
"Nggak harus menyalahkan orang untuk apa yang terjadi." -Magenta Arkas Prakarsa.
"Mulai besok aku bakal sibuk lagi. Ada beberapa ujian dan tugas. Kemungkinan aku nggak bisa jemput kamu. Nggak apa, kan?" tanya Magen tidak enak. Pasalnya dia sudah berjanji jika akan mengantar jemput Maru setiap hari. Dia tidak akan membiarkan Maru sendirian. Sebisa mungkin dia akan selalu menemaninya. Seperti pada waktu dulu.
Sebenarnya dia senang sudah memiliki Maru. Namun, dia sendiri juga memiliki kesibukan yang pada akhirnya dia tidak bisa menghabiskan waktunya dengan Maru. Entah benar atau tidak rasa senang itu kian mulai menyusut. Hilang secara perlahan. Magen sendiri juga tidak tahu kenapa. Apa yang diinginkannya sudah dia dapat. Tapi rasa senangnya seperti ada yang kurang. Sampai di titik ini dia belum merasa puas.
"Aku tahu kalau aku udah janji. Tapi situasinya memang lagi sulit. Aku perlu waktu untuk belajar." Magen kembali menjelaskan.
Sekarang dia dan Maru sedang berada di teras samping rumah. Jadwal malam ini adalah belajar bersama. Magen dengan segudang materi dan tugasnya yang kian selalu bertambah. Sedangkan Maru dengan beberapa soal latihan yang harus diselesaikannya. Awalnya mereka masih banyak berbincang. Mengobrol seperti biasa. Dengan berjalannya waktu suasana semakin sunyi dengan dimulainya rutinitas mereka.
Magen mengembuskan napasnya. "Kamu nggak bakal marah, kan?" tanyanya lagi.
Hening. Maru masih diam di tempat seperti tidak menghiraukan. Sejak tadi Magen berbicara panjang lebar dan Maru malah melamun saja. Mungkin gadis itu sedang banyak pikiran. Karenanya Magen tidak begitu jengkel. Dia menepuk bahu Maru pelan hingga gadis itu refleks menoleh kepadanya dengan terkejut.
Magen menatapnya cemas. "Kamu nggak apa-apa?"
"Eh, nggak kok." Maru mengelak dengan cepat. Tidak mungkin dia jujur bila sejak tadi dia sedang memikirkan Megi. Setelah mengambil keputusan dengan cepat seperti itu dia malah semakin kepikiran dengan Megi. Sungguh. Sampai sekarang pun dia dibuat tidak fokus karena hal itu. Seakan Megi menjadi cenayangnya.
"Serius?" ulang Magen.
Pacarnya itu hanya mengangguk.
Tidak semudah itu Magen mempercayainya. Sepertinya ada hal yang sedang menumpuk di pikiran Maru. Bukan tentang ujian atau yang lain. Mungkin dia sedang memikirkan sesuatu yang berhubungan dengan masa lalunya. Siapa lagi? Megi mungkin.
***
Moza tidak berhenti marah-marah sejak diputus oleh Magen secara sepihak. Apapun yang Moza lihat dia selalu emosi sendiri. Sering naik darah karena hal yang sepele. Apalagi dari sananya memang Moza orang yang gampang sekali marah-marah. Di tambah lagi dengan masalah seperti ini. Bukannya bertambah kalem dia malah semakin kasar. Tanpa pengawasan orangtua semua yang dilakukan Moza tidak pernah salah. Tentu saja pikirnya begitu. Karena tidak ada yang menasihatinya ataupun memarahinya. Mungkin hanya Megi yang kadang jengkel dengannya.
Sejak satu jam yang lalu Moza menyenderkan tubuhnya di sofa ruang keluarga. Dia menyalakan televisi dengan tidak karuan. Pencet sana pencet sini. Belum selesai berbicara si tokoh dalam televisi, dia sudah lebih dulu mengganti channel-nya sesuka hati. Suasana hati Moza memang tidak lagi baik. Di tambah banyak ujian dadakan di kampus. Seharusnya sekarang dia belajar jikalau besok seumpama ada ujian dadakan lagi. Tapi rasanya dia tidak memiliki nyawa untuk belajar.
Putus sepihak seperti itu memalukan. Seakan harga dirinya sudah tidak ada lagi. Magen memandangnya seperti barang. Setelah tidak suka langsung dibuang sesuka hati. Padahal dulu waktu menembaknya Magen berbicara banyak hal dengan serius hingga membuat Moza yakin bila semua ini tidak main-main. Tapi satu kesalahan yang Moza lakukan. Dia terlalu mudah dipengaruhi hingga dia mengambil keputusan dengan cepat. Tanpa memikirkan hal buruk apa yang akan datang padanya.
Masalah perbedaan usia itu juga masih mengganjal di hatinya. Magen dengan usia sembilan belas tahun dan dirinya dengan usia duapuluh satu tahun. Lebih muda Magen dua tahun. Di masa usia Magen yang sembilan belas tahun itulah yang merupakan masa remaja. Masih dalam masa labil. Dia belum bisa untuk melakukan hal yang serius. Ternyata Moza melupakan hal sepele seperti ini.
Moza tak lagi ingin berpacaran dengan orang yang lebih muda darinya. Itu sama saja seperti dia memacari adiknya sendiri, Megi. Usia yang masih belasan tahun itu masih termasuk dalam masa labil. Menurutnya memang begitu. Ada banyak hal yang mereka lakukan untuk sekadar senang-senang. Usia sembilan belas tahun masih sama seperti anak SMA. Hanya bedanya baru lulus setahun. Tapi jiwanya masih sama. Belum berubah.
"Udah kenapa. Hidup kayaknya galau mulu. Yang semangat, dong!" cibir Megi yang datang menghampirinya. Adik laki-lakinya itu membawa semangkuk mie instan yang sudah dimasak. "Nih, dimakan. Nggak usah komen yang gimana-gimana. Buruan," lanjutnya sambil menyodorkan semangkuk mie instan itu kepada Moza.
"Gue nggak makan mie."
"Makan sekali nggak bakal bikin lo sakit juga. Dimakan aja. Rezeki jangan ditolak, pamali namanya."
"Nggak lo kasih racun, kan?"
Seketika Megi terkejut dengan pertanyaan Moza yang tidak-tidak. Menuduhnya yang negatif selalu. "Astagfirullah. Gue nggak sejahat itu kali. Kalaupun gue mau lo punah dari dunia ini, gue nggak bakal pakai cara senorak itu," jawabnya.
Moza tertawa. "Bercanda."
Megi tak langsung pergi. Dia ikut membaringkan tubuhnya di sofa. "Masih mikirin si Magen lo?" tanyanya.
"Nggak banyak."
"Mau sampai kapan? Hidup lo kok kayaknya rumit banget. Nggak usah dipikirin. Santai aja. Tenang. Rileks," ujar Megi sambil mengambil napas dan mengembuskannya dengan perlahan. Lalu dia kembali menyengir. "Oke?"
Moza meletakkan mie itu di atas meja. Lantas menjitak Megi dengan keras hingga cowok itu meringis. "Aduh! Kasar."
"Lo cuma ngomong enak."
"Ya makanya dicoba. Jangan dipikirin. Santai gitu lho," titahnya.
Moza kembali menatap Megi dengan datar. "Emang lo nggak mikirin Maru?"
Eh?
Moza membalikkan keadaan. Gadis itu bangkit dan tersenyum lebar kepadanya. "Skakmat," ujarnya mengejek. Lantas menjulurkan lidahnya kepada Megi.
***
Mestha baru saja tiba di bandara sore ini. Sudah lama dia meninggalkan Magen sendirian di Indonesia. Mestha yakin bila Magen tidak akan berbuat ulah. Anak laki-lakinya itu sudah tertata. Dia merasa bangga memiliki Magen. Meskipun begitu Mestha juga khawatir dengan keadaan Magen. Berada di Belanda selama beberapa minggu membuatnya lupa untuk mengabari Magen. Selama itu pula mereka tidak saling berkomunikasi. Maka dari itu Mestha sangat merindukannya.
Kali ini Mestha tidak pulang dengan tangan kosong. Dia membawa berita gembira. Rasanya dia sudah tidak sabar untuk memberitahu anak semata wayangnya itu. Dengan semangat Mestha melangkah lebih cepat. Dia sengaja tidak mengirimkan pesan kepada Magen. Malam ini Mestha akan memberikan Magen kejutan dengan kedatangannya yang tiba-tiba itu. Sudah tidak sabar sekali Mestha ingin melihat senyum anaknya.
Tibanya di bandara Mestha langsung memesan taksi online. Sembari menunggu taksi pesanannya datang dia membuka galeri ponselnya. Mengembangkan senyum saat melihat foto-fotonya selama di Belanda. Mestha tidak tersenyum karena fotonya. Dia tersenyum karena sebentar lagi rencananya akan kembali dimulai. Lalu ia akan bisa hidup dengan bahagia setelah semua yang diperlukannya telah didapatnya. Mestha tak sabar menunggu waktu itu.
"Dengan Bu Mestha?" tanya si pengemudi taksi online yang berhenti di depan Mestha. "Iya, Pak."
"Masuk, Bu."
Mestha masuk ke taksi hingga tak lama taksi itu melaju dengan kecepatan normal. Jarak bandara ke rumahnya tidak jauh. Hanya butuh waktu tigapuluh menit saja. Selama perjalanan Mestha membuka jendela mobil. Menghirup udara malam di Jakarta. Melihat orang-orang yang ramai di pinggir jalan. Memang Jakarta adalah kota yang tidak pernah sepi. Kota yang tidak pernah tidur. Juga kota keberuntungan bagi Mestha sendiri. Tak sia-sia upayanya untuk pindah ke Jakarta.
"Baik, Bu." Si supir taksi online menurut.
Mestha keluar dari taksi masih dengan senyumannya. Perlahan dia melangkah menuju ke pagar rumah. Matanya mengelilingi ke penjuru rumah. Namun, tiba-tiba matanya berhenti di depan pintu rumah itu. Matanya membulat dengan lebar untuk membaca tulisan di depan pintu.
Rumah ini sudah dijual.
"Dijual? Apa-apaan ini," gumam Mestha tidak percaya. Tanpa menunggu emosinya naik Mestha langsung berbalik arah. Dia mengirimkan pesan kepada Magen untuk menemuinya di Kafe Sendy Buana sekarang juga. Daripada marah-marah tidak karuan lebih baik Mestha bertanya langsung kepada Magen. Siapa tahu ini hanya salah paham belaka.
Mestha kembali masuk ke taksi yang masih menunggunya. "Kafe Sendy Buana, Pak. Tolong ngebut, ya," ucap Mestha masih dengan kesal.
"Iya, Bu."
Mestha harap semua ini hanya permainan saja. Tidak mungkin Magen menjualnya. Memang untuk apa? Bukankah uang lima milyar yang telah diberikannya lebih dari cukup? Bahkan dipikiran Mestha anaknya itu tidak begitu membutuhkan uang. Sangat jarang menggunakan uang. Sepertinya selama dia Belanda ada sesuatu yang terjadi pada anaknya.
***
Tolong temui Mama di Kafe SB sekarang.
Magen mengernyit setelah membaca pesan yang masuk. Sejak kapan Mamanya berada di Indonesia?
Dia bahkan belum menyiapkan penjelasan yang teratur. Magen kira Mamanya akan sampai sebulan berada di Belanda. Tapi sungguh diluar dugaan. Baru sekitar tiga minggu dan sekarang Mamanya sudah kembali. Tanpa memberitahunya pula. Rasanya kepala Magen ingin pecah saat ini juga.
"Argggghh," keluhnya sambil meremas kertas yang semula dipegangnya.
Maru menoleh bingung. "Kamu kenapa, Gen? Ada masalah sama tugas kamu? Perlu aku bantu?" tanyanya beruntun.
Magen tidak ingin Maru tahu sebelum masalahnya dengan Mamanya selesai. Nanti yang ada Maru akan ikut campur. Yang tambah parahnya Maru pasti akan marah-marah dengan Mamanya. Magen tidak ingin itu terjadi. Cukup pernah saja dan Magen tidak ingin hal itu terjadi kembali. Apalagi pada orang yang sama. Orang yang Magen sayangi tentunya.
"Magen," panggil Maru.
"Eh, nggak kok. Ru kamu jaga rumah, ya. Aku ada acara sebentar sama Meezo. Nggak akan lama. Bye," ucapnya lantas bangkit dan bergegas pergi begitu saja.
Magen terlihat aneh sekali bagi Maru.
***
Tak butuh waktu lama akhirnya Magen sampai di Kafe Sendy Buana. Dia tidak mempersiapkan penjelasan yang membuatnya tenang. Dia juga tidak sempat untuk memikirkan itu. Daripada bimbang dengan dengan semua itu ia memilih untuk langsung bertemu dengan Mamanya saja. Dia akan menjelaskan semuanya dari awal.
"Kamu dari mana? Kenapa nggak ada di rumah?" tanya Mestha langsung kepada poinnya saat Magen baru saja tiba.
Magen tertawa kecil. "Mama sendiri kenapa nggak ngabarin kalau pulang? Magen kan bisa jemput Mama di bandara."
"Magen jujur sama Mama."
Dugaannya benar. Pasti Mestha sudah datang ke rumah. Ah, sial. Magen sudah kehabisan akal.
"Jelasin sebelum Mama marah," perintah Mestha lagi dengan menatap Magen tajam.
Tak ada pilihan. Magen memang harus menceritakan semuanya. "Rumah aku jual, Ma. Semua barang-barang di rumah juga aku jual semua. Nggak ada yang tersisa," jelasnya.
Mestha tidak habis pikir. Untuk apa menjual semua itu di saat Magen masih memiliki uang yang cukup. Bahkan bisa terbilang lebih dari cukup.
"Untuk apa, Magen? Kenapa nggak izin sama Mama dulu?" Mestha mengintrogasi.
"Magen nggak sengaja ketemu Ayah waktu itu. Terus Magen diajak ke warung sate Ayah. Di sana Magen banyak cerita sama Ayah sampai akhirnya kami benar-benar baikan, Ma. Nggak lama setelah itu ada pihak dari perusahaan CV. Firma Lentera yang datang mencari Ayah. Mereka menagih uang sepuluh milyar. Mama inget uang itu kan?" Magen berhenti sejenak. Dia mengembuskan napasnya dan kembali bersuara. "Ayah kehilangan pekerjaan karena Mama. Uang sepuluh milyar itu Mama yang ambil. Karena itu aku mau menebus kesalahan kita sama Ayah dengan bayarin tagihannya. Lagipula itu juga uang haram. Nggak seharusnya kita hidup dengan uang seperti itu, Ma. Maafin Magen, Ma."
Mestha benar-benar terkejut.
"Kamu tahu kan kalau ngambil uang sebanyak itu nggak mudah? Tapi kamu malah seenaknya bantuin Mas Muzan." Mestha semakin berapi-api.
Magen menggenggam telapak tangan Mestha tulus. "Magen ingin Mama lepas dari pekerjaan ini, Ma. Magen nggak apa hidup sederhana yang penting uang kita halal. Sekarang Magen juga udah dapat pekerjaan," pinta Magen.
"K-kamu kerja?" tanya Mestha heran.
"Iya, Ma. Magen kerja part time di Mal. Karena itu, Magen minta sama Mama untuk nggak bekerja kayak gini lagi. Memang Mama nggak inget sama Papa? Mama harus hargain Papa." Magen menundukkan kepalanya hingga keningnya menatap telapak tangan Mestha. Dia benar-benar ingin Mamanya kembali seperti dulu. Seperti Mamanya sebelum Papanya pergi.
Mestha melepas paksa tangannya yang digenggam Magen.
"Ya karena Papamu pergi Mama jadi kayak gini, Gen! Kalau Mama nggak bekerja seperti ini kita mau makan apa? Mama bosen dihina terus! Harusnya kamu paham itu!"
"Papa nggak salah, Ma. Semua itu udah takdir."
Mestha menyodorkan ponselnya kepada Magen. Ada foto Mamanya dan seseorang. "Om Mabigal akan melamar Mama lusa depan. Mama harap kamu menerimanya," tutur Mestha.
"Nggak apa uang dan semuanya kamu jual untuk bantu Mas Muzan. Mama anggap semua itu hutang," ujar Mestha seenaknya.