
"Sudah jadi mantan tak ada salahnya berteman. Siapa tahu bisa balikan." -Marutere Althea.
Maru sedang senang hari ini. Sampai-sampai dia merekahkan senyumannya sejak tadi pagi. Kini, dia bisa bernapas lega setelah kegiatan UKK atau PAT itu sudah selesai sejak kemarin. Ternyata, ajaran Mate sangat membantu dia untuk mengerjakan soal Matematika. Walaupun tidak semuanya bisa, akan tetapi lumayan nilainya kali ini tidak akan jatuh seperti tahun lalu. Seperti biasa, setelah kegiatan ujian selesai akan diadakan kegiatan class meeting. Saat ini Maru sedang menyantaikan dirinya di dalam kelas dengan memainkan ponselnya. Dia tidak menyukai sesuatu yang ramai. Apalagi jika diajak untuk menonton lomba-lomba, dia lebih memilih menyendiri di dalam kelas. Beruntungnya, class meeting kali ini Maru sama sekali tidak ditunjuk untuk mengikuti lomba satupun. Mungkin karena teman-temannya sudah lelah dan frustasi untuk mengajaknya.
"Maru!! Sini!!" teriak Magis yang kini berada di depan papan tulis. Dia melambaikan tangannya kepada Maru dengan ekspresi penuh keterkejutan. Padahal jarak di depan papan tulis dengan keberadaan Maru saat ini tidak terlalu jauh. Jadi, tanpa berteriak pun Maru masih bisa mendengarnya. Telinganya juga normal. Dengan malas-malasan Maru beranjak dari tempat duduknya untuk menghampiri Magis. Yang butuh siapa yang menghampiri siapa. "Apa?" tanya Maru ketus.
Magis menarik napasnya panjang-panjang lalu ia hembuskan secara perlahan. Tangannya dia angkat ke atas lalu di turunkan kembali. Dia bahkan sampai loncat-loncat histeris setelah itu. Melihat Magis yang seperti itu Maru hanya bisa mendengus. "Mau cerita nggak nih? Kalau nggak, gue balik lagi ke belakang."
"Eeehhh bentar! Iya, iya, gue cerita. Jadi...," Magis menekankan kalimatnya sambil mendekat ke Maru. "Nanti lo bakal ditunjuk teman-teman buat mewakili lomba fashion show!!"
Maru melongo seketika.
Magis heboh sendiri. "Tahu nggak pasangan lo siapa?" tanyanya sambil menyeriangi Maru. Seolah apa yang akan dia katakan nanti adalah sebuah kabar yang besar. Karena Maru masih tidak menjawab maka dari itu Magis langsung mengatakannya. "Lo berpasangan sama Maltin Anggadian. Keren nggak, tuh? Dan lo nggak boleh nolak."
"Ya suka-suka gue dong kalau nolak. Itu hak gue. Lagipula gue udah punya pacar. Masa iya gue fashion show sama cowok lain," keluhnya. Andai saja Mate satu kelas dengannya. Mungkin dia akan merasa senang mengetahui kabar ini. Dia bisa mengganti Maltin dengan Mate.
Magis memainkan jari telunjuknya. "No, no. Lo nggak bisa nolak. Lo harus mau. Sekali-kali bikin Mate cemburu kenapa, sih? Jangan lo terus yang cemburu. Gantian, dong! Mumpung ada kesempatan nih. Lagian cuma fashion show doang. Bukan kencan. Jadi nggak apa-apa," Magis masih tetap kekeh. Maru merasa heran sendiri. Apa mungkin yang mengajukan Maru itu Magis? Jika iya, Maru akan membalasnya nanti.
"Bukan masalah itu. Gue nggak bisa fashion show. Gerakan gue kaku banget," ucapnya merendahkan diri. Padahal dulu waktu SMP, Maru pernah mewakili lomba fashion show hingga tingkat Nasional.
Magis merangkul Maru seraya berkata. "Nggak masalah. Gue bisa ajarin lo. Ini demi kelas kita. Gue nggak mau tahu pokoknya lo harus ikut!"
"Ya udah, terserah. Puas lo?" Maru pasrah. Lagipula, dia juga ingin melihat reaksi Mate ketika dia berpasangan dengan cowok lain di red carpet.
***
"Ogaaah gue nggak mau!" tolak Megi mentah-mentah. Baru saja dirinya tiba di ambang pintu kelas semua temannya sudah menujuk dirinya dan Meta untuk mewakili lomba fashion show. Selain karena pasangannya Meta, si pengganggu, Megi juga malas untuk berpose seperti itu. Layaknya model. Megi sendiri sampai ingin menonjoki satu persatu teman sekelasnya ini. Sudah dengan senang hati selama ujian berlangsung dia membagikan jawaban secara percuma. Dan yang teman-temannya balas padanya malah seperti ini. Sungguh menyakitkan.
Padahal, selain Megi masih ada cowok yang lebih darinya. Mulai dari Mars contohnya. Meskipun dingin sikapnya, tetapi wajah dan bentuk tubuhnya sangat oke untuk mengikuti lomba fashion show. Selain Mars juga masih ada Mesky dan Maldi yang wajahnya juga lumayan. Itu menurut Megi. Tapi jika menurut kaum hawa, Megi dan segengnya tidak ada yang lumayan. Semuanya memikat. Mamat, ah iya. Sebenarnya Mamat saja yang ditunjuk untuk mewakili. Dia hobi berpose saat di foto. Dia juga sering membuat memori ponsel teman-temannya penuh dengan fotonya yang bermacam gaya. Ya, walaupun tidak semua gaya yang Mamat lakukan bisa dibilang normal. Setidaknya, Mamat ahli dalam berpose.
"Meg, mau dooonggg!!" teriak teman-temannya kompak seperti sedang melakukan paduan suara. Daripada dia merasa pusing, akhirnya Megi memilih untuk keluar kelas saja. Seharusnya tadi dia menjadikan kantin sebagai teman tujunya yang pertama. Bukan malah kelas yang akhirnya malah membuatnya kesal.
Marsha, si ketua kelas menarik lengan Megi saat Megi hampir saja melarikan diri. Gadis iti memegang lengan Megi kuat-kuat. "Mau, ya? Please!
"Males. Kenapa nggak lo sendiri aja?" Megi menunjuk Marsha yang notabene-nya memang terlihat seperti model. Meskipun begitu, Megi tidak memuji Marsha. Dia hanya mengatakan bahwa Marsha cocok untuk mewakili lomba ini. Kalau masalah pasangannya terserah dia mau siapa saja. Yang penting bukan Megi. "Gue anak OSIS, Meg. Nggak boleh ikut lomba. Malahan gue jadi MC-nya lomba fashion show nanti."
"Makanya, jadi orang jangan pinter-pinter banget. Nyusahin orang lain kan jadinya."
"Harusnya lo bangga punya teman pinter. Heran gue sama lo."
"Apaan. Orang yang pinter teman bukan gue sendiri. Ngapain harus bangga. Yang ada iri itu iya."
"Oh, jadi lo iri?"
"Nggak, orang iri tanda tak mampu. Sedangkan gue ini mampu. Jadi, sorry to say, ya, gue nggak iri." Megi membantah lagi. Sedangkan Marsha mengumpat di dalam batinnya. Jika dia langsung mengatakan kepada Megi, percek-cokannya tidak akan selesai. "Oh iya. Kenapa harus Meta?" tanya Megi ketus.
Marsha hanya membalasnya dengan mendengus. "Ya karena lo cocok sama dia," celutuk salah satu temannya.
Cocok dari mananya coba?
"Tinggal jawab iya aja susahnyaaa!" Marsha sewot sendiri.
Sekarang tidak ada Mars, Maldi, Mamat, Mesky, dan Meta di kelasnya. Dia hanya seorang diri masuk di lubang buaya. Sangat susah untuk melarikan diri tanpa bantuan. Nasibnya sekarang dia tentukan sendiri. "Ya udah, terserah. Puas lo semua?" selepas mengatakan itu, Megi melepas pegangan tangan Marsha dan pergi ke kantin.
***
Selepas pukul sepuluh pagi semua murid SMA Galaska dikumpulkan di lapangan upacara. Bukan untuk melaksanakan upacara bendera melainkan melaksanakan lomba fashion show. Seperti biasa, lapangan upacara sudah ditata sebagus mungkin oleh anak-anak OSIS. Sementara para guru tidak ikut campur dalam pelaksanaan kegiatan class meeting ini. Tanggung jawab semuanya berada di tangan anak-anak OSIS.
Marsha yang menjadi pembawa acara pun berdiri di atas panggung bagian pinggir yang di lapisi karpet berwarna merah. Semua murid SMA Galaska duduk di tanah tanpa disediakan kursi. Selain menghemat biaya itu juga menghemat penyediaan tempat. Semua peserta fashion show sudah bersiap-siap di belakang panggung. Sejak pukul sembilan tadi, peserta perempuan sudah di make over oleh anak-anak OSIS yang ahli dalam ber-make up. Untuk pakaiannya sendiri itu adalah urusan perkelasnya sendiri.
"Peserta fashion show diharap naik ke atas panggung." Marsha yang berpenampilan rapi itu memajukan sedikit tubuhnya untuk memberi jalan para peserta. Ketika satu persatu peserta naik, semua murid-murid bertepuk tangan. Ada juga yang sambil berteriak heboh. Dan tentunya untuk kelas 11 IPS 7, kelasnya Maru, membawa tulisan kertas yang besar. Semua itu di sponsori oleh Magis.
"Megi ganteng bangeetttt!"
"Hatiku melepuh, Meg!"
"Kenapa baru sekarang lihat pangeran?"
"Megi ya Tuhaaan!"
"Diabetes gue lihat Megi begitu!"
Teriakan heboh berhiperbola para kaum hawa membuat keadaan lapangan kian berisik dari sebelumnya.
Setelah semua peserta berada di atas panggung, Marsha lantas berkata. "Oke guys! Lomba fashion show untuk tahun ini ada yang beda nih. Nggak kayak biasanya. Yang biasanya pasangan itu ditentukan oleh perwakilan kelasnya sendiri sekarang tidak lagi. Pasangannya akan diacak sesuai angka yang mereka dapat di dalam kertas itu," Marsha menunjuk sebuah kotak kardus yang berisi kertas-kertas yang dilipat. "Oke, tanpa basa basi, kalian boleh maju satu persatu ambil kertasnya yaaa! Tapi jangan dibuka dulu. Yaps! Silahkan."
"Cari orang yang angkanya sama kayak kalian, ya!" Marsha berteriak heboh. Dirinya sangat bersemangat membawakan kegiatan lomba ini dengan tidak formal.
Di sisi lain, Maru mendapatkan angka dua. Dia menyenggol lengan Maltin, pasangannya. "Lo dapat angka berapa?" tanyanya.
Maltin mengangkat kertasnya. "Empat. Lo berapa?"
"Dua."
Maltin tertawa pelan. "Nggak jodoh berarti," cetusnya berniat untuk bercanda. Namun, Maru hanya mengabaikannya lantas berpindah tempat.
Megi yang angkanya tidak sama dengan Meta lantas berpindah tempat juga. Dia bahagia tidak jadi berpasangan dengan gadis seperti Meta yang sangat cerewet dan ribet itu. Hingga akhirnya Megi tak sengaja berhenti ketika dilihatnya Maru berdiri di depannya. Dengan canggung, Megi membuka mulut. "Gue dapat angka dua. Lo angka berapa?"
Serius? Pasangan gue Megi? Maru membatin seketika.
"Kok malah ngelamun?" tanya Megi memecah keheningan di antara mereka berdua. Maru yang sedikit terkejut mendongakkan kepala. Dia memperlihatkan tulisan angka di kertas kecil itu kepada Megi. Betapa terkejutnya Megi saat melihat itu. "Lo..., berpasangan sama gue dong?"
"Engg..., iya."
"Ya udah. Lo mewakili kelas gue berarti. Yuk!" ajak Megi sambil meraih tangan Maru untuk menggenggamnya.
Keduanya merasa canggung. Sudah lama tidak berbicara dan menatap wajah. Apalagi berada sedekat ini. Maru sendiri bimbang harus berkata apa. Tidak mungkin jika mereka akan terdiam sampai nanti. Meskipun dulu saat SMP, Maru pernah menjadi pasangan Megi saat fashion show di acara class meeting seperti ini tetapi Megi tak yakin jika Maru masih mengingat kejadian itu.
Megi berusaha bersikap biasa saja. Tangannya sudah tidak lagi menggenggam tangan Maru.
"Hmm, Meg?"
Yang dipanggil menoleh. "Ya?"
"Lo masih ingat fashion show kita dulu?" Meski canggung, namun Maru memang harus bertanya tentang ini.
"Masih. Kenapa? Mau pakai gaya yang dulu? Kalau gue sih nggak masalah."
Maru tersenyum mendengarnya. "Iya udah. Pakai yang dulu aja."
"Tapi kalau lo punya gaya baru tunjukin aja. Siapa tahu gue bisa," Megi kembali memacu topik yang sedang mereka bahas. Mungkin dengan ini, nanti mereka tidak terlihat canggung kembali. "Nggak, gue nggak punya."
"Oh, ya udah. Pakai yang dulu aja."
"Iya."
"Ru, gue ngerasa sedikit canggung sama lo. Ehm, antara gue dan lo udah lama berakhir dan gue harap setelah ini kita bisa jadi teman." Megi mengucapkannya dengan tulus. Matanya saling bertatapan dengan mata Maru. Tak lama, terukir senyum di bibir Maru. "Boleh. Asal lo mau janji sama gue," jawabnya.
Megi mengernyit. "Janji apa?"
"Kalau lo bakal ngasih tahu gue alasan kenapa lo mutusin gue dulu. Gimana?" Walaupun sudah lama berakhir tetapi Maru masih penasaran dengan alasan Megi.
"Gue nggak punya alasan."
"Oh, ya?"
"Saat itu gue bosen. Jadi, gue nggak berpikir panjang. Apa itu bisa dijadikan alasan?"
"Mungkin," ujar Maru.
Megi membalas senyuman Maru. "Apa kita bisa berteman sekarang?"
Balas Maru dengan anggukan, aneh, dia merasa senang.
Selanjutnya, Marsha mengecek pesertanya satu persatu. Lalu dia turun dari panggung. Memanggil nama peserta bergantian untuk berpose di karpet merah itu. Ketika giliran Maru dan Megi tiba, keduanya tampak memamerkan senyuman mereka. Banyak orang mengira jika mereka tidak akan menjadi pasangan yang cocok. Akan tetapi, penampilan keduanya membuat seantero sekolah hampir ternganga berjamaah. Tak menyangka jika seorang Megi mampu akrab dengan cepat bersama Maru. Apalagi setelah berstatus mantan.
"Balikan aja lah!!" teriak Mamat heboh yang akhirnya membuatnya sebagai pusat perhatian.
***
Lomba fashion show sudah selesai sejak tadi. Maru dan Megi berhasil membuat seantero sekolah heboh. Tidak menyangka jika mereka berdua memiliki karisma yang sangat indah. Sebagian orang ada yang tahu jika mereka pernah memiliko hubungan spesial. Namun, tidak menutup kemungkinan jika yang lainnya tidak tahu akan hal itu. Namun, setelah aksi heboh Mamat tadi semua murid-murid pasti sudah tahu akan status Megi dan Maru sebenarnya.
"Buah duku buah gedondong, senyum dulu dong!" Megi berusaha menghibur Maru yang sekarang masih malu karena teriakan Mamat. Bagaimana tidak? Ketika dia dan Megi sedang berpose, tiba-tiba Mamat berteriak semacam itu. Jelas saja selain Mamat yang mendapati sorot mata tajam dari teman-temannya, Maru juga mendapatkan itu dari teman-teman perempuannya. Apalagi bagi mereka yang sangat menyukai Megi. Tatapannya sudah tidak tajam lagi, melainkan bak ingin menerkam.
"Gue pulang dulu ya," ucap Maru kepada Megi. Keduanya masih berada di belakang panggung. "Gue antar aja, ya?" tawar Megi.
Maru berhenti melangkah, terkejut dengan tawaran Megi. "Memang nggak apa-apa?"
________