Maybe, Yes!

Maybe, Yes!
BAB 23 :: PENGHIBUR PILU



"Katanya orang yang mudah tersenyum itu cantik. Tapi kalau bisa tersenyum untuk menutupi segala masalah, itu lebih cantik." -Megizal Steven.


Maru duduk bersandar di atas kursi paling ujung. Dia sibuk memainkan ponsel sejak tadi. Membalas satu persatu komentar yang terdapat di akun media sosialnya. Entah komentar sudah sejak kapan masuk ke akunnya, tetapi baru sekarang dia sempat membalasnya. Jika ia sudah tidak memiliki kegiatan apapun, yang dilakukannya hanya membalasi komentar dari yang paling bawah sampai ke atas. Jari jemarinya tidak pernah mengeluh ketika dia paksa untuk membalas komentar yang masuk.


Mungkin karena Maru menyempatkan diri untuk membalas komentar, followers di akun Instagram-nya selalu naik setiap bulannya. Padahal dulu Maru hanya iseng membuat akun itu. Awalnya dia sama sekali tidak mengunggah foto. Tetapi, karena banyak yang mengikutinya dan setiap harinya bertambah walaupun hanya satu atau dua dia memutuskan untuk mengunggah satu foto dengan senyuman paling manis. Yang ada di galeri ponselnya sudah puluhan foto, namun yang di posting hanya satu foto. Sekiranya, perempuan itu memang manusia teribet.


Saat ini Maru berada di ruang ekstrakulikuler conversation club, yaitu sebuah ekstrakulikuler berbahasa Inggris. Hingga sekarang pun peminatnya masih sedikit. Akan tetapi, cukup lumayan dari sebelumnya. Ekstra ini baru diadakan dua tahun yang lalu. Jadi, masih wajar jika anggotanya sedikit. Terhitung ada sekitar tigapuluh dua siswa yang tergabung di ekstra ini. Mulai dari kelas sepuluh sampai duabelas.


Ekstra ini awalnya tidak menarik perhatian Maru. Namun, Marsha----anggota OSIS sekaligus ketua dari ekstrakulikuler conversation club----membujuk Maru untuk ikut bergabung. Karena Marsha selalu mencarinya setiap hari untuk menanyakan sudah mau atau belum, akhirnya Maru mengiakan saja. Dia terganggu ketika Marsha terus mencari-carinya seperti itu.


Dua tahun berlalu, semenjak Maru mengikuti ekstrakulikuler itu nilai Bahasa Inggrisnya selalu di atas rata-rata. Sepanjang kelas sebelas, Maru selalu mendapat ranking satu dalam pelajaran Bahasa Inggris pararel gabungan anak IPA dan IPS. Tentu saja hal itu sangat mengejutkan teman-temannya. Bahkan Maru sendiri juga ikut terkejut dengan kemampuannya. Padahal saat mengikuti ekstrakulikuler itu Maru tak pernah serius memperhatikan penjelasan yang diberikan kakak-kakak mentor.


Sebab itu pula Maru mulai dikenal adik maupun kakak kelas. Banyak juga yang sering menghampirinya hanya sekadar untuk bertanya mengenai kosakata. Atau tidak sampai ke tata cara membaca yang benar. Terkadang, Maru sampai lelah sendiri. Merasa bahwa dia itu adalah kamus berjalan. Sering sekali dia ditanya; Kak, Bahasa Inggrisnya cinta apa? atau Dek, Bahasa Inggrisnya aku sayang kamu apa?


Entah sudah berapa banyak pertanyaan yang dilontarkan teman-temannya itu hingga kadang sampai menggodanya. Sempat Maru ingin menoyor jidatnya supaya diingat dan tidak bertanya-tanya lagi. Namun, selalu saja mereka hobi untuk menggodanya. Mengulangi pertanyaan yang pernah ditanyakan. Atau bahkan bertanya sesuatu yang sudah tahu jawabannya.


Meskipun tujuannya baik, tetapi tidak selamanya begitu. Memang benar jika ada istilah 'malu bertanya sesat di jalan'. Tetapi juga harus sadar dengan apa yang ditanyakan. Selagi tahu tak perlu bertanya. Terkadang, menanyakan pertanyaan yang pernah ditanyakan itu membuat Maru mendecak sebal.


"Hai, sibuk banget, ya?"


Maru mendongakkan kepalanya. Pertanyaan yang dia dengar itu membuatnya sedikit terkejut karena saking fokusnya dengan ponsel. Beruntung saja tadi ponselnya tak terlempar begitu saja. Jika sampai iya, Maru menyesal tujuh turunan.


"Nggak kok. Lo ngapain ke sini? Ada perlu sama Kak Mithar, ya? Mau gue panggilin?" tanya Maru sambil membenarkan posisi duduknya. Kak Mithar adalah salah satu mentor ektrakulikuler conversation club yang memang sering berada di SMA Galaska. Bahkan dia juga kerja part time jika tidak ada jadwal kuliah. Kerja sampingannya adalah mengajar mata pelajaran Bahasa Inggris, membantu guru-guru yang sedang sibuk. Kak Mithar memiliki tinggi badan yang ideal. Rambutnya selalu diikat. Dia memakai blush on di bawah mata, menirukan gaya make up Nisa Sabyan yang sedang trend di masa sekarang. Sedangkan gaya berpakaiannya tidak meniru siapa-siapa. Hal yang menonjol pada diri Kak Mithar adalah selalu memakai celana di mana pun dan kapan pun. Tak pernah sekalipun ada yang melihat Kak Mithar memakai rok.


"Enggak. Gue nggak lagi cari Kak Mithar." Megi meralat ucapannya. Dia menarik sebuah kursi, di tempatkannya di depan Maru. Lantas dia duduk di bangku itu sambil memangku satu kakinya.


Maru menyelipkan satu anak rambutnya di telinga. Dia mengembuskan napasnya sejenak. Masih penasaran dengan kedatangan Megi yang tiba-tiba ke ruang conversation club dengan tujuan tanpa mencari Kak Mithar. Biasanya jika ada siswa atau siswi ke ruang ini tujuannya adalah mencari Kak Mithar. Selain menjadi mentor dan kerta part time di sekolah ini, dia juga berperan sebagai panitia. Bila ada yang ingin mendaftar di ekstrakulikuler ini harus menemui Kak Mithar dahulu. "Terus nyari siapa?" tanya Maru kepo.


"Nyari lo boleh nggak?" jawab Megi menyeriangi, tak lupa dia menyodorkan sebuah lukisan kecil bergambar pohon kelapa. Melihat itu, Maru tersenyum. Dia mengambil lukisan kecil itu dari tangan Megi. "Ini buat gue? Bagus banget, Meg," serunya memeluk lukisan itu.


"Iya, buat lo. Alhamdulillah deh kalau lo suka."


"Makasih ya. Btw, ini lo yang gambar?"


"Bukan. Sori, ya, gue belum bisa gambarin lo sebagus itu. Jadinya gue tadi nyuruh anak seni buat itu. Gue kasih dia limapuluh ribu." Megi menceritakannya dengan sejujur mungkin. Seharusnya dia tidak mengatakan itu. "Limapuluh ribu?!" teriak Maru histeris.


Megi meringis. "Iya. Memang kenapa?"


"Kebanyakan, Meg. Kasihan uangnya," Maru masih dengan ekspresi terkejut lagi. Dia tidak habis pikir dengan jalan pikiran Megi. Bisa-bisanya dia membayar lukisan sekecil itu dengan uang limapuluh ribu. Ukuran lukisan itu sama seperti ukuran nasi kotak pada umumnya. Sekecil itu. Dan harganya sangat mahal. Jika tahu begini, Maru tidak akan menerimanya. Namun, karena sudah mengucapkan terima kasih dia merasa tidak enak jika harus mengembalikannya lagi kepada Megi. Nanti yang ada Megi kecewa. Sudah membayar mahal tetapi malah tidak diterima.


Sesaat, Megi terkekeh. Lalu kembali menatap Maru serius. "Limapuluh ribu nggak ada apa-apanya buat gue. Yang penting lo happy, gue ikut happy. Oh iya, gue cuma mau ngasih tahu kalau gue ikut ekstra ini dari kemarin. Tapi baru bisa ngasih tahu sekarang. Soalnya, kemarin Kak Mithar susah banget dicarinya. Gue hampir frustasi sendiri. Eh, tahunya Kak Mithar malah duduk anteng di ruang BK sama Bu Mai," tuturnya panjang. "Sumpah ya. Nunggu Kak Mithar bilang oke aja lamanya kayak nunggu emak-emak lahiran," lanjutnya membuat Maru tertawa.


Maru menepuk lengan Megi. "Lo tuh aneh-aneh aja ya? Ngakak gue dengernya. Btw, lo tumben mau ikut ekstra. Biasanya kan males." Maru memiringkan kepalanya. Sontak, Megi memasang tampang polos. "Selagi ada lo rasa males gue hilang seketika."


"Dih! Gombal," ucapnya sambil mendorong tubuh Megi menjauh darinya.


Megi tertawa lebar. "Bukan. Oh iya, lo tahu nggak bedanya lo sama hape gue?"


"Nggak. Emang apa?"


"Kalau hape gue bergetar di saku celana, kalau lo bergetar di hati gue."


"Tuh kaan! Gombal beneran jadinya."


"Tapi senang, kan?" tanya Megi ambigu. Gadis di depannya itu mendecak sebal. Tetapi di dalam hatinya, dia berbunga-bunga.


Saat itu juga, Maru bingung harus menjawab apa. Pertanyaan Megi sudah memiliki jawaban tanpa harus dia jawab.


***


Magen dan Maru akhirnya sampai di sebuah rumah sakit bernuansa putih dengan pemandangan sekitar yang ramai. Bahkan, banyak sekali kursi-kursi rumah sakit yang sudah di tempati. Maru membuka jaket dari Magen. Sebelum sampai ke rumah sakit, hujan turun di sepanjang jalan. Udara dingin menyeruak tulang-tulang Maru. Hingga Magen berinisiatif meminjamkan jaketnya kepada Maru.


Dua remaja itu berjalan menyusuri rumah sakit. Mereka belum pernah ke rumah sakit ini sebelumnya. Apalagi Mestha dipindahkan di ruang melati yang letaknya ada di lantai dua. Tepat ketika Maru membuka pintu ruang melati nomor 4, dia langsung tersentak dengan pernyataan Mestha.


"Itu dia pelakunya, Mas!" Mestha menunjuk Maru dengan emosi. Wajahnya sedikit memerah.


Magen menarik lengan Maru untuk masuk ke ruangan itu. Mereka langsung menyalimi Muzan. Lalu, Magen menyalimi Mamanya. Sementara Maru langsung duduk di bangku tanpa melirik Mestha sekalipun. Dia melipat kedua tangannya di dada. Sudah beruntung Maru menelepon Magen untuk membawanya ke rumah sakit. Tetapi malah ujungnya dituduh seperti ini. Lagipula hanya terjatuh dari tangga. Paling-paling sekadar keseleo. Tidak sampai ke luka yang parah.


"Benar, Ru. Kamu yang dorong Mama sampai jatuh?" Kini, Muzan menatap anaknya dengan serius. Tidak ingin ada candaan di sini. Mata ayah dan anak itu saling bertatapan. Membuat Maru yang sedang duduk itu harus mendongakkan kepalanya. "Ayah kok percaya sama Tante, sih? Ya nggak mungkin lah aku ngelakuin itu. Mentang-mentang aku yang di rumah, Ayah percaya begitu aja sama omongan Tante?" tukas Maru mendecak sebal.


Mestha melotot kepada Maru. Seakan menyuruh gadis itu untuk diam saja tanpa membantah ucapannya.


"Itu, tuh, Yah! Tante melototi aku!" Maru mengadukan apa yang telah lihat dengan emosi. Dia bahkan masih menunjuk-nunjuk Mestha. Persis seperti yang telah Mestha lakukan kepadanya tadi. Sengaja. Dia menirukan gaya Mestha supaya Mestha semakin emosi juga sepertinya. Lagipula Maru tidak terima jika harus dituduh seperti ini. Mungkin jika dulu saat diancam Maru bisa diam, tetapi untuk sekarang dia sudah muak. Lelah dengan drama Mama tirinya itu. Memang sudah seharusnya Ayahnya itu tahu yang sebenarnya. "Dia Mama kamu, Maru. Jangan panggil dia Tante. Sekali lagi kamu panggil dia Tante, kamu yang akan Ayah hukum," ucap Muzan tegas.


Magen sedari tadi hanya diam.


"Ya udah. Hukum aku sekarang. Lagian Ayah nggak punya hak buat maksa aku panggil dia dengan sebutan Mama. Aku masih punya Mama kandung!" decak Maru gemas. Bahkan sampai menekankan kata Mama. Sejak tadi hanya dia yang dimarahi. "Dia bukan siapa-siapa! Dia hanya orang asing yang udah ngerusak keluarga kita! Ayah jangan percaya gitu aja dong sama dia!" Maru memperjelas perkatannya.


Muzan menatap Maru heran. Anaknya itu sudah berani membantah.


"Jangan membentak orangtua, Maru!"


"Tapi Ayah juga bentak aku. Ayah tahu nggak sih? Dia itu sebenarnya orang jahat. Dia hanya manfaatin harta Ayah doang. Harusnya Ayah----" belum selesai Maru melanjutkan perkataannya, Ayahnya lebih dulu menampar pipi mungilnya.


Maru memegangi pipinya, air mata yang sejak tadi dia bendung mengalir seketika. "Ayah? Aku nggak nyangka Ayah setega ini sama aku. Maru benci Ayah!"


"Jaga ucapan kamu!"


Magen angkat bicara. "Yah, apa yang Maru katakan itu----" lagi, lagi, ucapannya terpotong. Muzan menyelanya. "Jangan membela dia, Magen. Jangan buat Ayah semakin marah."


Sekali lagi, Magen memilih diam.


Di ujung sana, Mestha menyunggingkan senyum kepada Maru. Gadis itu sudah mengumpat beberapa kali. "Nggak usah belain gue! Orangtua udah tahu mana yang benar mana yang nggak!" Maru menangis. Dia membalikkan badan lalu pergi begitu saja.


"Dek!" teriakan itu hanya sekadar teriakan. Tidak ada yang mengejar Maru. Mereka sama saja. Tidak ada yang peduli dengannya.


"Nyebelin banget, sih!" kesal Maru masih terasa emosi. Gadis itu keluar dari rumah sakit tanpa membawa uang. Dia lupa mengambil tasnya yang tertinggal di ruang melati tadi. Pikirannya sangat kacau hingga dia lupa untuk membawa tasnya. Sekarang tak ada pilihan lain baginya. Dengan terpaksa dia pulang berjalan kaki.


Sebuah motor tiba-tiba berhenti di samping Maru. "Ayo naik," ucap laki-laki di atas motor. "Gue anter pulang," tambahnya.


Maru mengenal suara itu. Dia mengangkat wajahnya, melihat wajah pemilik suara tersebut. Maru diam sejenak, memperhatikan. Lantas tersenyum. "Gue nggak mau pulang."


"Maunya ke mana?"


"Terserah."


"Ke rumah gue, mau?"


"Boleh," jawab Maru cepat.


"Ya udah naik," suruh laki-laki itu yang tidak lain adalah Megi. Dia menyodorkan sebuah helm kepada Maru. Tanpa dia suruh, gadis itu langsung menerima dan memakainya. Setelah itu, Maru naik ke motor Megi.


"Kenapa akhir-akhir ini lo selalu ada buat gue?"


"Seharusnya lo udah tahu tanpa perlu gue jawab, kan?"


"Kalau masih nggak tahu?"


"Ya nggak perlu tahu."


Maru mencubit pinggang Megi hingga membuat laki-laki itu meringis.


Megi membenarkan letak spionnya seraya berkata. "Mumpung di jalan, lo puasin aja nangisnya. Nggak bakalan ada yang ganggu lo nanti. Tapi jangan sampai teriak, ya? Nanti orang kira gue ngapa-ngapain lo lagi," jelas Megi. Maru hanya mengangguk. Dia menopangkan kepalanya di punggung Megi. Meneruskan kembali tangisannya. Di sisi Megi, dia segera melajukan motornya. Meninggalkan jalanan yang mulai sepi karena sore berganti malam.


Selama perjalanan pulang tidak ada yang mereka bicarakan. Megi fokus ke jalan di depannya. Ketika suara tangisan Maru tak terdengar lagi, Megi langsung melirik gadis itu melalui spion. "Lo makin cantik kalau nggak nangis, Maru."


______