
"Nyatanya yang nggak seberapa itu kadang lebih menyakitkan." -Megizal Steven.
Pagi ini Maru berangkat ke sekolah bersama Ayahnya naik angkot. Sekarang bukan lagi mobil. Juga bukan lagi diantar oleh Magen. Semuanya yang dulu sudah bukan lagi miliknya. Sekarang hanya yang sekarang. Hanya yang sekiranya ada dan mampu. Selebihnya bukan lagi miliknya.
"Nanti habis dari sekolah Maru langsung ke warung Ayah kok. Nggak main ke mana-mana. Nanti Mama juga datang, kan?" tanya Maru antusias. Meski tak lagi dengan mobil, dengan barang-barang yang mahal namun setidaknya ia cukup bahagia. Bisa berkumpul bersama dalam satu rumah. Ayah, Mama kandungnya, dan juga dengan Mahira. Walaupun masih belum sepenuhnya menerima namun Mahira sudah tidak peduli lagi. Beberapa hari ke depan Mahira akan mulai survei kembali bersama teman-temannya. Tentu ia lebih memikirkan surveinya daripada memikirkan egonya. Lagi, lagi, Maru bersyukur atas hal ini.
Muzan mengangguk diselingi senyum. "Kalau jahitannya nggak banyak pasti datang," jawabnya.
Akhir-akhir ini memang jahitan Marita sedang menumpuk. Banyak orang yang datang ke rumah untuk menjahit baju. Karena itu semalam Maru begadang untuk membantu Marita. Meskipun sudah dilarang tapi Maru bersikeras untuk tetap membantunya. Lagipula ini juga tidak akan selalu dia lakukan. Mungkin hanya akan dilakukan beberapa kali saja. Sebentar lagi Maru menginjak masa ujian. Disitulah titik kesibukannya nanti. Jadi mumpung masih ada kesempatan Maru akan membantu.
"Maru gimana sekolahnya? Baik?"
Pertanyaan itu membuat Maru terdiam. Dia tidak mungkin menceritakan masalah kemarin. Nanti yang ada Ayahnya akan khawatir. Menambah beban pikiran Ayahnya lagi jika ia bercerita. Tapi Maru juga tidak enak bila berbohong. Keadaannya sangat sulit. Tak ada pilihan.
"Baik kok, Yah. Masih kayak biasanya. Cuma dari kemarin banyak tugas aja." Memang benar bila dari kemarin tugas banyak yang berdatangan. Hampir semua mapel dari pagi sampai siang pun tidak ada yang tidak memberi tugas. Ini antara para guru yang berjamaah untuk memberi tugas atau memang ketidaksengajaan yang menyebalkan.
"Nggak apa-apa, jangan mengeluh. Ayah yakin kalau Maru pasti bisa. Janji dong sama Ayah," ujar Muzan memberikan jari kelingkingnya kepada Maru. Anak perempuannya hanya tersenyum dan menutup jarinya dengan jari kelingkingnya pula. "Maru janji sama Ayah," katanya singkat.
Seharusnya saat kata janji itu ada, kebohongan tak harus ada pula di belakangnya.
***
Istirahat kali ini berbeda dari yang lalu. Banyak siswa-siswi yang berlari berhamburan keluar kelas untuk mencari udara segar. Karena AC di beberapa kelas tiba-tiba rusak. Membuat ruangan terasa sangat panas. Sejak tadi pula banyak siswa-siswi yang sibuk mengipasi diri mereka daripada mendengarkan guru yang sedang menjelaskan. Bukan maksud tidak sopan. Tapi situasinya memang tidak mendukung. Bahkan tadi Mamat membawa sebuah kipas angin yang berdiri. Bukan cuma Mamat, ternyata Mesky dan Maldi juga ikut membawa kipas angin. Entah itu kipas angin milik mereka sendiri atau hanya meminjam. Namun, Megi dan Mars hari ini tidak seperti ketiga temannya itu. Tumben.
Megi tidak membawa apa-apa. Dia tampak biasa saja. Tidak merasa panas sama sekali. Padahal Maru---teman sebangkunya---sudah tidak tahan lagi berada di kelas. Sama seperti yang lain. Kepanasan seperti sekolah dibawah sinar matahari langsung. Sementara Mars juga sama. Dia tidak membawa apapun. Hanya saja sesekali Mars mengipasi dirinya dengan buku.
Magis menggandeng tangan Mesky sambil menoleh kepada Maru. "Kantin, yuk! Gue tunggu di sana ya, Rin, Ru. Bye!" ajaknya. Lalu pergi dengan cengiran.
"Duluan, Bos!" Mesky ikut pamit pada teman-temannya sambil melambaikan tangannya ke atas.
"Tiati, Kuy! Feeling good yeeeesss," ucap Mamat hiperbola yang dibalas Mesky dengan kekehan. "Sip."
Magis dan Mesky sudah lebih dulu pergi ke kantin. Lain halnya dengan Mamat dan Maldi. Dua orang itu sibuk membuka seragam masing-masing. Tidak tahu malu memang. Mamat malah berkoar-koar di kelas. Meskipun sekarang sudah sepi tapi masih ada beberapa siswa yang bertahan di kelas. Seperti Maru dan Megi misalnya. Mereka sadar akan kelakuan temannya yang sedikit geser.
Mamat mendengus setelah kancing bajunya terbuka semua. "Astagaaa! Ini dunia apa neraka, sih? Panas bangggeeettt."
"Dih! Jangan diumbar juga aurat lo, Tomat! Udah nggak punya abs masih aja pamer." Maldi menyemprot Mamat karena tingkahnya. Mamat membuka seragamnya hingga tak ada yang tersisa. Ia sama sekali tidak memakai kaos oblong di dalamnya. Sebaliknya, meskipun Maldi membuka seragamnya ia masih menyisakan kaos oblong berwarna putihnya. Kedua manusia itu duduk tepat di depan kipas angin dengan kecepatan yang sudah full. Tapi tetap saja rasa panas itu masih ada.
Mamat menyenderkan tubuhnya ke dinding dengan pasrah. Tidak peduli dengan ucapan Maldi. "Au, ah! Gue kepanasan ini, Kang! Lo ngerti gue nggak, sih? Itu dua orang enak, pacaran. Lah gue? Ya ampuun. Emak gue nggak ada niatan ngirimin es batu apa, ya?"
"Bilang aja iri, huuu!" Maldi terkekeh.
"Oppa Mamat orang mampu. Nggak perlu iri. Inget, ya!" ujarnya membela diri. "Oy, Mars! Betah amat lo diem bae dari tadi. Ngomong ngapa ngomong," tambahnya menuju kepada Mars yang tampak tenang sambil membaca buku.
Maldi menoyor kening Mamat. "Berisik, deh. Ngomong terus yang ada tambah panas iniii," cecarnya.
Maru yang sudah selesai mencatat segera memasukkan bukunya ke dalam laci. Ia harus menyusul Magis ke kantin sebelum jam istirahat selesai.
"Nggak usah ke kantin. Tadi Moza bawain gue bekal banyak." Megi angkat suara ketika Maru hendak pergi. Setelah kejadian di kantin kemarin mereka tak sempat mengobrol. Bahkan sejak tadi pagi juga masih diam-diaman. Entah antara Megi yang malas untuk mengobrol dengannya atau memang Maru sendiri yang tidak cukup berani untuk memulai sebuah obrolan.
Maru mengernyit. "Ngajak gue..., makan, gitu?" tanyanya.
"Iya lah. Ya kali gue ngajak si Mars yang lagi sibuk baca buku."
"Oke."
Dengan canggung Maru kembali duduk. Megi pun segera mengeluarkan bekal yang dibawanya ke atas meja. Dia tertawa kecil saat tahu apa yang Kakaknya bawakan untuknya. "Gue kirain apa. Ternyata cuma mie goreng doang. Kalau ini mah gue juga bisa kali buatnya," katanya bercelutuk sendiri.
Maru mengambil sumpit yang masih terbungkus plastik. "Nggak apa. Yang penting kan niat baiknya."
"Lo nggak masalah nih makan mie goreng doang? Apa mau gue beliin yang lain di kantin?" tawar Megi. Dia tidak enak mengajak Maru untuk makan mie goreng saja. Padahal tadinya dia pikir akan seperti masakan yang sedikit berkualitas begitu. Ternyata hanya mie goreng saja.
Maru menggeleng. Baginya, yang sederhana tidak masalah. Yang penting makan. Itu sudah lebih cukup.
"Udah ini aja nggak apa." Megi mengangguk sambil mengulas senyum.
Karena hanya membawa dua sumpit akhirnya Maru terpaksa bergantian. Awalnya ada rasa canggung. Namun, ia memilih untuk menganggap biasa saja. Maru mengangkat mie yang telah disumpitnya ke depan Megi. "Lo dulu, baru gue," ujar Maru.
Megi cukup terkejut. Tak disangka Maru akan menyuapinya seperti ini.
Jantungnya terasa tidak normal sekarang. "Lady's first. Sini, biar gue aja yang nyuapin."
"Nggak, biar gue aja. Sebagai ucapan terima kasih untuk yang kemarin."
"Kan cuma ngomong doang. Ngapain harus berterima kasih, sih?"
Maru kembali mengangkat mie-nya. "Jangan bantah terus. Buka mulutnya, nanti ke buru bel masuk."
Tak lagi ada bantahan. Akhirnya Megi mengalah.
"Gue akan selalu ada buat lo, Ru. Akan gue usahain," kata Megi membalas tatapan mata Maru untuk sejenak. Melepas semua kepanasan dan detak jantungnya yang tidak normal untuk beberapa saat. Ketika menatap mata Maru seperti ini rasanya membuat Megi merasa tenang.
Setiap ucapan yang Megi keluarkan selalu membuat Maru berharap lebih. Ia takut kejadian yang lama terulang lagi dengan orang yang sama. Tapi lagi-lagi ia tidak bisa membohongi hatinya. Ia sangat senang ketika Megi memberinya perhatian lebih. Meakipun akhirnya membuat Maru mendapat harapan lebih yang tidak pasti.
"Jangan buat gue untuk punya harapan lebih sama lo, Meg." Maru memperingatkan. Ia tidak ingin jatuh lagi.
"Kali ini gue bener-bener serius, Ru. Nyatanya dua tahun nggak ngebuat gue berpaling dari lo. Gue masih sa---"
"Udah pacaran di kelas, tatap-tatapan pula. Inget, Nak! Ini sekolah. Bukan tempat pacaran yaaa." Mamat menganggu ucapan Megi yang hendak serius. "Keluar, kuy! Jangan gangguin yang lagi anget-angetan," tambah Maldi.
Mamat menolak. "Nggak, ah. Nanti enakan mereka dong. Jangan dikasih kesempatan, Kang! Ntar khilaf kan berabe," peringatnya was-was.
"Tumben bener. Ya udah stay aja, nih. Jangan lupa chat Mesky. Suruh beli yang dingin-dingin," kata Maldi.
"Berisik banget sih lo pada kayak tante-tante aja. Diem kenapa. Lagi makan, nih. Ntar keselek," ucap Megi mengingatkan.
Mamat menyenggol Maldi. Membuat yang disenggol angkat suara. "Ekhem, keselek apa keselek ini? Waah ada bau-bau permulaan ritual nih kayaknya."
***
"Mate kan udah putus sama Maru. Jadi kapan Mate mau nembak Meta?"
"Nggak akan pernah," jawab Mate.
Sejak tadi pagi Meta selalu mengikuti ke mana Mate pergi. Dia sekarang senang. Memiliki lebih banyak harapan baru. Ya, setidaknya ia tidak memiliki gangguan lagi. Maru sudah pergi dan ia punya lebih banyak kesempatan. Betapa senangnya hati Meta sekarang. Ia lupa akan perkataan Mamanya. Meta juga lupa akan Grass yang sedang ada dalam hidupnya. Lagipula dia dan Grass hanyalah pura-pura menerima perjodohan. Jadi di rasa Meta tidak memiliki hak untuk benar-benar menganggap Grass sebagai pasangannya. Grass pula juga sibuk dengan pacar-pacarnya sekarang. Itu artinya Meta juga boleh sibuk dengan mengikuti Mate seharian. Walaupun banyak tatapan mata yang menyorotnya sejak tadi tapi Meta tidak peduli. Seberapa banyak orang yang membicarakannya tetap tidak akan mengubah jalan pikirannya. Sama sekali tidak akan terpengaruhi oleh apapun.
Mate yang sudah mengambil beberapa buku di rak perpustakaan langsung duduk di kursi yang telah ada. Sementara Meta masih berdiri. Dia melangkah maju seraya menarik sebuah kursi. Namun, Mate menghalanginya. "Mate? Meta kan mau duduk," ujarnya meminta.
"Jangan kekanakan."
"Maksudnya? Meta nggak ngerti."
"Lo udah dijodohin. Hargai keputusan yang udah lo buat," kata Mate tanpa menoleh kepada Meta. Sudah biasa. Mate memang tidak pernah menoleh kepada siapapun yang diajak bicara. Kecuali hanya orang-orang tertentu. Entahlah. Sudah lima tahun ini ia sepertinya lupa akan sopan santun yang harus dilakukannya.
Meta mengercutkan bibirnya. "Kan Meta udah bilang. Meta nggak bener-bener mau. Meta cuma nggak pengin Mama marah. Jadinya Meta terima perjodohan itu. Mate jangan jauhin Meta dong," pintanya dengan menarik paksa kursi yang semula dihalangi Mate. Ia duduk di samping Mate.
"Terpaksa nggak terpaksa harus tetap dilakukan."
"Udah dilakukan kok, Mate."
Mate mengembuskan napasnya. "Cara lo yang salah," katanya.
Maru dan Megi yang semula mengembalikan tumpukan buku Bahasa Indonesia itu menoleh sejenak kepada Mate dan Meta yang sedang berduaan. Siapa yang tidak penasaran. Pasalnya akhir-akhir ini memang Maru tidak melihat wajah Mate kecuali saat Marsha menghadangnya.
"Cih. Kenapa diliatin terus?" Megi menyenggol lengan Maru. Membuatnya tersadar akan apa yang dilakukannya. Ia gelagapan. "Eh, nggak kok."
Megi terkekeh.
"Cowok emang gitu, ya?"
"Gitu gimana?" Megi penasaran.
Maru tertawa kecil sambil merapikan tumpukan buku yang dibawanya di tempat pengembalian yang tidak jauh dari Meta dan Mate. "Kalau udah putus langsung punya yang baru. Secepet itu, ya? Kenapa gue nggak gitu."
"Lo masih berharap sama dia?"
"Kenapa nggak? Sebelumnya gue juga pernah bahagia sama dia."
"Meskipun tanpa perasaan?"
"Mana ada. Gue punya perasaan kok sama dia. Begitupun sebaliknya. Cuma caranya aja salah," jawab Maru panjang.
Megi rasanya ingin segera keluar dari ruangan ini. Pernyataan Maru yang tiba-tiba membuatnya kepanasan. Entah sejak kapan ia merasa seperti ini. Tapi jujur saja melihat Maru memuji mantannya itu memang membuatnya begini. Megi tak tahu apa dia ini memang benar-benar menyukai Maru lagi atau tidak. Tapi kelakuannya saja sepertinya memang iya. Layaknya hal sesepele ini membuat Megi bimbang harus bagaimana.
Megi menyerahkan tumpukan itu kepada Bu Baiti selaku penjaga perpustakaan. "Nih udah, Bu. Empat puluh kan tadi yang dipinjam? Ini saya balikin semua. Nggak ada yang tersisa."
"Halah, giliran sama cewek aja tingkahnya ples. Kalo sama temen-temen kamu juga min tingkahmu." Bu Baiti berceloteh panjang sambil mencatat buku yang dikembalikan. Sedangkan Megi---hanya menghela napas ketika dirinya yang tak sengaja harus terzalimi. "Ya ampun, Bu. Pikirannya buruk mulu kalo sama saya," lanjut Megi cengengesan.
Bu Baiti meletakkan setumpukan buku itu di meja lain. Lantas memandang Megi jengah.
"Sana balik. Jangan ngerusuh di perpustakaan," usir Bu Baiti.
Lagi, lagi, ia merasa terzalimi. "Astagfirullah, jahatnyaaa," katanya hiperbola. Lalu menarik lengan Maru yang sedari tadi diam memperhatikan pasangan sejoli yang mereka bicarakan beberapa saat yang lalu. "Ayo pergi," ajaknya.
Tapi Maru masih diam tak bergerak. Sepertinya harapan itu masih ada.