
"Semakin aku ingin menjauh, semakin pula aku mengkhawatirkanmu." -Megizal Steven.
"Mampus."
Baru saja masuk ekstrakulikuler pertama kali, Megi sudah ditunjuk Mithar beberapa kali. Pertanyaan yang dilontarkan Mithar pun membuatnya semakin bingung. Seumur-umur baru kali ini Megi pusing hanya karena pertanyaan. Biasanya dia selalu mengabaikannya. Tapi khusus hari ini tidak lagi. Sebab, Maru dari tadi terus memperhatikannya. Membuatnya grogi seketika.
Mithar masih berdiri tegak di hadapannya. Megi tak memiliki teman sebangku yang bisa dia ajak kompromi. Seharusnya dia mengajak teman-temannya untuk mengikuti ekstrakulikuler ini. Sekadar menemaninya saja jika tiba-tiba dia diberikan pertanyaan dadakan seperti tahu bulat.
Sejak beberapa hari yang lalu Megi hanya memikirkan Maru saja hingga dia lupa untuk memikirkan dirinya. Sejujurnya dia tidak masalah jika tidak bisa menjawab pertanyaan atau dia bisa menjawab dengan jawaban yang salah. Tetapi, dilihat Maru begitu membuatnya gengsi. Entah mengapa dia tidak ingin terlihat dongkol di depan Maru.
Mithar menepuk-nepuk pipi Megi pelan, menyadarkan pria itu dari lamunannya. "Kamu itu ditanya malah melamun. Mikirin apa, sih?"
"Maru, Kak," jawabnya keceplosan. Megi langsung menutup bibirnya dengan dua tangannya. Semua orang yang ada di ruangan itu langsung tertawa terbahak-bahak mendengar jawaban Megi yang super jujur itu. Bahkan Mithar yang notabene-nya jarang tertawa pun ikut tertawa. Dia tidak menyangka jika pertanyaannya itu sama seperti memancing Megi untuk mengatakan apa yang sedang dia pikirkan. Mithar merasa geli sendiri. "Maru-nya dengar nggak, ya?" Mithar menggoda.
"Apa sih! Salah ngomong gue," ketusnya sewot. Megi melirik Maru sekilas. Gadis itu ikut tertawa bersama yang lain.
Marsha ikut menimbrung, memancing emosi. "Salah ngomong apa salah ngomong, nih?"
"Menurut lo?"
"Kepo, wlee," jawab Marsha nyolot. "Minta ditonjok tuh orang," cibir Megi emosi.
Marsha tertawa sambil memegangi perutnya.
"Dasar Mak Lampir," kata Megi, mengejek. Marsha yang sedang tertawa langsung terdiam. Ucapan Megi barusan membuatnya merasa tersindir. Marsha memanyunkan bibirnya. Cemberut. "Dasar Pak Lampir!" dia ikut mengejek.
Megi mendecak sebal.
"Sudah-sudah, kita lanjutkan lagi," ucap Mithar menyudahi semuanya. Dia tidak enak hati melihat Megi yang kecelposan karenanya. Apalagi terdapat orang yang Megi maksud. Mungkin perasaannya sekarang sangat malu. Kejadian ini tadi memang memalukan. Bisa-bisanya dia keceplosan seperti itu.
Mithar beralih tempat. Merasa bahwa Megi memang sudah rusak mood-nya. Dia menjauhi orang yang sedang memburuk suasana hatinya. Jika tidak begitu nanti dia malah kena sembur begitu saja. Mithar kembali membuka buku yang sejak tadi telah dia pegang. Membaca sebuah pertanyaan yang akan dia lontarkan kepada Meo---Meolita---adiknya Mars. Anak itu ikut bergabung di ektrakulikuler ini karena dia mengetahui bahwa Maru dan Megi berada dalam satu ekstrakulikuler. Tujuan Meo bergabung hanya sebagai mata-mata saja. Tentunya bukan Mars yang menyuruh, melainkan Mesky. Dia menjanjikan akan memberinya jatah uang jajan perminggu. Meo langsung saja menyetujuinya.
Bagi Meo sendiri, Bahasa Inggris itu tidak terlalu sulit. Tetapi juga tidak mudah. Kemampuannya berada di tengah-tengah. Kadang bisa, kadang juga tidak. Namun, saat Mithar melemparkan pertanyaan kepadanya dia mampu menjawab dengan benar. Lalu Mithar beralih lagi ke murid lain untuk memberi pertanyaan. Ini adalah sesi yang jarang sekali Mithar lakukan. Biasanya dia tidak pernah memberikan pertanyaan. Tetapi saran dari Maru sewaktu istirahat tadi membuatnya tertarik untuk mencobanya. Sementara Maru hanya memperhatikan teman-temannya yang diberikan pertanyaan. Gadis itu menunggu dirinya untuk diberikan pertanyaan. Saat sebagian temannya berharap untuk tidak mendapat pertanyaan, dia malah sebaliknya.
Satu jam berlalu begitu cepat. Tak terasa ini sudah waktunya untuk pulang. Semua anak-anak membereskan peralatannya. Ruangan ini yang semulanya tenang mulai terdengar rusuh. Semuanya sibuk memasukkan barang-barangnya ke dalam tas. Lain halnya dengan Megi. Dia hanya duduk manis tanpa bergerak sedikitpun. Dari tadi kegiatannya cuma mengetuk-ngetuk meja dengan bolpoinnya.
Pria itu tidak membawa apa-apa selain satu bolpoin berwarna merah yang selalu menempel pada saku seragamnya. Entah tas sekolahnya dia tinggalkan di mana hingga sebatas kertas saja tidak dia bawa. Masuknya Megi di hari pertama tanpa membawa buku itu membuat Mithar harus mencarikannya buku kosong di perpustakaan.
Karena Mithar sendiri tahu jika bukan dia sendiri yang mencarikannya, Megi malah akan bermain-main di perpustakaan. Malahan Mithar tidak akan menjamin jika akan kembali lagi setelah itu.
Maru keluar dari ruang conversation club paling akhir. Sengaja. Dia malas untuk berdesakan. Lagipula dia kecewa sendiri dengan Mithar. Selama pembelajaran tadi dia sama sekali tidak diberikan pertanyaan. Padahal dia sangat berharap tadi. Apa iya Mithar juga sama seperti guru lainnya?
Sama-sama tidak memedulikan murid yang mendapat ranking satu.
Tapi itu hanya sebatas ranking saja. Bagi Maru tak ada gunanya juga jika selama pembelajaran dia selalu di istimewakan seperti tadi. Sampai-sampai dia merasa jika sebagian temannya kesal dengannya yang sejak tadi berada di zona aman tanpa pertanyaan. Mentang-mentang pinter jadi nggak ditanyakan juga.
Megi mengekori Maru dari belakang. Langkah selangkah Maru masih belum menyadari keberadaan Megi di belakangnya. Ia berjalan sambil melamun. Pandangannya terarah ke bawah. Megi langsung menyengir lebar ketika sebuah ide terlintas di benaknya. Pria itu mendahului Maru. Gadis itu masih menunduk, sama sekali tidak mendongak saat Megi berjalan melaluinya. Megi lantas berdiri di depan Maru dengan jarak beberapa langkah. Pria itu merentangkan kedua tangannya.
Hingga tak sadar gadis itu menabrak Megi tepat sasaran dengan apa yang Megi bayangkan tadi. Kedua tangan Megi yang merentang langsung memeluk tubuh Maru. Pelukan secara tak langsung itu membuat Maru terkejut. Matanya membulat lebar-lebar. "Untung ada gue. Kalau nggak lo bisa nyungsep nanti. Makanya kalau jalan jangan melamun aja," ucap Megi menyengir.
Maru melepas tangan Megi yang tengah memeluknya itu secara paksa. "Memang gue kenapa? Orang nggak ada apa-apa kok. Justru lo yang bikin gue nabrak. Ngapain coba berdiri di situ," balas Maru ketus. Walaupun sebenarnya dia senang. Namun gengsi untuk mengakuinya. Ia berusaha untuk tetap menyembunyikan senyumannya. Tidak mau jika pria di depannya itu salah tangkap nanti. "Sengaja, biar lo jatuh di pelukan gue. Oh iya, soal omongan gue tadi...," jedanya sembari berpikir ingin mengatakan apa selanjutnya.
"Nggak apa-apa. Santai aja kali. Gue orangnya nggak gampang kepedean kok," ujar Maru menyambung kalimat Megi yang sempat terhenti itu.
Padahal Megi sangat berharap kalau Maru itu kepedean. Tapi ternyata tidak. Memang ekspetasinya tidak sesuai dengan realita yang ada. Sejenak Megi mengembuskan napasnya. "Gue tahu kok. Mau makan dulu, nggak, sebelum pulang? Nanti gue anterin pulangnya. Gimana?" tanya Megi ragu.
"Boleh. Tapi nggak ngerepotin, kan?"
"Nggak kok."
"Oh, oke."
Megi menarik lengan Maru tanpa meminta izin dahulu. Maru hanya mengekori Megi tanpa protes. Perlahan tangan Megi turun ke telapak tangan Maru. Seketika Megi langsung menggenggamnya. Mereka lantas bergegas pergi.
***
Bersama Megi ternyata menyenangkan hingga membuat Maru sampai lupa waktu. Rencana awal hanya akan memakan waktu satu jam satu. Tapi malah kebablasan sampai tiga jam. Jarum jam berbentuk bulat yang menggantung di dinding bagian tengah kafe itu menunjukkan pukul sepuluh malam. Megi yang masih berada di kasir lantas kembali menghampiri Maru.
"Udah malam banget. Sorry ya, gue sampai lupa waktu begini. Tapi tenang aja. Nanti gue akan jelasin ke orangtua lo. Ayo pulang," ajak Megi.
Megi menggeleng sekilas. "Tapi lo itu cewek, Ru. Lo bahkan masih pakai seragam sekolah. Yang ada orangtua lo ngira kalau lo kelayapan. Nanti lo bakal kena marah. Dan gue nggak suka kalau lo dimarahin. Jadi, jangan halangin gue buat ngejelasin semuanya ke orangtua lo."
"Ya tapi malah lo yang kena marah, Meg. Lagian gue juga salah kok. Lupa izin sama bokap tadi," sergah Maru.
Megi memegang kedua bahu Maru. "Sekali aja jangan bantah gue. Ayo pulang."
***
"Sudah berani ya kamu pulang malam begini? Nggak izin lagi." Setibanya di rumah Maru mereka langsung disambut Muzan yang tengah melipat kedua tangannya di dada. Sudah dari pukul sembilan tadi dia pulang. Rencananya ingin mengajak Maru makan di luar. Tetapi malah anaknya belum pulang. Setelah Muzan berkata akan memotong uang saku Maru, dia merasa tidak tega. Karena itu dia ingin memperbaiki hubungannya dengan Maru. Dan juga ingin mengatakan jika pemotongan uang saku itu tidak akan dia lakukan. Namun, melihat Maru pulang melebihi waktunya membuat Muzan mengurungkan niatnya itu.
Maru menyelipkan satu anak rambutnya di telinga kirinya. "Aku tadi ada ekstra, Yah," jelas Maru sambil menunduk.
"Alasan! Kamu ngapain sama anak saya?!" Muzan bertanya kepada Megi. Dia masih mengenal betul jika Megi ini pernah memiliki hubungan dengan anaknya. Dan setahunya hubungan itu sudah lama selesai. Bahkan Maru pernah bercerita kepadanya jika ia memiliki kekasih baru. "Saya yang mengajak Maru makan sampai lupa waktu, Om. Kita keasyikan ngobrol. Jadi saya minta tolong sama Om, jangan marahi Maru. Dia nggak salah. Tapi saya yang salah," ucapnya lancar.
Megi yang membela Maru membuat Muzan emosi sekaligus keheranan. Sejak kapan Maru dekat dengan Megi?
"Bukan hak kamu untuk melarang saya," balas Muzan sengit.
"Iya, saya tahu. Tapi saya mohon banget sama Om. Jangan marah sama Maru. Kalau Om mau marah sama saya aja. Mau hukum saya juga nggak apa-apa."
Maru mengangkat satu alisnya. Berani sekali Megi memberikan dirinya kepada Ayahnya. Apa pria itu tidak tahu hukuman apa yang akan Ayahnya berikan jika sudah terlanjur marah? Sesaat Maru refleks menepuk jidatnya pelan. Cowok di sampingnya ini memang berkata tanpa berpikir. "Meg, lo pulang aja deh," perintah Maru berbisik.
Tapi dia tetap teguh pada pendiriannya.
"Meg, aku bilang pulang, ya? Please," ucapnya terdengar lirih. Megi menoleh seketika. Menatap gadis itu dengan heran. Tetapi tetap tidak bisa menghancurkan pendirian Megi. "Mending kamu masuk ke dalam. Beres-beres, habis itu tidur." Megi balik memerintah.
"Sudah bisik-bisiknya?!" Muzan kembali bertanya. Tatapannya sedari tadi tidak berubah.
Megi menunduk, "sudah, Om."
"Maru, kamu masuk ke dalam! Dan kamu, silahkan pulang! Jangan sekali-kali kamu menginjakkan kaki kamu di rumah ini lagi!" Muzan yang sedang emosi itu langsung menarik Maru masuk, memaksanya. Lantas dia menutup pintunya dengan keras.
Megi mematung. Menggeleng, menganggap apa yang Muzan katakan hanya gurauan. Ia lantas pulang.
Di balik itu, Maru tidak dimarahi Ayahnya. Malahan Muzan langsung masuk ke kamar tanpa menyapa Maru. Jangankan menyapa, menoleh saja tidak. Sikap Ayahnya itu membuat Maru merasa bersalah. Dengan beribu rasa yang bercampur aduk, Maru memejamkan matanya. Lalu membuka matanya kembali. Ia melangkah menuju ke kamarnya.
Magen yang baru keluar dari kamarnya itu langsung menghampiri Maru. Seharian penuh dia belum melihat adiknya itu. Iya, memang hari ini dia memiliki banyak tugas yang akhirnya membuat dia kelabakan sendiri karena Mifta masih tidak masuk kuliah. Padahal jelas sudah jika ia sangat membutuhkan bantuan Mifta itu.
"Ru, ada yang mau gue omongin," seru Magen sambil tersenyum riang. Maru menatapnya dengan lesu. Dia sedang tidak ingin diganggu. Tetapi, ia tiba-tiba penasaran juga dengan apa yang ingin kakaknya ini katakan. Maru mencium ketiaknya sejenak, lantas kembali mendongak. "Gue mandi dulu, ya? Kalau lo nggak keberatan lo bisa nunggu gue di dalam," jawabnya berusaha tampak biasa saja.
Magen menyeriangi respon Maru. "Oke, nggak apa-apa."
Pria itu masih belum menyadari perubahan di raut wajah Maru. Ia mengekori Maru masuk ke kamar gadis itu. Sambil menunggu Maru, ia menyalakan televisi. Lima menit berlalu, tampak seorang gadis keluar dari kamar mandi dengan memakai piyama. Ia melangkah mendekat. Hingga akhirnya duduk di samping Magen.
Malam ini kamu cantik, batinnya. Melihat Maru sehabis mandi membuat Magen seperti melihat sesuatu yang segar. Jarang-jarang seorang Magen memuji wanita. Sedangkan Maru menyisir rambutnya yang dia gerai. Sesekali menonton sinetron yang sedang Magen saksikan. Ia lantas mengambil remote televisi itu dari tangan Magen. Menggantinya dengan sebuah acara talk show. Ketahui saja bila Maru memang tidak menyukai sinteron.
Maru pikir, saat dia diam begini Magen akan langsung mengatakan apa yang ingin dia katakan tadi. Tetapi pria itu malah memandanginya sejak tadi.
"Udah nih, mau ngomong apa?"
Ia lantas menggeleng, mengedarkan pandangannya. Magen menarik napasnya panjang-panjang. Hatinya seraya berkata; ayo bilang sekarang!
Maru mengernyit, heran sendiri. Bukannya membuka mulut, pria di depannya itu malah terdiam. "Jadi nggak, nih? Buruan. Gue ngantuk," tambahnya lagi.
Sekarang, Magen!
Sekarang!
Magen mengembuskan napasnya. Kedua tangannya memegang telapak tangan Maru hingga membuat gadis itu kembali mengernyit heran.
"Maru," panggilnya pelan. Tangannya terasa dingin. Jelas sudah jantungnya berdebar kencang.
Maru mengangguk ragu. "Ya."
"Gue sayang sama lo. Will you be my girlfriend?"
Saat itu juga, waktu terasa terhenti sejenak. Tepat di saat Maru bingung harus menjawab apa.