
"Kalau sudah punya baju, jangan cari kain. Kalau sudah punya satu, jangan cari yang lain." -Megizal Steven.
Seragam Megi bagian bahu dan punggung kanannya basah. Itu adalah bekas tangisan Maru tadi. Selepas Mate memutuskan Maru, ia langsung pergi entah ke mana. Meninggalkan Maru yang masih menangis. Megi sampai heran, baru kali ini dia melihat seorang Mate seegois itu. Sampai-sampai memutuskannya di depan umum. Padahal Mate masih bisa memutuskan Maru di tempat lain yang tidak seramai itu.
Mate memang tidak memiliki hati, pikir Megi.
Apa ada seorang cowok tega memalukan pacarnya sendiri di depan umum?
Megi rasa orang itu memang memiliki hati sekeras batu. Makanya sampai tidak memiliki rasa kasihan. Andai saja tadi Maru tidak menahannya. Mungkin sekarang Mate sudah ada di rumah sakit. Sampai masuk UGD pula. Tapi semua itu tidak terjadi karena ia dicegah. Padahal tadi dia sudah menyiapkan kekuataannya untuk menghajar Mate habis-habisan.
Boleh diakui memang bila Megi memiliki rasa kepada Maru. Kini dia memiliki peluang untuk bersama Maru kembali. Betapa bahagianya dia saat Mate memutuskan hubungannya dengan Maru. Di sisi lain dia juga tidak tega melihat Maru terus menangis. Tentu saja Megi miris melihatnya. Apalagi ini sudah yang kedua kalinya Maru diputus sepihak oleh sang cowok. Yang pertama adalah Megi. Dan yang kedua itu Mate. Semoga saja Mate itu adalah orang terakhir, harap Megi sekarang.
"Meg, buruan mandi. Ada yang mau gue ceritain, nih, sama lo." Mozha yang baru tiba itu langsung menghampiri Megi yang sedari tadi masih enggan bergerak. Sepulang dari rumah Maru, dia hanya duduk di atas motornya sambil melamun. Masih khawatir dengan Maru. Sejujurnya, tadi Megi tidak ingin pulang. Ia masih ingin menemani Maru di rumahnya. Tetapi, Magen dengan kejamnya mengusir Megi tadi. Maru tak berkata apa-apa, dia malah masuk ke dalam kamarnya. Mau tidak mau Megi terpaksa harus pulang.
Mozha menepuk pipi Megi keras. "Melamun aja, dasar!"
Megi membuyarkan lamunannya. Dia menatap kakaknya masam lalu turun dari motor. Megi melangkah masuk ke rumah, tanpa mengucapkan sepatah kata pun terhadap Mozha. Gadis itu mengangkat satu alisnya heran. Menatap punggung Megi yang kian mulai menghilang dari pandangannya. Lantas Mozha menghela napas, mengekori Megi yang masuk ke rumah dengan senyum bergembira. Mengingat-ingat kejadian sebelumnya. Entah mengapa, selama perjalanan pulang dia tidak henti-hentinya mengingat akan hal itu.
Mozha berlari menuju ke kamarnya. Ia buru-buru mandi secepat mungkin. Sudah tidak sabar untuk bercerita kepada Megi. Ketika Mozha senang dengan sesuatu ataupun seseorang dia selalu menceritakannya kepada Megi. Selalu meminta pendapat. Seringkali malah hanya mendapat ledekan dari Megi karena tak kunjung memiliki pasangan. Jika dihitung sudah ada sekitar tigabelas orang yang Mozha pernah ceritakan kepada Megi. Mulai dari awal bertemu, cara kenalannya, dan beranjak ke proses dekatnya. Tak sekadar sampai di situ, Mozha juga memberitahu Megi akan latar belakangnya. Bahkan hingga ke masa lalunya. Jangan salah kenapa Mozha bisa mengetahui sedetail itu. Karena dia sangat ahli dalam stalker orang.
Selesai berberes diri, Mozha langsung mengacir ke kamar Megi yang pintunya jarang sekali ditutup. Bahkan hampir tidak pernah. Selalu saja Mozha yang menutupnya setiap kali dia akan tidur. Bukan apa-apa jika pintunya terbuka, tapi yang Mozha takutkan jika ada pemandangan yang tidak seharusnya terlihat.
Di dalam kamar, Megi sudah selesai membersihkan dirinya. Dia duduk selonjoran di kasur sambil menunggu kakaknya itu datang. Sesekali ia melirik jarum jam yang lama sekali bergerak. Serasa waktu berjalan dengan lambat. Ponselnya hening. Tidak ada notifikasi yang masuk. Megi hanya mendengus. Keterlaluan memang jika ponselnya sepi begini. Seperti tidak memiliki rasa untuk hidup. Padahal dulu ponselnya sering sekali memiliki banyak notifikasi. Tetapi, semenjak ia berganti nomor whatsapp semuanya berubah sepi. Itu pun karena banyak cewek-cewek SMA Galaska yang tidak memiliki nomor barunya ini. Bahkan jika ada yang meminta nomor Megi selalu tidak diberi. Mungkin saja teman-teman Megi sudah dihasut oleh kakaknya agar tidak membocorkan nomor baru Megi. Sehingga ponselnya menjadi sepi seperti ini. Hampir mirip dengan kuburan.
Mozha membuka pintu kamar Megi lebar-lebar. Lantas ia tutup kembali serapat mungkin. Megi tak berekspresi apa-apa. Dia mengambil minuman orange di sampingnya yang sempat dia ambil dari dapur tadi. Lalu meminumnya. Mozha melangkah mendekat. Gadis itu menarik guling yang berada di samping Megi lantas duduk manis masih sambil tersenyum riang. Sesekali gadis itu melihat ke atas dinding. Mengerjap beberapa kali. Sepertinya dia memang sangat gembira saat ini. Megi jadi tidak enak jika harus menghancurkan mood baik kakaknya itu. Ide-ide jahil yang sudah dia pikirkan kini ia buang jauh-jauh.
"Mau cerita yang kayak biasa? Ketemu cowok yang gimana lagi? Udah ngapain aja sama dia? Orangnya ganteng nggak? Ah, tapi masih gantengan gue, lah, ya." Megi memecah keheningan setelah lama diam karena kakaknya itu senyum-senyum sendiri. Yang tadinya kurang waras sekarang bertambah lagi kurang warasnya.
Mozha mengerucutkan bibirnya, lalu menata gulingnya itu untuk dia tumpangi tangannya. "Kepedean lo, dasar. Tapi serius deh. Yang ini itu beda, Meg. Nggak kayak yang biasanya. Suer, deh!"
"Beda gimana maksud lo, Kak?" tanya Megi sambil mencomot keripik kentang yang sudah dia siapkan untuk mendengar kakaknya bercerita. Sengaja dia sediakan supaya tidak bosan mendengar Mozha yang akan lama sekali berceritanya. Hampir seperti mendongeng. Mozha menarik napasnya, lalu mengembuskannya. "Gini lho, dia itu, gimana ya gue jelasinnya? Aduh, bingung."
Megi memutar bola mata jengah. Mulai deh mulai. "Tinggal cerita aja susahnya kayak nunggu si dia peka," celutuk Megi.
Mozha menyengir, menampilkan deratan gigi putihnya.
"Hahaha, kadang lucu lo."
"Kak cepetan! Gue juga mau cerita. Kalau lo masih mikir mending gue dulu deh yang cerita."
"Eeehhh enak aja! Gue dulu lah. Lady's first. Inget itu!"
"Iya, iya."
Mozha memukul guling itu berkali-kali. Lalu memasang tampang serius. "Namanya Genta. Dia itu anak FK angkatan tahun ini. Adik kelas gue istilahnya. Dulu dia pernah nabrak gue sampai hampir jatuh. Tapi, untungnya dia megang gue. Jadinya nggak jatuh, deh. Habis itu dia nanya nama gue. Setelah gue jawab dia malah pergi. Nggak minta maaf lagi. Gue gergetan waktu itu. Pengin rasanya gue injek-injek itu muka. Ganteng, sih, jadinya sayang. Nggak tega buat ngerusakin wajah seganteng itu. Lanjut nih! Dengerin!" peringatnya kembali. "Minggu lalu dia nyariin gue buat minta maaf. Ya awalnya gue nggak mau maafin, tapi itu cowok nerocos aja kayak ular keket. Akhirnya gue diajak makan, ditraktir katanya. Gue langsung senang, dong. Habis itu gue maafin dia dan kita tukeran nomor hape. Sekarang jadi bisa chatingan sama si ganteng."
"Fine----"
"Gue belum selesai, tomat!"
Megi mendecak kesal. Selanjutnya dia memilih untuk diam daripada harus disela oleh kakaknya yang antusias ini.
Mozha menstabilkan napasnya. Lalu melanjutkan ceritanya kembali. "Dia itu nyari gue cuma untuk minta maaf dong. Jarang banget gue lihat seorang cowok sampai segitunya merasa bersalah. Padahal gue nggak kenapa-napa. Tapi dia itu khawatir banget kalau gue marah. Tahu nggak, sih, Meg? Gue kagum sama jalan pikirannya itu cowok. Kemarin gue ngajak dia buat nemani gue makan. Awalnya pesan gue dicuekin. Tapi pas gue chat dia lagi, dia langsung balas otw. Gue kira dia cuma bilang otw doang. Eh, tahunya dia datang beneran. Genta itu tipe cowok yang takut banget si ceweknya marah. Dan itu buat gue semakin suka sama dia."
Megi diam tidak berkata apa-apa setelah Mozha berhenti membuka mulut.
"Kok lo diam aja, sih?! Ngomong apa, kek!" Mozha kembali emosi. Sementara Megi sudah menggeram kesal. "Gue ngomong salah, gue diam juga salah. Lo itu maunya apa, sih, Kak?!"
Dia kembali memanyunkan bibirnya. "Respon gue, dong. Jangan dianggurin begitu aja," ucapnya.
"Waktunya nggak tepat, pinter."
Megi mengepalkan kedua tangannya, kenapa tindakannya selalu salah begini pada kakaknya?
Megi berusaha sabar, kakaknya ini memang selalu menguji tingkat kesabarannya. Ia mendengus pelan, gadis di hadapannya ini selain suka memancing emosi juga tak jelas. Bagaimana bisa tadi dia mau saja diajak untuk bercerita? Dirinya sekarang sudah ikut tidak waras seperti kakaknya.
Mozha kembali menarik napasnya lalu mengembuskannya dengan cepat. "Sekarang respon cerita gue. Harus gimana gue ke depannya. Selama hidup gue belum pernah pacaran, Meg. Gue pengin ngerasainnya. Kayak lo gitu. Seenggaknya pernah pacaran walaupun sekarang udah nggak laku lagi," ujarnya sambil meledek Megi di kalimat terakhirnya. Megi menatap Mozha malas. Jika bukan karena dia ingin cerita juga, ia malas jika harus merespon cerita kakaknya. "Gini ya, Kak, Bro. Selama dia masih alone, gue rasa fine-fine aja. Lagipula kalau sikapnya siapa tadi? Genteng, eh, Gante, eh, siapa sih?" Megi lupa dengan nama cowok yang Mozha ceritakan.
"Genta, Meg!" Mozha membenarkan.
"Iya, itu maksud gue. Kalau sikapnya Genta itu baik sama lo dan dia perhatian sama lo, siapa tahu aja dia juga punya rasa ke lo. Eh, lo kan pinter stalker, tuh. Gampang lah buat lo nyari tahu perasaannya dia ke lo itu gimana. Jadi, gue pikir nggak repot. Oh iya, kalau udah lengket jangan lupa kenalin ke gue."
Mozha tersenyum lalu mengacungkan jempolnya kepada Megi.
"Sekarang gantian gue yang cerita," ucap Megi lagi. Dia tidak bisa menahan bibirnya untuk mengembang. Hatinya gembira. Berteriak-teriak ingin berpesta. "Lo masih inget mantan gue nggak, Kak?" tanyanya.
Diam. Mozha berpikir. Lantas mengangguk. "Maru, kan?"
"Iya. Sekarang gue lagi dekat sama dia. Bahkan gue sebangku sama dia. Tadi itu dia habis diputusin pacarnya. Gue sampai nggak habis pikir sama itu mantan pacarnya Maru. Nggak punya hati, sumpah. Dia mutusin Maru di tempat umum. Nggak punya rasa kasihan itu cowok," jedanya sejenak. "Tapi, gue juga senang, sih, akhirnya Maru sendiri juga. Gue jadi punya peluang buat dekat sama dia. Hm..., menurut lo salah nggak sih kalau gue suka lagi sama mantan?"
"Ya nggak, dong!" jawabnya heboh sambil berteriak. "Selama masih punya perasaan yang sama nggak apa-apa. Sebelum janur kuning melengkung, dia bukan milik siapa-siapa," lanjutnya.
"Tumben lo pinter, Kak."
"Berantem, ayo," tawarnya sambil mengepalkan tangannya kepada Megi. Membuat pria itu terkekeh seketika.
Terkadang, Megi sempat berpikir kenapa Mozha itu masih sendiri sampai sekarang. Selama hidupnya gadis itu belum pernah merasakan rasanya berpacaran. Padahal jika dipikir-pikir, Mozha itu pintar, baik, dan cantik. Megi tidak bisa memungkiri jika Mozha itu memang cantik. Semua keturunan orangtua Megi selalu Megi anggap keturunan sultan yang ganteng cantiknya tak tertandingi. Megi memang selalu pede berkata seperti itu. Mungkin, sifat Mozha yang mengakibatkannya masih sendiri adalah sifat menyebalkannya itu. Suka mengganggu orang lain. Tetapi tidak suka diganggu. Intinya, apapun yang dia lakukan ke orang lain dia tidak suka diperlakukan seperti itu.
Di jauh sana, Mozha senyum-senyum sendiri. Dia membayangkan Magen itu menembaknya. Iya, khayalannya memang cukup jauh.
Genta. Nama itu sengaja dia pakai untuk memanggil Magen. Ia ingin memiliki nama panggilan spesial kepada Magen. Sejak kemarin itu pula dia sudah memanggilnya Genta. Dan syukurnya, pria itu tidak menolak dipanggil seperti itu. Malahan bersikap biasa saja seolah nama itu adalah nama biasanya. Memang tidak terlalu menarik. Karena Genta hanya diambil dari Magenta, nama belakang.
Ponsel Mozha yang berada di belakang tubuhnya mulai bergetar. Mengganggu khayalannya dengan Magen. Dengan malas ia mengambil ponsel itu. Sebuah pesan masuk dari....
Mau keluar nggak?
Membaca itu, Mozha mengembangkan senyumnya. Baru saja dia memikirkan Magen, pria itu sudah membuat hatinya bergetar.
Mozha mengetik balasan kepada Magen dengan cepat.
Boleh. Ke mana?
Tapi jemput, ya?
Baru saja pesan itu terkirim, Magen sudah membalasnya lagi. Membuat Mozha ingin terbang sekarang. Rasanya dia ingin berpesta tujuh hari tujuh malam tanpa henti. Bila perlu dia akan mengadakan tasyakuran setelah berpesta. Supaya yang awal khilaf menjadi tobat.
Rahasia. Yang pasti lo bakal suka. Setengah jam lagi gue nyampe.
Dandan yang cantik, ya, Zha.
"ARRGGHHH!!" teriak Mozha. Ponsel Mozha terlempar seketika oleh sang pemilik ponsel itu. Dia mengukir senyum selebar mungkin hingga membuat Megi terheran-heran. Megi melihat ponsel Mozha. Dia membaca pesan itu lantas menggeleng. Pantas saja kakaknya seheboh itu. Orang diajak kencan.
Megi mengembalikan ponsel itu kepada Mozha, lantas berkata. "Udah punya satu jangan kepincut yang lain. Apalagi nyari lagi. Sukses, ya, kencannya. Sekalian gue juga mau keluar. Mau ke rumah Maru."
"Masih proses, Meg. Doain aja, ya?" ucapnya senang. "Oh iya, lo mau ke mana aja bebas. Gue nggak ngelarang. Yang penting lo inget pulang. Bye!" pamit Mozha dan keluar dari kamar Megi.
Megi terkekeh. "Lo kira gue mau kabur sampai lupa rumah segala? Dasar bucin," ledeknya.