
"Kamu tahu, cinta itu tidak hanya sebatas aku dan kamu. Melainkan ada kita ditengah-tengahnya.
Kamu tahu, cinta itu tidak sekadar hubungan antara dua orang. Melainkan dua keluarga.
Kamu tahu, cinta itu tidak mengatakan bahwa cewek selalu benar. Tetapi cewek juga pernah salah.
Kamu tahu, cinta itu tidak hanya aku saja yang berjuang. Tetapi kamu juga.
Jika kamu tidak mau berjuang denganku, mungkin aku cukup tahu saja bahwa kamu memang tidak mencintaiku." -Marutere Althea.
Meta mendorong keras tubuh Maru hingga gadis itu tercebur ke dalam air. Ajakan Maru tadi ditolak mentah-mentah oleh Meta. Namun anehnya, Meta malah langsung mengajaknya bermain air. Magen yang ada di belakang Maru langsung ikut menceburkan Meta ke dalam air. Sementara Megi hanya berlari memeluk Magen sampai keduanya jatuh ke air. Mereka saling jatuh menjatuhkan. Meta yang awalnya tidak menyukai kehadiran Maru, sekarang sudah menghilangkan rasa itu. Dia yang paling antusias untuk memasukkan Maru ke dalam air. Berbeda lagi dengan Megi. Diantara yang lain, yang hanya saling menjatuhkan tetapi Megi memiliki cara yang unik. Dia memeluk orang dahulu, barulah diajak jatuh ke air bersama.
Setelah Magen, kini Megi mengganti Maru. Ia memeluk Maru dan mengajaknya jatuh. Yang dipeluk hanya terkejut dan terpatung. Masih tidak sadar dengan apa yang dialaminya. Magen yang tidak terima Maru di peluk Megi pun ikut jatuh dan memeluk keduanya. Mereka bangkit dan kembali jatuh menjatuhkan. Tanpa mereka sadari, sudah cukup lama mereka bermain di air.
Maru diangkat Megi dan Magen hingga membuatnya menjerit. "Argghh, kalau sampai gue kenapa-napa, kalian harus tanggung jawab! Gue nggak mau tahu!" bentaknya keras.
"Halah, badan rata begini apa sih yang mau kenapa-napa," balas Megi mengejek.
"Mendingan juga Meta," ujar Meta sambil berkacak pinggang.
Maru menyorot ketiganya tajam. "Nggak peduli, ya! Mau rata atau nggak, tapi kalau lo pada lempar juga bahaya tahuuu!"
"Nggak peduli," cetus ketiganya bersamaan seperti anggota paduan suara.
Meta melambai-lambaikan tangannya tanda sudah siapa. Dalam hitungan ketiga, Maru sudah terlempar di dalam air. Megi dan Magen tidak bisa menahan tawa. Sedangkan Meta malah meledek Maru. Maru langsung bangkit dan mengejar mereka.
Meta berlari cukup kencang sampai sudah tak terlihat oleh mata Maru.
Bagian paha Maru merasakan adanya getaran. Ia bergegas lari menuju ke pinggir pantai. Meninggalkan Magen dan Megi yang sedang bermain di air. Sejak dari hotel tadi, Maru tidak sengaja membawa ponselnya sampai di pantai. Padahal, Ayahnya jelas-jelas sudah melarangnya untuk membawa ponsel kecuali kalau ditaruh di dalam tas. Tetapi, Maru lupa akan hal itu. Kebiasaan membawa ponsel ke mana-mana sudah menjadi hal yang sangat melekat pada dirinya. Jadi, wajar saja bila ia lupa mengenai hal itu.
Benda pipih itu ia keluarkan. Tangan kirinya memegang ponsel sementara tangan kanannya diibas-ibaskan dengan bajunya. Lalu dia membuka pesan yang masuk. Dan ternyata, pesan itu dari Mate.
Meta ada diBali juga. Kalo km ketemu dia, kabari aku.
Maru hanya bisa menghela napas kasar. Kenapa pacarnya itu malah menanyakan orang lain? Kenapa tidak dirinya saja yang ditanyakan?
Mungkin bisa dengan;
Kamu udah makan belum?
Kamu baik-baik saja, kan?
Kamu senang disana?
Have fun, ya!
Ah, tampaknya itu terlalu jauh untuk Maru pikirkan. Karena kenyataannya, Mate tidak akan pernah seperti itu kepadanya.
"Dek, balik, yuk!" Magen menghampiri Maru yang sedang berdiri dibawah pohon yang rindang.
Magen tidak tahu kenapa Maru mendadak minggir dan wajahnya berubah lesu begitu. Sejujurnya, Magen ingin menanyakan hal itu kepada Maru. Namun, ia memilih untuk menundanya. Keadaan hati Maru sekarang tidak cocok untuk ditanyakan sesuatu.
Maru mendongak. "Lo duluan aja, gue..., gue masih mau di sini," ujarnya kebingungan. Suasana hatinya benar-benar buruk sekarang. Dia sedang tidak ingin ke mana-mana dulu. Jangankan untuk jalan-jalan lagi, pulang saja rasanya dia malas.
Magen tak menjawab apa-apa. Dia lantas menarik lengan tangan Maru. Membawa gadis itu untuk duduk bersamanya. Tapi, kali ini Maru tidak menolak. Dia hanya diam tanpa berkomentar. Aneh bukan jika seorang Maru mengikuti Magen?
Cukup lama keduanya hening. Tanpa ada suara dari dua manusia itu. Kini hanya terdengar suara dari orang-orang yang ada di sekitar mereka. Suara gelak tawa mereka dengar sepanjang keheningan. Gemuruh ombak membuat pikirannya kian tenang. Mata Maru hanya terfokus pada satu titik. Keindahan pantai di depannya itu. Sesekali gadis itu menghirup udara segar. Tetapi, pandangannya tidak selalu lurus ke depan. Ada saatnya untuk berbelok. Perlahan-lahan, pandangannya terhadap pantai kini berubah. Tanpa sengaja, dia malah memperhatikan Megi yang sedang bermain dengan anak kecil yang..., entahlah. Mungkin Megi sedang kurang kerjaan, jadi anak orang dia ajak bermain juga.
Tampaknya, Megi dan ombak tak ada bedanya. Melihat keduanya, hati Maru semakin tenang. Tanpa sadar, kedua pipinya melembung. Membentuk sebuah senyuman.
Di sisi lain, Meta sibuk sendiri dengan Mozha. Beberapa menit yang lalu Mozha datang menyusul adik-adiknya itu. Tadi, Mozha juga sempat bertegur sapa dengan Maru. Hanya saja, Mozha tak sempat bertegur sapa dengan Magen. Sayangnya, ketika Mozha datang, Magen malah berada di toilet. Tetapi tidak masalah. Mau keduanya bertegur sapa atau tidak, yang penting Maru sudah bertegur sapa. Setidaknya, hubungan Maru dan Mozha masih baik-baik saja. Ya, walaupun situasinya sekarang sudah berbeda.
Tadi, Maru kira Mozha bukanlah Mozha yang dia kenal. Gaya berpakaiannya dan berbicaranya juga sudah berubah. Mungkin bukan berubah, hanya saja Maru yang lupa mengenai hal itu. Dua tahun rasanya memang sudah membuat kenangan menjadi berubah. Sampai-sampai membuat Maru sedikit canggung untuk mengobrol dengan Mozha. Beruntungnya, Mozha adalah orang yang ramah. Jadi tidak seburuk itu pertemuan pertama mereka setelah dua tahun tidak bertemu. Kesannya juga tidak begitu buruk.
Maru melirik ke arah Magen sebentar. Namun hanya sekilas. Magen masih setia duduk di sampingnya. Bahkan dalam keadaan tenang. Maru kembali lagi memperhatikan Megi. Melupakan semuanya. Begitu juga dengan Magen yang berada di sampingnya.
Sampai tiba-tiba Magen bersuara.
"Gue nggak tahu lo kenapa. Tapi yang pasti, gue akan selalu ada untuk lo. Semua ini bukan karena gue Kakak lo. Tapi karena gue----" belum sempat Magen menyelesaikan kalimatnya, Maru sudah memotongnya lebih dulu.
"Lo terlalu banyak bicara. Gue lagi pengen hening sekarang. Kalau lo nggak bisa diam, mending lo balik aja ke pantai."
"Eh, buset. Iya, iya, gue diam sekarang."
Selanjutnya, Maru melihat di sekelilingnya. Magen sudah diam setelah ia tegur. Memang benar, ya, kalau Maru emang susah untuk menurut ke orang. Pasti ada saja tingkahnya yang ketus.
Maru memegang kembali ponselnya, ia teringat akan pesan Mate. Entah karena apa, ia malah membalas pesan Mate.
Aku udah ketemu Meta. Kenapa? Kamu nggak nanya keadaan aku gimana?
Pesan itu sudah terkirim kepada Mate. Bagi Maru sendiri, tindakan untuk tidak membalas pesan Mate adalah hal yang paling susah. Meskipun dia memiliki tekad yang kuat. Tetap saja, ujung-ujungnya dia kalah dengan dirinya sendiri.
Sepuluh menit kemudian, ponsel Maru berdering kembali.
G
Membaca pesan itu, bolehkah Maru melempar ponselnya sekarang juga?
Seharusnya itu memang wajib dia lakukan.
***
"Ru, udah setengah jam gue nemenin lo di sini. Yakin masih mau di sini? Mama udah telepon. Suruh balik ke hotel," tanya Magen.
Maru menoleh. "Lo balik aja dulu. Gue gampang, kok."
"Kalau gitu gue temenin aja."
"Nggak usah. Lo balik aja. Nyokap lo 'kan udah teleponin lo dari tadi," tolaknya.
"Lo..., terlalu baik. Beda banget sama nyokap lo."
"Nyokap gue, nyokap lo juga."
"Kalau gue nggak mau, lo marah nggak?"
"Kenapa harus marah?"
"Ya, kan----"
"Semua orang punya hak untuk menolak." Magen menyela ucapan Maru. Tapi lo nggak punya hak untuk menolak perasaan gue, batinnya.
***
Hari mulai sore, matahari sudah hampir tak tampak.
Maru akhirnya mengajak Magen untuk kembali ke hotel. Lama-lama dia tidak enak hati jika tidak segera kembali. Nanti malah Magen yang kena sembur oleh Mamanya. Meskipun kadang, ia tidak menyukai Magen. Tapi sikap baiknya itu sukses membuat Maru mulai melirik kepadanya. Membedakan antara pandangannya ke Mestha dan juga kepada Magen. Bila ke Mestha selalu mendapatkan negatif terus, tetapi dengan Magen ia bisa mendapatkan kepositifan.
"Maru," panggil seseorang yang kini menghampirinya.
"Apa?"
"Kak Mozha nyariin lo. Katanya ada yang mau diomongin."
"Ehm, gimana, ya? Ini udah sore. Gue harus balik ke hotel."
"Gampang. Nanti gue anter pulang."
Magen ikut bersuara. "Apa-apaan lo? Nggak, nggak! Maru harus pulang. Lo nggak tahu sekarang udah mau malam?"
"Santai, Bung. Gue bakal jaga dia. Lo tenang aja. Gimana, Ru?"
"Tolak aja, Dek," imbuh Magen sambil bersedekap dada.
"Oke, deh. Tapi nggak lama, ya?" Maru menoleh kepada Magen. "Lo balik duluan aja. Nggak usah ngikutin gue."
"Tap----" Magen masih berusaha untuk mengajak Maru pulang. Dia tidak ingin Maru pergi dengan cowok lain. Apalagi dengan alasan dicariin orang lain.
Maru menggeleng. "Udah, gue aman. Lo balik aja. Bilang ke Ayah kalau gue lagi reuni sama Kak Mozha. Ayah kenal sama Kak Mozha, kok."
Sudah tidak ada alasan lagi, mau tidak mau memang begitu.
"Ya udah, tapi jangan lama-lama. Hati-hati."
"Iyaaaa. Ayo, Meg."
Selepas itu, Magen hanya bisa melihat Maru dan Megi dari belakang. Punggung keduanya sudah hampir menghilang dari pandangannya. Magen masih kesal dengan Megi. Seharusnya waktu pulang ke hotel ini mau dia rencanakan untuk mengajak Maru jalan-jalan sebentar. Tetapi karena Megi, semua rencananya hanyalah angan-angan belaka. Sejujurnya, besok masih ada waktu untuk itu. Tapi kenapa, hari ini Magen merasa bahwa ini memang waktu yang tepat. Namun lagi-lagi harus tertunda.
Dengan langkah lesu, ia berjalan kembali ke hotel. Sendirian.
Sementara itu, Megi mengajak Maru menyusuri pantai. Dia belum mengatakan di mana jelas pastinya Mozha ingin bertemu Maru.
"Kak Mozha di mana, sih?" tanya Maru setelah keduanya lama berdiam diri. Jika bukan karena kakinya yang sudah pegal, dia tidak akan menanyakan hal itu kepada Megi. "Gue nggak tahu. Mungkin aja udah balik sama Meta," jawab Megi jujur.
Maru terperangah. "Maksudnya? Terus ngapain lo bilang kalau Kak Mozha nya----"
"Itu cuma modus, biar lo mau gue ajak jalan," sela Megi. Modus, singkatan dari Modal Usaha.
Maru terdiam. Tak tahu harus menjawab apa. Cowok di sampingnya ini benar-benar tidak sehat.
"Gue tahu lo nggak mood gara-gara Mate. Sebenarnya gue mau ngajak jalan lo dari tadi, tapi karena Kakak lo itu, ya, tertunda kayak gini."
"Apa fungsinya lo ngajak gue jalan? Dan kenapa lo tahu soal Mate?"
"Lo dan gue disini buat liburan. Menyenangkan diri, bukan malah menyendiri. Kalau gue bisa senang-senang, lo harusnya juga bisa. Udah, nggak usah banyak tanya. Ikut gue aja, ayooo!" Megi menarik lengan tangan Maru. Membawa gadis itu menyusuri pantai. Membelah semua pikiran sampai mereka lupa dengan masalah mereka masing-masing.
Semakin sore, pantai ini semakin indah untuk dinikmati. Megi membawa Maru untuk bermain air lagi. Sesekali mengguyur gadis itu. Maru merasa senang dengan kehadiran Megi sore ini. Membuat suasana hatinya membaik.
Sebelum pulang, Megi menyuruh Maru untuk berdiri sebentar dipinggir pantai. Lantas Megi izin untuk pergi. Maru kira, Megi akan meninggalkannya begitu saja. Namun, tiga menit berlalu Megi kembali dengan membawa sebuah kemeja dan dua gelas cokelat hangat.
Megi menyodorkan kedua benda yang ia bawa.
"Dipake biar nggak kedinginan," ucap Megi tulus. "Ini juga diminum biar hangat," tambahnya.
Maru menerima semua itu. "Makasih, ya."
"Sama-sama."
Lalu Megi mengajak Maru untuk duduk di pinggir pantai sambil menikmati matahari yang mulai tenggelam. Menikmati segala karunia Tuhan yang ada di sekelilingnya. Maru duduk sambil menikmati segelas cokelat hangat. Begitupun Megi. Dia juga sama-sama menikmatinya. Walaupun sesekali ia melirik Maru.
Tiba-tiba ada dua orang menghampiri mereka. Satu laki-laki dan satu wanita. Anggap saja mereka sepasang. Mereka memberikan bunga mawar kepada Megi dan Maru.
"Kiteh kasih bunga biar kelen langgeng terus, ya. Iya nggak, beib?" ucap sang wanita yang kira-kira umurnya sudah duapuluh lima tahun.
Sang laki-laki ikut berseru. "Iya dong, beib. Sama kayak kiteh."
"Ini itu bunga nenek moyang eike. Dijaga baik-baik. Mehong tauk."
Setelah memperhatikan pasangan yang ada didepannya, Maru baru sadar. Bahwa mereka itu bukanlah laki-laki dan wanita yang normal. Pantas saja dengan anehnya dua orang itu memberikannya bunga mawar.
"Eike lihat kelen itu cucok bingitzz. Nggak kayak eike sama beibeb eike. Nggak ada pantes-pantesnya."
Tanpa sadar, keduanya sama-sama tertawa. Tentu saja pasangan di depannya itu tidak cocok. Orang laki-laki dengan laki-laki.
"Anak didik lo gini banget, ya, Ru? Jadi ngeri."