
"Orang yang menggali lubang untuk orang lain, biasanya malah akan terjatuh di lubangnya sendiri." -Marutere Althea.
Perjuangan Magen tidak sia-sia. Setelah melewati berbagai macam fase, akhirnya dia diterima kuliah di Fakultas Kedokteran melalui jalur beasiswa. Semasa SMA-nya dulu, dia sering menghabiskan waktunya untuk meminta di les oleh temannya yang paling pintar. Sampai dia harus pulang tengah malam. Pagi sampai malam adalah waktu yang dia gunakan untuk belajar. Hingga rasa sukanya terhadap Maru terkendala oleh berbagai soal-soal yang harus dia pelajari. Dulu, Magen sempat memutuskan bahwa setelah dia diterima kuliah berbeasiswa, dia akan kembali mengejar cintanya terhadap Maru.
Siang ini, Magen sedang tidak ada jam. Jadi dia memutuskan untuk mencari buku di perpustakaan. Saat ini, dia belum memiliki teman yang menurutnya cocok. Maka dari itu, beberapa minggu berlalu tetapi dia belum juga memiliki teman. Sebenarnya banyak sekali orang yang ingin berteman dengan Magen. Dan hampir banyak memang berjenis perempuan. Tetapi, Magen belum merasa ada yang cocok satupun. Dia adalah tipe orang yang pilih-pilih dalam bergaul. Tidak setiap orang yang baik dengannya mau dia ajak berteman.
Tujuan dari pilih-pilih teman itu supaya dia tidak salah bergaul. Sejak kecil sampai sekarang, Magen selalu mendapat peringatan dari Mamanya untuk tidak berteman dengan siapa saja. Karena didikan Mamanya itulah, Magen jarang sekali membawa teman ke rumah. Takut jika nanti dia salah memilih dan Mamanya akan marah. Magen itu penurut. Apapun yang Mamanya minta selalu dia lakukan. Walau kadang dia malas untuk melakukannya, dia tetap memaksa dirinya sendiri untuk tetap melakukan apa yang Mamanya minta. Mau itu baik atau tidak, selama Mamanya yang menyuruh dia tidak akan memikirkan hal itu. Yang dia pikirkan adalah menyenangkan hati Mamanya.
Baru saja Magen hendak melangkah, ponselnya bergetar. Dia mengeluarkan benda pipih hitam itu lalu ditempelkan di telinga kanannya. "Halo. Tumben telepon," ucapnya bergurau.
"Gen! Tante!" terdengar suara teriakan nyaring dari ujung sana. Magen paham jika tante yang Maru maksud adalah Mamanya. Bahkan, Maru juga belum ingin memanggilnya dengan embel-embel 'Kak'. Namun, Magen mengerti jika Maru belum bisa menerima pernikahan Ayahnya dengan Mamanya Magen. Mungkin karena Maru masih memiliki Mama kandung. Jadi dia belum bisa menerima seorang Mama tiri.
"Mama kenapa?" tanya Magen was-was. Suara Maru terdengar ketakutan. "Tante jatuh dari tangga! Lo cepat pulang, ya! Gue nggak kuat ngangkat Tante. Berat!"
Seketika Magen langsung mematikan sambungan telepon itu. Mamanya jatuh dari tangga. Kenapa bisa?
Magen memasukkan ponselnya ke saku celananya. Lantas berbalik arah. Dia berlari sekencang mungkin. Khawatir. Tanpa melihat ke depan, Magen menabrak seseorang hingga oranf itu hampir saja terjatuh jika Magen tidak memegang erat pinggangnya. "Nama lo siapa?" tanya Magen nyaring.
"M-mozhadiella," jawab gadis itu gugup.
Magen mengangguk. Dia lantas meninggalkan gadis itu tanpa meminta maaf. "Woii!! Bukannya minta maaf malah nanya nama! Heran," Mozha mendecak sebal. "Awas aja kalau ketemu lagi! Gue injek-injek itu muka! Biar nggak ganteng lagi!" Lanjutnya sambil menginjak-injakkan kaki di tanah.
***
Magen mengemudikan mobilnya seperti setan. Tak tanggung-tanggung dia memacu kecepatannya melebihi kecepatan normal. Saat ini dia sangat khawatir dengan Mamanya. Hanya Mestha yang kini dia punya. Dia tidak ingin Mestha kenapa-napa. Walau terkadang Mestha itu membuatnya kesal sendiri, tetapi dia sangat menyayangi Mamanya itu. Jangankan jatuh dari tangga, demam saja sudah membuat Magen khawatir.
Sesampainya di pekarangan rumah, Magen langsung berlari menuju ke dalam. Dia mengangkat Mamanya yang tergeletak di lantai. Sementara Maru mengikuti Magen dari belakang. Dia juga ikut menuju ke rumah sakit. Magen tidak memperdulikan jika Maru ikut atau tidak. Bahkan Magen belum sempat menyapanya. Di pikirannya masih terdapat Mamanya. Ah, sebenarnya ini terlalu berlebihan. Akan tetapi, Magen memang tidak bisa untuk bersikap biasa saja.
Setibanya di rumah sakit, Mestha langsung di tangani dokter. Magen mondar-mandir menyapu lantai di depan ruangan di mana Mamanya di periksa sekarang. Wajahnya gelisah, membuat Maru pegal sekaligus terheran-heran. Maru belum pernah melihat Magen sekhawatir ini. Sampai Maru merasa lelah melihat cowok itu tak hentinya mondar-mandir tepat di depannya. Maru menarik baju Magen menyuruh Kakaknya itu duduk di sampingnya.
"Lo nggak usah sekhawatir itu kali. Tante nggak bakal kenapa-napa kok. Dia kan cuma jatuh doang," sebal Maru.
Magen menoleh, menatap Maru tajam. "Lo bilang cuma? Dia itu nyokap gue, Ru. Satu-satunya orang yang gue punya di dunia ini. Ya walaupun dia sekadar jatuh aja, tapi gue tetap khawatir." Penjelasan Magen ini mengingatkan Maru akan Mamanya. Sudah lama dia tidak berkunjung ke sana. Maru menghela napas, sebuah penjelasan yang luar biasa dari seorang Magen yang jarang sekali terlihat khawatir seperti ini. Tiba-tiba, Maru merasa bersalah. Meskipun dia tahu ini semua bukan salahnya. "Ehm..., Gen. Gue----"
"Kenapa Mama bisa jatuh?" tanyanya memotong ucapan Maru. "Lo dorong apa gimana?" tambahnya.
Maru menarik napasnya lalu dihembuskan perlahan. Matanya menatap mata Magen. "Lo nuduh gue?"
"Nggak. Gue cuma nanya."
"Kalau gue ceritain yang sebenarnya apa lo mau percaya?"
"Mungkin."
Maru tertawa pelan. "Mungkin artinya ragu. Dan ragu artinya nggak percaya."
"Bisa aja gue percaya kalau lo cerita."
"Oke, gue ceritain. Jadi gini...."
Pukul sepuluh pagi semua murid SMA Galaska dipulangkan karena guru-guru ada rapat dadakan. Seantero sekolah bersorak gembira. Jarang-jarang mereka pulang lebih awal seperti ini. Apalagi ini baru saja masuk dua hari. Kemarin hanya pembagian kelas saja. Tetapi pulangnya tetap sore hari. Banyak waktu yang terbuang sia-sia. Tapi sebagian murid seperti Megi dan sekawanannya itu malah merasa senang. Waktu kosongnya itu mereka manfaatkan untuk mencari wifi gratis. Di SMA Galaska banyak sekali sambungan wifi. Tetapi semuanya selalu berubah-ubah password-nya. Entah seminggu dua kali ataupun seminggu tiga kali.
Hari ini, Maru diantar pulang oleh Megi. Awalnya Maru ingin diantar oleh Mate. Tetapi laki-laki itu menolak karena Meta. Selalu saja Meta dijadikan sebagai alasan. Hingga Maru merasa jengah sendiri. Dia bahkan ditinggalkan Mate di gerbang sekolah sendirian. Tanpa mencarikan taksi atau angkutan umum untuknya. Sudah beberapa kali di kode, namun Mate masih tidak peka. Entah pura-pura tidak peka atau memang aslinya begitu.
"Meg, hati-hati, ya!" Maru tersenyum kepada Megi. Sesekali mata mereka bertatapan.
"Iya. Jangan lupa makan, Ru. Kasihan, perut lo udah nyanyi dari tadi."
Maru terkejut. Ternyata Megi mendengar suara gemuruh perut Maru yang sudah kelaparan tingkat dewa. "Iya," balasnya malu.
"Nggak bilang makasih?" tanya Megi.
"Oh, iya, lupa. Makasih ya!"
"Buat apa?"
"Buat semuanya. Udah, sana pulang!"
"Iya, iya, bawel."
Setelah Megi pulang, Maru masuk ke dalam rumahnya. Matanya membulat lebar mengetahui Mestha sedang menumpahkan pembersih lantai itu di tangga.
Maru menghampiri Mestha, memiringkan kepalanya. "Tante ngapain, sih? Kalau nggak bisa ngepel ya udah nggak usah. Nanti kalau ada yang jatuh gimana?"
"Kamu, anak kecil banyak protes! Saya bisa kok. Pergi sana jauh-jauh!" Mestha mengusir Maru yang baru saja datang. Dia tidak berniat untuk mengepel. Itu hanyalah akalan belaka. Yang dia ingin lakukan adalah membuat tangga itu menjadi licin supaya Maru terjatuh saat menaiki tangga itu.
Maru mencibir. "Dih! Ngegas."
Dia lantas pergi menuju ke dapur. Perutnya sudah bersenandung sejak tadi pagi. Sebelum berangkat sekolah dia belum sempat sarapan. Hingga di sekolah pun dia juga tidak sempat karena Magis terus mengganggunya. Karena Mesky yang beginilah begitulah. Curhatan Magis itu tiada hentinya sampai jam pulang sekolah. Padahal mereka sudah berada dalam satu kelas. Seharusnya jika bertengkar akan lebih mudah untuk berdamai. Mereka sering bertemu. Dengan otomatis masalah akan cepat selesai. Namanya juga Magis. Jika tidak menyusahkan orang lain hidupnya terasa hampa.
Langkah demi langkah berlalu. Maru sudah tiba di dapur.
Ketika Maru hendak membuka kulkas, tiba-tiba dia mendengar suara teriakan dari ruang tamu. Dia tidak jadi membuka kulkas. Rasa laparnya dia pending sebentar.
"Astagfirullah, Tante!" jeritnya sambil menutup bibir dengan kedua tangannya. Perlahan tangannya turun, lantas berdecak pinggang. "Baru aja gue bilangin, eh, kejadian beneran."
Tanpa berpikir panjang, Maru langsung menelepon Magen. Hanya itu yang bisa dia lakukan. Karena tidak mungkin jika dia menelepon Ayahnya yang masih sibuk dengan pekerjaannya.
"----jadi gitu ceritanya."
Maru menceritakan semuanya dengan jujur. Dia menghela napasnya lalu menepuk bahu Magen. "Gue nggak maksa lo buat percaya sama gue. Tapi seenggaknya gue udah cerita sama lo." Tambah Maru tersenyum.
"Mama gue jatuhnya dari tangga bagian mana? Atas, tengah, apa bawah?" Magen masih mengkhawatirkan Mamanya. Jarang sekali Maru melihat seorang anak laki-laki sekhawatir ini. Yang biasa Maru lihat adalah anak perempuan. Apalagi ini menyangkut orangtua. Biasanya anak laki-laki itu terkenal gengsi untuk membiarkan orang lain tahu jika dia sedang mengkhawatirkan orangtuanya.
Sontak saja Maru mengedikkan kedua bahunya. "Gue mana tahu. Kan gue di dapur. Ya pokoknya, waktu gue samperin nyokap lo udah tergeletak di lantai."
Magen mengangguk paham. Lalu menunduk.
Gelang jam Maru menunjukkan pukul duabelas siang. "Oh iya, udah jam duabelas, nih. Mau ikut gue sholat dulu, nggak? Biar lo tenang."
"Boleh."
***
Sehabis dari musholla, Maru mengajak paksa Magen menuju ke kantin rumah sakit. Perut Maru mulai keroncongan lagi. Tadi dia belum sempat untuk makan di dapur. Mumpung sekarang sedang bersama Magen, jadi sekalian Maru mengajaknya makan. Lagipula ini sudah waktunya makan siang. Saat Maru mengajaknya, Magen menolak mentah-mentah. Katanya belum lapar. Tetapi dengan keukeuh, Maru menarik lengan Magen hingga dia keringetan.
Magen mengusap keringat Maru dengan tangannya. "Lo nggak perlu susah-susah begini. Gue nggak laper. Kalau lo mau makan gue temani. Tapi jangan lama-lama."
"Nggak! Gue makan lo juga harus makan!"
"Maru, gue lagi nggak----"
"Bodoamat! Ayoo!!"
Pasrah. Magen tidak bisa membantah Maru. Menolak saja sudah susah. Dengan langkah lunglai dia mengekori Maru di belakang. Tangan Maru masih memegang tangannya. Jaga-jaga supaya Magen tidak melarikan diri. Mata Maru berkeliling mencari tempat duduk. Lalu dia menarik kembali Magen untuk berjalan di belakangnya. Maru menyuruh Magen duduk. "Lo jangan ke mana-mana. Awas aja kalau lo kabur!" Maru memberitahu, lebih tepatnya memperingati.
Terlihat, Maru menerobos antrian. Badannya yang kecil itu mampu dengan mudah untuk melewati kerumuman. Banyak orang yang mencibirnya karena tidak mau antre. Awalnya dia tidak ingin menerobos antrian itu. Tetapi, karena Magen masih khawatir dengan Mamanya, dia takut jika Magen pergi. Antriannya lumayan panjang. Jika tidak menerobos akan memakan waktu yang lama.
"Buuu, nasi uduknya dua porsi, yaaa!"
"Yang satu dikasih sambal pecel!"
"Yang pedas yaaa, Buu!"
"Es tehnya duaaa!
Teriak Maru hingga Magen bisa mendengarnya. Gadis itu ternyata memiliki suara yang sangat nyaring. Beruntung saja, Maru jarang berteriak seperti itu. Tak lama kemudian Maru datang menghampiri Magen dengan membawa dua piring nasi uduk.
"Minumannya nanti nyusul. Lo nggak keberatan, kan, makan nasi uduk?" tanya Maru penasaran. Dia lupa belum menanyakan apa yang Magen ingin makan. Pasalnya tadi dia sudah sangat lapar. Yang ada di pikirannya hanya makanan saja. "Nggak kok. Gue malah sering makan begini waktu SMA dulu," jawabnya ramah.
Maru terkekeh. Teringat kejadian yang dulu. Saat Magen dan dirinya sarapan berdua. Tapi yang ada, Magen malah menolak untuk makan. Melainkan menunggu dirinya selesai makan. "Pantes aja lo jarang makan di rumah. Jadi karena itu?"
"Iya," Magen tersenyum sekilas.
"Kok nggak di makan, sih? Mau gue suapin?" tawar Maru langsung ketika dia melihat Magen hanya memainkan sendoknya. Seketika Magen menggeleng. Menolak tawaran Maru.
Sedangkan Maru langsung mengambil nasi sesendok. Dia menyodorkannya ke Magen. Cowok itu hanya menatapnya. "Lo harus makan biar lo nggak ikut sakit. Nanti kalau lo sakit, siapa yang ngurusin Tante. Buruan aaaa."
Mendapat perhatian dari Maru, Magen senang. Dia lantas membuka mulutnya.
"Nah gitu dong! Udah, makan sendiri aja. Kayak anak kecil tahu, nggak. Harus dirayu dulu baru mau," celutuk Maru menyindir. Dia kembali melanjutkan makannya.
"Kenapa lo care sama gue?" Pertanyaan Magen membuat Maru tersentak.
"Karena kita sama."
"Sama apanya? Saudara?"
"Bukan."
"Lalu?"
"Sama-sama manusia."
Magen yang tadinya khawatir berubah jadi geram. Dia bertanya baik-baik tetapi Maru malah bercanda, membuatnya mendengus. Tetapi, Maru terkekeh sendiri dengan ucapannya. Kayaknya Magen nggak tahu apa-apa soal rencana Tante. Sikapnya aja baik. Beda banget sama Mamanya. Ya udahlah. Gue bedain aja dia sama Mamanya. Selama dia nggak macem-macem. Gue rasa dia memang nggak tahu apa-apa. Maru membatin sambil menarik kedua bibirnya membentuk bulan sabit. Untuk menghibur orang yang sedang khawatir, dia juga harus tersenyum.
"Gue sayang sama lo," kata Magen, sengaja. Dia ingin tahu bagaimana respon Maru terhadapnya.
_________