Maybe, Yes!

Maybe, Yes!
BAB 48 :: RELUNG SUARA



"Yang datang belum tentu menetap. Yang bersama belum tentu bahagia. Yang berpisah juga belum tentu bersedih." -Marutere Althea.


Selama beberapa hari ini Magen meyakinkan dirinya untuk benar-benar meninggalkan Indonesia. Jika dia masih tetap di Indonesia, perasaannya terhadap Maru tidak akan pernah bisa dilupakannya. Dengan bertahannya dia di sini yang ada Magen harus menahan rasa sakit pula. Studinya juga akan dilanjutkan di Belanda. Mengingat keputusan Mamanya untuk berubah membuat Magen tidak bisa menghindar lagi dari kesempatan ini. Mamanya adalah hidupnya. Ke mana pun Mamanya pergi Magen akan selalu mengikutinya untuk menjaganya.


Mestha juga mengatakan kepada Magen bila Mabigal memiliki tiga anak. Semuanya perempuan. Yang satu ada di Indonesia. Tapi Magen tidak diberitahu siapa namanya dan tinggal di mana. Karena Mestha sendiri juga tidak begitu tahu. Lalu yang kedua sedang bersekolah di Belanda. Jenjangnya pendidikannya baru akan memulai kuliah bulan depan. Iti artinya masih seumuran dengan Maru. Namanya Miranda. Dua anak Mabigal tidak kandung. Yang satu anak dari almarhum istrinya dan yang satu adalah anak dari kakaknya yang sudah tiada bersama dengan istrinya karena kecelakaan. Anak kandung Mabigal masih SMP kelas delapan.


Magen mempelajari banyak hal. Mulai dari memperjelas bahasa Inggrisnya. Kemungkinan di Belanda dia hanya akan berkomunikasi dengan Bahasa Inggris. Apalagi ilmunya kini belum begitu sempurna. Tapi dia yakin. Hidup di sana juga akan membuatnya terbiasa dengan bahasanya. Pula tak lupa dengan kebiasaannya.


Sekian lama diam di kamar akhirnya ada suara dari luar. Seseorang datang dan mengetuk pintu kamarnya.


"Magen sibuk nggak?"


Suara itu. Magen sudah tahu siapa yang datang tanpa harus melihat wujudnya. Entah sampai kapan dia akan melupakan suara itu.


"Masuk aja," jawab Magen.


Pintu kamarnya mulai terbuka. Sosok perempuan datang menghampirinya dengan senyuman. Langkah per langkah gadis itu semakin dekat dengannya hingga langsung memeluknya dengan erat. Seakan pelukan ini adalah pelukan perpisahan. "Aku nggak akan lupa sama kamu. Sampai kapan pun itu. Thanks untuk semuanya. Jaga diri baik-baik di Belanda. Aku bakal kangen kamu tahu," tutur gadis manis itu.


Magen membalas pelukannya erat. "Terima kasih kembali. Kamu bahagia di kota baru, ya. Jangan buat keributan," timpalnya sambil tertawa kecil.


"Kamu juga, Gen."


Tak lama pelukan itu akhirnya lepas. Maru tidak menyangka jika Magen akan meninggalkannya secepat ini. Padahal baru kembali beberapa bulan yang lalu. Nyatanya berbulan-bulan itu seperti sekian detik belaka.


"Kamu pasti bakal punya pacar di Belanda. Jangan lupa ngasih tahu aku, ya!" Maru bercanda.


"Nggak mungkin secepat itu," elak Magen.


"Kenapa nggak? Kamu kan ganteng. Pinter lagi," balas Maru jujur.


Magen mengangkat alisnya. "Apa tadi? Kamu bilang aku apa?" tanyanya kembali.


"Apaan? Nggak ada."


"Gan?" Magen kembali memancing.


"Ooooh, ganas."


"Bukan yang itu!"


"Oh, yang ini ya?" Maru menunjuk pipinya yang mengembang. Tanpa menunggu Magen paham maksudnya Maru kembali memeluk Magen. Rasa sedihnya tidak bisa hilang semudah itu. "Aku bakal kangen kamu," katanya lagi.


Meskipun hanya empat kata, namun Magen tidak akan pernah melupakannya. Empat kata itu akan selalu memberi alasan untuk Magen agar dia semangat menempuh pendidikannya di negara baru. Empat kata itu, Magen akan selalu menyimpannya.


***


"Tumben ngajak keluar? Selama ini lo kenapa jauhin gue? Cemburu, ya, sama Magen?" tanya Maru ketika dirinya sudah berada di Kafe Sendy Buana bersama Megi. Minggu pagi tadi Megi mengirimkan pesan kepadanya untuk bertemu di Kafe Sendy Buana. Mumpung sedang tidak memiliki rencana apapun akhirnya Maru menerima ajakan Megi.


"Iya, gue cemburu."


Maru membelalak, tak sadar bila barusan Megi benar-benar mengiakan ucapannya. Padahal tadinya dia hanya bercanda saja. Namun, jawaban Megi tersebut membuatnya termenung sesaat. Perkataan Magis yang sudah lama kembali terngiang di telinganya. Ternyata benar. Megi menjauh karena hubungannya dengan Magen. Benar pula jika Megi masih menyimpan perasaan kepadanya.


Lantas Maru menggeleng sesaat. Dia tidak ingin termakan ucapan Megi begitu saja. Pula juga tak ingin Megi tahu bila Maru menyukai ucapannya barusan. Rasa gengsi masih ada pada dirinya. Sekarang entah sampai kapanpun akan selalu ada.


"Masih ngejar gue, nih?" Maru menggoda. Mengalihkan rasa senangnya.


"Nggak, nggak ada."


"Ngaku aja kali."


"Mau banget ya dikejar sama gue?"


"Mana ada, nggak ih."


"Yee gengsinya aja digedein," cibir Megi.


Tak membalas Maru hanya mengulum senyum. Ujian Nasional sudah berlalu dan sebentar lagi dia akan masuk ke perkuliahan. Pikirannya harus lebih bertambah dewasa. Tidak lagi emosian. Maru sudah menulis semua keinginannya saat dia masuk ke bangku perkuliahan. Mulai dari mengatur emosinya agar tidak meledak-ledak selalu. Tidak lagi berpikiran yang tidak-tidak terhadap sesuatu yang baru dia tahu.


Maru juga mengelist bahwa dirinya akan tetap sendiri sampai menyelesaikan pendidikannya. Semalam setelah berdiskusi banyak dengan Magen akhirnya Maru menemukan jurusan yang sesuai dengannya. Karena Maru suka menyelesaikan masalah dan suka mengklarifikasi sesuatu yang tidak jelas akhirnya dia memutuskan untuk belajar menjadi pengacara. Kelihatannya memang sulit. Tetapi Maru akan mencoba untuk belajar ilmu hukum di Semarang.


Setelah pengumuman kelulusan Maru akan langsung pindah ke Semarang. Ayahnya dan Mamanya masih akan menetap di Jakarta. Maru pindah ke Semarang ditemani oleh Mahira. Mahira akan bekerja di salah satu butik yang ada di Semarang. Bulan depan juga Mahira sudah lulus. Karena itu sekalian Mahira memilih untuk menemani Maru di Semarang sambil bekerja.


Begitu banyak hal yang sudah Maru rencanakan. Dia akan meninggalkan kota yang tidak pernah sepi ini. Maru juga akan meninggalkan Megi. Semuanya akan menjadi kenangan. Maru ingin segera masuk ke bangku kuliah dan segera lulus. Setelahnya dia akan kembali menemui Ayah dan Mamanya. Lalu juga Megi. Mungkin Magen juga akan dia temui bila Magen berada di Indonesia. Sayangnya, mulai nanti sore Magen akan berangkat ke Belanda bersama Mestha. Pukul empat sore nanti Maru akan mengantar Magen ke bandara bersama Ayahnya.


Sungguh, Magen adalah lelaki yang sangat sempurna. Namun dengan kesempurnaannya itu tetap tidak mampu membuat Maru jatuh hati kepadanya. Dalam lubuk hatinya Magen tetaplah Magen. Magen akan selalu menjadi kakak yang baik untuknya. Sampai kapanpun itu. Selamanya. Magen sangat berjasa untuk masa depannya. Karena kerelaannya sekarang Maru memiliki kesempatan untuk bisa hidup dengan kedua orangtuanya juga kemungkinan Megi akan selalu bersamanya.


"Diajakin makan malah melamun. Mikirin apa, sih? Mikirin kenapa gue ganteng banget, ya?" ujar Megi menghentikan lamunan Maru. Gadis yang duduk di sampingnya itu menoleh dengan menggerutu. "Apa, sih. Geer."


Megi merangkul bahu Maru agar lebih dekat dengannya. "Ada yang mau diomongin sama gue, ya?" tanyanya.


"Setelah ini kamu melanjutkan studi kamu di mana? Masih di Jakarta?" Maru menatap manik mata Megi lembut. Seolah ini hari terakhirnya melihat mata itu.


"Ya, masih lah. Otak pas-pasan emang mau kuliah di mana? Di Amerika?" Megi bercanda.


Maru akan rindu waktu seperti ini. "Terus mau di Universitas apa? Jurusan apa? Sama siapa?"


"Banyak banget nanyanya kayak wartawan," tukas Megi terkekeh. Tumben sekali Maru cerewet dan ingin tahu seperti ini. "Ih, jawab aja kenapa sih?"


"Iya, iya. Mau di UI sama Mars. Ambil jurusan Teknik Mesin. Tadinya tuh Mars mau ambil Ilmu Hukum. Tapi nggak jadi, katanya ngebosenin. Akhirnya dia ganti Ilmu Komunikasi," ungkap Megi bercerita. Sementara Maru hanya mengangguk-angguk paham.


Sejenak Maru tertawa kecil.


"Nggak apa. Ternyata banyak yang suka hukum, ya? Gue, Morin, Mars..., ya banyaklah." Maru masih tersenyum. Ada banyak orang yang menyukai hukum. Beruntungnya dia tidak satu Universitas dengan Morin dan Mars. Setidaknya Maru cukup bersyukur.


Selain karena saingannya yang banyak di Jakarta. Maru juga ingin merasakan suasana baru. Sebab itu keputusannya untuk pindah memang sudah tepat. Tidak masalah jika harus berpisah. Karena teman tak selamanya akan selalu bersama. Pasti ada titik di mana yang bersama juga akan berpisah. Maru pernah mengalaminya. Tapi dia yakin. Yang berpisah pasti akan kembali bertemu.


"Lo mau ambil Hukum? Di UI juga?" Megi merekahkan senyumannya.


Namun saat Maru menggeleng, senyuman itu perlahan menghilang. Tak lagi menghiasi wajah Megi.


"Di UNNES, Semarang. Setelah pengumuman kelulusan gue akan langsung pindah. Gue nggak ikut perayaan kelulusan." Maru menatap lurus ke depan. Baru beberapa minggu ia baikan dengan Megi. Kini dia harus memberi Megi kabar yang tidak mengenakkan hati.


"Lo yakin?" Megi kembali memastikan.


"Bismillah."


Mendengar kabar itu Megi hanya bisa pasrah. Keputusan ada di tangan Maru. Dia tidak bisa mengubahnya. Bahkan untuk ikut pindah tidak mungkin dilakukannya. Semuanya sudah direncanakan dan tidak boleh sampai dibatalkan.


"Oh, ya. Nanti sore gue mau ke Bandara nganter Magen. Dia mau ikut Mamanya ke Belanda," tambah Maru.


Tidak ada pilihan. Sebelum Maru pergi meninggalkannya Megi sudah harus mengungkapkan perasaannya. Megi tidak ingin menunda lagi. Setelah menundanya karena urusan Ujian dia berakhir kecewa. Kini tidak ada lagi penyesalan untuk yang kedua kali. Hari ini juga dia harus memaksa dirinya untuk berani.


"Mau jalan-jalan seharian sama gue, nggak? Sorenya gue anterin pulang," ajak Megi sambil tersenyum.


"Ke mana?"


"Ke mana pun itu asal gue bisa bikin lo bahagia hari ini. Oke?"


"Oke."


Sesingkat itu, hingga Megi langsung menarik lengan Maru. Tidak ada lagi penundaan. Hari ini juga Maru harus mengetahuinya.


***


Di rumah yang tidak begitu luas ini semua isi rumahnya keluar. Ada Magen yang sudah siap untuk pergi ke Bandara. Muzan, Marita, dan Mahira juga ikut keluar rumah. Dua hari yang lalu Mestha mengirim undangan pernikahannya dengan Mabigal yang akan diadakan di Indonesia. Pernikahan itu akan terjadi dua bulan lagi.


Magen sendiri juga tidak tahu mengapa tiba-tiba Mamanya sudah membuat undangan. Padahal bulan lalu Mestha baru saja dilamar Mabigal. Magen dan Mestha sempat ke Belanda sebentar sewaktu Maru masih Ujian. Magen ke Belanda hanya untuk mengatakan iya saja.  Lalu dia kembali pulang ke Indonesia tanpa bertemu dengan ketiga anak Mabigal. Bahkan identitas anak Mabigal baru Magen ketahui semalam. Rencananya, sebelum dua bulan waktu pernikahan Mamanya itu Magen akan berusaha menciptakan hubungan yang baik dengan anak-anak Mabigal.


Mobil Mestha mulai memasuki pekarangan rumah Marita. Mestha keluar dari mobil itu dengan melemparkan senyum tulus. Dia berjalan menghampiri anaknya yang sudah siap dengan kopernya.


"Mas Muzan, Mbak Marita, dan kamu Mahira. Saya harap kalian datang ke acara pernikahan saya. Sebelumnya saya minta maaf untuk semua hal yang telah saya lakukan." Mestha datang menjemput Magen dan langsung menghampiri Muzan, Marita, dan Mahira. Sesuai janjinya. Mestha akan berubah. Semua itu dimulai dengan minta maaf. "Saya tahu jika perbuatan saya itu memalukan. Saya benar-benar menyesal. Maafkan saya," lanjut Mestha.


Muzan hanya mengulum senyum. Tidak ada yang membahagiakan kecuali Mestha dan Marita berbaikan.


"Nggak apa, Mbak. Masa lalu biar berlalu. Yang sekarang jalani saja. Nanti saya akan luangkan waktu untuk datang ke acara pernikahan Mbak Mestha," ucap Marita mendahului sambil berpelukan dengan Mestha.


"Terima kasih, Mbak."


Mahira mengembuskan napasnya. Dia tidak bisa egois lagi. Jika memang ada yang ingin menyelesaikan semuanya tentu Mahira harus menghargainya. Dia mengulum senyum kepada Mestha. "Saya udah memaafkan semuanya. Badan saya lagi nggak enak. Semoga perjalanan Mbak lancar. Permisi," ujar Mahira lalu masuk ke dalam rumah.


"Mahira," panggil Mestha. Namun Mahira tidak mendengarnya. Langkahnya sangat cepat hingga panggilan Mestha kepada Mahira sama sekali tidak berpengaruh.


"Nggak masalah. Mahira memang begitu, Mbak. Maaf, ya." Marita menjadi canggung.


Muzan menepuk bahu Mestha lembut. "Jaga diri kamu dan Magen di sana. Saya dan Marita akan datang ke acara kamu. Tenang saja," kata Muzan.


"Makasih, Mas."


Sementara Magen sejak tadi merasa tidak tenang. Maru sama sekali belum pulang. Padahal dia berjanji akan mengantarnya ke bandara. Apa mungkin Maru melupakan janjinya?


"Kamu kenapa, Gen?" tanya Muzan yang sejak tadi heran dengan kekhawatiran Magen.


"Maru belum pulang, Yah?"


"Kayaknya belum."


Mestha memegang lengan Magen. "Kita cuma punya waktu satu jam. Kita berangkat sekarang, Magen."


"Tapi, Ma," bantah Magen.


"Please, Gen."


"Iya."


Selanjutnya Magen menurut. Mungkin Maru memang lupa akan janjinya. Tidak masalah. Magen tidak harus memikirkan itu. Lantas ia mengikuti Mestha yang sudah bersalaman dengan Muzan dan Marita. "Saya dan Magen pamit, ya."


"Hati-hati, Mbak."


"Semoga lancar, Tha."


"Selamat tinggal. Ayo, Gen!" Mestha menarik lengan Magen dengan paksa. Magen melambatkan langkahnya seakan masih berharap bila Maru akan datang sekarang juga. "Magen pamit, Yah, Tan. Permisi," ujarnya singkat.


Magen dan Mestha mulai memasuki mobil. Beberapa menit kemudian mobil itu melaju perlahan. Meninggalkan rumah yang bagi Magen masih penuh dengan kenangan.


Bersamaan dengan melajunya mobil Magen, mobil berwarna merah cerah mulai memasuki pekarangan rumah. Maru keluar dari mobil dengan cepat dan langsung menghampiri Ayahnya yang masih berada di luar. Sementara Mamanya sudah masuk setelah mobil Magen pergi.


"Magen mana, Yah?


"Dia kira kamu lupa."


Maru tersentak mendengar penuturan Ayahnya. Pasti Magen sedang marah kepadanya.