Maybe, Yes!

Maybe, Yes!
BAB 40 :: SILANG BALIK



"Sesuatu yang terlihat kadang hanya ilusi semata. Meski terasa nyata tapi jangan mudah percaya." -Marutere Althea.


Sejak sampai di rumah Maru mondar-mandir sendiri tak karuan. Marita hanya bisa menggeleng heran melihat tingkah anaknya itu. Hari ini Mahira kembali melakukan survei di tempat pelosok. Makanya rumah menjadi sedikit sunyi tanpa celotehannya.


"Duduk dulu, Sayang. Jangan bikin Mama bingung ngeliatin kamu begitu," perintah Marita karena sudah jengah.


Maru menghela napas panjang. "Gimana Maru bisa tenang, Ma? Ayah nggak buka warungnya dan Ayah nggak ada kabar. Maru telepon juga nggak aktif. Maru takut Ayah kenapa-kenapa," cecarnya menjadi-jadi. Marita memeluk Maru. Menenangkan anaknya itu. Dia pun sebenarnya juga khawatir. Tapi ini masih sore. Bisa jadi Muzan nanti baru pulang di malam hari. Karena itu ia tidak mau berpikiran yang negatif dahulu. "Ayah baik-baik aja. Maru harus yakin, oke? Bentar lagi Ayah juga pulang kok. Maru yang tenang, ya? Jangan bikin Mama ikutan cemas," tutur Marita.


Mendengar nasihat Mamanya, ia hanya bisa mengangguk pasrah. Lagipula yang dikatakan Mamanya ada benarnya juga. Dia kan belum tahu kepastiannya. Ayahnya juga belum lama menghilangnya. Siapa tahu saja ponselnya kehabisan batrei. Maru menghilangkan pikiran buruknya. Tidak apa-apa. Ayahnya pasti baik-baik saja.


Maru mendongak.


"Kalau Mama bisa ikut khawatir sama Ayah, kenapa Mama nggak nikah lagi aja sama Ayah? Lagian Ayah juga udah cerai sama Tante Mestha, kan? Memang Mama nggak pengin punya keluarga yang lengkap?" Pertanyaan Maru barusan membuat Marita termenung. Bagaimana bisa anaknya ini berpikir demikian? Sungguh terlalu jauh. Rasanya hal itu tidak mungkin dapat Marita capai lagi. Selain karena trauma, ia juga belum berani untuk mengambil risiko lagi. Marita masih ingin memperbaiki dahulu ekonominya yang sekarang. Dia belum memikirkan untuk menikah lagi. Sangat tidak pernah muncul di benaknya sekali pun itu.


Marita tertawa kecil seraya mempererat pelukannya dengan Maru. Seakan pelukan ini jarang sekali diberikannya. "Siapa yang nggak pengin punya keluarga lengkap, Sayang? Mama pengin kok. Cuma saat ini Mama belum kepikiran untuk menikah lagi. Mama ingin fokus sama pekerjaan Mama dan kamu. Mama harap Maru bisa ngertiin Mama dan nggak bahas soal itu lagi, ya?" Marita mengangkat dagu Maru ke atas.


Anak gadisnya itu hanya tersenyum dan mengangguk. Situasi yang sangat dirindukan. Jika saja ada mesin yang dapat mengabulkan permintaan. Marita akan meminta untuk membalikkan waktu. Dia ingin memperbaiki semuanya di zaman dulu agar masa depannya tidak seperti ini. Agar pula Maru tidak bertanya seperti ini kepadanya.


***


Di halaman perusahaan CV. Firma Lentera yang luas ini Magen menunggu Muzan keluar dari dalam perusahaan itu. Setelah membawa uang sejumlah sepuluh milyar ia dan Muzan datang ke perusahaan itu. Memang uang yang Magen miliki di tabungan rekeningnya hanya lima milyar. Tapi beruntungnya sertifikat rumahnya masih berada di lemari Mamanya. Magen pun mengambil sertifikat itu tanpa izin dari Mamanya. Mulai dari rumah, mobil pribadi Magen juga mobil yang ada di garasi rumah, dan beberapa barang lainnya Magen jual hari ini juga. Muzan memang sudah melarangnya. Bahkan sampai menghalangi Magen untuk menjual semua itu. Namun, Magen masih pada pendiriannya.


Barang-barang Mamanya yang lain harganya mahal-mahal. Juga dengan perhiasan Mamanya pula. Lagian semua yang telah Magen jual adalah milik Muzan sebelumnya. Jadi Muzan berhak menerima semua itu. Setelah apa yang telah Magen dan Mamanya lakukan semua itu tidak seberapa di pikirannya. Magen pun juga sudah ikhlas. Dia tidak memiliki apa-apa sekarang. Hanya tersisa uang seratus juta saja. Tadinya Magen ingin memberikannya kepada Muzan untuk mengembangkan usaha Muzan. Akan tetapi Muzan menolaknya. Ia tidak mau Magen hidup tanpa tabungan sepeser pun. Sebab itu uang yang tersisa masih berada di tangan Magen.


Tak berselang lama akhirnya Muzan keluar. Magen mengembangkan senyum dan menghampiri Ayahnya itu. "Sudah, Yah?" tanyanya senang.


Entah mengapa hatinya sangat senang hari ini. Padahal dia sudah kehilangan semuanya. Tapi hatinya tetap senang seolah tidak ada yang terjadi.


"Sudah. Terima kasih untuk semuanya, Nak. Ayah nggak tahu harus bagaimana untuk membalasnya."


"Ayah nggak perlu ngomong begitu. Lagian kan semua itu milik Ayah. Wajar bila kembalinya juga ke Ayah."


"Setelah ini kamu tinggal sama Ayah, ya?" tawar Muzan.


"Nggak perlu, Yah. Magen bisa cari kostan. Ayo Magen antar pulang."


"Tinggal sama Ayah, ya? Ayah senang kalau kamu mau tinggal sama Ayah dan Maru. Kita mulai hidup baru."


"Nggak usah, Ayah. Magen masih bisa hidup sendiri. Magen nggak mau ngerepoti Ayah. Lagian juga Magen anak cowok. Bisa jaga diri," jelas Magen. Sebenarnya ia malu jika diajak tinggal bersama. Bahkan untuk melihat wajah Maru lagi lebih baik jangan dulu. Magen belum siap.


Muzan menepuk bahu Magen dengan tatapan yang tak bisa Magen tolak. "Jangan buat Ayah marah, oke?" ujar Muzan---dengan kata lain tidak menerima penolakan.


***


Suara ketukan pintu membuat Maru beranjak dari posisinya dengan cepat. Ia berlari menuju ke pintu depan. Berharap Ayahnya datang. Namun, saat pintu telah terbuka manik mata Maru malah tertatap dengan Magen. Bukannya dengan Ayahnya yang telah dinantikannya. "Lo ngapain ke sini bareng Ayah, hah? Nggak punya malu. Gue nggak menerima---"


"Ayah yang ngajak," potong Muzan cepat sebelum Maru kembali berceloteh. "Kok Ayah bisa sama dia?" tanya Maru.


"Nanti Ayah jelasin. Sekarang Maru tolong buatin teh hangat buat Ayah dan Magen, ya?" perintah Ayahnya. Maru tak lagi membantah. Dengan ragu ia mengangguk dan segera balik arah untuk membuatkan teh. "Sebentar kalo begitu," ujarnya.


Muzan menoleh kepada Magen yang masih setia memperhatikan punggung Maru yang kian menghilang. "Ayo, masuk. Soal omongan Maru jangan didengerin. Nanti biar Ayah yang jelasin. Berhubung kamar di sini cuma tiga, kamu tidur sama Ayah, ya? Nggak apa-apa, kan?"


"Nggak perlu repot-repot, Yah. Magen bisa tidur di sofa kok. Serius," timpal Magen tidak enak. Nanti yang ada ia malah menganggu Ayahnya tidur. "Tolong biarin Magen tidur di sofa, ya? Magen udah biasa kok. Ayah nggak perlu khawatir," lanjutnya.


"Ya, udah. Tapi kalau kamu badannya sakit-sakit pindah ke kamar saja."


"Siap, Yah."


Akhirnya mereka masuk ke dalam rumah. Menyenderkan tubuh masing-masing di kursi ruang tamu. Tak lama Marita muncul bersama dengan Maru yang membawa teh hangat. "Baru pulang dari mana saja, Mas?" tanya Marita ke poinnya.


"Dari perusahaan CV. Firma Lentera."


Maru meletakkan tehnya di atas meja dengan menyahut. "Bukannya Ayah udah dipecat, ya? Ngapain datang ke sana lagi?"


"Iya, Mas. Kan kamu sudah dipecat. Apa ada masalah lagi?" Marita memperhatikan Muzan dengan lekat. Sementara Muzan hanya menghela napasnya. "Nggak ada. Tadi cuma ada urusan sebentar aja di sana. Oh, iya. Mulai sekarang Magen akan tinggal di sini. Ayah harap nggak ada yang keberatan."


Maru terkejut. "Loh. Kok mendadak banget, Yah?" tanyanya.


"Nanti Ayah jelasin di kamar. Kamu anterin Magen dulu ke kamar Ayah biar dia bisa ganti baju."


"Ayah kok...," sanggah Maru. Namun Marita memegang lengan Maru. Memberi tanda untuk tidak menolak. Dengan jengel Maru menatap Magen ketus. "Ya, udah. Ikutin gue aja," ucapnya.


Magen pun beranjak dari posisinya sambil menenteng tas ranselnya. "Permisi Yah, Tante," pamitnya.


Setelah Magen dan Maru tidak ada Marita kembali menatap Muzan. Meminta penjelasan. "Dia itu anaknya Mestha?" tanya Marita.


Muzan mengangguk yang berarti jawabannya iya.


Di sisi lain Maru jengkel sekali melihat wajah Magen. Rasanya sudah muak. Ia malah kembali mengingat kejadian dulu yang telah ia berusaha untuk lupakan. Maru tidak dendam ataupun bagaimana. Tetapi hatinya masih mengganjal saja. Masih ada rasa marah. Mungkin perasaan ini masih bisa hilang nanti kalau sudah ada waktunya. Tapi untuk sekarang Maru belum bisa melupakannya begitupun dengan rasanya sekaligus. Maru pun terus melangkah tanpa mengatakan sepatah kata pun kepada Magen. Melewati dapur hingga akhirnya sampai di kamar Ayahnya. Maru bersedekap dada dan mengangkat dagunya untuk menunjukkan kamar Ayahnya.


"Gue harap lo nggak lama tinggal di sini," ujar Maru ketus lantas meninggalkan Magen begitu saja. Lagipula Magen juga sudah tahu apa yang harus dilakukannya. Jadi Maru tidak perlu menjelaskannya. "Lo..., apa kabar?" Magen membuka suara.


Langkah Maru berhenti. Ia menoleh ke samping sejenak. Tapi dia kembali menatap lurus ke depan.


"Menurut lo?" Maru balik bertanya.


Magen melangkah mendekat kepada Maru. "Gue minta maaf," ucapnya tulus.


"Gue juga," balas Maru masih tak menoleh. Bukan masalah tidak sopan atau apa. Tapi dia belum siap mengingat lebih dalam lagi mengenai itu. Seketika perkataan itu membuat Magen mengernyit. Untuk apa Maru meminta maaf kepadanya? Setahunya yang salah bukan Maru. Tetapi dirinya dan juga Mamanya.


"Untuk apa?"


"Untuk semua kebodohan gue dengan percaya sama lo."


Tak ingin berlama-lama Maru segera pergi dengan cepat. Meninggalkan Magen dengan bayangan buruknya di masa lalu. Seperti membuat kesalahan itu mudah. Tetapi untuk melupakannya tidak semudah yang dikira.


***


"..., jadi itu alasannya kenapa Ayah bisa ketemu sama Magen dan juga datang ke perusahaan CV. Firma Lentera. Ayah harap kamu nggak seketus itu lagi sama Magen. Dia anak yang baik." Sesuai dengan perkataannya tadi, Muzan pun menjelaskan semuanya di kamar Maru malam ini. Sampai jarum jam menunjukkan pukul sepuluh malam keduanya masih belum memberikan tanda-tanda telah mengantuk.


Maru baru mengerti semuanya. Ternyata dia yang salah. Karena rasa jengkelnya itu ia malah berkelakuan seketus itu dengan Magen. Karena juga tidak seharusnya Maru berperilaku seketus itu. Lagipula Magen sudah menyadari kesalahannya. Ia juga sudah membantu Muzan untuk menyelesaikan masalah dengan perusahaan CV. Firma Lentera. Bahkan mendengar uang sepuluh milyar disebutkan Maru rasanya ingin pingsan saja. Nominal sebesar itu sulit sekali dikumpulkan dalam waktu tiga bulan. Dengan menjual rumah saja juga belum tercukupi.


"Sudah malam. Kamu segera tidur. Ayah mau balik ke kamar," ujar Ayahnya.


"Hehe, Maru mau ambil minum sebentar. Nggak apa, kan? Nggak lama. Habia itu langsung balik ke kamar."


"Ya, sudah. Malam, Sayang."


"Malam, Ayah."


Setelah Ayahnya pergi Maru bergegas ke bawah. Sebenarnya Maru tidak ingin mengambil air minum. Dia hanya ingin bertemu dengan Magen dan meminta maaf.


Maru berjalan menuju ke ruang TV. Dilihatnya Magen masih belum tidur. Cowok itu sedang mengerjakan tugasnya di laptop. Padahal ini sudah larut malam. Maru heran dengannya. Ternyata cowok seperti Magen juga rajin mengerjakan tugasnya. Maru akui bila Magen memang pintar. Nantinya juga pasti Magen akan menjadi dokter yang baik.


Perlahan Maru menuruni anak tangga. Dia melangkah menghampiri Magen. Lalu memeluk Magen dari belakang yang membuat Magen terkejut bukan main. Ini sudah larut malam dan tiba-tiba ada yang memeluknya dari belakang. Awalnya Magen berpikir yang tidak-tidak. Tapi saat menoleh ke samping dia langsung lega. Didapatinya Maru yang memeluknya bukan mahluk lain yang tak bisa dia lihat. Meskipun merasa lega, namun jantungnya kembali berpacu dengan cepat saat Maru masih memeluknya.


Gadis itu masih diam dan juga masih menutup matanya.


"Gue minta maaf," kata itu yang Magen dengar dari bibir Maru. Gadis itu mulai membuka matanya dan menatap Magen. "Gue nggak seharusnya marah sama lo," tambah Maru masih merasa bersalah. Dengan mendengar suaranya saja Magen sudah bahagia. Apalagi jika Maru mengucap kata maaf kepadanya. Itu jauh di luar dugaan. "Nggak apa-apa," jawab Magen.


Maru pun melepaskan pelukannya dan langsung loncat ke sofa yang diduduki Magen. Maru ikut duduk di samping Magen dengan tersenyum. Dia memperhatikan sekitarnya. "Kayaknya banyak tugas nih. Mau dibantuin nggak?" tawar Maru.


"Nggak usah. Anak kecil ngerti apa soal beginian? Mending lo tidur aja."


Maru mengerucutkan bibirnya. "Iiih gue buktiin ya kalau gue ini berprestasi. Nilai Biologi gue tuh bagus tahu!" tutur Maru dengan pede.


Magen tertawa dan menoyor kening Maru pelan. "Lo anak IPS kalau lupa. Mana ada nilai Biologi bisa bagus. Ngerti Biologi aja nggak," ejek Magen, bercanda.


"Ciee Magen masih inget," goda Maru.


"Ingetlah. Perasaan gue ke lo aja nggak pernah gue lupain."


"Udah, ah! Jangan bahas itu lagi. Ini berhubung gue nggak ngerti Biologi, gue bantu temenin aja, ya? Siapa tahu lo nggak berani melek sampai malam." Maru tidak tahu mengapa ia bisa semudah ini memperbaiki hubungannya dengan Magen. Tapi ia sangat bersyukur untuk ini.


Magen mendecih.


"Siapa bilang? Gue udah biasa begadang. Sana lo tidur aja. Besok sekolah," suruh Magen dengan mendorong tubuh Maru.


Gadis itu kembali menolak. "Lo ribet, ya? Suka nyuruh-nyuruh lagi. Tenang aja gue juga udah biasa begadang."


"Terserah kalau begitu. Tapi kalau besok lo sampai ngantuk di sekolah jangan salahin gue, ya! Lo yang maksa soalnya."


"Iyaaa, bawel amat."


Magen kembali melanjutkan tugasnya dengan tersenyum. Tiba-tiba dia diselimuti dengan perasaan senang. Beberapa menit setelahnya Magen kembali menoleh. Mendapati Maru yang sudah tidur dengan pulas---yang katanya tadi mau begadang.