Maybe, Yes!

Maybe, Yes!
BAB 47 :: RAHASIA KEPOMPONG



"Perlu bersyukur untuk lebih baik. Perlu tersenyum untuk lebih tentram." -Marutere Althea.


Ujian Nasional baru saja berakhir. Tepat hari ini. Semua siswa kelas duabelas keluar dari ruangan dengan perasaan yang lega. Ada sebagian pula yang langsung berteriak heboh karena saking senangnya. Semua hari tertekan telah berakhir. Sekarang hanya tinggal menunggu pengumuman saja. Semuanya merasakan perasaan tenang.


Marsha yang satu ruangan dengan Maru dan Magis keluar paling belakangan. Tak ada yang tahu mengapa. Pasalnya sejak dimulainya ujian dia sudah pucat. Selama mengerjakan soal ujian pun dia memegangi perutnya selalu. Maru sempat melihatnya meskipun tak sengaja dilakukannya. Seingat Maru tadi Marsha hampir tak melepaskan tangan kirinya memegang perutnya.


Ketika yang lain sudah pulang Maru dan Magis memilih untuk duduk di depan ruangan sembari menunggu Morin yang tadi tiba-tiba dipanggil di ruang Olimpiade. Lagi pula Maru juga sedang ingin menikmati masa bebasnya di sekolah sebelum nanti pulang. Waktu di SMA-nya ini sudah hampir selesai. Bahkan bisa terbilang selesai jika saja langsung mendapat pengumuman kelulusan.


"Ampun, dah! Nggak kuat gue ngerjainnya, Ru. Sulit banget masa. Pengin nangis rasanya," celutuk Magis dramatis sambil mengingat pekerjaannya tadi. Sungguh Magis tidak begitu yakin jika nilainya akan sangat sesuai dengan ekspetasinya.


Maru hanya terkekeh. Melihat Magis seperti ini akan selalu dirindukannya sampai nanti. "Nangis tinggal nangis aja susah," cibir Maru.


"Ya memang nggak semudah itu!"


"Terserah lo, deh."


Magis berhenti berbicara saat Marsha keluar dari ruangan. Dia berjalan sambil memegangi tembok. Jalannya titah-titah. Seperti yang Maru pikir sejak tadi. Marsha memang sedang tidak sehat. Beruntungnya ini hari terakhir ujian. Setidaknya Marsha tidak perlu memikirkan soal-soal rumit yang menantinya.


Maru dan Magis hanya memperhatikan Marsha yang kesusahan untuk berjalan. Sebelum akhirnya Maru berdiri dan diikuti oleh Magis. Maru menghampiri Marsha sedangkan Magis hanya mengekorinya di belakang dengan berbagai pertanyaan.


"Ayo gue bantu," ujar Maru sambil mengulurkan tangannya.


Marsha yang sedang menahan sakit mendongakkan kepalanya. "Nggak, nggak usah!" tolaknya.


"Sakit aja masih belagu," cibir Magis.


"Masalah buat lo? Minggir!"


Saat Marsha berusaha menepis tangan Maru tiba-tiba keseimbangannya menurun. Pandangannya mulai buram. Kepalanya sedikit merasakan nyeri hingga akhirnya ia tak kuat lagi. Marsha kehilangan kesadarannya dengan Maru yang langsung sigap menahan tubuhnya agar tidak ambruk.


"Gis! Bantuin!" teriaknya karena ternyata tubuh Marsha lebih berat dari dugaannya. "Eh, iya, iya."


Maru dan Magis menahan tubuh Marsha yang berat ini. Mereka merasa seperti menahan dua orang saja. Padahal jika dilihat Marsha juga kurus dan langsing. Tapi kalau ditahan seperti ini rasanya tidak bisa dibilang langsing lagi. Mereka ingin mengeluh rasanya.


"Gimana, nih? Berat," keluh Magis terengah-engah.


"Nggak ada pilihan. Bawa ke UKS," saran Maru yang mendapat pelototan dari Magis. "Lo gila, ya?"


"Katanya strong."


"Iya, dong! Strong."


"Ya, udah."


"Tapi nggak kuat dalam hal kayak gini kali. Gue tuh kuat dalam hal percintaan." Magis menjelaskan. Namun, Maru tidak begitu mendengarkan. Pada akhirnya mereka pasrah. Tak ada lagi orang di sini. Mau tidak mau hanya mereka yang harua membawa Marsha ke UKS.


***


"Akhirnya gue lega banget!" ujar Mesky membahana di kantin sekolah. Setelah ujian selesai mereka langsung berkumpul di kantin. Bukan karena lapar. Tetapi hanya ingin merayakan saja.


Mamat mengangkat tangannya. "Oppa juga. Nggak nyangka SMA secepat ini. Udah mau kuliah, si Emak nggak ada biaya. Ya ampuuuun," keluhnya tiba-tiba.


"Lo mau kuliah, Mat?" tanya Maldi.


"Ho'oh."


"Ke mana?" Kali ini Megi yang bertanya. Bukan apa-apa. Segerombolannya ini yang bisa dikatakan lanjut kuliah hanyalah Mars. Yang lainnya belum tentu.


Mamat tampak berpikir dengan serius hingga tak lama dia menebar senyum. "Oxford University, dong!"


"Gaya lo."


Maldi terkekeh sambil merangkul Mars. "Si Mars aja belum tentu ke terima di sana. Apalagi lo, Mat? Kerjaannya selfie mulu lagi. Dah, ah! Jangan halu."


"Gue ke terima."


Semua mata menuju ke sumber suara. Di mana Mars mulai berbicara. Banyak yang mengernyit keheranan.


"Lo..., ke terima? Di Oxford?" Megi kembali mengulangi.


"Iya."


"Seriously, dear?" Maldi ikut bertanya. Namun bukan jawaban yang didapat. Melainkan timpukan buku dari Mesky. "Idih! Gaya lo Bahasa Inggris. Bukannya naksir sama lo yang ada cewek-cewek tuh malah kejang-kejang tahu, nggak."


Semuanya tertawa.


"Kang Malkist itu nggak ada keturunan Korea. Jadi nggak usah banyak gaya," timpal Mamat pedas. Maldi merasa diturunkan harga dirinya. Dia menggeleng tak percaya dengan dramatis. "Astagfirullah, mimpi apa gue semalam."


"Eh, tapi apa hubungannya Korea sama banyak gaya?" Mesky bertanya heran. Dia tidak paham dengan apa yang Mamat maksud.


Mamat menggebrak meja seolah sedang memimpin sidang. Dia duduk dengan tegap tanpa senyum. Semua mata teman-temannya tertuju kepadanya. Dengan bangga Mamat menghela napasnya sejenak.


"Banyak gaya lo, ah!" cibir Megi.


"Ya karena Oppa ada keturunan Korea makanya banyak gaya," jelas Mamat.


Mesky mengangguk-angguk paham.


"Eh, udah. Ini kenapa jadi bahas Korea, sih? Nggak like gue." Maldi ikut menimbrung. Dia mengangkat dagunya kepada Mars. "Lo beneran ke terima di Oxford University?"


Mars menoleh. "Iya, ke terima. Cuma gue bakal lanjutin pendidikan di UI jurusan Ilmu Hukum."


"Lah, jauh banget dari Oxford ke UI." Megi geleng-geleng tak percaya.


"Ya ampun! Ke terima yang disia-siakan. Kasih ke gue aja daripada mubazir," saran Mesky dengan senyum mengembang.


Mamat menengadahkan kedua tangannya di depan Mars. "Oppa mau gantiin Mars kalau seumpama Mars nggak mau. Suer."


"Eh, mana ada. Gue aja," timpal Maldi.


Mars tertawa melihat respon teman-temannya itu. Dia mengembangkan senyuman yang tidak pernah diukirnya. Tak lama dia mengambil jus di depannya. "Bercanda kali. Gue mana ada mau kuliah di luar negeri. Lo pada kan tahu itu," ucapnya.


"Astagaa! Diseriusin juga," geram Mesky.


Mesky membuka ponselnya yang sempat bergetar. Mungkin Magis mengirimkan pesan kepadanya. Karena penasaran Mesky pun segera membuka ponselnya di sela-sela tawa teman-temannya yang heboh karena Mars. Hampir tiga tahun ini baru kali ini Mars bercanda. Betapa hebohnya saat Mars yang tidak pernah melakukan jadi pernah melakukan.


Yang belum pulang dan bawa mobil tolong datang ke UKS. Marsha pingsan.


Pesan itu datang dari grup kelasnya. Maru yang mengirim pesan itu.


"Ssstttt, diem!"


"Lah, kenapa?" tanya Maldi heran.


Mesky menghela napasnya. "Buruan lo pada buka WA grup kelas. Habis itu masih mau di sini apa ke sana? Cepetan!"


Tanpa banyak bertanya mereka berempat menurut kepada Mesky. Satu persatu membuka ponselnya dan langsung masuk ke dalam aplikasi whatsapp. Seketika mereka berempat saling tatap menatap. Terkecuali Maldi. Cowok itu terdiam sejenak lantas bangkit dan segera pergi entah ke mana tanpa pamit.


"Eh, tungguin!" teriak Mamat.


"Pasti ke UKS. Kuy susul," ajak Megi.


"Iya, beda banget khawatirnya kalau seumpama Mamat jatuh di empang." Mesky mengangguk-angguk.


"Apa hubungannya sama Oppa?"


"Yang tahu juga siapa. Dih, ini kenapa kita nggak nyusul-nyusul sih." Mesky gergetan sendiri.


***


Maldi adalah orang pertama yang tiba di UKS setelah Maru dan Magis. Cowok itu terlihat sangat khawatir. Bahkan dia masih terengah-engah setelah berlari. Dia sampai lupa untuk pamit kepada teman-temannya. Kemungkinan juga teman-temannya akan menyusulnya. Itupun juga kalau mereka penasaran dengannya.


"Kenapa di luar?" tanya Maldi.


Magis mengernyit bingung. "Menurut lo? Marsha kan lagi di periksa sama dokter. Ya, mana ada yang boleh masuk Bambang."


"Dokter?" Maldi mengulang kata itu.


Maru mengangguk. "Gue yang telepon tadi."


Tak lama pintu UKS terbuka. Dengan segera Maldi masuk diikuti oleh Maru dan Magis. Bukan hanya mereka. Teman-teman Maldi juga tiba-tiba datang dan ikut masuk ke dalam UKS karena saking penasarannya. Bagaimana tidak? Berbulan-bulan ini Maldi sering khawatir dengan Marsha. Tidak mungkin semua itu terjadi jika Maldi tidak memiliki hubungan dengan Marsha.


"Bagaimana keadaan Marsha, Dok?" tanya Maldi sambil memegang bahu Marsha.


Ibu dokter itu melihat Marsha sekilas dan kembali menatap Maldi. "Mbak Marsha hanya butuh istirahat yang lebih. Di kehamilannya yang pertama ini memang keadaan janinnya masih lemah. Sebaiknya Mbak Marsha harus istirahat selama seminggu dan banyak makan buah. Tolong juga dijaga agar dia tidak banyak pikiran, ya. Kalau begitu saya permisi ya, Mas, Mbak. Mari," pamit Ibu dokter itu.


Ucapan Ibu dokter tadi membuat semua orang yang berada di ruangan terkejut bukan main.


"Mal! Marsha hamil? Anak lo?" tanya Mesky tak percaya. Sementara Maldi hanya mengangguk tanpa menoleh. "Sejak kapan?" Mesky kembali bertanya.


"Dugaan gue selama ini bener, Ru." Magis menggoyang-goyangkan tubuh Maru yang masih diam tak bergerak. Hampir tak percaya.


"Kalian tolong tenang dulu. Gue bakal jelasin semuanya." Maldi membalikkan badannya menatap semua teman-temannya.


Mamat heran. "Ya ampun, Kanggg. Lo nggak inget dosa, ya? Neraka, Kang, neraka."


"Bisa diem nggak, sih! Ini gue jelasin dulu. Jangan berprasangka buruk, dong, ah!" Maldi geram sendiri.


"Ya udah, buruan." Magis menimbrung.


"Iya ini juga mau ngomong."


"Lama," cibir Magis.


"Gue udah tinggal satu rumah sama Marsha sejak kelas sepuluh. Orangtuanya udah nggak ada. Dan dia dititipin ke orangtua gue. Karena gue dan dia lama-lama tumbuh gede dan orangtua gue takut ada hal yang nggak-nggak terjadi. Jadi, orangtua gue nikahin gue sama Marsha pas kita naik kelas sebelas. Gue sama Marsha saling benci. Sebab itu di sekolah kita kayak orang nggak kenal. Seolah emang kita nggak ada apa-apa. Sori kalau semua ini membuat kalian salah paham." Maldi menceritakan semuanya dengan berat hati. Padahal tinggal sedikit lagi dia keluar dari SMA dan tidak ada yang tahu.


Magis menganga tak percaya sambil menutup bibirnya. "Lo udah kawin dong berarti?"


Maru menjitak kening Magis. Cewek itu berbicara seenaknya tanpa dipikir lagi. Maru merasa tidak enak setelah Magis mengatakan hal itu.


"Apaan, dah! Kawin bahasanya, kayak kucing," ujar Megi.


"Nikah kek lebih enak gitu didengarnya," kata Mars.


"Ya, tapi emang bener kata Magis. Gue udah kawin sama Marsha." Maldi memperjelasnya. Membuat semua orang menepuk jidatnya masing-masing. Nggak harus sejujur itu kali, Malkist abon.


***


Banyak yang masih mengintrogasi Maldi di dalam UKS. Secara mendadak Maldi menjadi seorang artis yang ditimbun dengan berbagai banyak pertanyaan. Magis, Mamat, dan Mesky sudah mengepungnya dengan banyak pertanyaan. Sementara Mars hanya duduk diam di pojok sambil memainkan ponselnya.


Lalu Megi menarik Maru untuk keluar dari UKS. Rasanya pengap jika harus berada di dalam UKS sambil menunggu Marsha sadar.


"Megizal Steven," panggil Maru.


Megi berhenti melangkah dan membalikkan badannya. Menatap Maru penuh kerinduan. Dirinya sudah berjanji pada dirinya sendiri. Selama fase ujian dia akan benar-benar menjauh dari Maru. Tapi setelah selesai dia akan kembali menjadi Megi yang biasanya. Tak peduli jika Maru sudah ada yang punya.


"Marutere Althea," balas Megi mengikuti.


Maru mencubit lengan Megi. "Aw, kasarnya ya ampun."


"Ini lo beneran udah balik, Meg?"


"Emang gue pernah pergi?"


Maru mengembangkan senyum. Dia memeluk Megi seerat mungkin. "Gue rindu lo, Meg," bisiknya.


"Maunya gue jawab iya apa nggak?"


"Iiiiih masih aja, ya."


"Iya, iya. Gue juga rindu, bahkan melebihi rindu lo ke gue."


"Bullshit," cibir Maru.


Megi melepas pelukan Maru sambil tersenyum. "Maunya lo putus sendiri sama si pacar atau perlu gue yang mutusin, nih?" tawar Megi.


Lagi, Maru teringat Magen. Senyum yang semula mengembang perlahan hilang. Dia tidak bisa memutuskannya begitu saja. Harus ada alasan untuk meyakinkan Ayahnya dan Magen. Maru tidak ingin menyakiti dua orang itu. Baginya mereka berdua sungguh berharga buat Maru. Tidak ada satupun yang tidak. Begitupun dengan Megi.


"Meg, gue---"


"Nggak perlu repot-repot buang tenaga lo. Gue sendiri yang bakal mutusin pacar gue." Seseorang datang tiba-tiba tanpa diduga.


Maru terkejut melihat siapa yang baru saja memotong ucapannya.


"Magen."


"Kita putus," kata Magen singkat.


Antara senang dan tidak. Maru menganga tak percaya begitupun dengan Megi. Cowok itu masih terdiam mengumpulkan kesadarannya. Telinganya masih sehat. Dia masih bisa mendengar dengan jelas. Matanya juga masih sehat. Masih bisa melihat tanpa terganggu. Tentu ia tidak salah mendengar maupun melihat.


"Magen, kamu...," ujar Maru.


"Bercanda lo, ya?" Megi ikut menimpali.


Magen maju beberapa langkah hingga dekat dengan mereka berdua. Magen masih diam tak berbicara. Tatapannya masih sendu. Masih tidak rela melepaskan Maru begitu saja. Tapi ini diluar kendalinya. Magen tidak memiliki pilihan selain melepas satu orang yang disayangnya.


"Magen yang kamu lihat ini nggak seperti apa yang kamu bayangkan," ucap Maru menjelaskan.


"Aku tahu."


"Aku sama Megi nggak ada apa-apa."


"Aku juga tahu."


Megi menatap Magen jengah. "Lo itu semua tahu tapi gayanya kayak nggak tahu."


"Magen, aku...."


"Kita selesai sampai di sini. Jaga diri baik-baik," tutur Magen sambil memeluknya. "Kita selesai, maaf."


_____