
"Waaah, kenapa keberatan? Masih suka sama yang kemarin, ya?" tanya Marsha memecah keheningan. Marsha sangat senang mendengar jawaban dari Maru. Ternyata Maru sudah tidak lagi menyukai Megi. Meskipun Marsha tahu jika Maru adalah mantan Megi, tetapi dengan jawaban Maru tadi ia sudah tak lagi terganggu dengan status itu.
Marsha senyum-senyum sendiri.
"Ya ampun, Ru. Tega banget, sih, lo sama sahabat gue sendiri. Belum juga dimulai udah ditolak aja." Mesky ikut menimbrung dengan dramatis. Begitupun dengan Magis, kekasihnya itu ikut dramatis. Pasangan ini memang sama-sama alay. Itulah kata seantero sekolah.
Maru tak langsung menjawab pertanyaan teman-temannya itu. Dia terdiam. Matanya menatap Megi tanpa disengaja. Ah, sejujurnya perkataannya tadi setengah benar dan juga setengah salah. Seharusnya tadi ia mencari kalimat yang benar dahulu. Bukan asal-asalan seperti itu yang ujungnya banyak mempertanyakan jawabannya.
"Ah, elaaah. Gue bercanda kali, Ru. Udah ah, muka lo nggak usah ditekuk kayak gitu. Males ngelihatnya gue," ujar Megi sambil terkekeh sendiri. Seketika teman-temannya segera menimpuknya dengan buku-buku yang ada di sekitar mereka. "Astaga nagaaaa, Megi! Lo tuh, bener-bener, yaaa!" teriak Magis heboh dengan lengkingan suaranya itu yang sudah jelas-jelas masuk dalam daftar suara cempreng nomor satu.
"Gue kira beneran masa." Maldi ikut berkomentar.
Mamat yang tadinya ikut serius langsung ikut terkekeh. "Lo baper, Ru?" tanyanya kemudian.
"Nggaklah! Lo pikir gue sereceh itu?" Maru memalingkan wajahnya langsung. Ia segera bangkit dan pergi begitu saja. Jujur saja, pada dirinya sendiri sebenarnya dia malu. Bagaimana tidak? Megi menganggap jika pertanyaannya itu hanya sekadar permainan belaka. Harusnya Maru juga tahu jika apa-apa yang berhubungan dengan Megi pasti hanya bahan permainan. Tidak ada sisi-sisi seriusnya. Namun, dengan bodohnya ia malah menganggapnya serius. Kurang bodoh apa coba? Padahal dia bukan baru mengenal Megi beberapa hari yang lalu. Melainkan sudah beberapa tahun yang lalu. Meskipun, banyak sekali kenangan yang buruk untuk dikenang.
Tetap saja, seburuk-buruknya kenangan tidak akan bisa dilupakan.
Mesky menepuk bahu Megi pelan. Membuyarkan cowok itu pada lamunannya karena sikap Maru. Dia ini memang kurang peka. Padahal sudah tahu jika suasana hati Maru sedang tidak baik, tetapi dengan tenangnya dia malah membuat suasana hati Maru kian memburuk karena bercandaannya. Awalnya dia berniat serius, tetapi karena penolakan Maru itu, ia langsung mati kutu. Tak ingin merasa malu, ia langsung mengatakan jika semua itu hanya bercanda. Namun dampaknya berkebalikan. Bukan Megi yang menerima malu memang. Tetapi Maru yang menerimanya. Padahal Megi adalah seorang laki-laki. Tidak seharusnya dia mengalihkan rasa malunya itu kepada Maru yang notabene-nya adalah perempuan. Mahluk yang paling sensitif.
"Meg, kejar gih! Lo nggak lihat tadi mukanya gimana? Waah, sumpah. Dia marah banget tuh kayaknya," ujat Mesky dengan gayanya yang semakin membuat Megi tambah bingung. "Lo kenapa, sih? Waktu itu di kafe gue juga yang nyuruh lo. Emang sebagai cowok lo nggak peka gitu? Pantes aja kandas sama Maru dulu," lanjutnya.
Marsha memegang erat lengan Megi sambil menggeleng. "Nggak usah dikejar, Meg. Nanti juga balik sendiri. Mending kita lanjut main aja," larangnya. Marsha lantas menunjuk Mesky dengan tatapan tajam. "Eh, Mes! Lo nggak usah nyuruh-nyuruh Megi, deh! Nggak penting juga. Lagian status lo itu lebih rendah daripada Megi. Jadi, nggak usah sok ngatur-ngatur."
Mesky mulai geram dengan ucapan Marsha yang pedas. Ia mengangkat dagunya sambil berkacak pinggang.
"Memang kenapa kalau status gue lebih rendah? Eh, Marsha! Lo nggak usah sok ngasih tahu, ya! Kata-kata lo barusan tuh basi tahu, nggak. Lo inget ya. Kalau bisa lo simpan tuh di otak lo. Meskipun status gue lebih rendah, bukan berarti gue nggak punya hak buat nyuruh orang lain." Mesky benar-benar kehilangan kesabarannya. Apalagi Marsha jika sudah berbicara selalu menyakiti hati. "Iya, tuh! Lo nggak usah ngomentarin orang bisa? Lagian juga yang ngelakuin Megi kok. Beda lagi kalau lo yang disuruh. Bentar-bentar, kok ada yang ganjel, ya? Jangan-jangan..., jangan bilang kalau lo suka lagi sama Megi?! Seriusan, Sha! Jawab gue!" Magis ikut memanas.
Mamat yang sejak tadi diam langsung membulatkan matanya lebar-lebar. "Bukan jangan-jangan lagi, Gis. Tapi emang udah suka dari dulu," ucap Maldi ikut menimbrung.
"Bawaan dari lahir kali, Sha."
"Ngeselin sumpah!"
"Lho-lho. Kok lo bisa tahu, sih? Lo kong-kaling-kong sama dia?" tanya Mesky terheran-heran. Pasalnya, bagi mereka semua, Marsha adalah orang yang baru. Tidak mungkin jika Maldi sudah mengenal Marsha sejak dulu. Kalaupun iya, mereka benar-benar pandai menyembunyikan sesuatu selama bertahun-tahun tanpa ada satupun yang curiga. Benar-benar hebat.
Maldi terkekeh, ia lantas menggeleng.
"Ya, nggaklah. Gue sebatas tak sengaja tahu. Lo-lo pada nggak usah mikir yang macam-macam."
Seketika Mesky dan Mamat langsung bernapas lega.
Megi yang tampak diam sejak tadi langsung menghela napasnya panjang. "Ah, gue rasa..., gue nggak perlu ngejar dia." Iya, sangat nggak perlu. Lagipula tadi dia bilang sendiri kan kalau dia keberatan untuk gue dekati. Itu artinya, gue nggak ada apa-apanya meskipun gue ngejar dia sekarang.
"Kok lo gitu, sih, Meg! Jangan egois kali. Ya, masa lo ke pancing sama ini nenek lampir satu," ujar Mesky tidak terima yang diacungi dua jempol oleh Mamat. "Bos, gue kasih tahu, ya. Cewek kalau lo perhatiin terus, dia bisa mengubah keputusannya. Ya, emang nggak cepat sih. Tapi pelan-pelan namun pasti," tambah Maldi.
Mamat bertepuk tangan, heboh. "Bener tuh!"
"Iya, gue setuju banget itu mah! Sebagai cewek gue juga sadar akan hal itu," Magis angkat bicara.
"Kenapa sih kalian maksa banget? Kalau Megi nggak mau ya jangan dipaksa, dong!" Marsha menyahut lagi.
"Marsha and the bear!!! Bisa diem nggak, sih? Lama-lama gue makan beneran lo." Magis semakin geram sendiri dengan Marsha. Benar-benar membuatnya ingin menghanguskan Marsha saja agar tidak selalu memanasi suasana.
Megi tak berpikir panjang, dia bangkit dari duduknya. Semua orang mengira jika Megi akan mengejar Maru. Namun kenyataannya, Megi hanya pindah tempat duduk saja.
Mesky tak habis pikir dengan Megi. "Sumpah! Lo bener-bener ******!" cecarnya keras. Tak heran jika sekarang dia menjadi pusat perhatian. Sementara Megi hanya tertawa. "Baru tahu kalau gue ini ******?"