang sangat tipis sekali. Karena pakaiannya itulah, sejak pagi tadi Marsha menjadi bahan pembicaraan anak-anak cowok di SMA Galaska.
"Sore, Meg," sapanya.
Semua mata tertuju kepada Marsha kecuali Mars. Anak yang satu itu memang tidak peduli dengan apapun. Saking tidak pedulinya, ia juga harus terseret ke dalam hukuman ini sekarang. Padahal Mars tidak ikut melakukan apapun. Ia hanya fokus pada pembelajaran. Tetapi, karena semua guru sudah mencetuskan bahwa Mars termasuk komplotannya Megi akhirnya mau tidak mau apapun yang terjadi Mars juga akan selalu bergabung dengan teman-temannya.
"Menor banget, Mbak. Mau ngelenong dimane?" tanya Mamat, bercanda.
Marsha berkacak pinggang. "Mulut lo kok tipis banget, sih, Mat? Apa perlu gue cium dulu biar tebal?"
"Alhamdulillah, kalau lo juga mau, Sha." Mamat menyengir bahagia.
Mesky ikut tertawa. "Wiiish, mantul. Sikat, Mat, sikat!" perintahnya langsung.
Marsha semakin kesal dengan sikap teman-teman Megi.
"Sha, lo hapus lipstik lo dulu. Habis itu baru ke sini lagi," suruh Megi. Sedari tadi, dandanan Marsha sukses membuatnya merasa geli. Serasa yang ada di depannya bukan lah Marsha. Tetapi seorang tante-tante.
"Memang kenapa?"
Mamat bercelutuk lagi. "Kan udah gue bilang. Lo itu menor."
"Mulut lo, yaaaa!"
"Lo lebih natural kalau nggak dandan. Lo juga lebih cantik kalau pakai seragam biasa aja," kata Megi jujur. Dan sangat membuat Marsha senang hingga gadis itu tersenyum lebar.
Mesky menyahut. "Benar, tuh. Malahan dengan dandanan lo yang kayak gini itu, bukannya bikin gue suka malah bikin gue geli tahu, nggak."
"Lo bilang gue apa tadi, Meg?" tanya Marsha mengulangi.
"Lo cantik, Marsha."
Maru terdiam di ujung pintu perpustakaan. Ia tak jadi melanjutkan langkahnya. Dilepaskannya sapu yang semula ia pegang hingga menimbulkan bunyi. Kini, semua mata yang semula tertuju pada Marsha seakan langsung berpindah kepada Maru.
"Eh, gue ganggu, ya?" Maru bertanya dengan pertanyaan bodohnya.
Sebelum pergi lagi, Maru sempat tersenyum. Namun, Megi tahu jika itu hanyalah senyuman paksa. Tidak tulus dari hatinya.
Melihat Maru mendengar ucapannya barusan membuat Megi langsung merasa bersalah lagi. Ia bangkit dari tempat duduknya dan menghampiri Maru.
Seakan Maru sudah tahu tujuan Megi menghampirinya, ia langsung berkata. "Oh iya, gue ke sini cuma mau balikin sapu, kok. Sori kalau ganggu. Jemputan gue udah datang, gue pulang dulu, ya." Maru tersenyum canggung. Ia lantas berbalik dan pergi. Tetapi lengannya dipegang oleh Megi, membuatnya tidak bisa lanjut melangkah.
"Jangan pergi dulu, gue belum selesai ngomong...," katanya pelan dan jelas sambil menatap iris mata Maru dengan pekat. "Marsha emang cantik, tapi lo jauh lebih cantik. Sayangnya...," lagi, lagi ucapannya menggantung.
Maru mengernyit. Ia penasaran dengan kelanjutan ucapan Megi. Matanya membulat penuh. Telinganya melebar untuk mendengar ucapan Megi dengan jelas.
"Sayangnya lo milik orang lain."
***
Maldi menarik lengan Marsha. Membawa gadis itu pergi dari perpustakaan. Yang ada dipikiran Marsha, Maldi akan membawanya ke lapangan atau di mana itu. Tetapi tak terlintas di pikiran Marsha jika Maldi akan membawanya ke kamar mandi cewek yang tak jauh dari perpustakaan.
"Lo ngapain ngajak gue ke sini, hah?" Marsha menjadi was-was sekarang. Tubuhnya tepat menabrak tembok. Maldi mengunci pintu toilet itu. Kuncinya pun ia masukkan ke dalam saku celananya. Kini, Marsha dan Maldi ada di dalam toilet berdua saja. Tanpa ada orang lagi.
Marsha mendorong tubuh Maldi. Tetapi cowok itu justru mengurungnya dengan kedua tangannya.
"Lo jangan macam-macam, ya, Di!"
Maldi menyengir. "Kalau gue macam-macam gimana?"
"Gue teriak, nih!"
"Coba aja. Gue jamin nggak akan ada yang dengar," jawabnya sambil tertawa. Membuat Marsha semakin takut.
"Ini yang akan lo rasain kalau lo masih berpenampilan kayak gini. Gue harap lo kembali ke diri lo yang biasanya," ucap Maldi dengan intonasi rendah. Ia mengeluarkan sebuah tisu dari saku celananya. Tisu itu dia gunakan untuk menghapus lipstik Marsha dengan perlahan. Tak hanya itu, Maldi melepas bando milik Marsha dan membuangnya. Cowok itu juga melepas seragamnya. Ia memakaikan seragam miliknya itu kepada Marsha. Beruntungnya Maldi masih memakai kaos di dalamnya.
"Jangan sekali-kali menarik nafsu cowok kalau lo nggak mau di apa-apain. Kalau suka ke orang nggak gini caranya."
_____