
"Selalu ada penyelesaian dibalik permasalahan, pula selalu ada senyuman dibalik tangisan." -Marutere Althea.
Semenjak kejadian beberapa hari kemarin Maru masih terus saja memikirkannya. Bukan karena Megi mengetahui hubungannya dengan Magen. Tapi juga mengenai sikap Megi yang masih dingin kepadanya. Sejak pagi tadi Megi sudah tak lagi bersikap baik kepadanya. Dia benar-benar tidak ingin sebangku lagi dengan Maru. Bahkan sekadar menyapa tampaknya enggan untuk Megi lakukan.
Tidak begitu banyak yang menyalahkan Megi sepenuhnya di pikirannya. Tapi Maru juga tidak ingin menyalahkan dirinya. Ini hidupnya. Tidak ada satupun orang yang bukan keluarganya yang bisa mengaturnya dalam segala hal. Maru bisa mengambil berbagai keputusan sesuai keinginannya. Meskipun kadang rasa ragu mengganggunya namun nyatanya Maru tidak terpengaruh dengan rasa ragu itu. Ia yakin rasa ragu ini hanya datang sekilas. Kedepannya rasa ini tidak akan berpengaruh. Baginya ini hanyalah pengecohan belaka.
Sekali lagi Maru tidak ingin memikirkan keraguannya dalam mengambil keputusan. Semua tindakan yang diambilnya memiliki dampak yang akan kembali kepadanya. Dia sadar tentang itu. Juga semua keputusannya yang gegabah itu juga akan memberikan dampak yang entah baik atau tidak kepadanya. Belum sampai ke sana sepertinya Maru sudah memiliki jawabannya. Dampak yang dia dapat karena keputusannya yang gegabah itu adalah negatif. Buktinya Megi mulai menjauh darinya.
Menjauhnya Megi membuatnya kepikiran setiap saat. Maru merasa jika Megi tidak ada di sampingnya dia merasa sepi. Kehidupannya seperti tidak memiliki warna. Entah sejak kapan dia jadi berlebihan seperti ini. Tapi setelah Megi menjauh darinya, setelah orang yang penting menghilang darinya disitu dia tersadar. Betapa pentingnya Megi untuknya. Mungkin beberapa ucapan Megi sesuai dengannya. Perasaannya kepada Megi tidak pernah hilang. Hanya saja pernah tenggelam dan sekarang kembali muncul di permukaan.
Berhari-hari ia lalui tanpa Megi. Tanpa senyuman cowok itu rasanya menjadi sunyi. Maru tidak bisa membohongi hatinya lagi jika dia memang benar-benar masih menyimpan rasa kepada Megi. Hanya saja keberadaannya sekarang berbeda. Dia sudah mengambil keputusan untuk berpacaran dengan Magen. Selain memberi kesempatan kepada Magen, keputusan ini juga menyenangkan Ayahnya. Waktu Magen menembaknya dia benar-benar tidak bisa menolak saat Ayahnya melemparkan senyum harapan kepadanya.
Semuanya berubah detik itu juga. Padahal paginya dia ingin menceritakan semua ini kepada Megi. Dia tidak benar-benar mencintai Magen. Mungkin hanya sekadar rasa sayang sebagai kakak-adik belaka. Beberapa hari ini Magen juga sibuk dengan kuliahnya. Tidak ada yang menghibur Maru. Biasanya di waktu seperti ini Megi akan menemaninya. Lagi pula Maru bukan anak kecil lagi. Dia tidak mungkin meminta Magen untuk menemaninya. Maru tahu Magen anak Kedokteran yang sibuk.
"Jadi seriusan? Lo pacaran sama Kakak tiri lo itu?" Magis berkoar sejak Maru terdiam. Berita mengenai status Maru yang baru sudah mulai didengar. Pasalnya kemarin Magis tak sengaja melihat Maru diantar-jemput oleh Magen. Semalam Mesky juga memberitahunya perihal itu. Sebab itu Magis semakin penasaran.
"Jangan nanya itu, deh. Pusing ini kepala," keluh Maru sambil menatap Magis malas.
"Pusing kenapa, sih?"
"Megi tuh kayak menjauh sama gue. Padahal gue nggak tahu salah gue apa."
Magis tertawa kecil sampai dia mendapat jitakan Maru. "Kok lo malah ketawa sih?" sarkas Maru kesal.
"Ya, lo sendiri aneh.
"Aneh gimana?"
"Megi itu menjauh karena lo lebih milih Kakak tiri lo daripada Megi. Harusnya lo tuh sadar, Maru."
"Mana ada. Kalaupun Megi serius sama gue nggak mungkin dia masih nggak bertindak. Memang dia pikir berharap itu nggak lelah apa?" Maru membantah. Semua ini bukan salahnya. Lagipula belum tentu Megi menjauh karena statusnya.
"Jangan nyalahin orang kalau diri lo sendiri juga salah."
"Gue salah? Nggak, tuh." Maru mengelak.
"Ampun, deh! Dengar nih, ya. Mana mungkin Megi nembak lo di fase-fase mendekati Ujian. Lo bercanda, ya? Dia juga mikir itu kali, Ru. Dia takut lo nggak konsen." Magis kembali berceramah. Memang benar. Maru tidak pernah mengintropeksi dirinya sendiri. Dia banyak menyalahkan tanpa mau menyatakan bahwa dirinya juga salah. Maru juga terlalu banyak emosian hingga ia lupa untuk berpikir secara tenang. "Lo itu ngambil keputusan seenak jidat. Lo itu sebenarnya suka sama siapa, sih? Megi apa Magen? Jujur," tanya Magis serius.
Maru terdiam sejenak. Dia tampak berpikir serius. "Kayaknya perasaan gue masih untuk Megi. Tapi waktu Magen nembak gue, gue dalam keadaan terdesak. Ayah dukung gue banget sampai ngasih restu segala. Sedangkan Magen juga meyakinkan gue terus," jelasnya.
Magis menggeleng-geleng heran. Begitu rumitnya kisah hidup temannya yang satu ini. "Menjalankan hubungan sama orang yang nggak lo suka cuma buang-buang waktu. Udah, deh. Putusin aja," saran Magis.
"Lo enak ngomongnya," timpal Maru.
"Gue bantu, deh."
"Apa, ya? Gue tuh kesannya kayak mempermainkan hubungan."
"Tinggal minta maaf aja susah."
Tanpa Maru dan Magis sadari sejak tadi Megi menguping pembicaraan mereka. Meskipun jarak mereka cukup jauh tetapi Megi ahli dalam hal menguping. Sejenak dia mengulum senyum. Ternyata hanya sebatas itu perasaan Maru kepada Magen. Lain hal. Semua pembicaraan itu membuat Megi tersenyum. Semua yang dilakukannya beberapa hari ini hanya sia-sia. Nyatanya perasaan itu masih untuknya.
Seharusnya Megi tidak harus menurut kepada Moza. Dia punya jalan pikiran sendiri. Baginya, yang diyakininya tidak akan mengkhianatinya. Sekarang Megi sadar. Menjauhi Maru tanpa alasan yang jelas kebenarannya adalah kesalahan terbesarnya.
***
Di sisi lain Magen masih berusaha untuk melarang Mestha melakukan hal yang sama.
"Ma, tolong. Berhenti melakukan ini. Magen sayang Mama. Pasti Papa juga sayang banget sama Mama."
"Mama nggak bisa, Magen."
"Oke, kalau Mama nggak bisa. Tapi Mama bisa kan menikah untuk yang terakhir dengan Om Mabigal?" Magen memohon-mohon kepada Mestha. Cukup ini jadi yang terakhir. Magen tidak ingin Mamanya berbuat dosa lagi. Memang akan menyenangkan untuk Mamanya. Tapi hanya sesaat untuk di dunia. "Semuanya udah hilang, Gen. Kalau Mama nggak menikah lagi setelah sama Om Mabigal kita mau jadi apa?" Mestha masih tak goyah.
"Mama nggak usah bingungin masalah itu. Om Mabi orang kaya kan? Magen rasa ini cukup untuk jadi yang terakhir, Ma. Tolong. Hargai Magen dan Papa," pinta Magen sekali lagi dengan membungkuk. Meletakkan telapak tangan Mamanya ke hidungnya. Masa lalu cukup menjadi masa lalu. Magen tidak ingin masa lalu terus saja mengacaukan hidupnya.
Mestha tak kuat hati untuk menolak Magen. Anak laki-laki semata wayangnya. Meskipun dengan menjadikan ini yang terakhir tetapi hatinya belum puas. Banyak ingatan buruk yang mengelilingi pikirannya. Apalagi sejak sosok Papa telah tiada. Mulai saat itu semuanya berubah. Pekerjaan haram ini mulai Mestha lakukan untuk memenuhi kehidupannya.
Awalnya tidak langsung terjun seperti itu. Mestha orang yang baik. Dia tidak pernah berpikir untuk memanfaatkan orang. Kehidupannya masih baik-baik saja setelah Papa Magen pergi. Tapi lambat laun pemasukan mulai tak karuan. Saat itu Mestha bekerja sebagai penjaga toko kelontong. Gajinya tidak dapat mencukupi kebutuhannya. Di samping itu banyak teman-teman Mestha yang menghinanya. Dari sekian banyak teman Mestha semuanya adalah orang yang sukses dan kaya. Hanya dirinya yang saat itu menjadi yang paling sederhana.
Banyak cemooh dari teman SMA-nya. Dari tetangganya karena banyak menghutang untuk memenuhi kebutuhannya dan Magen. Semua itu menggelitik pikirannya hingga membuatnya hampir pasrah. Saat itu Magen masih SMP kelas 7. Banyak biaya yang Magen perlukan. Sementara Mestha tidak mempunyai pemasukan yang cukup. Dari sanalah semuanya berjalan seperti ini. Mestha mulai berdandan secantik mungkin untuk menggoda orang-orang yang kaya. Dia tidak ingin masuk dalam dunia gelap. Karena itu sejak Magen kelas tujuh sampai sekarang Mestha sudah menikah enam kali. Tidak termasuk Papa Magen.
Mestha melakukannya karena terpaksa. Saat itu pikirannya sedang semrawut. Dia tidak bisa berpikir dengan tenang.
"Tolong, Ma."
"Mama nggak janji, Gen."
Meskipun belum pasti tetapi Magen bahagia. Setidaknya Mestha memiliki niat untuk kembali menjadi Mestha yang dulu.
"Masalah uang sepuluh milyar itu...," ucap Magen menggantung. Ia ingin menegonya. Tapi Mestha sudah lebih dulu angkat suara. "Itu hak kamu, terserah mau kamu pakai apa."
"Masalah hutang yang kemarin?"
Magen melepas pelukan Mamanya itu. Setelah semuanya telah dikatakannya ia juga perlu mengatakan tentang hubungannya dengan Maru. Magen tidak ingin menunda hal itu. Sudah lama Magen menantikan restu dari Mamanya. Setelah dari Ayah, dia juga butuh restu Mamanya.
"Ada hal lain yang ingin Magen ceritain sama Mama."
"Oh, ya. Apa?"
"Magen pacaran sama Maru."
"Magen...," ungkap Mestha menggantung. Selama tak berada di samping anaknya ternyata anaknya itu sudah banyak mengambil keputusan sendiri tanpa meminta persetujuannya. Mestha tidak akan membiarkan Magen tinggal sendiri lagi. Dia akan selalu menemaninya. Mestha tidak ingin Magen seperti ini lagi. Mengambil keputusan dengan seenaknya.
Lagipula Mestha tidak begitu menyukai Maru. Terlalu cengeng, mudah sekali emosi dan ribet. Itu pendapatnya tentang Maru.
"Mama nggak suka kamu pacaran sama dia. Sekalipun kamu mohon-mohon sama Mama," tolak Mestha mentah-mentah.
Magen kembali angkat suara. "Ma...."
"Sekarang kamu yang memilih, Gen. Mama akan turutin semua mau kamu asal kamu putus sama Maru."
"Pacaran sama Maru itu salah satu permintaan Magen, Ma."
"Terkecuali buat Mama. Jadi?"
Lagi, lagi dia berada dalam situasi yang tidak mengenakkan. Dia butuh Maru untuk mendampinginya. Tetapi ini kesempatan yang terbaik agar Mamanya tidak mencari uang haram lagi. Mamanya dan Maru adalah orang yang sama penting. Jika harus memilih salah satu dengan terpaksa Magen akan melepaskan Maru lagi.
Mamanya telah membesarkannya sampai seperti ini. Dia tak harus mengecewakan Mamanya untuk Maru. Mungkin di kehidupannya nanti akan ada gadis yang bisa membuatnya tersenyum seperti Maru. Tidak ada pilihan yang terbaik. Saat ini Magen ingin Mamanya berubah. Prioritasnya masih untuk Mamanya.
"Magen pilih Mama."
***
Hari selalu berlalu.
Mulai dari yang Rabu menjadi Sabtu.
Mulai dari yang mendengar cerita Maru kepada Magis sampai sekarang cerita itu masih mengelilingi pikirannya.
Tak kian kenangan juga. Malam yang sunyi menenangkan pikiran Megi. Tidak ada alasan mengapa dia senang malam ini. Senyuman yang telah mengembang itu juga tidak pernah lepas darinya. Sudah empat hari berlalu setelah cerita itu. Kini hanya meninggalkan senyuman yang tak berhenti.
"Sampai kapanpun gue akan tetap sayang lo, Ru. Meskipun lo ada yang punya."
***
Muzan mengernyit bingung ketika Magen mengajaknya bertemu secara tiba-tiba. Pasalnya sebelum pertemuan ini Muzan rasa tidak pernah ada masalah. Tapi dengan pertemuan yang rahasia seperti ini malah membuatnya berpikir yang tidak-tidak.
Tak lama Magen datang menghampiri Muzan. "Ayah udah lama?" tanyanya.
"Baru datang."
"Oh. Ayah nggak pesan sesuatu?"
"Kamu ingin membicarakan soal apa, Gen? Kenapa tidak boleh ada yang tahu?" Muzab mengalihkan pembicaraan. Dia sudah tidak sabar. Pikirannya tidak akan tetap tenang bila Magen tak segera memberitahunya.
Magen mengembuskan napasnya. Sejenak, ia menenangkan hatinya.
"Magen minta maaf sama Ayah."
"Untuk apa?"
"Magen nggak bisa sama Maru lagi. Bukannya Magen nggak mau memperjuangkan Maru di depan Mama. Tapi Mama mendesak Magen, Yah. Tolong maafin Magen," ujarnya memohon. Magen sudah dua kali di hadapkan dengan situasi seperti ini.
Muzan belum mengerti. Dia tidak begitu paham dengan yang Magen maksud. Sejak tadi pikirannya belum terlalu mencerna dengan baik apa yang telah Magen katakan. "Maksud kamu apa? Jelasin sama Ayah dari awal," pinta Muzan.
"Beberapa hari yang lalu Mama pulang dari Belanda. Mama udah tahu semuanya. Soal uang tabungan Magen dan masalah rumah. Mama nggak mempermasalahkan semua itu. Hanya saja Mama nggak suka kalau Magen pacaran sama Maru. Di lain sisi, Mama bakal berubah kalau Magen nggak pacaran sama Maru. Waktu itu Magen terdesak, Yah. Mama cuma ngasih Magen pilihan tanpa dikasih waktu untuk berpikir. Alhasil Magen memilih Mama. Maaf, Yah." Magen benar-benar tidak enak hati harus memberitahu Ayahnya ini.
Muzan kembali memahaminya. Perlahan dia mulai paham.
"Lalu?"
"Mama ingin berubah jadi lebih baik. Magen nggak bisa melepas kesempatan itu. Magen minta maaf karena nggak bisa mempertahankan hubungan Magen sama Maru." Magen menggenggam telapak tangan Muzan untuk meminta maaf. Pada akhirnya dia harus mengingkari ucapannya sendiri. Itu sungguh memalukan baginya.
Namun, Muzan tersenyum. Dia tidak marah. Apa yang Magen pilih sudah benar. Maru dan Mestha sama-sama penting untuk Magen. Tapi lebih dari itu Mestha adalah prioritas Magen. Membuat Mestha untuk kembali menjadi baik sangat mulia. Rasanya, Muzan bangga. Meskipun akhirnya Maru akan kembali sendiri tetapi itu tidak masalah. Bila dijelaskan Maru akan memahaminya.
Muzan mengelus-elus bahu Magen. "Ayah bangga sama kamu."
"Ayah...," ucap Magen menggantung tidak percaya dengan apa yang didengarnya.
"Jadi kapan kamu mau mutusin Maru?" tanya Muzan.
"Secepatnya, Yah."
Sepertinya, Muzan tak sabar menanti hari itu datang.