
"Mantan, seseorang yang kita jaga untuk orang lain. Selalu mengakhiri dengan seribu kenangan yang susah dilupakan. Tetapi mudah untuk diceritakan." -Marutere Althea.
"Ih nggak bisa begitu dong, Mate!"
"Meta udah nunggu dari jam enam."
"Meta udah pake pewangi, kok."
"Meta bahkan rela nggak sarapan."
"Mate! Jangan ninggalin Meta dong. Biasanya kan selalu bareng."
"Besok sama lo," ucap Mate mendiamkan Meta sejenak.
"Meta maunya sekarang bukan besok." Meta masih teguh pendirian. Enak saja Mate pergi meninggalkan seenaknya. Padahal, hari ini Meta sudah bangun pagi. Dia juga sudah memakai parfum Mamanya yang bertahan lama. Sejak pukul enam pagi dia sudah mengetuk-ngetuk pintu rumah Mate yang masih tertutup. Bukannya Mate yang membuka pintu, melainkan Mamanya. Sementara Mate sendiri masih sarapan. Jadinya Meta mau tidak mau harus menunggu Mate selesai sarapan. Sudah lama-lama menunggu ujungnya malah disuruh berangkat sendiri naik angkutan umum. Siapa yang tidak kesal coba? Meta memanyunkan bibirnya. Kini dia membuntuti Mate dari belakang menuju ke halaman rumah. "Nggak usah maksa. Gue bilang besok, ya, besok!"
Akan tetapi Meta tidak peduli. Dia akan tetap berangkat sekolah bersama Mate. Tidak ada yang boleh menggantikan Meta. Biasanya kan memang Meta yang selalu dibonceng oleh Mate. Jadi tidak ada yang namanya Mate membonceng orang lain saat berangkat dan pulang sekolah. Seharusnya Mate paham itu. Meta tidak suka Mate dekat dengan cewek lain. Sekalipun itu berstatus sebagai pacar Mate. Baginya itu sekadar status. "Meta nggak maksa, kok. Meta cuma mau Mate menghargai Meta yang udah nunggu Mate dari jam enam pagi," adunya berharap-harap cemas.
"Jadi lo nggak ikhlas?" tanyanya memancing emosi. Mate menatap mata Meta datar. Ekspresi wajah Mate memang sulit diartikan. "Lagian, gue juga nggak nyuruh lo nunggu." Lanjutnya ketus.
Meta menunduk. Bingung harus mengatakan apa. "Bukan nggak ikhlas, Mate. Meta cuma mau Mate menghargai Meta. Udah itu aja. Biasanya kan Mate yang nungguin Meta. Makanya, sekarang Meta pengin yang nunggu Mate. Meta kasihan kalau harus ditunggu sama Mate. Begitupun sama kasihannya hati Meta yang masih setia menunggu Mate." Mate hanya diam. Dia menaiki motornya lalu memakai helm. Tangannya memasukkan kunci dan mulai menyalakan mesin motor miliknya. Meta naik begitu saja di belakang Mate. Langsung saja Mate melajukan motornya pelan. Di sisi lain, Meta merasa tenang. Mate tidak menolak dirinya yang sudah memaksa naik tanpa meminta izin. Tiba-tiba motor Mate berhenti di halte. Dia menoleh ke belakang seraya berkata. "Turun!" perintahnya.
Meta diam sambil melongo. Apa maksudnya?
"Gue bilang turun!" Mate mengulangi perkataannya. Meta turun dari motor Mate dengan tergesa-gesa lantas berdiri di hadapan Mate. Dia menutupi sinar matahari yang menghalangi pandangannya dengan tangan kanannya. "Kita mau ngapain di sini? Sekolah kan masih jauh Mate."
Tanpa berkata apapun, Mate menyalakan motornya. Pergi meninggalkan Meta begitu saja.
Meta tersenyum seraya melambaikan tangannya kepada Mate yang telah pergi. "Hati-hati yaaa, Matee!" teriaknya keras tanpa merasa malu sedikit pun. Meta melirik ke samping kanan kirinya, lalu menghela napasnya. "Nggak apa-apa. Meta kuat!" Meta masih menyemangati dirinya. Padahal hatinya sekarang rapuh.
***
Ketika sampai di gerbang sekolah, Meta yang baru saja turun dari bus itu tak sengaja melihat Mate sedang membonceng Maru. Tumben sekali Mate mau menjemput Maru untuk berangkat sekolah bersama. Padahal sebelumnya dia selalu menolak permintaan Maru. Memangnya ada apa dengan Mate sekarang? Meta menggelengkan kepalanya. Dia melangkahkan kakinya selebar mungkin mengikuti Mate dan Maru. Dia tak menghiraukan teman-temannya yang sedang menyapanya. Dia memfokuskan pandangannya ke depan. Tak ingin sekalipun dia menoleh jika bukan Mate yang memanggilnya. Meta semakin mempercepat langkahnya. Saat sudah mendekat ke hadapan Mate dan Maru, dia tanpa malu-malu langsung menarik lengan Maru keras.
Maru yang mendapat perlakuan itu langsung terkejut bukan main. Baru kali ini Meta berani menarik lengannya dengan sangat keras. Biasanya dia hanya memainkan ekspresi wajahnya untuk mengejek. Tidak pernah sekalipun Meta marah lalu memainkan tangannya. Aneh saja jika kali ini Meta bermain fisik. Seorang Meta yang kekanak-kanakan terlihat aneh jika dia tiba-tiba menjadi ganas. Lihat saja, sekarang matanya menatap Maru tajam. Dia sudah melepaskan tarikannya. Mata Meta dan Maru saling bertatapan. Jelas saja ekspresi mereka berdua berbeda. Mate yang sadar akan kehadiran Meta langsung berdiri tegak di samping Maru. Dia menggandeng tangan Maru di hadapan Meta. Bahkan dia mempererat genggamannya hingga membuat Maru menatapnya bingung.
Mata Meta mulai memanas. Tadi, ditinggalkan di halte sendirian. Usaha untuk menunggu Mate sudah tak lagi dihargai. Dan sekarang..., Mate menggenggam erat tangan cewek lain di hadapannya. Mungkin untuk hari-hari lalu Meta masih bertahan. Namun, harus sampai kapan dia bertahan?
Masih mampu kah?
Mau bagaimana pun sikap ketusnya kepada Meta, dia tetap saja sulit untuk membenci Mate. Perasaannya terlalu kuat.
Sekarang dia marah. Tetapi tidak tahu marah kepada siapa.
Mungkin, kepada dirinya sendiri.
Meta tak sadar jika air matanya telah mengalir membasahi pipinya. Hatinya sudah sangat rapuh. Sudah bertahun-tahun Meta memperjuangkan perasaannya namun masih saja tak terbalas. Mungkin, sekarang waktunya dia berhenti untuk mengejar. Tapi, hatinya masih tak rela jika dia harus mengalah begitu saja.
"Loh, kok malah nangis. Lo kenapa, Ta? Sakit?" tanya Maru khawatir. Sudah dia duga jika Meta sedang tidak sehat. Tadi saja menarik tangannya kuat sekarang malah terlihat lemah.
Meta menggeleng. Dia menatap Mate sejenak seraya mengucapkan. "Kamu manusia paling jahat yang pernah Meta kenal! Kamu egois! Kamu penjahat! Nggak punya hati! Kamu benalu! Kamu parasit! Kamu menyebalkan! Meta benci sama Maru! Kenapa Maru harus halangin Meta buat dekat sama Mate?! Maru cewek, Meta juga! Tapi kenapa Maru nggak pernah ngertiin Meta?! Maru jahaaattt!!"
"Ta, nggak usah berisik!" tegur Mate.
Maru mengerjap beberapa kali. "Lo ngomong apaan, sih?"
***
Istirahat kali ini, Maru memilih diam di kelas. Dia sedang tidak mood untuk datang ke kantin. Magis dan Morin juga ikut menemani Maru. Tadi, Magis sudah menyuruh Mesky untuk membelikannya beberapa makanan dan minuman. Lalu dia juga minta untuk diantarkan ke kelasnya. Karena itu sekarang Magis tenang meskipun dirinya tidak pergi ke kantin. "Tumben lo nggak mau ke kantin, Ru. Kenapa, sih? Ada hubungannya sama masalah tadi pagi nggak? Oh, iya. Kok bisa sih Meta ngatain lo begitu? Kalau gue jadi lo nih ya, udah gue tendang tuh jauh-jauh. Punya mulut kayak nggak pernah di sekolahin," cerocosnya panjang.
Maru menggeleng. "Gue juga nggak tahu. Tadi pagi tuh aneh banget sumpah. Lo berdua tahu nggak sih? Meta itu narik tangan gue keras banget. Dia nggak biasa-biasanya main fisik begitu. Kalian kan tahu Meta itu orangnya gimana. Ya, aneh aja gitu kalau dia tiba-tiba main fisik. Kalau omongan dia tadi pagi sih gue nggak peduli. Yang gue peduliin cuma keanehannya dia aja. Lagipula, gue juga udah biasa dikatain kok. Menurut kalian gimana?" Maru meminta pendapat kepada dua temannya itu.
"Apa mungkin Meta udah capek?" tanya Morin. "Secara kan dia ngejar Mate udah dari dulu. Bukan baru kemarin-kemarin."
Magis bersedekap dada, memiringkan kepalanya. Kali ini dia serius. "Ya kalau itu salah dia sendiri, dong. Mate kan udah punya pacar. Seharusnya dia sadar diri. Bukan malah mengganggu hubungan orang lain kayak begini. Apa tadi? Dia ngatain lo parasit kan? Dia bahkan nggak jauh beda kayak sampah." Morin menepuk tangan Magis keras. Jika sudah membahas hal yang begini, Magis tak ada bedanya dengan Meta yang berbicara asal. Tidak pernah dipikirkan dahulu. "Iiihhh nyeri tahuu, Rin!!" keluhnya, namun diabaikan oleh Morin.
"Kalau ngomong disaring dulu! Lo nggak ada bedanya kayak Meta. Asal jeplak aja," tutur Morin jujur hingga membuat Magis kesal sendiri.
"Kalian kok malah berantem, sih?"
"Dia yang mulai!" Magis menunjuk Morin yang menatapnya tajam. Siap-siap saja ia diterkam oleh Morin nanti.
Maru membuang napasnya. Heran sendiri. Niatnya kan ingin mencari pendapat bukan melihat teman-temannya saling cek-cok seperti ini. "Yang lebih anehnya lagi, Mate sekarang jadi baik ke gue. Kemarin dia manggil gue 'sayang'. Terus, semalam dia ngajarin gue Matematika. Pas gue laper, dia nawarin mau makan apa. Ya gue jawab sate kambing, dong. Gue pikir dia bakal milih menu lain. Ternyata, dia malah ngasih jaketnya ke gue nyuruh dipakai biar nggak kedinginan. Habis itu langsung deh dia ngajak gue nyari warung sate. Ajaib banget kan itu. Gue aja hampir nggak percaya pas dia bersikap begitu ke gue," Maru menceritakan hal lain yang menurutnya masih abu-abu belum ada kejelasannya. "Nggak ada angin nggak ada petir tiba-tiba dia baik ke gue. Kalian ngerasa ada yang ganjal nggak sih? Kalau gue ada. Meskipun ini yang gue harapin dari Mate, tapi kalau dia mendadak kayak gini ya aneh aja gitu gue ngerasanya."
Magis menepuk bahunya pelan seraya mencubit pipinya gemas. "Ya harusnya lo bersyukur dong! Bukan malah negative thinking begitu. Apalagi sama pacarnya sendiri. Heran ya gue sama lo, Ru. Dicuekin marah-marah, giliran diperhatikan malah mikir yang nggak-nggak."
"Bukan mikir yang nggak-nggak, Gis. Gue cuma ngerasa ada yang aneh aja."
"Sama saja adiknya Verrel Bramasta," Magis menggigit bibir bawahnya. Sementara Maru hampir saja mencakar wajah Magis saking gergetnya. "Verrel lagi, Verrel lagi. Ngomong sama lo nyebelin parah. Mending lo pacaran sana! Ganggu orang mikir serius aja," ujar Maru mengusirnya.
"Sok bijak dasar."
"Suka-suka gue lah. Gimana, Rin?"
Morin masih diam sembari berpikir. Dia sebenarnya juga sama bingungnya dengan Maru. Akan tetapi, apa yang Maru ceritakan memang mengganjal. Ada yang tidak beres dengan semua ini. "Ehm, orang berubah drastis tanpa sebab itu..., menurut gue aneh juga, sih. Gue nggak tahu yang pasti. Tapi, gue minta sama lo untuk nggak baper diperhatikan begitu sama Mate. Meskipun dia terlihat cuek dan nggak mungkin berbuat salah, tapi ada kemungkinan kalau dia merencanakan sesuatu. Gue nggak mau lo jatuh di rencananya. Gue harap lo mau nurutin apa yang gue minta. Itu pun kalau lo nggak mau jatuh ke jurang."
Bukannya mengeluarkan argumen yang tepat, Magis malah tertawa terbahak-bahak. Tangannya memeriksa kening Morin. Tidak panas, itu artinya Morin masih sehat. "Lo yang aneh, Rin. Apa coba hubungannya sikap Mate sama jatuh ke jurang? Memang, lo kira Maru mau bunuh diri apa? Heran gue sama jalan pikiran kalian berdua." Magis melanjutkan kembali tawanya. Dia memang tidak cocok jika diajak membahas hal-hal yang serius. Seharusnya dia memang pacaran saja daripada mengganggu seperti ini. Maru memutar matanya jengah. "Kayaknya gue yang heran sama lo deh, Gis. Udah ah! Mending lo pacaran sana. Dari tadi ganggu mulu," keluhnya.
"Apa yang kamu lakukan itu kejam."
"Bodo," balas Maru dan Morin kompak. Seraya Magis langsung terdiam.
Selanjutnya, Maru mengingat kembali ucapan Morin. Memang ada benarnya jika dia harus berjaga-jaga dengan Mate. Siapa tahu apa yang Morin pikirkan itu benar. Lebih baik memang harus berjaga daripada masuk ke jurang. "Oke, gue bakal melakukan saran dari lo, Gis. Pikiran kita berdua sama. Jadi, gue nggak ragu sama saran lo. Btw, thanks, ya." Morin hanya tersenyum.
"Habis makan sate lo sama Mate ngapain, Ru? Pulang?" tanya Magis. Ini anak memang tidak betah jika disuruh diam sejenak saja. Namun, pertanyaan Magis mengingatkannya pada kejadian tadi malam. Dia langsung saja bercerita. "Iya. Tapi, pas Mate pesan sate gue duduk di bangku. Tiba-tiba Megi datang sambil teriak pesan sate. Awalnya gue nggak tahu kalau itu Megi. Ya udah mulut gue asal ceplos aja bilang kalau dia itu berisik. Eh, dia ngajak gue kenalan sambil bilang kalau dia itu mantan gue. Gue shock dong! Malu banget guee!"
"Terus-terus gimana?"
"Dia menjebak gue astaga!" seru Maru heboh sendiri sambil menutup matanya. Sedangkan Magis masih penasaran dengan kelanjutannya. "Teruuusss?"
"Lagi ngomongin mantan, ya? Kayaknya seru, tuh," celutuk seseorang di ambang pintu yang kini mampu membuat Maru ingin mati saja. Cowok itu datang menghampiri Maru dan teman-temannya. Dia lantas meletakkan sebuah kantong plastik yang berisi makanan dan minuman pesanan Magis. "Tadi Mesky ada urusan, jadi gue yang nganterin pesanannya. Oh iya, ongkirnya lima puluh ribu, Gis. Mana cepat, bayar!" pintanya menodongkan tangannya.
Magis menepis tangan Megi. "Lo malak ya? Gue aja belinya nggak sampai lima puluh ribu."
"Kan limited edition. Gue ngantarnya pas gue lagi diomongin. Jadi, kalian ngambil dosa gue. Kalau nggak bayar gue rugi dong."
"Diambil dosanya ya lo untung lah."
"Rugi lah. Nanti gue nggak punya dosa. Cepetan bayar. Nggak ada sistem kredit maupun cicilan." Peringatnya. Lantas menatap Maru, "buat lo, senyum aja cukup, deh."