Maybe, Yes!

Maybe, Yes!
BAB 15 :: SEKILAS AKAL



"Buah semangka buah manggis, nggak nyangka gue manis." -Megizal Steven.


Sebuah teriakan melengking memenuhi ruang kamar bercat putih itu. Seorang gadis berdiri di atas ranjangnya sambil ketakutan. Sejak malam tadi sampai pagi ini dia sudah berteriak beberapa kali hanya karena tikus yang tiba-tiba saja menghampirinya. Apalagi dia sangat takut dengan tikus. Mau kecil maupun besar itu sama saja. Kini, gadis itu masih ngos-ngosan karena harus menaiki beberapa barang seperti meja belajar, kursi, dan akhirnya memilih berdiri di atas ranjang. Seharusnya, malam itu dia bisa merasakan tidur pulas karena menginap di rumah Mama kandungnya. Akan tetapi, ekspetasi tidak sesuai realitanya. Beberapa kali tikus besar dan kecil muncul di kamarnya.


Mungkin karena rumah Mama kandungnya itu hanya di tempati dua orang, maka banyak tikus yang berkeliaran di rumah itu. Bisa jadi malah sudah berkembang biak menjadi banyak. Meskipun rumah Mamanya itu bersih, tetapi tetap saja tikus masih mau berkeliaran di situ. Tak segan-segan, semalam Maru juga ditempeli kecoa di bajunya.


Saat dia hendak turun dari ranjang, tiba-tiba tikus itu muncul lagi dari bawah ranjangnya juga. Gadis itu terlonjak lantas kembali ke atas kasur sambil berteriak kencang. "Mamaaa ada tikus lagiiii!!"


Seorang wanita berpakaian daster muncul di ambang pintu kamar Maru. Menatapnya dengan keheranan. "Ya ampun, Maru. Kamu bikin Mama jantungan aja. Mama kira kamu kenapa-napa. Oh iya, ayo turun. Mahira sudah menyiapkan sarapan." Ajak Mama kandungnya Maru----Marita Fajahanda. Yang dimaksud Mahira adalah adik kandung Marita yang sampai sekarang belum menikah. Dia sedang menyelesaikan kuliahnya di Jakarta sambil membantu Marita bekerja sebagai penjahit. Mahira berkuliah di jurusan tata busana dan tata rias. Sembari kuliah, Mahira juga bekerja part time di sebuah kafe.


"Nanti kalau tikusnya muncul lagi gimana?" Maru masih cemas. Tangannya ketar-ketir. Jika dia diharuskan untuk memilih antara tikus dan ular, dia akan memilih ular. Baginya, ular itu hanyalah hewan biasa yang tidak ia takuti. Padahal bila diteliti lebih lanjut, di antara dua hewan tadi yang berbahaya adalah ular. Maru itu memang gadis yang sedikit aneh. Justru, apa yang orang lain takuti dia tidak akan takut. Namun, apa yang orang lain tidak takuti, dia malah akan takut.


Marita menggeleng, berusaha meyakinkan anaknya itu. "Nggak, nggak akan. Ayo, Sayang. Nanti keburu dingin makanannya."


"B-bbeneran kan, Ma, nggak ada?" Maru bertanya lagi. Marita hanya mengulum senyum. Tingkah anak gadisnya ini memang tidak pernah berubah dari dulu. "Nggak ada."


Maru turun dari ranjangnya sambil memperhatikan samping kanan dan kiri. Dia juga terus memperhatikan lantainya. Siapa tahu saja nanti ada tikus yang muncul secara tiba-tiba lagi. Setelah merasa aman, Maru langsung meloncat dari ranjang miliknya. "Yaps!" Dia lari mengacir menghampiri Mamanya.


Melihat itu, Marita kembali tersenyum. Sebenarnya jika Maru bisa tinggal dengannya, mungkin Maru bisa membuatnya tersenyum setiap hari. Jangankan untuk tinggal bersama, bertemu saja rasanya sudah seperti menjawab soal ujian yang tentunya akan terasa sulit.


Seorang Ibu dan anak itu berjalan bersama menuju ke meja makan. Dari jarak jauh begini, aroma masakan dari Mahira sudah menyelinap masuk ke hidung Maru tanpa meminta izin. Ketakutannya akan tikus kian memudar hanya karena mengendus aroma lezat sebuah makanan. Jarang-jarang Maru bisa menikmati masakan rumah seperti ini. Biasanya jika bersama Ayah dan keluarga barunya itu, dia akan memakan masakan orang lain. Jika bukan delivery pasti makan di luar. Merasakan suasana hening begini, Maru jadi teringat akan masa lalu bersama Mama dan Ayahnya sebelum mereka berpisah.


Marita menarik sebuah kursi. "Duduk, Ru."


"Iya, Ma. Makasih," Maru tersenyum kepada Marita. Dia lantas menyapa Mahira. "Eh, Mbak Mahira makin jago aja ya masaknya. Btw, kapan nikahnya Mbak?" tanyanya, bergurau.


Mahira yang sedang memasak menoleh ke arah Maru sembari terkekeh. "Kamu ngejek Mbak ya?" ----Jika seharusnya Maru memanggil sebutan tante untuk Mahira, dia menolaknya. Katanya belum pantas dipanggil tante jika dia belum menikah. Makanya, Maru memanggil Mahira dengan sebutan Mbak yang logatnya seperti memanggil mbak-mbak kasir.


"Bukan mengejek tapi bertanya. Dih si embak, baper banget." Maru mengambil sebuah piring sembari menunggu ayam goreng yang sedang Mahira goreng. Sementara Mamanya keluar rumah untuk membersihkan halaman depan. "Bukan baper. Lagian ya, Ru, umur Mbak juga nggak tua-tua banget. Baru menginjak dua lima bulan depan," tutur Mahira membela diri.


Namanya juga perempuan, jika umur sudah hampir dua puluh lima, itu artinya sangat cukup umur untuk menikah. Apalagi, Mahira ini bisa dibilang cantik tanpa polesan make up. Dia terbiasa ke kampus tanpa berdandan. Bulu matanya sangat lentik, ditambah lesung pipi yang dalam. Itu sangat menambah cantik alaminya. Sejak kecil, Mahira jarang keluar rumah. Maka dari itu, tidak heran jika kulitnya sekarang putih bersih bak salju. Selain cantik, dia juga pintar memasak. Semua itu terjadi semenjak dia tinggal bersama Marita. Sejak itu pula dia mulai berlatih untuk memasak. Mahira Fandin Osalia, wanita lembut yang masih sendiri. Hampir membuat Maru menggelengkan kepalanya sesaat. "Itu artinya Mbak udah cukup umur buat nikah bulan depan," jawabnya asal.


"Ada-ada aja kamu," balas Mahira spontan. Namun malah mengundang gelak tawa Maru. "Tapi emang benar, kan? Sebenarnya alasan Mbak masih sendiri sampai sekarang apa, sih? Kan nggak baik kalau Mbak nggak segera menikah. Nanti yang ada malah keburu nggak laku."


Menikah. Satu kata yang sering orang-orang tanyakan kepada Mahira. Dulu, waktu SD yang sering ditanyakan kepadanya adalah soal peringkat. Setelah SMP dan SMA, pertanyaan mengenai peringkat itu terganti oleh pertanyaan udah punya pacar belum? Sekarang, saat dirinya sedang kuliah pertanyaan itu pun berganti lagi dengan pertanyaan kapan nikah? Mahira sampai kesal sendiri mendengarnya. Tidak peduli orang luar maupun dalam pertanyaannya tetap sama saja. "Mbak belum kepikiran, Ru. Nikah itu bukan perkara yang gampang. Nikah itu sebuah komitmen yang besar. Lagipula, Mbak juga belum ada jodohnya. Tapi, buat Mbak yang terpenting sekarang adalah cita-cita Mbak dulu. Urusan nikah, nanti juga bakal datang sendiri waktunya." Jawaban yang Mahira berikan membuat Maru kagum sampai dia bertepuk tangan.


"Marvelous! Semangat ya, Mbak. Aku doain Mbak segera lulus dan dapat jodoh." Maru mengangkat jempol tangannya. Sementara Mahira hanya mengaminkan doa ponakannya itu di dalam hati. Lantas meletakkan ayam goreng itu di meja makan. Membiarkan Maru sarapan lebih dulu. Mahira membersihkan piring-piring kotor.


Seusai sarapan, Maru berdiri sambil meminum susunya. "Mbak, aku berangkat dulu ya! Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam. Hati-hati, ya!"


"Oke."


***


UKK. Satu kata merujuk pada satu makna. Tanpa Megi sadari, ternyata hari kian berlalu dengan cepat. Sekarang adalah waktunya ia menempuh perjalanan yang panjang. Berjuang untuk menyelesaikan berbagai macam soal. Semalam ia lupa belajar. Bukan karena sibuk bermain game. Melainkan mencari keberadaan Maru. Beruntungnya saat sampai di rumah dia langsung berendam air hangat. Jadi, sekarang dia tidak sakit. Meskipun dia tidak belajar, dia tetap merasa santai. Masih ada Mars tempat pencontekannya. Lagipula, Megi juga tidak pernah belajar serius jika di rumah. Dia hanya akan berpura-pura belajar saat Mozha menyuruhnya saja. Tanpa disuruh, dia enggan untuk belajar.


"Kang!! Buruan sini!!" teriak Mamat yang kini berada di depan ruang ujian nanti. Mamat tidak sendirian, di sampingnya ada Mesky dan Maldi yang sedang menatapnya juga. Megi dengan santai melangkah untuk menghampiri mereka. Dia memasukkan kedua tangannya di saku celana. "Ada apa?" tanyanya.


Mamat mendekat. "Lo semalam belajar nggak?"


"Nggak," balas Megi singkat dan jelas. Mendengar jawaban Megi, ketiga temannya itu langsung memasang tampang melas. Megi sudah tahu alasan mengapa temannya berekspresi seperti itu. Dia lantas mengukir senyuman dan menepuk bahu Mamat. "Kalian tenang aja. Selama kalian online, gue bakal share jawabannya ke kalian. Slow aja keles!"


"Lo emang the best, Bro." Mesky mengacungkan jempolnya. Di antara mereka berempat yang bisa menyontek Mars hanyalah Megi. Meskipun keempatnya sama-sama bersahabat dengan Mars, tetapi Mars tidak semudah itu untuk membagikan jawabannya. Entah apa teknik yang Megi lakukan sampai si pintar itu dengan senang hati memberikan jawabannya.


Maldi ikut mengacungkan jempolnya. Setiap ujian seperti ini mereka berempat selalu membawa ponsel. Bahkan mengisi koutanya untuk sekadar mendapat jawaban ujian. Termasuk juga Mars, dia juga membawa karena perintah Megi. Jika dia sampai tidak membawa, Megi tak segan-segan meletakkan sebuah ponsel di lacinya. Sehingga, mau tidak mau proses pencontekan pun berlangsung. "Eh, kalian lihat Maru nggak?" Megi mengalihkan topil pembicaraan.


Megi menjawabnya jujur. "Iya. Kalian lihat di mana?"


"Waooo!! Seriusan lo nyari dia? Nggak lagi kesambet, kan?" Mesky berteriak histeris, heboh sendiri. Teriakan melengking itu membuat Maldi membungkan mulutnya. "Ada urusan apa lo nyari dia? Mau balikan?" Kini berganti Maldi yang bertanya.


"Lo balikan, Kang? Mantuuul. Mantap betuulll," Mamat ikut menimbrung.


"Nggak. Gue cuma nanya aja. Ya udah deh kalau kalian lihat, berarti dia baik-baik aja." Selepas mengucapkan itu, Megi kembali mengalihkan topik pembicaraannya. "Makan yuk! Gue traktir."


"Ayoo, Kaaanggg!! Oppa Mamat mau nasi pecel sama gorengannya Mbak Muna." Mamat yang berada di samping Megi lantas kesenangan sendiri. Jika sudah masalah gratisan, dia selalu maju yang paling depan.


Mesky menarik lengan Megi. "Lo ada urusan apa sama Maru?"


"Udahlah, nggak usah ngurusin Maru lagi. Mending urusin perut kita aja. Mumpung gratis, Ky!" Maldi ikut heboh menandingi Mamat. "Gue mau nasi uduk, es teh manis, kerupuk, gorengan Mbak Muna, sama...," belum sempat dia menyelesaikan ucapannya Mesky lebih dulu menjitak keningnya. "Lo mau ngerampok?"


Ditanya itu, Maldi hanya terkekeh.


***


Suasana hening ini, membuat semua siswa-siswi ikut diam. Di ruang 16 ini, terdapat Megi dan teman-temannya yang juga ikut diam. Bu Mai yang sedari tadi mengawasi ruang itu pun sedikit terperangah. Tidak biasanya Megi dan teman-temannya itu pendiam seperti ini. Padahal, selalu saja ada kehebohan di saat ujian begini.


Namun, Bu Mai tidak mengambil pusing. Beliau memilih untuk tidur sejenak. Lagipula tidak ada tanda-tanda bahwa Megi akan berulah.


Megi yang duduk di bangku tengah paling samping kanan pun mulai mengeluarkan ponselnya. Waktu ujian sudah berjalan lima belas menit, masih tersisa waktu satu jam lebih empat puluh lima menit. Dan itu sangat lama. Megi membuka aplikasi Whatsapp miliknya. Dia sembari mengirim pesan kepada Mars. Waktu lima belas menit sudah sangat cukup untuk Mars menyelesaikan soal Kimia seperti ini.


Mars, otak gue nyeri nih. Mual-mual baca soal Kimia. Rasanya gue pengin kentut, tapi takut Bu Mai bangun. Kemarin ya, gue nonton sinetron azab orang yang pelit ngasih jawaban. Dan lo tahu apa azabnya?


Sembari menunggu balasan dari Mars, dia memilih untuk bermain game dahulu. Dia memasang earphone di kedua telinganya. Enam menit berlalu, dan Bu Mai masih tidur. Tiba-tiba sebuah pesan masuk dari Mars. Megi tersenyum kemenangan saat itu juga.


A,C,A,B,C,D,B,E,E,C,D,A,B,B,B,D,C,E,A,D,E,A,D,B,C,C,D,E,D,E,D,A,B,C,C,D,A,E,E,A,A,A,A,D,C,B,D,E,A,B


Ketika UKK, tidak diadakan soal essay. Maka dari itu jumlah soalnya sampai lima puluh soal. Tidak heran jika menyontek jawaban sangat mudah. Bahkan tidak perlu merobek kertas untuk menulis jawaban essay. Cukup dengan permainan jari-jari semuanya akan selesai.


Lo peka banget sumpah. Oh iya, azabnya itu masuk ke dalam tanah.


Saat Megi sudah selesai menyalin jawaban Mars, meskipun tidak semuanya sesuai dengan jawaban Mars yang aslinya, dia mematikan ponselnya. Lalu mendorong kursinya ke belakang hingga mengeluarkan bunyi. Seketika Bu Mai terbangun dari tidur dan langsung menjadikan Megi pusat tujunya. "Ada apa, Megi? Apa kamu sudah selesai?" tanya Bu Mai yang dibalas cengiran oleh Megi. "Sudah, Bu."


"Kumpulkan di meja saya." Perintah Bu Mai langsung.


"Oy kampret! Gue belum!"


"Kang, Oppa masih kosong ini!"


"Sialan."


"Mati gueee."


Megi membiarkan teman-temannya mencibir. Dia lantas maju ke depan untuk mengumpulkan jawabannya. "Ibu ngantuk, ya? Biar saya aja yang gantiin Ibu di sini. Lagipula saya juga nggak ada kerjaan, Bu. Ibu bisa tidur pulas di UKS. Gimana, Bu?"


Karena rasa mengantuknya sangat berat, akhirnya Bu Mai menyetujui tanpa berpikir panjang. "Ya sudah, Ibu titip ruang ini sama kamu. Nanti Ibu balik lagi. Terima kasih ya, Meg. Ibu pergi dulu."


"Oke, Buuu. Mimpi indah yaaa."


Setelah Bu Mai tidak terlihat lagi, Megi tersenyum puas kepada teman-temannya. Dia duduk di bangku pengawas lalu menggebrakkan meja seraya berkata. "Oke guys! Dengerin gue baik-baik. Kita mulai dari nomor satu, A, C, A----" Megi mendikte teman-temannya sampai jawaban terakhir.


______