
"Cinta itu tak selalu salah. Tapi cinta juga tidak selamanya benar." -Magenta Arkas Prakasra.
Sepulang dari rumah temannya, Magen merasa lelah untuk hari ini. Banyak sekali urusan yang harus dia selesaikan untuk mengikuti tes jalur beasiswa masuk Fakultas Kedokteran. Ini adalah salah satu cara supaya dia tidak selalu merepotkan Mamanya. Dia memang tidak pintar seperti teman-temannya yang lain. Akan tetapi tekadnya sangat kuat.
Tepat pukul tujuh malam, dia tiba di rumahnya. Tanpa mengetuk pintu, dia langsung masuk begitu saja. Lagipula pintunya jarang dikunci. Bahkan hampir tidak pernah. Saat dia melewati kamar Maru, tak sengaja pintunya terbuka. Dia berhenti melangkah seraya mengintip. Tak dia duga ternyata Maru sudah pulang. Sejenak dia tersenyum senang. Tiba-tiba terlintas sebuah ide di pikirannya.
Magen masuk ke kamarnya dan segera bersiap-siap. Dia bahkan tak memperdulikan kamarnya yang sudah berantakan. Meskipun begitu, sebelum tidur dia selalu membersihkan kamarnya dulu. Karena tidak memiliki pembantu, mau tidak mau itu memang sudah menjadi tugasnya. Jika dia tidak membersihkannya, maka ya sudah dia akan tidur di kamar yang kotor dan berantakan.
Selesai bersiap-siap, Magen menyemprotkan parfum termahalnya yang jarang sekali dia pakai. Lantas bercermin sejenak sambil berkata. "Semoga Maru nggak nolak gue," lalu kembali merapikan rambutnya. Kemudian Magen pergi menuju ke kamar Maru yang letaknya tidak jauh dari kamarnya. Pintunya masih tidak tertutup. Dia langsung masuk begitu saja. Dilihatnya, Maru sedang mengernyit sewaktu dia berdiri di dalam kamar Maru. "Mau ngapain lo?" tanya Maru ketus.
"Ngajakin lo keluar, Dek. Sebentar lagi Ayah kan ulang tahun, jadi gue mau ngajak lo beli hadiah buat Ayah." Magen melangkah maju dan duduk di samping Maru sambil memancarkan senyumannya. Aroma parfum Magen menyusup masuk ke hidung Maru hingga membuatnya menjauhkan tubuhnya dari Magen. "Lo mau beli kado apa mau ngedate, sih? Wangi banget. Sampai bikin gue susah napas," keluh Maru kemudian.
Magen terkekeh. "Dua-duanya sih," jawabnya jujur.
"Dih! Rakus banget."
"Ya udah buruan mandi."
Maru mengernyit lagi. "Emang gue mau?" tanyanya kemudian. Namun, Magen hanya mengangguk. "Lo nggak boleh nolak soalnya."
"Ya udah, tunggu di luar. Sepuluh menit lagi gue datang," jawab Maru. Lagipula dia juga tidak sedang apa-apa sekarang. Jadi, tidak masalah jika dia menerima ajakan Magen. Belum tentu Magen sama seperti Mamanya. Siapa tahu saja tidak.
"Oke."
Awalnya Magen pikir dalam waktu sepuluh menit Maru belum juga muncul. Akan tetapi, di luar dugaannya, Maru menghampirinya kurang dari waktu sepuluh menit dengan berpakaian santai. Dia memakai celana jeans putih yang dipadukan dengan kaus hitam yang kebesaran. Namun, terlihat cocok jika Maru memakai baju yang kebesaran seperti itu. Terlihat pula dia memakai sepatu vans warna hitam.
"Ayo berangkat!" ajak Maru sambil menyelipkan anak rambutnya di telinganya. "I-iya," balas Magen gugup.
Entah karena apa, setiap bersama Maru pasti jantungnya selalu berdetak kencang.
Hanya memakan waktu empat puluh lima menit, mereka sudah sampai di sebuah Mal yang ada di salah satu kota Jakarta. Setelah Magen memakirkan mobilnya, keduanya langsung masuk begitu saja tanpa berbicara sepatah kata pun. Barulah mereka saling berbicara setelah mengelilingi Mal itu. Mereka berhenti di depan toko pakaian. "Lo mau beli apa sih sebenarnya? Dari tadi ngikutin gue melulu."
Magen menggaruk rambutnya yang tak gatal. "Nggak tahu. Memang yang Ayah suka itu apa sih? Kaus? Kemeja? Celana? Sepatu? Atau apa?"
"Ya ampun! Jadi lo nggak tahu mau beli apa?" Maru menepuk jidatnya pelan. Sesekali memencet pelipisnya.
"Enggak," Magen menjawab.
Maru menyeriangi cowok itu, gemas. "Kenapa nggak nanya ke gue dari tadi? Bikin orang capek aja!"
"Gue pikir lo mau beli sesuatu dulu. Ya udah, kalau capek istirahat dulu. Nyari makan aja yuk?" tawarnya.
"Gue nggak laper."
"Katanya capek."
"Ah, terserah lo deh!"
Magen merangkulnya. "Ya udah. Kalau gitu kita beli kado aja dulu. Ayah suka apa?"
"Gelang jam."
"Kalau lo, sukanya apa?"
"Apa aja, asal halal."
"Suka gue nggak?"
"Apaan, sih?!"
Magen tertawa lebar. Maru yang hendak pergi itu dia halangi dengan menarik lengannya. Maru masih memanyunkan bibirnya. Tanpa dia duga, pertanyaan Magen tadi adalah jebakan. "Jawab dulu, Ru. Suka gue juga nggak?" Magen masih setia menanyakan itu kembali.
"Nggak."
"Nggak salah, ya?"
"Terserah lo!"
Terkadang, membuat Maru memanyunkan bibirnya seperti itu malah membuat Magen semakin menyukainya.
***
Sepanjang liburan semester ini Maru belum merencanakan sesuatu. Mau liburan ke mana ataupun sekadar kumpul bersama. Karena Ayahnya masih berada di Lombok jadi Maru belum bisa mendiskusikan dengan Ayahnya. Bahkan untuk sekadar menelepon pun Ayahnya tidak memiliki waktu. Memang, menjadi wartawan sesibuk itu. Maru hanya bisa menahan rasa rindu sekarang. Ancaman Mestha beberapa hari yang lalu masih mengiang di pikirannya. Belum ada satu orang pun yang tahu kecuali dirinya. Dalam menyelesaikan permasalahan, Maru memang tidak suka terburu-buru mengambil keputusan. Apalagi ini menyangkut nyawa Mamanya. Dia tidak bisa salah mengambil keputusan. Mestha cukup pintar bermain saat ini. Jika sampai Maru salah bertindak yang ada semuanya selesai.
Ketika waktu mendekati tengah malam, Mestha keluar club bersama seorang laki-laki muda. Kira-kira hampir seumuran dengan Maru. Wajahnya saja masih sangat muda. Tampangnya lumayan. Sejenak Maru terdiam. Apa yang akan Mama tirinya itu lakukan bersama laki-laki muda tadi? Entah mengapa banyak pikiran buruk yang bergelayut di pikirannya. Tanpa menunggu lama-lama, Maru yang sedikit mengantuk itu pun masih setia mengikuti Mestha hingga menuju hotel. Iya, salah satu hotel bintang lima yang ada di Jakarta. Keduanya memasuki hotel itu. Namun, Maru memilih pulang. Karena dia sudah tahu bagaimana kelakuan Mama tirinya itu. Yang disayangkan Maru sekarang hanyalah satu. Dia lupa untuk merekam ataupun memotretnya tadi. Padahal itu bisa dia jadikan sebagai bukti.
Tok... tok... tok...
"Siapa sih siang-siang begini bertamu?" tanya Maru entah pada siapa. Sekarang yang ada di rumah hanya Maru seorang. Maka dari itu, dia lantas beranjak dari kamarnya untuk membuka pintu. Dengan malas, dia berjalan menyusuri anak tangga. Rumah besar ini memang selalu sepi bagaikan tak ada penghuninya. Jarang sekali terdengar suara canda tawa dari rumah ini. Tak heran jika para tetangga menganggapnya seperti rumah tak berpenghuni. Orang yang punya rumah saja tidak pernah menyapa tetangga.
Saat pintu terbuka, Maru langsung mengembangkan senyumnya lantas memeluk Ayahnya itu. "Ayah, Maru kangen banget sama Ayah. Kenapa lama banget di Lombok? Sampai-sampai liburan udah tiba dan kita belum punya jadwal sama sekali," adunya langsung.
Ayahnya lantas terkekeh. Dia mengelus rambut hitam milik anaknya itu. "Maafin Ayah, ya, Nak. Kerjaan Ayah di sana memang menumpuk. Sampai Ayah nggak bisa ngehubungin kamu. Tapi kamu jangan khawatir, Ayah udah memutuskan kalau kita liburan di Bali bareng Mama dan Magen."
"Apa? Nggak berdua aja sama Ayah? Biasanya kan cuma berdua, Yah," tanyanya tak percaya.
"Ayah kan sudah berkeluarga lagi, Nak. Jadi ya kita liburannya sekeluarga. Masa cuma Ayah sama kamu doang."
Maru mengerucutkan bibirnya. Masih tidak suka dengan apa yang Ayahnya katakan. Memang harus ya berliburan itu full sekeluarga? "Magen sama Mamanya kan bisa liburan sendiri. Nggak perlu bareng kita, Yah. Tinggal kasih uang aja semuanya beres kan?" Maru mengesah panjang.
"Bukan masalah uangnya, Sayang. Tapi masalah kebersamaannya."
Maru melepas pelukannya. "Ya udah, kalau Ayah masih mau liburan bareng Tante nggak apa-apa. Tapi aku nggak ikut. Aku bisa kok liburan sendiri tanpa Ayah." Seketika dia pergi meninggalkan Ayahnya. "Maru, dengerin Ayah dulu!"
Maru tak menghiraukan ucapan Ayahnya.
"Apa-apaan sih Ayah! Mentang-mentang udah punya istri baru lupa sama anaknya." Maru menggerutu di dalam kamar.
Tak lama kemudian, terdengar suara orang mengetuk pintu kamar Maru. "Masuk aja," ucapnya.
Mestha masuk ke kamar Maru. Menghampiri gadis itu sambil tersenyum licik. Kebiasaannya sekarang memang begitu. "Saya dengar kamu nggak mau saya dan Magen ikut liburan, ya? Kenapa?"
Maru melotot seketika. "Sejak kapan anda pulang?"
"Memangnya saya pergi? Hahaha, kamu lucu, ya? Mana mungkin saya tenang ninggalin kamu begitu saja di rumah. Apalagi kamu udah berani nguntit saya semalam," ucapnya sambil tersenyum. Saat ini kemenangan memang berada di tangan Mestha. "Nggak usah kaget begitu dong mukanya. Saya nggak suka." Tambahnya lagi.
Ingin sekali Maru menendang wajah wanita di depannya ini. Akan tetapi, tidak bisa. Satu tindakan saja bisa membuat Mestha melakukan hal yang berbahaya. "Mau apa anda ke sini?"
"Kamu tuh, ya! Jawab dulu pertanyaan saya. Baru kamu boleh bertanya. Kamu itu sekolah, tapi gitu aja nggak paham."
"Kalau saya nggak suka anda ikut liburan kenapa? Keberatan?"
"Tentu saja, Sayang."
Maru diam menatapnya tidak suka.
"Semua tergantung kamu, sih. Selama kamu biarin saya dan Magen ikut, nyawa Mama kamu fine-fine aja." Matanya mulai menajam. "Oh iya, nanti malam Ayah kamu ngajak makan malam. Saya harap kamu ngerti apa maksud saya."
"Parasit!"
"Apa kamu bilang?"
"Nggak denger, ya? Tuli apa gimana?"
"Jangan macam-macam dengan saya! Nyawa Mama kamu taruhannya!"
Kalau bukan karena Mama, udah gue injek-injek ini manusia. Batinnya tidak terima. Dia tidak mengatakan apapun setelah itu. Percuma jika ingin membantah. Karena Mestha akan selalu mengingatkan nyawa Mamanya. Di sisi lain, Mestha senang dengan terdiamnya Maru. Tanpa menunggu gadis di depannya itu berkata lagi, dia buru-buru keluar dari kamar Maru.
Sesuai dengan apa yang telah Mestha katakan tadi siang, malam ini semua anggota keluarga Muzan sudah bersiap-siap. Termasuk Maru juga. Niatnya memang tidak akan ikut makan malam ini. Tetapi karena ancaman dari Mestha dia terpaksa mengikutinya. Walaupun hanya sekadar makan malam, tetapi dia malas untuk melihat wajah Mestha lagi. Seorang wanita bermuka dua dengan seribu cara busuk yang terselip di dalam dirinya.
Mestha keluar kamar dengan menggunakan dress warna merah yang dipadukan dengan hight heals berwarna hitam. Tak lupa, wanita itu juga menggunakan lipstick merah merona. Rambutnya dia sanggul kecil. Di pergelangan tangannya terdapat berbagai macam bentuk gelang emas. Kedua tangannya itu memakai gelang. Dandanan Mestha kali ini sungguh glamour. Padahal hanya untuk makan malam saja bukan untuk berpesta.
Muzan dan Magen hanya menggunakan kemeja putih bergaris. Dua laki-laki itu memakai pakaian yang sama karena Muzan telah membelinya dari Lombok. Dia juga membelikan Maru dress berwarna hijau. Sesuai dengan warna kesukaan anaknya itu. Dan untuk istrinya dia membelikan apa yang sekarang Mestha pakai. Namun, dia juga tidak menyangka jika Mestha akan berpenampilan semewah itu. Tapi, Muzan juga senang. Karena Mestha memakai dress yang telah dia belikan.
Kini, semuanya berada di ruang tamu. Menunggu Maru yang belum juga keluar dari kamar. Entah apa yang Maru lakukan di sana. Tidak mungkin sekadar memakai dress saja selama ini. Terkecuali jika Maru berdandan. Itu mungkin terjadi. "Biar aku aja yang panggil Maru," ucap Magen seraya berdiri. Akan tetapi, belum sempat dia melangkah Maru sudah turun dari anak tangga tanpa memakai dress yang Ayahnya beli.
Gadis berambut hitam panjang itu hanya memakai rok pendek berwarna hitam yang dipadukan dengan kemeja kotak-kotak warna hijau. Dia tidak memasukkan ataupun mengeluarkan kemeja panjangnya itu. Melainkan ujung kemejanya dia ikat dibagian tengah berbentuk seperti pita. Di bagian kaki, gadis itu hanya memakai sneakers. Rambutnya pun dia gerai. Di bagian wajah terlihat lebih alami karena tanpa olesan make up sedikit pun. Dia hanya memakai lip balm di bibirnya. Dan yang terakhir dia memakai tas kecil.
"Kenapa kamu berpakaian seperti itu, Nak?" tanya Ayahnya keheranan. Dua wanita yang ada di rumahnya sangat aneh. Yang satu berpakaian seperti ingin ke pesta. Dan yang satunya lagi seperti nongkrong.
Maru melangkah mendekati mereka. "Kenapa memang? Nggak boleh? Kita kan cuma mau makan. Bukan mau ke kondangan," ujarnya sambil melirik Mestha yang berpakaian aneh, menurutnya. Tak hanya itu saja, Mestha juga ikut melirik tajam anak tirinya itu. Sampai-sampai ia geram sendiri melihat tingkahnya yang sok berani. "Ya sudah, kita berangkat saja sekarang. Ayo!" Mestha menghentikan aksi lirikannya itu.
Sementara Maru, kini tersenyum.