
"Pohon kelapa memang memiliki banyak manfaat, tetapi jika sudah dimanfaatkan semua dia akan mati. Berbeda dengan aku, mau kamu manfaatkan berulang kali pun aku tidak akan mati." -Magenta Arkas Prakarsa.
Hari ini adalah hari yang cukup melelahkan bagi Maru. Hampir semua mata pelajarannya kali ini mengadakan ulangan harian dadakan. Apalagi Maru adalah tipe orang yang belajar hanya saat menghadapi ulangan atau ujian saja. Jika tidak seperti ya cukup mengerjakan tugas rumahnya. Dia tidak pernah belajar setiap hari seperti Morin. Selain malas, semua yang dipelajarinya tidak pernah masuk.
Saat ini Maru sedang menunggu Magen di gerbang sekolah. Karena mulai kemarin-kemarin, dia dan Magen memang disuruh Ayahnya untuk berangkat pulang sekolah bersama. Jika bukan karena Ayahnya, Maru tidak akan mau semobil dengan Magen. Meskipun sampai sekarang Magen belum melakukan kesalahan terhadapnya, entah mengapa ada perasaan tidak suka dengan Magen. Setiap bersama dengannya, hawa kesalnya itu tumbuh dengan sendirinya.
Maru mengecek jam tangannya yang menunjukkan pukul 16.00 WIB. Maru mendengus. "Niat pulang bareng nggak, sih? Harus berapa lama lagi gue nunggunya? Heran, deh. Kalau nggak karena Ayah yang minta, gue ogah pulang bareng dia."
"Yakin ogah pulang bareng gue?"
Maru menoleh ke sumber suara. Ternyata Magen sudah ada di sampingnya entah sejak kapan. Maru menatapnya masam. "Yakinlah."
"Ya udah, kalau gitu gue pulang dulu, ya?" pamitnya begitu saja.
Tangan Maru menarik lengan tangan Magen hingga cowok itu membalikkan badannya menghadap Maru. "Kok gue ditinggal, sih? Lo nggak sadar kalau daritadi gue nungguin lo di sini?" Maru mengucapkan kalimat itu langsung tanpa disaring. Seketika dia langsung menutup mulutnya. Dia yakin jika Magen pasti akan salah mengartikan ucapannya. Secara Magen itu orang yang suka melebih-lebihkan ucapan. Mendengar ucapan Maru tadi, Magen terkekeh. "Oh, jadi lo nungguin gue?" tanyanya sengaja. Padahal dia sendiri sudah tahu apa jawabannya.
"Nggak!" Maru mengelak langsung. Mana mungkin dia menjawab iya. Nanti yang ada Magen akan kegeeran dengan maksud perkataannya tadi. Magen tertawa. Dia mengangkat dagu Maru sehingga gadis itu mau tidak mau harus menatap mata Magen. "Lo kalau lagi bohong makin cantik ya, Dek?"
Maru melepaskan tangan Magen dari dagunya segera. "Nggak usah muji-muji nyindir deh lo!"
"Ya udah, lo pulang naik taksi aja, ya? Gue udah pesan online," katanya.
"Lo nggak pulang bareng gue?" ceplosnya. Sontak saja Maru langsung meralat ucapannya barusan. "Eh, nggak, maksudnya..., lo nggak pulang sekarang?"
Magen mengacak rambut Maru sambil tersenyum. Satu tangannya dimasukkan ke dalam saku celananya. "Ban mobil kempes. Jadi gue harus benerin dulu. Lo pulang duluan aja. Kalau ikut nunggu nanti kelamaan," jawabnya. Maru mengangguk paham dan hanya ber-oh-ria.
Sekian detik berlalu, akhirnya taksi yang dipesan Magen datang juga. "Tuh, masuk sana." Magen mendorong pelan tubuh Maru, ia juga membukakan pintu taksi itu untuk Maru. "Silahkan masuk Tuan Putri," ucapnya menggoda.
Maru mencubit pinggang Magen. "Apaan sih lo. Jangan bikin gue malu emang nggak bisa?"
"Oooh lo malu gue giniin, Dek?"
"Kepedean lo jadi orang!" balas Maru sewot.
"Kan tadi lo yang ngomong sendiri, gimana, sih?"
Maru memanyunkan bibirnya. "Ya nggak gimana-mana."
Melihat Maru yang salah tingkah, Magen malah ingin tertawa lebar-lebar. Tetapi niat itu dia urungkan karena dia tidak ingin mendapat cubitan dari Maru. "Nggak usah manyun gitu, dong. Nanti lo makin cantik, Dek. Udah cantik malah makin cantik," ucapnya menggoda sementara Maru hanya memilih diam tidak menjawab ucapan Magen.
Magen beralih ke Pak supir. "Bawa mobilnya pelan-pelan aja ya, Pak."
"Siap, Mas!" Pak supir bersiaga seketika seperti seorang jenderal.
Setelah taksi itu berlalu, Magen memilih kembali menuju ke parkiran. Dia melihat keadaan sekolahnya kali ini sudah sepi. Hanya ada beberapa anak OSIS yang masih sibuk sendiri dengan tugas yang berjibun datang setiap harinya. Magen mengeluarkan kunci mobil dan segera masuk ke dalam mobil untuk menunggu montirnya datang.
"Lo kalau lagi kesal cantik, Ru," gumamnya tanpa disadarinya sambil membayangkan raut wajah Maru ketika dia menggodanya.
***
Hampir lima puluh lima menit ditempuh Maru untuk sampai ke rumahnya dengan menggunakan taksi yang dipesan oleh Magen. Sebenarnya, jarak dari rumah ke sekolah tidak terlalu jauh. Biasanya dapat ditempuh dengan waktu tiga puluh menit saja. Karena tadi jalanan macet, jadi Maru harus menunggu kepadatan itu berakhir hingga hampir satu jam dia berada di dalam mobil. Gadis itu turun dari taksi, dia langsung membuka gerbang rumahnya. Seketika dia terkejut melihat Mama tirinya sudah berpakain rapi bak ingin ke pesta sambil membawa sebuah koper besar yang entah apa itu isinya tidak ada yang tahu.
Dengan penuh penasaran, Maru langsung menghampiri Mamanya itu. "Tante mau ke mana? Tumben rapi. Oh iya, kok bawa koper segala?" tanya Maru sambil menunjuk sebuah koper yang berada di samping Mama tirinya.
"Ah, nggak. Mama cuma mau datang ke acara peresmian kantor baru teman Mama. Makanya Mama pakaiannya rapi," jawab Mama tirinya berbohong. Maru dapat melihat jelas kebohongannya itu di mata Mamanya. "Mau ke acara peresmian pakai bawa koper segala, ya?"
Mama tirinya itu menggeleng. "Y-ya nggak dong. E..., itu, ngg, punya teman Mama. Ah iya, punya teman Mama yang ketinggalan dulu waktu nginep di rumah Mama. Sekalian aja nanti Mama balikin," jawaban Mama tirinya ini membuat Maru merasa ada yang aneh. Seperti ada sesuatu yang tidak beres dengan Mama tirinya. Maru tiba-tiba curiga bahwa Mama tirinya ini bukan mau ke acara peresmian kantor melainkan ke acara arisan. Secara Mama tirinya memakai banyak perhiasan di tubuhnya.
Ayah Maru memang melarang Mama tirinya ini untuk ikut arisan. Maka dari itu, sekarang Maru mulai curiga.
Maru mengangguk saja berpura-pura untuk percaya.
"Lho, Magen mana, Sayang? Kok kamu sendirian pulangnya?" tanya Mama tirinya itu sambil memandang Maru bersahabat. "Itu, lagi benerin ban mobil yang kempes di sekolah. Aku disuruh pulang duluan," jawabnya.
Mama tirinya hanya mengangguk, "oh."
"Maru boleh nitip sesuatu nggak, Tan?" ----sampai saat ini Maru memang belum bisa memanggil Mestha dengan sebutan Mama. Rasanya dia belum siap. Makanya, saat ada Ayahnya, Maru memanggil Mestha dengan sebutan Mama. Tetapi jika tidak ada Ayahnya dia akan memanggilnya dengan sebutan Tante seperti sekarang ini.
"Mau nitip apa, Sayang?" jujur saja, saat Mestha bersikap perhatian seperti ini Maru merasa kurang suka. Namun, Maru segera mengalihkan rasa tidak sukanya itu. "Pohon kelapa yang masih kecil, Tan."
"Ya ampun! Kamu itu kok sukanya pohon kelapa, sih? Emang nggak ada yang lebih bagus sedikit? Pohon cemara kek contohnya," Mestha mengomel.
Maru berdecak pinggang. "Memang kenapa? Pohon kelapa itu bagus sebagusnya pohon kok. Semua bagiannya bermanfaat bagi manusia. Tante nggak suka ya kalau aku mau nitip bibit pohon kelapa?"
Sejak kecil Maru selalu diajak Mamanya menanam pohon kelapa di lading belakang rumah. Di samping itu, Mamanya menjelaskan akan beribu manfaat pohon kelapa. Semua bagiannya dapat dimanfaatkan manusia. Tidak hanya itu, rasa dari buahnya pun juga enak. Selain digunakan sebagai minuman, buah kelapa bisa dijadikan sebagai bahan dalam memasak. Mulai dari sanalah, Maru sangat menyukai pohon kelapa. Baginya, pohon kelapa itu adalah obat rindu dengan Mamanya. Karena sekarang, dia tidak bisa tinggal lagi dengan Mamanya. Jika Maru sampai ketahuan tinggal bersama Mama kandungnya, maka Ayahnya akan mengirim Maru ke Belanda bersama Kakek dan Neneknya.
"Nggak, bukan begitu, Sayang. Ya udah, nanti Mama belikan." Akhirnya Mestha mengalah. Saat ini dia masih harus menjaga emosinya supaya tidak meluap-luap. Karena bahagianya Maru masih berguna untuknya.
"Oke," balasnya pendek.
"Kalau gitu Mama berangkat dulu, ya?"
Mestha mencium kening Maru dan memeluknya. Kemudian dia masuk ke mobil. Perlahan-lahan, mobil itu mulai melaju meninggalkan jejak penasaran. Maru menghela napasnya gusar, dia masih ingin tahu apa yang akan dilakukan oleh Mama tirinya itu. Akhirnya, Maru memutuskan untuk mengikuti Mama tirinya daripada mati konyol penasaran. Dia segera pergi dari rumah untuk mencari taksi.
Beruntungnya, Maru langsung mendapat taksi begitu saja. Dia membuntuti Mama tirinya yang belum jauh. "Tante mau ke mana, sih? Aneh banget," gumamnya di dalam mobil sambil melihat mobil Mama tirinya.
Di sisi lain, Mestha merasa ada yang mengikutinya. Dia menoleh ke belakang, melihat ada sebuah taksi yang berjalan terus di belakangnya. Padahal mobil yang ditumpanginya sudah melaju dengan sangat pelan, tetapi kenapa taksi yang ada di belakang tidak juga mendahuluinya?
"Pak, berhenti dulu." Mestha menyuruh sopirnya untuk menghentikan mobilnya. "Baik, Nyonya," balas Pak supir.
***
"Gimana, Mbak? Kita ikut berhenti apa jalan terus?" tanya Pak taksi kepada Maru.
Maru membatin. Tante ada-ada aja, sih, pake berenti segala!
"Mbak?"
"Oh iya, iya, Pak. Kita lanjut aja," putus Maru langsung. Jika dia ikut berhenti, maka Mama tirinya itu akan curiga. "Baik, Mbak."
***
Mestha menunggu taksi di belakangnya itu mendahului mobilnya. Dia sudah menyiapkan matanya untuk melihat siapa yang membuntuti dirinya sejak tadi. Ketika taksi itu sudah mendahuluinya, Mestha melihat gelang merah gambar pohon kelapa di jendela taksi itu. Wajahnya memang tidak kelihatan, akan tetapi gelang itu sudah menandakan bahwa yang membuntutinya adalah Maru anak tirinya.
Dia segera menelepon Magen. Tidak butuh waktu lama akhirnya telepon itu tersambung. "Halo, Ma," sapa Magen.
"Kamu sekarang ada di mana, Gen?" tanyanya.
"Di sekolah. Emang Maru nggak bilang sama Mama?"
Mestha menghela napas. "Tinggalin mobil kamu sekarang. Ada hal yang lebih penting, Gen. Maru ngikutin Mama dari tadi. Kamu harus nyusul Mama buat nyegah dia!"
Magen menjawab. "Nyusul ke mana?"
"Ke kafe Sendy Buana," balas Mestha. "Oke, oke. Aku ke sana sekarang, Ma."
"Jangan lama-lama," peringat Mestha kepada Magen. Sedangkan Magen hanya mengiakan saja lalu mematikan sambungan teleponnya. Lalu, Mestha menyuruh sopirnya untuk melajukan mobilnya lagi dan mendahului taksi Maru.
***
SENDY BUANA CAFFE
Tulisan tebal itu membuat Maru membelakkan mata berkali-kali. Kata Mama tirinya tadi mau ke acara peresmian. Lalu sekarang malah ke kafe. Maru menggelengkan kepalanya beberapa kali. Dia turun dari taksi dan mulai masuk ke dalam. "Tante ngapain sih ke sini? Pakai bohongin gue segala lagi," gerutunya. "Awas aja kalau dia sampai macem-macem!"
Saat akan masuk ke dalam, Maru dikejutkan oleh Magen yang menarik lengan tangan kanannya. "Hai, cantik," ujar Magen sambil tersenyum.
"Lo?"
"Iya, gue kenapa?" tanya Magen kembali. Maru mengedipkan matanya berulang kali. Dia baru sadar bahwa tangannya dipegang oleh Magen. Dengan sigap dia menepis lengan Magen. "Iiihh lo apa-apaan, sih?! Nyari-nyari kesempatan aja! Lo ngapain di sini? Katanya benerin ban mobil yang kempes, kok malah ada di kafe."
Magen terkekeh. "Nggak, tadi gue laper. Makanya mampir ke sini. Lo sendiri ngapain ke sini? Belum ganti seragam udah kelayapan." Mendengar perkataan Magen, dia langsung melihat dirinya sendiri di cermin besar yang ada di kafe ini. Dia baru menyadari bahwa sejak tadi dia belum berganti pakaian. "G-gue nggak ngapa-ngapain. Gue ke sini itu mau makan," ucap Maru.
"Makan?" Magen bertanya lagi. "Emang di rumah nggak ada makanan?"
Maru menggigit bibir bawahnya. Dia memang tidak pandai berbohong. Buktinya saja, belum apa-apa sudah seperti ketahuan berbohong. "Ya ada. Tapi kan gue lagi pengen makan di kafe, emang nggak boleh?" Maru balik bertanya.
Sementara Magen malah mengangkat satu alisnya ke atas. "Makan itu di restoran, bukan di kafe, Dek." Dia membenarkan.
"Ya sama aja dong. Yang penting kan ada makanannya. Lah, tadi bukannya lo juga bilang mau makan ya? Kenapa nggak di restoran aja?"
Cowok itu terdiam, membeku selama beberapa detik lantas tertawa geli. "Sama lah, gue pengennya juga di kafe."
"Dih!" balas Maru kesal sendiri. Niat awal untuk mengikuti Mama tirinya hampir saja lupa karena Magen. Dia menarik tubuh Maru mendekat kepadanya. "Mumpung kita sama-sama mau makan, barengan aja, yuk?"
Tidak ada pilihan, akhirnya Maru mengiakan saja ajakan Magen. Mereka memilih tempat yang lumayan dekat dengan Mestha. Mata Maru tertuju kepada Mama tirinya itu yang sedang berkumpul dengan teman-temannya.
Seperkian detik berlalu, Mestha bangkit dari tempat duduknya itu. Melakukan kiss bye untuk para teman-temannya sebelum akhirnya dia menghampiri Maru dan Magen yang sedang duduk berhadapan.
"Eh, kalian ada di sini juga? Kenapa nggak ngajak Mama tadi?" tanya Mestha berpura-pura tidak tahu apapun. Maru hanya tersenyum, sangat terpaksa tetapi.
Magen menyalami Mestha. "Kebetulan banget Mama di sini. Mau gabung nggak, Ma?"
"Nggak usah. Mama udah makan tadi sama teman-teman Mama. Ya sudah, kalau gitu Mama ke acara peresmian kantor teman Mama dulu, ya? Have fun kalian," pamitnya langsung.
"Hati-hati, Ma," ucap Magen.
"Iya, Sayang. Kamu juga," jawabnya.
Sesampainya di depan, Mestha mengelus-elus dadanya. "Hampir aja, untung Magen datang lebih awal dari aku."
_____